Dewa Love You

Dewa Love You
Sedekat Itukah?


__ADS_3

Sampai rumah, ibu Dewa mengomel keras karena mencium bau alkohol dari mulut anaknya. Bukan hanya soal bau minuman keras, Dewa tidak bilang kalau mau menginap, pun tidak menjawab pesan dan panggilan ibunya semalam.


“Kamu mulai kumat lagi? Berapa kali ibu bilang jangan minum alkohol kalau nggak mau mati muda! Lupa sama nasehat dokter kalau kamu nggak boleh lagi berhubungan sama minuman nggak bermanfaat itu!”


Dewa hanya diam, tak berani membantah kalimat ibunya. Dia memang bersalah, dan mendengarkan saja wanita yang melahirkannya berceramah bebas mengenai kesehatannya adalah jalan tercepat agar bisa beristirahat.


Karena … jika dijawab atau ditanggapi, bukan hanya soal mabuk saja yang nanti jadi pokok bahasan ibunya! Tapi melebar ke semua kegiatannya. Lebih parah kalau pembicaraan sudah merambah ke masa lalu sebelum mereka menjadi bagian keluarga Elang.


Dewa terpaksa sarapan meski perutnya mual. Ibunya sudah menyiapkan makanan dan segelas susu hangat di meja makan. Huh, Dewa merasa diperlakukan seperti anak kecil.


"Dapat apa dari mabuk-mabukan? Sakit lagi? Kamu kalau nggak bisa dibilangin, semua fasilitas yang kamu pakai bakal ibu kembalikan ke papa. Ibu malu kalau sampai beliau tau anak yang dibiayai serius, kuliahnya malah berantakan. Keluyuran malam nggak pakai aturan. Mending itu mobil dipakai Elang aja, dia lebih berhak! Kamu di sini cuma bisa mabuk di jalan sampai lupa pulang!"


Dewa tidak membantah sedikitpun, menghabiskan sarapan yang disediakan ibunya dalam hening. Terakhir, dia minum susu dan memandang ibunya yang belum puas mengomel padanya.


"Gimana kamu bisa bantu papamu ngurus bisnis hotel kalau nggak belajar tanggung jawab dari sekarang! Kamu itu udah gede, mau 20 tahun, Dewa! Cari teman bergaul yang bener! Cari cewek yang bener, jangan sampai ikut-ikutan pergaulan bebas!"


Masih tanpa bicara apapun, Dewa pergi ke kamar setelah sarapan. Kepalanya semakin pusing setelah mendengarkan tausiyah panjang dari ibunya. Wanita yang disayanginya itu selalu mengancam akan mengambil semua fasilitas miliknya, padahal papa Elang sendiri yang memberikan langsung padanya sebagai hadiah. Benar-benar seorang ibu yang bijaksana, heh?


Tak lama, Dewa tertidur setelah membalas pesan ucapan selamat pagi dari Mayra. Ah … rasanya Dewa kangen dengan gadis ayu itu. Semoga Mayra masih malas bertemu Tony, sehingga Dewa punya kesempatan untuk lebih dekat dan dekat lagi.


Dewa tidur hingga lewat tengah hari, tidak pergi kuliah karena kepalanya masih sangat pusing. Setelah minum obat, sisa waktunya di kamar hanya digunakan untuk bermalas-malasan. Dia menolak kedatangan Vivian yang ingin menjenguknya karena khawatir, tapi menerima rencana kunjungan Mayra yang tak kalah khawatir.


"Hai cewek!" Dewa langsung beranjak dari ranjang begitu melihat kepala Mayra melongok ke dalam kamarnya. Dewa keluar kamar, mereka duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.


Mayra membuka paper bag besar bawaannya, mengatur dua piring kertas, lalu memotong puding berwarna coklat dengan lumeran susu. "Mau ini? Elang chat aku tadi, bilang kalau kamu sakit! Kirain bohong loh."


"Kamu buat sendiri?" Dewa menerima potongan puding lava yang diulurkan Mayra.


Mayra meringis, "Rencananya tadi gitu, buat sendiri, tapi nggak berhasil alias gatot! Jadi ya … aku beli di jalan!"


"Trus ini aku makan sendiri? Aku lagi sakit loh," tanya Dewa dengan tangan masih belum bergerak dari posisinya.


"Lah terus?" Mayra menaikkan satu alisnya.

__ADS_1


"Kirain mau disuapin!"


"Astaga! Manja banget sih," ujar Mayra. Puding yang sudah diterima Dewa diambil lagi dan disuapkan sedikit demi sedikit.


Dewa terkekeh geli melihat ekspresi Mayra. "Kenapa?"


"Ehm … nggak enak aja kalau ada yang lihat. Ada Elang nggak sih, nggak kelihatan tadi di bawah!"


"Di kamar kali bikin anak!" jawab Dewa sekenanya.


"Ish kamu ini!" Mayra meletakkan piring kertas kosong di atas meja.


"Kerjaan pengantin baru apalagi emangnya kalau nggak begituan?" Dewa menaikkan kedua alisnya bergantian untuk menggoda Mayra, "Kamu nggak pengen?"


Mayra sedikit melotot, "Pengen apa?"


"Nikah sama aku?"


"Dewa!" Mayra menahan tawanya yang nyaris meledak. Gaya Dewa yang berbicara serius dengan ekspresi lucu sungguh membuatnya keki.


"Dewa mesum, ih!"


Mayra langsung membungkam mulut Dewa dengan tangannya. Tubuhnya sampai menubruk Dewa yang sedang dalam posisi duduk enak bersandar sofa.


Dewa langsung terbahak-bahak, Mayra yang malu-malu sungguh membuatnya senang. Tangannya spontan memeluk Mayra yang setengah jatuh di atas badannya. Satu ciuman diberikan Dewa di pipi Mayra yang bersemburat merah.


Mayra cengar-cengir salah tingkah, mengusap pipinya yang baru kena setrum bibir Dewa dengan tangan gemetar. Berusaha mengurai pelukan Dewa dengan dorongan halus. Karena jika diteruskan, pemuda dengan wajah innocent ini bisa membuatnya pingsan keenakan.


"Loh mau kemana? Aku masih mau peluk! Kamu nggak kasihan sama orang sakit," ujar Dewa menarik tangan Mayra agar tidak menjauh. "Disayang kek, dikasih ciuman kek!"


"Malu, Dewa! Ntar kalau Elang apa Bu Nindya keluar kamar gimana?"


"Mau pindah ke kamarku?" tanya Dewa, tergelak dan semakin jahil. "Tapi kalau aku kalap jangan marah!"

__ADS_1


"Nop, never!"


"Never ya? Masa sih!"


Mayra nyaris mencubit perut Dewa ketika tangannya tertangkap. Yang ada dia malah ditarik masuk semakin dalam ke pelukan Dewa. Sedikit kaget saat mendapati bibirnya sudah dipagut dengan penuh kehangatan. Sehangat mentari sore yang meronakan langit dengan warna jingga.


Dewa tidak ingin berhenti menikmati obat sakit kepala yang mulai sering dirindukannya. Sementara Mayra masih dalam dilema, tidak menolak Dewa tapi belum berani menerima. Perasaan Mayra terlalu campur aduk, Dewa memperlakukan dirinya penuh sayang dan mesra seperti seorang kekasih. Sementara Tony … entahlah! Dia masih enggan bertemu pemuda itu.


Mayra meremang, tangan Dewa memeluknya semakin erat, merapatkan tubuhnya hingga dadanya menempel ketat di badan pemuda itu. Mayra bisa mati sesak nafas, tapi tidak berani menghentikan situasi intim itu hingga beberapa lama.


"Wa!" Elang berdehem ketika keluar kamar, diikuti Nindya yang memilih pura-pura tidak melihat pemandangan di depannya. "Nomor kamu nggak aktif lagi? Vivian kangen tuh nanyain kamu terus dari tadi!"


Mayra spontan hendak menarik tubuhnya, tapi tidak berhasil karena Dewa memerangkapnya. Tengkuknya ditahan agar ciuman tidak terlepas tiba-tiba. Setelah menggigit kecil, Dewa baru mengangkat bibirnya.


Dewa menyurukkan wajah Mayra yang merah padam karena malu kepergok Elang ke dadanya. Dewa tidak membiarkan Mayra melihat Elang yang mungkin bakal meledek atau sengaja jahil. Dewa hanya memberikan keyakinan pada Mayra kalau yang mereka lakukan sama sekali tidak mengganggu Elang, Mayra tidak perlu merasa sungkan atau tidak nyaman dengan situasi canggung tersebut.


"Hm, itu alasan bagus buat Vivian agar bisa tetap menghubungi mas Elang, kan?" jawab Dewa cuek. Menjulurkan lidah sambil terkekeh pada Nindya yang melotot padanya.


"Terusin deh!" Elang merangkul bahu Nindya, mengajak turun untuk menikmati sore di teras belakang rumah.


Suara Elang merayu Nindya agar tidak menggubris ucapan Dewa terdengar jelas di telinga Mayra. Ekor matanya sampai ikut mengintip Elang dan istrinya yang sudah menuruni setengah tangga.


Mayra mendongak menatap Dewa, "Apa katanya tadi, terusin?"


"Iya terusin kata mas Elang, jadi sampai mana kita tadi?" tanya Dewa dengan ekspresi paling menyebalkan. Senyumnya tersungging penuh ejekan pada Mayra yang masih merona. "Lanjut lagi ya biar nggak kentang!"


Mayra menghalangi bibir Dewa yang akan menyerbunya lagi dengan telapak tangan. Kepalanya menggeleng beberapa kali dengan mata melebar, "Dewa!"


"Apa, Sayang?"


"Kamu masih jalan sama Vivian? Kok bisa dia hubungi Elang? Sedekat itukah kalian dengan cewek cantik satu itu?"


Uhuk!

__ADS_1


***


__ADS_2