
“Sayang, bangun yuk! Katanya mau jalan-jalan!” Dewa menepuk lembut pipi mayra ketika jam menunjukkan hampir pukul satu.
Mayra membuka mata malas, “Masih ngantuk. Semalem aku cuma tidur dua jam, Wa!”
“Nanti tidur lagi di mobil! Biar nggak terlalu sore sampai sana!” bujuk Dewa. Lokasi yang ingin dikunjungi bersama Mayra ada di luar Yogya.
“Kamu mau ke kampus dulu ngumpul tugas?”
“Nggak perlu, nanti mampir ke temenku bentar sebelum berangkat, titip tugas ke dia.”
Mayra duduk di tepi ranjang, “Aku boleh mandi dulu?”
“Ya, mandilah abis itu kita makan siang?”
“Makan di luar aja, Wa! Berarti dari temen kamu kita langsung berangkat?”
Dewa menjawab singkat, “Yep!”
“Aku nggak perlu ganti pakaian?”
“Nggak! Kamu mau pulang dulu?”
“Kalau boleh pakai ini ya aku nggak pulang buat ganti?” tanya Mayra sungkan. “Mau kemana sih?”
“Ya pakai itu udah cantik! Kita nyepi di pedesaan hari ini!”
__ADS_1
"Pedesaan?"
Dewa menyiapkan bawaan tetapnya ketika akan berkunjung ke suatu tempat, yaitu kamera, beberapa lensa dan juga tripod. "Yep, sekalian hunting foto."
"Ya udah, aku mandi bentar!"
"Mau makan di lokasi apa sekarang? Udah laper belum?" tanya Dewa setelah mereka keluar rumah.
"Nanti aja di lokasi, kayaknya enak makan dengan suasana desa!"
"Oke, kita ke temenku dulu!"
Setelah menitipkan tugas pada temannya, Dewa melaju cepat ke arah Magelang. Dewa tak berniat mampir ke kampus karena Vivian menunggunya. Si Aphrodite minta ditemani jalan ke mall, sementara Dewa sedang malas dengan keramaian. Lagi pula, dia ingin mengajak Mayra jalan-jalan menikmati sore di salah satu wisata persawahan.
“Kok diem, mikirin apa?” tanya Dewa, sadar kalau Mayra lebih banyak melamun di mobil.
Mayra menoleh, “Mikirin kamu!”
“Kenapa dengan aku?”
“Nggak tau, kayaknya ada yang nggak bener sama kepalaku!” Mayra memijat pangkal hidungnya. Pusing kepalanya sudah banyak mereda karena mendapatkan obat dari Dewa. Tapi ada pusing lain yang mengganggu pikirannya.
Hubungannya dengan Dewa sudah terlalu jauh, rasanya semakin tidak etis ketika mereka berperilaku seperti sepasang kekasih, tapi tidak ada komitmen yang disepakati.
Mayra mulai menyesal karena buru-buru menerima Tony jadi pacarnya. Niat hati ingin segera move on dari Elang berbuntut kerumitan. Hatinya justru tidak memilih Tony. Entahlah, dengan alasan apapun, Mayra merasa jauh lebih nyaman ketika bersama Dewa.
__ADS_1
Mungkin karena mereka sudah saling kenal selama lima tahun, atau mungkin karena Dewa lebih mampu mengalihkan dunianya yang selama ini berisi Elang dari pada Tony. Hm, pada dasarnya Mayra juga lebih menyukai Dewa yang spontanitas, penuh canda dan tengil daripada Tony yang serius dan berusaha romantis setiap waktu.
“Masih pusing? Kita batalin aja ke Magelang-nya kalau kamu kurang sehat. Aku antar pulang aja ya?” Melihat Mayra memijat pelipis, Dewa menepi dan siap berbalik arah.
“Jangan, sudah sampai sini masa balik lagi? Aku juga lagi pengen nyepi hari hari, lagi males ketemu Tony! Dia nunggu aku di kampus. Ehm … kamu nggak dicariin Vivian?” tanya Mayra hati-hati.
“Aku selalu fokus sama yang ada di dekatku! Nggak mikirin yang lain,” jawab Dewa kalem. Mobilnya kembali melaju ke arah Borobudur.
“Sebenarnya aku malah kepikiran Tony, masih nggak percaya aja kalau Tony bakal seiseng itu sama aku! Aku curhat dikit nggak apa-apa, kan?” keluh Mayra. Ya, dia selalu bisa cerita apa adanya sama Dewa. Baik soal Elang ataupun Tony.
“Kalau kamu nggak percaya Tony yang sengaja iseng, menurutmu siapa yang melakukan itu? Temannya? Sebutkan namanya biar aku patahkan tangannya!” Dewa berdecak geram.
“Ish kamu ini!”
“Memberikan obat perang-sang pada perempuan itu sungguh tidak gentleman, Mayra! Kalau Tony memang ingin bercinta sama kamu kenapa dia tidak minta izin saja? Kamu kan pacarnya!” sindir Dewa sinis. Kekesalannya pada playboy kampus itu masih belum hilang.
Bisa dibilang Dewa adalah pihak yang diuntungkan, tidak ikut menabur masalah tapi ikut menikmati manisnya menyentuh Mayra. Lucky. Tapi itu hanya sebuah kebetulan, karena jika dia terlambat menjemput Mayra di kafe, entahlah … Dewa tidak tahu apa dia bisa menahan diri untuk tidak membuat Tony lebih celaka.
“Harusnya aku lebih peka, tidak terlalu percaya dulu dengan orang yang belum lama aku kenal baik, begitu, kan?” Mayra menyalahkan diri sendiri.
Ya, Mayra memang terlalu gegabah. Menghabiskan waktu dengan Tony hanya alasan untuk menyingkirkan kelebatan pernikahan Elang dan Nindya. Kalau saja Dewa tidak ikut sibuk dengan pernikahan kakaknya, mungkin Mayra tidak memilih Tony untuk menemani hari buruknya.
“Kamu maafin dia?” tanya Dewa skeptis.
***
__ADS_1