Dewa Love You

Dewa Love You
Hari Patah Hati


__ADS_3

"Dasar gila!" Mayra mendorong dada Dewa, lalu berjalan cepat ke arah parkiran.


Mayra sedikit membanting pintu ketika masuk ke mobil Dewa. Kesal! Dewa, meskipun lebih muda beberapa tahun darinya, tapi bisa dengan mudah memporak-porandakan pertahanannya.


Dewa menyalakan mobil dan mengemudi keluar area kampus. Mengantar Mayra sebentar ke tempat pemesanan snack box baru meluncur ke rumahnya. Mereka hanya diam dalam perjalanan.


"Mau ngomong apa? Ini udah lebih dari sepuluh menit! Aku nggak bisa lama-lama di sini!" Mayra mencebik, protes karena Dewa membawanya ke rumah.


"Iya ini cuma sebentar! Ayo masuk!"


Dewa membuka pintu untuk Mayra dan menggandeng gadis itu untuk masuk ke rumahnya. Langsung ke ruang televisi di lantai atas, di depan kamarnya dan kamar Elang.


"Elang kemana sih nggak kelihatan di kampus? Padahal kemarin bilang mau masukin surat peminjaman alat dan ruang seminar."


"Busyet, baru juga duduk udah nggak kerasan!" ujar Dewa menimpali.


"Elang kemana?"


"Enggak tau, kayaknya lagi ada perlu penting di luar!"


"Oh, ya udah kamu mau ngomong apa? Cepetan!" Mayra duduk gelisah, berdua dengan Dewa membuatnya merasa tidak aman. Mayra takut diterkam.


"Mau minta maaf," kata Dewa kalem. Menghidupkan televisi lalu mengambil air dingin dari kulkas untuk mereka.


Mayra menukas, "Udah basi, nggak usah dibahas! Tapi jangan ngarep aku maafin kamu!"


"Masih marah?"


"Iya masih, nggak usah tanya harusnya kamu tau kalau aku kesel sama kamu. Ini rumah kok sepi banget sih, kemana semua orang?"


Dewa menaikkan sudut bibirnya, "Takut ya sama aku?"

__ADS_1


"Iya, kamu mesum sih! Males aku, sumpah!" Mayra melengos dengan muka masam tapi merona deg-degan.


Entah bagaimana dia menyukai ketika Dewa menyorotinya tajam. Tatapan pemuda satu ini sungguh mengusik dan mengandung bahaya, seperti teror lama yang akan terulang kembali.


Mayra ingat betul ketika Dewa menyentuh dadanya. Dengan lembut, menggetarkan dan membakar darah. Tidak! Mayra belum siap untuk hal-hal intim seperti itu, apalagi Dewa bukan siapa-siapa untuknya.


Dewa terkekeh, "Aku udah tobat! Nggak usah khawatir walaupun rumah ini sepi! Ehm ibu lagi keluar belanja kebutuhan untuk acara mas Elang!"


"Acara apa? Syukuran seminar?" Mayra mengambil minum untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Bersama Dewa sungguh membuatnya tersiksa salah tingkah.


"Bukan!" jawab Dewa santai.


Mayra menaikkan satu alis, berusaha menerka. "Besok Elang ulang tahun, sengaja bener dia seminar pas hari lahir, biar sekalian bikin acaranya?


"Enggak, bukan itu acara sebenarnya! Ehm … ngomong-ngomong kamu masih mau kasih kejutan buat mas Elang besok?"


"Kenapa emangnya?" tanya Mayra penasaran.


"Maksudnya gimana, Wa? Elang mau ngasih kejutan balik buat aku?"


"Iya," jawab Dewa serius. "Jangan kaget tapi ya!"


"Hm apa kejutannya? Kalau udah kamu kasih tau sekarang, besok nggak bakal kaget lagi lah, tapi aku bisa pura-pura terkejut kok biar seru!"


Dewa menjawab dengan suara rendah, "Mas Elang besok mau nikah sama bu dosen!"


"Ngaco! Mau nikah kok nggak ada persiapan di rumah!" Mayra langsung menyangkal, masih tertawa kecil mendengar kata-kata tak masuk akal dari mulut Dewa.


"Ya orang nikahnya nggak di sini!"


Mayra menyahut kesal, "Nggak lucu ah candaan kamu!"

__ADS_1


"Aku serius, Mayra!"


Dewa menjelaskan semua kejutan yang akan diberikan Elang untuk Nindya setelah seminarnya selesai. "Aku mau ngomong ini dari kemarin-kemarin, tapi kamu susah banget ditemuin."


Mayra tertegun menatap Dewa, butuh waktu cukup lama untuk memahami alur cerita unik yang baru saja masuk telinganya. Dewa mengatakan Elang ingin menikah di hari ulang tahunnya, tepat di usia 23 tahun.


Perlahan wajah Mayra menjadi kaku untuk digerakkan, bahkan untuk mengulas senyum kecil saja dia tidak mampu. Terlalu tegang. Ingin mengingkari kenyataan dengan cara pingsan, tapi tidak berhasil.


Tak lama, air mata Mayra mulai menetes, lalu gadis itu menangis sesenggukan dengan cukup keras. Hatinya patah, perasaannya sakit, kepalanya pusing tujuh keliling.


"Wa, kamu nggak lagi bikin prank buat aku, kan? Hu hu hu rasanya sakit beneran ini, Wa!"


Dewa mengusap air mata Mayra, "Jangan nangis! Kamu bilang udah siap dengan kemungkinan seperti ini, udah siap ditolak, siap patah hati?!"


Mayra menyurukkan tubuhnya, masuk ke dalam pelukan Dewa. Dahinya menyandar di dada Dewa, sedangkan tangan kanan memegang dada. "Tapi nggak secepat ini juga, Wa! Aku belum berhasil move on, hu hu hu sakit sekali rasanya di sini!"


"Kok belum berhasil? Bukannya udah jalan sama Tony sekarang?"


Mayra mencubit perut Dewa, tangisnya semakin keras! "Ya udah kalau gitu aku jadian aja sama Tony, biar cepet move on!"


Tidak ada yang dilakukan Dewa selain memeluk dan membelai rambut Mayra. Gadis itu menangis sejadi-jadinya tanpa malu, meluapkan semua kesedihan dengan cara membasahi kemeja kuliah Dewa dengan air matanya.


"Harus sama Tony ya move on-nya?" tanya Dewa setelah Mayra menangis cukup lama di dadanya.


Mayra mengeratkan pelukan, "Iya sama Tony aja, mau sama siapa lagi?"


"Sama aku!" jawab Dewa singkat tapi serius.


Masih terisak, Mayra menukas gamblang. "Enggak mau! Kamu nakal! Lagi pula aku nggak sudi jadi madunya Vivian!"


Entahlah! Alih-alih ikut berbela sungkawa dengan situasi gadis yang ada dalam pelukannya, Dewa malah tertawa mendengar jawaban konyol Mayra.

__ADS_1


***


__ADS_2