
Otot tubuh Dewa tidak berlebihan, hanya seperti cowok yang menjaga kebugaran tubuh dengan olahraga ringan seperti berenang atau bermain sepakbola. Dewa memang tidak angkat berat di pusat kebugaran, hanya membentuk tubuh seperlunya. Tapi sungguh hasilnya lumayan bagus. Mayra harus mengakui kalau dia terpesona dan juga mulai berpikiran nakal setelah mengamati Dewa yang bertelanjang dada
Hormonnya sedang tidak dalam kondisi baik dan …
"Hai cewek!"
Dewa keluar kamar ketika melihat Mayra hanya bengong memperhatikannya dari ruang keluarga. Pintu kamarnya yang terbuka memudahkan Dewa melihat kehadiran Mayra.
"Hai …!" Mayra mengulas senyum kikuk dan salah tingkah karena kepergok sedang melamun sambil memandangi pemuda itu.
"Selamat pagi, Cantik!" Dengan berani Dewa mengecup pipi Mayra sebagai ucapan selamat datang. Sambutan yang membuat Mayra salah kaprah mengartikan degup di dadanya.
Dewa spontan tergelak melihat ekspresi aneh Mayra. Dia sengaja melakukan itu untuk mengalihkan perhatian Mayra agar tertuju padanya. Dewa khawatir Mayra merasa sakit dan terluka setelah melihat keromantisan Elang dan Nindya yang menyambut kedatangannya di lantai bawah.
"Dewa? Kamu ini …."
Mayra memegang pipinya. Panas. Hasrat yang semalam ditahannya masih belum mereda semua, masih ada efek yang tertinggal di dalam tubuhnya. Dan sekarang Dewa malah memancingnya.
Obat perang-sang? Itu hanya tebakan Mayra saja. Dia tidak bisa membuktikan meski yakin kalau reaksi tubuhnya yang tak biasa pasti dipicu oleh jus jeruk yang diminumnya. Jus yang mungkin terkontaminasi oleh obat peningkat libido.
Seumur hidup, Mayra tidak pernah merasa gairahnya meluap cepat dan salah tempat. Sulit dikendalikan dan menyiksanya berjam-jam. Kalau efek obat itu hingga 24 jam seperti yang dibacanya di internet semalam … matilah dia sekarang!
"Sayang … aku kan cuma cium pipi," balas Dewa memamerkan senyum memikatnya.
"Kamu bilang apa? Ulangi!"
Dewa memegang rahang Mayra dengan kedua tangan lalu menunduk untuk mengecup bibirnya lembut, mencecap sebentar, lalu melepas setelah menggigit kecil dan menarik bibir bawah Mayra dengan gemas. Tak lebih dari sepuluh detik.
"Udah! Masih mau diulang?"
Mayra mendelik, melepas tangan Dewa yang membingkai wajahnya, "Bukan itu yang diulang!"
"Lah trus apa?" Dewa terkekeh geli.
Mayra mencebik jengkel, "Kamu tadi manggil aku apa?"
"Oh itu …," ujar Dewa cengengesan. "Manggil sayang. Kenapa? Nggak boleh?"
Mayra menggeleng, “Kamu nggak kuliah?”
Cara tepat menghindari menjawab pertanyaan adalah dengan melempar pertanyaan balik yang tidak sesuai topik. Jujur Mayra suka dewa memanggilnya seperti itu, tapi tidak pas waktunya. Panggilan manis seperti itu hanya semakin membuat gairahnya meruap.
“Nanti jam dua ngumpul tugas, mau ngalkir dulu! Ayo masuk temeni aku, meja gambarku ada di kamar!”
"Di kamar?"
Mayra masih diam di tempat, hingga Dewa tidak sabar dan menarik tangannya untuk ikut masuk ke ruangan pribadinya. “Kamu mau ke kampus sekarang ya?”
“Aku nggak ke kampus hari ini, nggak ada yang dikerjain di kampus. Besok mungkin, bimbingan awal skripsi!”
__ADS_1
Selain memang tidak ada yang dikerjakan di kampus, Mayra juga enggan bertemu Tony. Marah karena pemuda yang baru saja dipercaya itu malah menjebaknya dengan minuman peningkat birahi. Kalau semalam dia jadi menginap di tempat Tony, Mayra yakin pasti pulang dalam kondisi sudah tidak perawan lagi.
Tapi benarkah yang melakukan semua itu Tony? Mayra tidak melihat Tony menyentuh gelasnya sedikitpun. Apakah etis jika Mayra langsung menuduh pacarnya sendiri yang melakukan hal tercela seperti itu?
Mungkin Mayra perlu bertanya langsung, sekaligus menguji kejujuran Tony. Tapi tidak hari ini, Mayra masih kesal, marah dan juga kecewa!
“Kalau gitu berarti bisa temenin aku gambar, kan? Daripada pulang, di rumah sendirian juga ngapain? Mending di sini.”
“Iya deh,” Mayra mengikuti Dewa masuk kamar. Pintu dibiarkan terbuka lebar sehingga Mayra merasa aman dan nyaman.
"Kalau butuh minuman ambil sendiri ya, Sayang! Aku mau gambar sekarang," kata Dewa seraya memasang kertas kalkir di atas meja gambar.
"Ish, sayang-sayang terus!" Mayra berdiri tak jauh dari meja gambar.
Dewa menoleh ke arah Mayra yang cemberut, menaikkan kedua alisnya bergantian, lalu dengan gaya tengil menjawab, "Loh aku kan memang sayang sama kamu!"
"Masih pagi, Wa! Jangan kebanyakan gombal?" protes Mayra.
"Jadi, jam berapa aku bisa gombalin kamu?" tanya Dewa tanpa melihat Mayra, fokus pada kertas kalkir yang mulai terpasang rapi di atas meja gambar.
"Nanti sore jam empat!" jawab Mayra, matanya tak berhenti mengamati Dewa yang cekatan menyiapkan keperluan gambar.
Sial, Dewa yang sedang toples dan serius memegang rapido dan siap menggambar terlihat sangat keren dan jadi ekstra ganteng.
"Kamu ngeliatin aku terus, cinta loh nanti!"
"Idih pede banget!!"
Mayra melengos malu karena tertangkap sedang mengamati Dewa. "Apa? Majalah motor?"
"Ada beberapa novel fantasi!"
"Ya udah aku mau baca, tapi … kamu pakai baju dong!" Mayra berjalan ke arah meja belajar yang jadi satu dengan rak buku.
"Risih ya lihatnya? Ambilin kaos kalau gitu!"
Mayra menoleh, menatap punggung Dewa tak percaya. Pemuda ini menyuruhnya membuka lemari? Memilihkan baju? Kenapa rasanya hal seperti itu terlalu pribadi?
"Di lemari?"
"Iyalah, masa di jemuran?"
"Warna?"
"Terserah kamu! Pilih yang bisa menaikkan kadar kegantenganku sampai 1000%!"
"Kamu kan udah ganteng!" puji Mayra. Mendadak deg-degan dan berdesir hanya karena mengaku kalau Dewa juga penuh pesona.
"Bawaan lahir!"
__ADS_1
"Narsis, ih!"
"Tapi percuma ganteng kalau kamu nggak suka aku!"
"Ngomong apa sih kamu?"
Mayra terpaku, Dewa sama sekali tak menoleh padanya. Masih sibuk dengan kegiatan gambar menggambar, tapi kalimatnya sungguh bisa membuat Mayra senyum-senyum.
Siapa bilang Mayra tidak menyukai Dewa? Hari ini perasaan ingin dekat dengan Dewa serasa tidak bisa ditahan, dan celana pendek yang menggantung rendah di pinggul pemuda itu serasa memprovokasi perasaan ingin dekatnya.
Penampilan Dewa yang seperti itu membuat panas suasana. Mayra sungguh ingin menurunkan celana sialan itu agar bisa melihat langsung bokong yang sesekali menungging karena harus menyesuaikan badan dengan meja gambar.
"Mana kaosnya? Katanya risih aku nggak pake baju!" Kali ini Dewa berbalik badan, meletakkan rapido pena dan mendatangi Mayra yang masih belum mencarikan kaos untuknya.
"I-ya ben-tar, ini baru mau diambil!" Mayra tergagap dan segera membuka lemari pakaian Dewa.
Dewa menaikkan sebelah alisnya, dia lupa kalau Mayra mungkin saja masih dibawah pengaruh obat peningkat gairah. Gadis itu memandanginya terus-terusan seperti orang bodoh.
Dewa mendekat dan berdiri di depan Mayra yang sedang salah tingkah, merapikan anak rambut Mayra dan menyelipkan ke telinga, "Kamu kenapa lagi? Masih pusing?"
Mayra menggeleng seraya tersenyum kaku, "Nggak sih, udah lumayan enakan!"
"Kamu nggak tidur ya semalem?"
"Tidur bentar!"
Dewa mengedikkan kepala ke arah ranjang, "Tidurlah, aku nggak akan mengganggu, nanti setelah ngumpul tugas kita jalan-jalan!"
Mayra menanggapi antusias, "Kemana?"
"Kencan!"
"Kencan?" tanya Mayra skeptis.
"Iya kencan normal, biar kayak orang pacaran! Mau, kan?"
"Oke!" Mayra mengangguk tersiksa. Sungguh pikirannya menginginkan Dewa, tapi sepertinya pemuda itu sedang tidak tertarik padanya. "Oh ya aku sebenarnya mau cerita sesuatu sama kamu!"
"Apa?" tanya Dewa.
"Jus yang aku minum di kafe kemarin malam, sepertinya dicampur sesuatu. Aku merasa gerah dan aneh!" Mayra tidak melanjutkan lagi, tapi menatap Dewa dengan sayu. "Aku rasa efeknya belum sepenuhnya hilang! Rasanya masih gerah dan nggak enak di badan! Kamu tau kan, apa yang aku minum?"
"Jus jeruk!" jawab Dewa pura-pura tak mengerti. "Kamu bilang nggak minum yang lain selain itu!"
"Wa, aku tuh masih kepanasan!"
"Oh …!" Dewa tersenyum sekilas, pergi menutup pintu kamar lalu menyalakan penyejuk ruangan. "Masih panas?"
Mayra akhirnya ikut cekikikan, "Dewa … kampret bener kamu! Sebel, ih!"
__ADS_1
***