Dewa Love You

Dewa Love You
Budak Cinta Mayra


__ADS_3

Dewa pulang agak malam karena mampir dulu ke bengkel modifikasi Erfan untuk rapat, sekalian mencari informasi dan belajar mengenai perbengkelan. Sampai rumah, Dewa sudah ditunggu Elang dan Nindya yang sedang duduk di teras melihat bulan.


“Sorry … nungguin lama ya? Tadi mampir ke Erfan sebentar! Mas Elang udah pulang latihan dari tadi?” tanya Dewa dengan raut penasaran. Tidak biasanya Elang menyuruhnya pulang cepat.


“Hm, kamu mau makan dulu? Aku mau ngomong penting soal Vivian!”


“Aku udah makan tadi. Mas Elang jadi ketemuan sama dia ya, ngomong apa aja tuh cewek?”


Elang menyodorkan amplop berlogo laboratorium ternama di kota Yogyakarta, “Vivian hamil tiga minggu!”


“Hah?” Dewa melotot, amplop yang diulurkan Elang langsung dibuka dan dibaca. Dia menggeleng tak percaya, “Gila apa?”


“Maksudmu apa, Wa? Ngomong yang bener sebelum aku bahas semua ini sama papa sama ibu!”


“Sumpah aku nggak pernah sekalipun melakukan ‘hal itu’ sama Vivian, Mas!” ujar Dewa dengan ekspresi serius. “Gimana ceritanya dia bisa hamil sama aku coba?”


Elang menukas tajam, “Dia menunjukkan foto-foto kamu sama dia nginep di hotel, mungkin pas kamu pulang pagi trus sakit itu!”


Dewa menarik nafas panjang sebelum bercerita, “Oh itu … acara ulang tahun teman Vivian ya? Aku ditantang minum sama cowok temennya Vivian, kesannya memang sengaja biar aku mabuk, aneh aja masa game seperti itu cuma untuk aku? Aku layani minum sampai aku nggak kuat lagi bawa badan, tau-tau paginya aku udah tidur di hotel nggak pakai baju, sama Vivian!”


“Selain dalam kondisi mabuk itu kamu nggak pernah main-main sama dia nggak pake lateks pengaman?” tanya Elang memastikan. Untuk kasus mabuk berat sudah jelas kalau Dewa tidak mungkin bisa melakukan apapun malam itu pada Vivian.


“Aku belum pernah menjamah Vivian selain peluk cium, Mas! Pegang dada sama bokong aja dari luar bajunya!” jawab Dewa jujur.

__ADS_1


Entah karena bodoh atau karena tidak berpengalaman tidur dengan cewek sehingga Dewa tidak berpikir untuk mencari kesenangan dengan tubuh Vivian. Dewa hanya berniat memacari Vivian selama tiga bulan saja, jadi tidak mau berurusan atau menjalin hubungan lebih dalam yang mungkin akan menyusahkan ketika putus nanti. Di sisi lain, Dewa jelas enggan memakan cewek bekas kakaknya.


“Lah trus dia hamil sama siapa, Wa?” tanya Elang, menatap tajam wajah innocent adiknya.


“Mana aku tahu? Aku nggak ngurusin pergaulan Vivian sama siapa di luar? Urusanku sama dia cuma sebatas taruhan dan supaya keliatan pacaran di depan teman-teman bikers yang terlibat taruhan!”


Elang memijat pelipisnya, “Aku suruh dia tes DNA kalau kandungannya udah masuk usia sepuluh minggu. Aku harap kamu jujur sama aku karena aku percaya sama kamu. Aku menjaminkan diri buat nikahin dia kalau sampai kamu nggak mau ngakuin bukti tes DNA Vivian nantinya!”


Nindya yang mendengar pengakuan Elang spontan berdiri dengan raut runyam, meninggalkan Elang dan Dewa yang masih mengobrol serius. “Nggak jelas banget kamu itu, El!”


“Sayang … aku nggak serius waktu ngasih solusi itu, aku tau Dewa pasti tanggung jawab!” kata Elang sedikit keras.


“Bomat! Dasar gatel!” umpat Nindya.


“Kamu tau maksudnya, kan? Baru denger aku ngomong gini aja Nindya udah pasang wajah perang! Bayangin kalau aku beneran nikahin Vivian … udah pasti aku kehilangan istriku, Wa!” kata Elang terkekeh-kekeh melihat Nindya naik tangga.


Dewa menanggapi serius, “Seandainya hasil tes DNA itu membuktikan kalau Vivian hamil karena aku, ya mau nggak mau aku yang nikahin, Mas! Nggak mungkin aku ngorbanin orang lain buat bertanggung jawab!”


“Ya udah, tunggu aja sampai tiba waktu tes. Aku nggak yakin Vivian bakal mau sih, kemarin aku tawarin buat konsultasi dulu ke dokter kandungan aja dia banyak alasan. Ya … tiap orang emang punya kesibukan, tapi jadi nggak wajar kalau sesuatu yang menurutnya paling penting malah diabaikan dan ditunda! Mana pakai drama air mata lagi,” tutur Elang seraya menggaruk dagunya.


“Biar aku selidikin pergaulannya mulai besok. Bahaya juga tuh cewek, main sama orang lain giliran hamil larinya kemari!”


“Malam di hotel itu yang bikin posisi kamu lemah, mana katanya kamu nggak inget apa-apa! Di ponselnya banyak banget foto telanjang kalian, sayang nggak ada videonya!” ujar Elang menyampaikan keluhan Vivian.

__ADS_1


Dewa berdecak kesal, “Pagi itu dia ngeluh kalo **** * nya sakit, jangan-jangan sebenarnya dia tidur di kamar lain dulu malam itu, abis gitu baru pindah sekamar sama aku, dasar cewek sial! Aslinya dia itu pengen ada di sekitar mas Elang, nggak bisa jadi istri ya jadi ipar, nggak bisa jadi ipar ya jadi simpenan.”


“Ya sebenarnya jadi simpenan oke juga, tapi kalau yang nyimpen banyak orang jadi repot nantinya!” timpal Elang berkelakar. “Oh ya gimana hubunganmu dengan Mayra?”


“Kemarin disamperin Tony di rumahnya, abis ribut kayaknya mereka!”


“Kamu kalau serius sama Mayra mending minta papa sama ibu buat bicarain sama orang tuanya! Bukan apa, Mayra udah mau lulus kuliah, bukan mustahil bakal dikenalin sama anak relasi keluarga mereka. Apalagi aku udah nikah, orang tuanya pasti mikir buat cari yang lain buat Mayra!”


“Waduh, Mas! Lah nanti kalau ditanya kerjaan sama penghasilan gimana? Kuliah baru semester empat, umur juga baru 20 tahun,” jawab Dewa puyeng. “Pacaran aja dulu nggak bisa apa?”


“Ya nggak apa-apa, tapi jangan salahkan keluarganya kalau misalnya mereka membangun hubungan dengan yang lain! Relasi pejabat.”


“Aku lagi mikir mau minta modal buat buka bengkel modifikasi mobil. Aku udah ngobrol banyak sama Erfan, dia bisa bantu cari tempat yang strategis, mekanik sama rekomendasi beberapa teman yang suka modifikasi buat bantu aku di awal.”


“Ya bilang toh sama papa!” saran Elang. “Kamu nggak mau bantu papa ngurus homestay aja?”


“Enggak, udah ada ibu. Ada Mas Elang sama Mbak Nindya juga, aku mau ngerjain sesuatu yang aku suka aja!” ujar Dewa yakin.


Elang berdiri, “Ya nanti aku coba cariin info ke temen-temen kalau niat kamu begitu. Aku mau ke atas, kalau kelamaan bisa dikunci nanti pintu kamar!”


Dewa memasang wajah malas, Elang sudah menjadi budak cinta istrinya sekarang. Sedikit-sedikit Nindya. Bentar-bentar ngamar, kayaknya waktu mereka ngobrol jadi berkurang banyak.


Hm … bukannya Dewa juga begitu, mulai jadi budak cinta Mayra?

__ADS_1


Ah, gadis ayu itu memang pantas dirindukan. Dewa mengeluarkan ponselnya, menelpon Mayra sambil berjalan ke kamarnya.


***


__ADS_2