Dewa Love You

Dewa Love You
Waktunya Mayra


__ADS_3

Setelah makan malam bersama keluarga, Dewa menonton televisi sendirian di ruang keluarga lantai atas. Elang sudah masuk kamar bersama istrinya, mungkin menonton televisi di kamar atau melakukan sesuatu yang biasa dilakukan pengantin baru. Malam pertama. Yah … meski Dewa tak yakin kalau yang Elang dan Nindya lakukan itu yang pertama. Ups!


Pernikahan Elang sama sekali tidak mewah. Dilakukan mendadak dan sederhana karena Elang ingin mengobati luka Nindya yang diputuskan tunangannya. Pesta sesungguhnya akan digelar nanti setelah Elang wisuda, beberapa bulan lagi. Itu yang dibahas keluarganya ketika makan malam tadi. Dewa hadir sebagai pendengar yang keki terhadap Elang karena bersikap kelewat romantis pada kakak iparnya, Nindya.


Sekarang, Dewa sibuk memikirkan perasaan Mayra tentang hari ini. Gadis itu kemarin mengatakan akan baik-baik saja dan berjanji padanya tidak akan melakukan hal konyol yang bisa merugikan diri sendiri. Siapa sangka kalau hari ini Elang mengabarkan Mayra sudah berpacaran dengan Tony?!


Dewa kesal setengah mati, Mayra tidak membalas pesan yang dikirimkannya dari sejak siang, tidak mengangkat telepon dengan sengaja. Padahal ponselnya aktif. Ingin rasanya Dewa pergi ke rumah gadis itu dan bertanya langsung, tapi hari sudah terlalu malam. Tubuhnya juga lelah minta istirahat karena seharian ikut sibuk mengurusi pernikahan Elang.


Dewa mencoba sekali lagi menghubungi Mayra, juga berkirim pesan. Tidak ada hasil. Yang memenuhi kotak pesan ponselnya justru Vivian, yang meributkan pernikahan Elang yang baru diketahuinya. Si Aprodhite protes habis-habisan karena Dewa tidak mengajaknya menghadiri pernikahan tertutup tersebut.


[Sayang, ke rumah sekarang dong!]


[Sayang, kita nongkrong yuk! Ngopi di dekat Stasiun Tugu kayaknya enak deh, aku bete banget di rumah sendirian.]


[Sayang, besok pagi aku boleh ke rumah kamu nggak? Aku kangen banget!]


Dewa tak membalas pesan Vivian, tapi tak menolak ketika pacar taruhannya itu meminta panggilan video. Dewa melayani obrolan hingga hampir satu jam, malas-malasan karena topik pembicaraan melulu soal Elang yang menikah diam-diam tanpa memberitahu Vivian. Ya ampun!

__ADS_1


Dewa tidak menanggapi lebih jauh ajakan Vivian untuk keluar malam. Alasan gadis itu terlalu klise, katanya sedang pusing dan stress sehingga butuh hiburan malam. Sementara Dewa sungguh sedang malas keluar rumah, selain lelah dia lebih oleng karena Mayra tidak membalas pesannya.


Dewa akhirnya menutup panggilan video Vivian dengan sedikit pertengkaran. Vivian ngambek dan menuduhnya sangat tidak pengertian pada perempuan. Namun, Dewa tidak begitu peduli. Dia masuk kamar, melempar ponselnya ke atas kasur lalu tidur untuk menghilangkan penat dan kantuk.


Dua jam berikutnya ponselnya berdering beberapa kali. Dewa mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari mama Mayra. Tidak biasanya wanita itu menelpon di jam orang tidur. Dewa melirik jam di kamar yang menunjuk angka setengah sebelas.


“Dewa, Mayra kok belum pulang ya? Kamu ada nomor hapenya Tony nggak?” tanya Bu Santi dari seberang telepon.


Dewa seketika serius mendengarkan cerita dari Bu Santi, Mayra keluar dengan Tony dari pukul setengah delapan malam. Tony meminta izin untuk mengajak Mayra nonton di Ambarukmo Plaza dan berjanji akan mengantarkan Mayra pukul sepuluh.


“Tolong hubungi Tony ya, Wa! Udah malem banget ini, hape Mayra juga kok aneh, aktif tapi nggak bisa dihubungi. Ketinggalan apa hilang ya kira-kira hapenya?”


Dewa berhenti di angkringan yang biasanya dipakai nongkrong anak kampus kalau malam. Bertanya pada beberapa teman sekampus yang dikenalnya. Nihil. Selama 30 menit berikutnya, Dewa sibuk dengan ponselnya. Telepon sana sini untuk mencari keberadaan Tony dan Mayra.


Hingga akhirnya satu pesan video pendek masuk dari Erfan, diikuti caption : cewek siapa ini? Dengan tiga tanda tanya dan emoticon berpikir.


Dewa langsung menelepon Erfan, "Dimana?"

__ADS_1


"Jalan Parangtritis," jawab Erfan, melengkapi alamat dengan nama kafe hiburan malam tempat Mayra dan Tony menghabiskan malam. "Mending kamu kesini sekarang deh, kayaknya si Mayra udah kenapa-kenapa itu!"


"Jangan sampai Tony bawa Mayra keluar tempat itu, tolong cegah sebisamu, Er! Aku kesana sekarang!"


Gigi geraham Dewa bergemeretak, kafe yang disebutkan Erfan merupakan salah satu tempat berkumpulnya anak muda Yogya. Selain suasananya yang nyaman dan bebas, live musik yang disajikan berasal dari band-band lokal yang sudah punya nama.


Video pendek yang dikirimkan Erfan mungkin terlihat biasa bagi orang lain. Tapi bagi Dewa yang mengenal baik siapa Mayra, gambar bergerak itu menunjukkan keanehan.


Mayra tidak mungkin menunjukkan kemesraan di tempat seperti itu. Gadis itu tidak mau nongkrong di tempat hiburan karena harus menjaga reputasi ayahnya yang seorang pejabat. Mayra pasti dipaksa mengikuti gaya pergaulan Tony yang bebas tanpa aturan.


Kepala Dewa panas, otaknya memijar melihat Tony merangkul pinggang Mayra dari belakang, mengusap atas bokong Mayra seperti sedang memberikan rangsangan. Mayra berusaha menyingkirkan tangan Tony, gerak tubuhnya terlihat sangat gelisah dan tidak nyaman.


Dewa melajukan motor seperti orang kesetanan, hingga tiba di kafe yang disebutkan Erfan dalam waktu sepuluh menit. Erfan yang melihat kedatangan Dewa langsung menyambut riang.


"Tenang, Boy! Jangan bikin keributan di sini. Kamu bisa panggil Mayra dan bawa dia pulang tanpa meninggalkan masalah. Bisa, kan?" Erfan menepuk bahu Dewa sambil menunjuk tempat Tony dan Mayra duduk.


Secara kebetulan dua sejoli itu berdiri dan berjalan keluar kafe, mungkin Tony berniat mengantarkan Mayra pulang karena sudah hampir tengah malam. Dewa menunggu sampai Mayra dan Tony benar-benar keluar pintu kafe menuju tempat parkir.

__ADS_1


"Mayra!" sapa Dewa dengan suara menahan jengkel. Gadis itu keluar bergandengan tangan dengan Tony, dengan wajah sedikit berantakan.


***


__ADS_2