
Coffee Shop tempat Elang dan Vivian bertemu tidak begitu ramai. Mereka duduk di bagian dalam kafe atas kemauan Vivian. Ruang no smoking area yang mereka tempati hanya berisi beberapa pasangan yang sedang mengobrol santai.
Elang datang sendiri karena Nindya tidak bersedia ikut. Alasannya malas melihat wajah Vivian yang bakalan penuh akting seperti pemain sinetron. Nindya juga beralasan takut tidak bisa menahan emosi karena cemburu. Lebih konyol lagi, Nindya tidak ingin sedikit saja membenci Vivian yang masih saja mengejar suaminya agar anaknya tidak mirip Sang Aphrodite.
Vivian memakai kaos ketat santai dengan belahan leher rendah, persis model cantik majalah dewasa yang baru saja melakukan pemotretan. Tampilannya yang menggoda itu disamarkan dengan outer rajut berwarna coklat gelap. Semua tampak serasi dengan kulitnya yang memang seputih salju.
Hm, 'buah segar' Elang memang tak banyak berubah, tetap segar dan menggairahkan.
Dulu, Elang pasti tergoda dengan tampilan Vivian yang seperti itu. Elang bahkan bisa bercinta dengan gadis yang duduk berhadapan dengannya itu hanya mengandalkan na-f-su, tanpa rasa sayang apalagi cinta.
Tapi sekarang? Elang justru menatap Vivian sambil berimajinasi dengan tubuh Nindya, yang hanya berbalut pakaian dinas seksi jenis teddy koleksi dari Victoria's Secret. Ah, Cinta membuat Elang tak lagi memikirkan wanita lain, apalagi mencari kehangatan di luar pernikahan, yah … meski di rumah dia tidak bisa main liar karena Nindya sedang hamil muda.
“Mau minum apa, Vi?” tanya Elang. Dia memesan kopi, air mineral dan roti panggang.
Vivian mengulas senyum manis, “Jus alpukat no sugar!”
“Ada apa nih kok tumben maksa ketemuan begini?” Elang menatap Vivan serius meski senyumnya seperti orang main-main.
__ADS_1
“Pasti ada sesuatu yang penting, kalau nggak ngapain aku maksa?” jawab Vivian tenang. Berusaha menggoda Elang dengan pesonanya.
“Sepenting apa sampai nggak mau ketemu di kampus?” Elang ikut tersenyum menawan, balas menggoda Vivian dengan jahilnya.
“Ini juga kan masih area kampus, Mas!” sahut Vivian dengan bibir mengerucut seksi.
Elang merasa lucu dengan panggilan Vivian padanya, yang semula kak menjadi mas. Manjanya masih sama, malah sekarang jadi lebih bernada mesra. Elang sangat yakin, kalau Nindya yang memanggilnya 'mas' dengan nada seperti itu … pasti berakhir di atas ranjang dan bercinta sepuasnya.
“Ya udah mau ngomong apa? Soal Dewa, ya?” tebak Elang. Vivian menghubunginya lebih mungkin membicarakan soal Dewa daripada mengulas masa lalu mereka yang kandas lebih dulu sebelum benar-benar dimulai.
“Iya. Dewa mutusin hubungan sama aku secara sepihak. Gimana ya … rasanya kok egois banget dia itu? Dewa nuduh aku nggak ada hati sama dia, nggak logis banget, kan? Mas Elang bisa bayangin sendiri, aku dua bulan ini udah banyak ngabisin waktu sama Dewa, udah deket banget, udah jauh banget lah pokoknya … kok bisa dia bilang aku deket sama dia karena kamu?”
“Ya jelas aja aku marah, dia ngomong gitu di depan temen SMA kamu! Tega banget dia jatuhin harga diri aku di mata cewek lain, aku rasa mereka udah jadian sekarang. Mayra ngaku sendiri kalau dia sengaja ngambil Dewa karena aku nggak care sama adik kamu, Mas! Tolong terangin di bagian mana aku nggak care sama Dewa?” curhat Vivian dengan ekspresi kesal, marah juga setengah memelas.
“Trus mau kamu apa, Vi?” tanya Elang kalem, menyeruput kopi dan kembali menikmati roti panggang yang sudah terhidang.
“Aku mau Dewa balik sama aku, Mas! Hubungan kami udah terlalu jauh buat putus! Aku nggak terima ditinggalin, aku nggak salah apa-apa kok!”
__ADS_1
Elang menaikkan satu alisnya, “Terlalu jauh gimana?”
Vivian diam sebentar lalu menenggak minumannya, jawaban yang keluar dari bibirnya lirih saja, takut didengar sekitar mereka. “Ya … begitulah!”
Elang langsung paham ke arah mana pembicaraan Vivian. Meski tak begitu yakin, tapi Elang tetap bertanya. “Sering?”
Vivian membisu beberapa detik sebelum menjawab pelan. “Enggak terlalu sering sih! Cuma aku terlambat datang bulan!”
Dengan ragu-ragu Vivian menunjukkan beberapa foto panasnya bersama Dewa sewaktu menginap di hotel. Vivian juga bercerita singkat mengenai Dewa yang sama sekali tidak ingat malam syahdu ketika mereka memadu asmara di atas ranjang.
“Dewa nggak inget apa-apa karena mabuk?” tanya Elang menyelidik. Ekspresinya sama sekali tidak terkejut. Selain sudah mengingatkan Dewa untuk selalu pakai pengaman, Elang yakin, dalam kondisi mabuk, adiknya tidak akan mampu melakukan apapun malam itu pada Vivian.
“Hm, iya, Mas!” jawab Vivian berekspresi seperti anak kucing kehilangan induk.
“Aku bisa lihat video kalian waktu ehm … skidipap?” pinta Elang dengan cengiran paling menjengkelkan. Tapi bukan tanpa maksud Elang bisa sampai berkata demikian.
Vivian mengernyit kaget, “Hah, apa? Video skidipapap?”
__ADS_1
***