Dewa Love You

Dewa Love You
Jangan Panggil Sayang!


__ADS_3

Beberapa hari terakhir, telinga Dewa sering berdengung, yang kata orang memiliki arti sedang ada yang membicarakannya di belakang. Mungkinkah itu Mayra?


Ah, gadis itu sepertinya serius marah padanya. Buktinya, Mayra tidak segan menolak ajakan touring ke Gunungkidul. Dewa kecewa, tapi tidak bisa mengubah keputusan Mayra. Sang gadis sedang dalam mode ngambek dan mendiamkannya berhari-hari. Ya sudah, Dewa akhirnya pergi dengan Vivian.


Sebenarnya Dewa tersiksa, tapi dia tidak ingin membuat Mayra semakin terluka. Kehadirannya sekarang hanya akan membuat Mayra semakin kesal padanya.


Semua bermula dari adegan ciuman yang manis di hari Minggu, setelah mereka menata kaktus hias di taman belakang rumah. Dewa sudah berusaha menjaga ritme ciumannya tetap hangat dan romantis agar Mayra terkesan.


Namun, tangannya yang tidak dikomando mulai menggerayang nakal. Dada Mayra yang padat dan serasa pas di genggaman tangannya lah penyebabnya. Dewa tak sengaja menangkup dan mere masnya lembut sebelum sadar kalau semua itu salah.


Ya, salahkan dua bukit Mayra yang membusung itu, yang seolah menantang Dewa untuk menyentuh karena saking gemasnya. Salahkan juga kaos oblong v neck Mayra, yang meski tidak terlalu ketat tapi tetap membentuk dan menunjukkan lekuk indah bagian atas tubuhnya.


Mayra jelas saja marah, dia tidak mungkin mengizinkan Dewa menyentuh dadanya. Pemuda itu bukan pacar atau orang yang memiliki komitmen serius dengannya, tapi percaya diri sekali berani memperlakukan Mayra seenak jidatnya.


Dewa bukannya tak merasa bersalah dengan tangannya yang tak bermoral itu. Dewa bermaksud menjelaskan sekaligus mengungkapkan perasaannya. Namun, Mayra yang sudah terlanjur kecewa mendorongnya dan kabur ke kamar dengan mata merebak.


Sungguh Dewa sama sekali tidak bermaksud melecehkan Mayra. Apa yang dilakukannya sebatas naluri lelakinya yang penasaran dengan keseksian Mayra. Hanya saja semua menjadi sulit dijelaskan karena Mayra terlanjur menganggapnya kurang ajar. Dewa dituduh dengan sengaja mengambil kesempatan mencabuli Mayra yang polos.


Dewa sudah meminta maaf di hari Senin, Selasa dan dua hari berikutnya, tapi sikap Mayra tetap dingin, tidak ada respon. Mayra tidak sudi mendengar penjelasan Dewa apalagi memaafkannya.


Daripada terus membayangi Mayra yang sedang kecewa padanya, Dewa memilih menyingkir sementara agar kemarahan sang gadis sedikit mereda. Dia yakin gadis itu memiliki hati yang baik, juga memiliki rasa padanya, walaupun sedikit.

__ADS_1


Tidak ingin larut dalam kesalahan dan kebodohan, Dewa mulai mengamati Tony dan pergerakannya di kampus. Sedikit informasi dari Elang sudah cukup menunjukkan kalau pemuda itu memang brengsek. Dewa masih ingat betul Tony memproklamirkan kejombloannya di rumah Mayra. Namun, dalam seminggu terakhir, Dewa sudah melihat Tony jalan dengan cewek lain sebanyak dua kali.


Dunia malam Dewa mungkin tidak sebebas Elang yang pernah tinggal di kontrakan terpisah dengan orang tuanya selama empat tahun. Tapi bukan berarti dia tidak pernah berkunjung ke kafe malam atau tempat sejenis yang menjual hiburan.


Apalagi Erfan termasuk salah satu teman yang suka menghabiskan waktu untuk minum di tempat seperti itu. Dewa satu kali melihat Tony ada di kafe yang sama dengannya beberapa hari lalu, dengan seorang perempuan yang bergelayut manja di lengannya. Dan jelas sekali kalau perempuan itu bukan Mayra.


Hari ini, Dewa sengaja menunggu Mayra di depan laboratorium agar bisa bertemu. Sudah seminggu mereka saling diam. Dewa tidak tahan untuk tidak bicara dan menjelaskan semua kesalahannya. Selain itu, ada hal penting yang akan disampaikannya pada Mayra.


"Hai cewek!" sapa Dewa tengil. Gayanya tidak berubah ketika menjajari Mayra yang langsung berjalan menuju tangga turun.


"Ada apa?" tanya Mayra dingin. Sebenarnya cukup terkejut karena Dewa menyusulnya hingga laboratorium. "Aku sibuk!"


Mayra menolak tegas, "Nggak usah, aku cuma mau pesen snack box buat seminar Elang besok!"


"Sama siapa?" tanya Dewa kalem.


"Bukan urusan kamu!" jawab Mayra jutek. Menyentuh baju Dewa dengan ujung jarinya. "Minggir, aku mau lewat!"


"Oke, boleh aku minta waktu sebentar?" tanya Dewa serius, berjalan di sebelah Mayra. "Sepuluh menit!"


Mayra melirik jam tangannya, "Ya udah buruan!"

__ADS_1


"Ayo!" Dewa menarik tangan Mayra untuk ikut ke parkiran.


"Ngapain? Udah ngobrol di sini aja! Aku nggak mau berduaan di mobil sama kamu titik!"


"Dih takut bener! Enggak bakal aku apa-apain, Sayang!"


"Nop!" tolak Mayra ketus. "Jangan panggil-panggil sayang, kayak apa aja!"


Dewa meyakinkan, "Aku mau bicara serius, janji cuma sepuluh menit, nggak lebih!"


"Enggak mau!"


Dewa mendekat hingga wajah mereka hampir bersentuhan, "Aku maksa, atau kamu mau aku cium disini biar dilihat mereka?"


Mayra menoleh ke arah Dewa menunjuk, ke sejumlah mahasiswa yang ada di depan kelas menunggu dosen datang.


"Kamu nyebelin banget tau nggak?!"


Dewa menyeringai, "Enggak!"


***

__ADS_1


__ADS_2