
Dewa membeli buket mawar merah yang hanya berisi beberapa kuntum segar yang baru mekar. Niatnya merayu Mayra untuk ikut nongkrong bersama anak bikers Surabaya malam nanti harus berhasil.
Selanjutnya, menjadi guide untuk tamu sekalian mengajak Mayra jalan-jalan keliling Yogya sepertinya akan menjadi momen romantis untuk mereka berdua. Sekalian latihan, Mayra butuh terbiasa di atas motor agar touring panjang ke Bali bisa mereka lewati dengan lancar dan aman.
Intinya, selain kuliah dan berkegiatan bersama teman, Dewa ingin menghabiskan waktu luangnya bersama Mayra. Gadis ayu itu harus jatuh hati padanya, harus mau menjadi kekasihnya, harus menjadi miliknya. Jika perlu, Dewa akan mengikatnya dengan pertemuan orang tua. Mungkin melamar jika diperbolehkan ibunya.
Untuk hal satu itu, Dewa kurang yakin karena dia baru semester empat, baru mau dua puluh tahun dan … jelas belum punya penghasilan. Uang jajannya murni subsidi orang tua. Hm, Dewa sudah lama tidak diberi uang jalan oleh Elang. Padahal dulu setiap kali pergi mengantar atau menemani Mayra selalu ada uang saku.
Huh, Dewa harus putar otak untuk menghasilkan uang sendiri. Mungkin dengan bekerja di bengkel modifikasi motor milik Erfan? Atau bagaimana jika membuka bengkel modifikasi sendiri khusus mobil?
Wow … Dewa berpikir akan ikut club mobil juga untuk mencari relasi. Toh dia punya mobil atas namanya sendiri.
Angan-angan Dewa berakhir ketika masuk halaman rumah Mayra. Dewa merapikan penampilan seperlunya sebelum turun. Kaos putih, outer jeans putih dan celana panjang coklat muda menjadi gayanya hari ini, topi sengaja dipakai terbalik untuk merusak kesan dandanan yang sudah keren.
Sampai di depan rumah Mayra, tak urung debaran jantungnya terasa tak nyaman. Dewa tak pernah datang ke rumah itu dengan bunga di tangan. Semua keluarga Mayra taunya Dewa hanya berteman baik dengan Mayra. Tapi sekarang?
Sepupu Mayra yang sedang ngobrol dengan pacarnya di teras depan spontan terbahak-bahak melihat Dewa berjalan ke arahnya dengan seikat bunga mawar merah di tangan. “Uhuuiii ada apa neh? Bau-baunya ada yang mau menyatakan cinta!”
“Berisik! Mana Mayra?” Dewa tak menggubris ledekan Julian dan tawa cekikikan pacarnya.
“Ada di belakang, lagi berenang tadi … entah kalau sekarang!” jawab Julian masih terkekeh-kekeh memperhatikan raut Dewa yang sedikit tegang.
Dewa menggerutu kesal sambil menatap penampilannya sendiri dari bawah ke atas. “Sial! Ada yang lucu?”
“Enggak sih, cuma apa ya … aneh aja! Ngapain pakai bawa bunga segala?! Mayra bisa klepek-klepek itu nanti, tenggelam di laut cinta hahaha,” ledek Julian tak berhenti menertawakan gaya Dewa yang menurutnya tidak nyambung, kurang cocok menjadi pemuda romantis.
“Namanya juga usaha!” balas Dewa memamerkan seringai tak peduli. Dia berjalan masuk menuju kolam renang di belakang rumah. Tidak ada yang ditemui Dewa kecuali pembantu rumah tangga, orang tua Mayra jelas belum pulang dinas.
Dewa duduk di kursi dekat kolam, memandangi Mayra yang sedang berenang. Gadis ayu itu belum menyadari kehadiran Dewa sampai akhirnya berbalik arah, melaju menyibak air di depannya dengan gaya dada.
“Hai cewek, aku padamu!” Dewa menyapa dengan cengiran jahil ketika Mayra menatapnya dengan ekspresi agak terkejut.
Mayra tidak bisa menyembunyikan senyum gembiranya, “Hai cowok, kok nggak bilang kalau mau dateng?”
“Takut nggak dibolehin,” jawab Dewa kalem. “Masih lama berenangnya?”
__ADS_1
“Mau nemenin?”
“Enggaklah, udah keren gini masa nyemplung kolam renang! Mau ngajak keluar kamu nanti malem … kalau kamu mau, tapi aku berharap nggak ditolak, agak maksa sih ini!”
Mayra keluar kolam, menghampiri Dewa yang sedang tak ingin basah. “Kemana?”
Dewa berdiri, mengulurkan buket mawar merahnya, lalu mengulas senyum termanis, “Ke hatimu! I miss you, Beibeh!”
“Gombal, ih!” Mayra terkikik menerima bunga yang melambangkan romantisme dan cinta tersebut, mencium wangi segarnya lalu merona. Ah, Dewa selalu saja bisa melelehkan hatinya yang sedang marah. Kalau begini, acara ngambek nggak mungkin bisa diperpanjang lagi. “Terima kasih, aku mandi dulu ya! Ada Julian kalau butuh temen ngobrol!”
“Julian lagi pacaran di depan, masa iya aku jadi orang ketiga? Mending aku tunggu kamu di sini,” kata Dewa sambil berjalan mengamati kaktus koleksi Bu Santi yang berdekatan dengan teras belakang. “Ada yang baru ya kayaknya?”
“Hm, iya ada beberapa. Dikasih teman kata mama.” Mayra meninggalkan Dewa yang asyik memotret kaktus dengan ponselnya.
Mayra kembali setelah lima belas menit berlalu, memakai dress santai selutut berwarna kuning dengan motif bunga-bunga, rambut terikat tinggi memperlihatkan seluruh lehernya. Mayra duduk santai ditemani dua cangkir teh, yang sudah terhidang bersama satu toples camilan.
Melihat Mayra duduk sambil minum teh dan hanya memperhatikan dirinya, Dewa menyudahi kegiatannya untuk bergabung di sebelahnya.
“Kamu cantik banget, May! Seger!”
“Buah kali seger!” timpal Mayra.
“Idih … kamu kesambet apa minta dikangenin sama aku?”
“Cinta!”
“Halah garing,” balas Mayra kejam.
“Mau aku bikin basah? Sini!” Dewa menarik Mayra kedalam pelukan dan langsung memberikan ciuman ringan di bibir.
Mayra mendorong bahu Dewa, “Males … aku masih kesel sama kamu!”
Dewa tidak mau mundur sedikitpun, ciumannya tak lagi berupa kecupan ringan, tapi sudah memagut lebih dalam. Dengan nakal, tangannya menarik ikat rambut Mayra hingga terurai berantakan.
Rambut yang baru dikeringkan dan berbau wangi itu menyesaki sela jari-jari Dewa. Terasa halus dan menantang Dewa untuk membelainya, mempermainkannya dan menariknya lembut hingga yang punya mengaduh tersiksa oleh gelisah.
__ADS_1
Rindu yang disimpan Mayra tumpah ruah. Harga dirinya yang dijunjung tinggi dengan bersikap jual mahal pada rayuan Dewa nyatanya melumer oleh kinerja tangan Dewa yang membelai lembut rambutnya penuh ungkapan sayang.
Dengan segenap hati tapi tanpa kemampuan berarti, Mayra membalas ciuman Dewa yang semakin dalam. Sesak di dadanya terurai begitu indah, dunia seolah penuh warna dan Mayra menikmati tiap sentuhan Dewa dengan hati terbuka.
Api cinta yang dipadamkan Elang kini menyala bersama Dewa. Dengan lebih panas, menggebu dan penuh gelora anak muda.
Tak lama, Dewa melepas bibirnya dari Mayra, tapi dia tidak bergerak mundur untuk meregangkan pelukan. Dewa melirik ke kiri dan kanan Mayra, hingga menoleh ke belakang bahunya sendiri seolah sedang mencari sesuatu.
Mayra sungguh dibuat bingung dengan tingkah Dewa. “Kamu ngapain? Cari apa?”
“Cari sesuatu yang mungkin bisa kamu pakai untuk memukul kepalaku,” jawab Dewa lugas. “Ada yang nggak bener dengan otakku!”
“Aku nggak ngerti kamu ngomong apa! Kamu sakit kepala? Ada obat di dalam!”
Dewa menatap mata Mayra dengan hasrat yang sudah tersulut. Dewa lalu melepas pelukan dengan berat hati, dengan satu cengiran tengil. Dewa memperbaiki duduk, bersandar di sofa sambil memejamkan mata, menetralisir degup jantungnya yang sudah melewati batas normal.
“Maaf, aku nggak bermaksud berlebihan!” ujar Dewa serak. Tubuhnya yang bergetar karena gairah mulai mengendur, tapi tidak dengan kejantanannya. Masih kaku di dalam persembunyiannya.
“Itu cuma ciuman, Dewa!” kata Mayra, tubuhnya gemetar tapi suaranya masih bisa tenang.
“Cuma ciuman?” gumam Dewa membenarkan. Harga dirinya sedikit hancur karena ciuman yang tak seberapa lama itu sudah memporak-porandakan benteng pertahanannya.
Mayra penyebabnya. Gadis itu sangat ayu dibalut dressnya, tubuhnya harum dan juga segar. Betisnya yang terekspos indah membuat Dewa blingsatan, belum lagi leher yang dibiarkan terbuka karena rambutnya diikat tinggi di belakang kepala!
Ciuman sore Dewa dan Mayra seolah berada dalam surga neraka, nikmat tiada tara tapi sangat panas membakar.
Mayra menegaskan, “Ya memang cuma ciuman, kan? Salahnya dimana?”
Dewa tak merabanya, hanya mencium dan membelai rambut … tapi kenapa butuh pemukul kepala? Mayra bahkan sama sekali tidak keberatan Dewa mencium sambil memeluk, tidak marah, tidak akan ngambek. Mayra menikmati dan membalas.
“Sayang, aku boleh minta air dingin? Jus jeruk!”
“Oke!” Mayra mencium pipi Dewa sebelum beranjak. Merapikan rambutnya yang berantakan, kembali mengikatnya lalu pergi ke dalam meminta minuman pesanan Dewa pada asisten rumah tangga.
Mayra berpikir, mungkin Dewa memang butuh pendingin, karena yang baru saja mereka lakukan bukan hanya membuat gerah tapi juga melecutkan gairah.
__ADS_1
“May … ada temen kamu datang tuh! Namanya Tony!” Julian hampir menabrak Mayra di dekat ruang makan ketika menyampaikan berita tersebut.
***