Dewa Love You

Dewa Love You
Dijemput Sopir


__ADS_3

Kemarin malam setelah Dewa pulang, Mayra hampir menjatuhkan ponselnya. Cukup tegang ketika mendapat sejumlah pesan gambar dari nomor yang tidak dikenalnya. Foto Dewa dan Vivian di atas ranjang.


Mayra menghembuskan nafas panjang. Mengatur degup jantungnya agar tidak melonjak abnormal. Sepanas apapun foto itu, tidak membuat Mayra menjatuhkan air mata. Dia sudah mendengar pengakuan jujur Dewa, sehingga kejutan dari Vivian tidak begitu menyakitkan.


Hubungannya dengan Dewa baru saja membaik, dan Mayra tidak ingin merusaknya dengan membahas foto-foto mesum tersebut. Mayra memilih menghapus pesan, memblokir nomor yang diduga milik Vivian dan membersihkan galeri fotonya dari sesuatu yang bisa menyakitkan hati.


Mayra baru sembuh dari patah hati. Dia jelas tidak akan membiarkan hatinya patah lagi dalam jeda waktu yang sangat singkat. Mayra memutuskan, tidak akan ada sesuatu yang bisa mengusik hatinya, lalu membuatnya terluka melebihi cintanya pada Elang yang kandas setelah tujuh tahun penantian. Intinya, Mayra harus menjaga hatinya sendiri.


Di kampus, Mayra bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Dia sengaja mengajak Dewa untuk makan siang bersama di kafetaria sebelah koperasi mahasiswa sebelum pulang.


“Ke rumah, yuk!” ajak Dewa serius.


Mayra bertanya, “Ngapain?”


“Pacaran?”


“Pacaran? Aku lagi ngebut garap skripsi, kalau ditinggal pacaran tiap hari kapan aku lulusnya?” Mayra sedang tidak ada mood untuk berdua-duaan. Teringat dengan foto yang dikirim ke ponselnya semalam membuatnya cemburu. Ingin marah tapi tidak bisa.


“Kamu kenapa, Sayang?”


“Ngantuk, pengen tidur siang di rumah!” bual Mayra.


“Malam ikut nongkrong sama anak bikers, mau?” Dewa menawarkan kegiatan lain agar Mayra tetap bisa bersamanya walaupun cuma beberapa jam.


Mayra menggeleng ringan, “Next time aja ya, aku beneran nggak bisa kalau hari ini!”


“Iya deh terserah kamu!”


Ekor mata Mayra menangkap pergerakan Vivian yang berjalan tergesa ke arah mereka. “Kayaknya aku pulang sekarang aja, Wa! Ada bahaya mendekat!”


“Jangan pulang dulu! Tunggu aku sebentar, kamu duduk manis aja di sini!”


Mayra mengangguk, menunduk sambil mengaduk minumannya. "Sepuluh menit!"

__ADS_1


“Dewa, aku mau bicara sama kamu!” kata Vivian dengan raut kesal. Kekasihnya ternyata memang brengsek, tak jauh beda dengan kakaknya, Elang.


“Bicara apa? Kayaknya nggak ada yang perlu dibicarakan,” ujar Dewa tenang, datar dan penuh ekspresi kemalasan.


Vivian menyedekapkan tangan di dada, “Kamu bisa banget ya cari alasan buat menghindar? Maksud kamu apa sih? Aku udah ajak kamu ketemuan dari pagi loh, Wa! Sampai jam segini aku masih nunggu kabar, tapi kamu nggak ngasih kepastian! Trus kapan kita bisa bicara kalau kamu malah asik makan siang sama cewek gatel ini.”


“Aku nggak menghindar, trus nggak ada yang perlu dibicarakan lagi karena mulai hari ini kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi!” Dewa menatap Vivian yang spontan memelototinya.


“Kamu mau kita putus?” tanya Vivian menahan emosi.


“Iya,” jawab Dewa singkat. Tanpa memberikan alasan.


“Enak bener kamu ngomong putus, kamu pikir aku cewek apaan? Kamu lupa janji kamu di hotel setelah tidur sama aku?”


Dewa menukas, “Aku nggak merasa janji apa-apa sama kamu! Aku juga nggak mikir kamu cewek … 'apaan' seperti yang kamu bilang barusan.”


“Makanya kalau minum jangan kebanyakan biar otak kamu tetap jalan dan nggak mabuk! Apa perlu aku ceritain kelakuanmu di kamar hotel ke cewek ini?” tantang Vivian, matanya setengah berkaca karena marah yang tak terlampiaskan. Sedikit banyak hatinya juga terluka melihat Dewa dekat dengan Mayra.


“Kamu salah, Wa! Aku nggak ada hubungan apapun sama Elang, kami cuma berteman. Aku juga nggak ada pikiran buat dekat dengan Elang!” Vivian kekeuh membela diri.


“Terserah kamu mau alasan apa, tapi aku udah nggak nyaman sama hubungan kita,” ujar Dewa datar.


“Emangnya aku bikin salah apa sama kamu, Wa?”


Dewa menjelaskan, “Nggak ada yang salah, Vi! Setelah dua bulan jalan sama kamu, aku ngerasa nggak ada kecocokan. Itu aja!”


“Kamu mutusin aku demi cewek ini, kan? Tega banget kamu sama aku!”


“Ini demi kebaikan kita, Vi!”


“Kamu pacaran sama Mayra?”


“Bukan urusan kamu aku mau pacaran sama siapa! Kita udahan sampai sini aja biar nggak ada yang tersakiti nanti,” kata Dewa mengakhiri obrolan. “Ayo, May!”

__ADS_1


“Tunggu, aku mau bicara sama Mayra sebentar!” kata Vivian menahan Dewa dan Vivian yang akan keluar tempat makan tersebut.


"Apalagi sih, Vi?"


“Kamu nggak bisa cari cowok lain, May? Harus ya ngambil cowok orang lain? Aku yakin Dewa sebenarnya nggak tertarik sama kamu, paling juga Dewa cuma kasihan karena kamu temannya Elang!”


Mayra tersenyum tipis, “Cinta itu bisa hadir karena terbiasa bersama, Vi! Mungkin Dewa baru sadar kalau selama ini dia sebenarnya tertarik sama aku, hanya saja dia tidak berani mendekat karena aku sahabat kakaknya. Aku sengaja ngambil Dewa dari kamu karena aku merasa kamu nggak care sama Dewa.”


“Aku nggak care? Sok tau banget kamu! Dari mana asal cerita itu?” tanya Vivian sinis.


“Dewa minum banyak dan akhirnya jatuh sakit karena kamu nggak mencegahnya. Dewa alergi alkohol, tapi kamu malah memanfaatkan kesempatan untuk berpose mesum dengannya di saat dia mabuk berat. Kalau kamu nggak bisa menjaga kesehatannya, gimana kamu bisa menjaga hatinya, Vi?”


“Sok suci kamu, May!” Vivian maju satu langkah untuk mendorong Mayra, tapi Dewa menghalangi sehingga mantan pacar taruhannya itu hanya mendorong dadanya. “Kamu nggak bisa judge aku nggak peduli dengan kesehatan Dewa hanya karena kasus itu, aku memang nggak tau kalau Dewa punya alergi alkohol! Dan udah biasa namanya anak muda di kafe konsumsi minuman keras!”


“Kenapa kamu sampai nggak tahu kalau Dewa nggak tahan sama alkohol? Karena kamu lebih sibuk cari tahu segala sesuatu tentang Elang!”


Vivian memerah, “Bagaimana bisa kamu menyimpulkan hal nggak bener itu, May?”


Mayra menjawab santai tapi memprovokasi dari belakang Dewa. “Dari cerita Dewa! Ohya dari Elang juga. Kamu nggak lupa kalau Elang berteman sama aku dari sejak SMA, kan?”


“Minggir, Wa!” Vivian melotot ke arah Dewa dengan rahang mengeras. Tidak terima disepelekan oleh Mayra.


Dewa tak bergerak, “Kamu nggak akan mempermalukan diri kamu sendiri dengan mengajak Mayra berkelahi, kan?”


“Brengsek!” Vivian mendorong bahu Dewa lalu pergi meninggalkan ruangan dengan ancaman. Vivian dalam posisi tidak diuntungkan, jadi dia harus mengalah dulu. “Awas kalian!”


Dewa bernafas lega, “Kita pulang, Sayang?”


“Nggak usah repot-repot! Aku dijemput sopir,” tukas Mayra sadis. Menepis kasar tangan Dewa yang hendak merangkul bahunya. Mayra lalu berlari ke arah mobilnya, sopir sudah menunggu sejak lima menit yang lalu.


Dewa menggaruk rambutnya yang tak gatal, “Yah … ngambek lagi deh!”


***

__ADS_1


__ADS_2