
“Sayang, ini masih terlalu pagi untuk aku pulang! Aku kemarin bilang kalau nginep di tempat Riska sama mama, anter aku sana aja deh! Aku pulang ke rumah sekalian nanti selesai kuliah,” pinta Vivian memelas.
Orang tua Vivian percaya pada putrinya dan Riska karena sudah bersahabat sejak SMA. Sehingga nama Riska kerap jadi alasan Vivian jika ingin keluyuran malam.
“Oke, terserah kamu!” Dewa bergumam pelan sambil mengemudikan mobilnya ke arah Babarsari. Berpikir kalau Vivian sudah biasa melakukan hal demikian. Sering tidak pulang dengan alasan menginap ke rumah teman baiknya itu.
Kalau saja Vivian bukan sekedar pacar taruhan, pasti Dewa tidak akan mengizinkan Vivian berkelakuan seperti perempuan kurang didikan.
Bagaimana tidak? Dia yang menjemput Vivian tapi gadis itu malah tidak mau diantarkan pulang ke rumah. Padahal Dewa sudah menyiapkan penjelasan untuk mama Vivian jika nanti ditanya kenapa mereka pulang sepagi ini.
Hm, mungkin Vivian tidak ingin ketahuan orang tuanya kalau ada hal-hal tercela yang sering dilakukannya di luar. Mungkin Dewa memang tidak harus begitu peduli dengan urusan pribadi Vivian. Toh mereka pacaran karena kebutuhan, bukan suami istri yang bisa saling mengekang.
“Kamu masih pusing ya, Sayang?” Vivian mengusap bahu Dewa dengan sebelah tangan.
“Hm,” jawab Dewa malas.
“Kamu tuh mabuk banget malam tadi, untung nggak muntah-muntah. Aku sampai takut lihat kamu kayak gitu! Serem juga ternyata efek alkohol, tau bisa bikin kamu sakit gini nggak bakal aku bolehin ada tantangan kuat-kuatan minum! Kamu tepar sampai nggak kuat jal-an ….” Vivian tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hampir saja keceplosan dan membuka apa yang seharusnya ditutupi.
Dewa menyeringai, menyadari kalau Vivian mendadak menghentikan kata-katanya. “Nggak kuat jalan? Aku masih sadar kok kalau aku dipapah ke dalam kamar. Yang lebih penting aku masih kuat yang lain, kan?”
Vivian tersenyum terpaksa, “Iya. Kamu ke kampus jam berapa nanti?”
“Sepuluh mungkin!” jawab Dewa tak bersemangat. Dia tau Vivian sengaja mengubah topik pembicaraan.
__ADS_1
“Kok mungkin? Ada rencana nggak masuk? Ini baru jam tujuh kok, kamu bisa tidur lagi di rumah! Nanti kalau udah di kampus, kamu kabari aku ya, kita makan siang bareng. Ada berapa matkul hari ini?” Vivian bertanya dengan nada penuh perhatian.
“Dua, satunya siang jam dua.”
“Aku tunggu ya nanti, aku juga sampai sore kok hari ini. Sebelum pulang kita lihat mas Elang latihan dulu yuk! Dia mau lomba, kan? Aku lihat di baliho kampus, LPDN (Lomba panjat Dinding Nasional) dilaksanakan nggak lama lagi,” ajak Vivian antusias.
Dewa menolak, “Males, udah sering lihat mas Elang latihan. Kamu lihat aja sama Riska nanti!”
“Tapi kalau pas lomba jangan males ya! Kita dukung biar dia menang, aku penasaran mas Elang kalau lomba gimana, belum pernah lihat kejuaraan panjat sih, jadi kebetulan banget ada wall climbing competition digelar di tempat kita. Seru pastinya! Kamu sering liat mas Elang lomba?”
Mata Vivian berbinar-binar membayangkan bisa menemani Elang ikut lomba, meski dia harus berdiri di samping Dewa tentunya. Dia akan menyemangati dan berteriak keras untuk mendukung pemuda itu.
“Hampir semua kejuaraan yang diikuti mas Elang aku lihat, walaupun kadang datang pas dia baru babak penyisihan atau cuma lihat finalnya aja!” Dewa menjelaskan singkat.
“Terakhir ditemenin Bu Nindya!” jawab Dewa cuek.
Vivian berdecak kesal. Dosen muda di kampusnya itu sekarang sudah jadi istri Elang. Vivian masih sangat cemburu kalau ingat pernah satu perahu dengan Nindya ketika arung jeram dalam rangka acara makrab jurusan beberapa bulan lalu.
Elang terlihat lebih perhatian pada wanita itu dibanding memperhatikannya. Padahal Vivian sudah memakai setelan seksi dengan paha terbuka hingga setengahnya. "Oh sama Bu Nindya ya?"
Dewa melirik Vivian yang mendadak muram. “Kamu kenapa? Cemburu sama Bu Nindya?”
“Aku cemburu kalau kamu jalan sama Mayra!” jawab Vivian mengelak. “Pacarku itu kamu, bukan Elang!”
__ADS_1
Dewa terkekeh penuh ejekan, “Kamu nggak ada hati sama mas Elang? Kamu semangatnya ngalahin Mayra kalau tanya-tanya soal kegiatan mas Elang! Mencurigakan!”
Vivian mencubit gemas lengan Dewa, “Jangan-jangan kamu yang cemburu sama kakakmu sendiri! Aku nggak ada apa-apa sama mas Elang, jadi kamu nggak perlu cemburu! Ohya, nanti di depan situ belok kiri!”
“Jauh masuknya?”
“Nggak sampai dua ratus meter!”
Dewa membelokkan mobilnya, mengemudi pelan, lalu berhenti di depan rumah yang ditunjuk Vivian.
"Ini rumah Riska."
“Kamu nanti berangkat sama Riska aja ya, aku mau tidur abis gini!”
“Oke!” jawab Vivian tak keberatan.
“Aku nggak turun, salam buat Riska!” ujar Dewa.
Vivian mencium pipi Dewa, berpamitan. “Iya beres, kamu istirahat aja biar pusingnya ilang. Sampai ketemu nanti di kampus, Sayang!”
Dewa menurunkan kaca jendela sesaat setelah Vivian turun, tersenyum tipis pada pacar taruhannya lalu meninggalkan gadis itu di depan rumah Riska.
***
__ADS_1