Dewa Love You

Dewa Love You
Akibat Pulang Malam


__ADS_3

Mayra bergelayut manja di lengan Dewa. Dia tak lagi sungkan meskipun Elang beberapa kali melewati teras belakang rumahnya untuk latihan endurance.


Dewa sendiri sama sekali tidak ambil peduli dengan kehadiran Elang yang sengaja mengganggu keasyikannya mengobrol dengan Mayra.


“Kamu harus hati-hati sama Tony loh Wa! Beberapa hari ini dia ngirimin aku pesan agak aneh. Kadang ada ancamannya,” tutur Mayra gelisah.


“Maunya apa sih itu orang?” tanya Dewa dengan ekspresi geram.


“Ya dia maunya balikan sama aku, fiuh … janjinya selangit. Aku sampai pusing baca pesan-pesannya!”


Dewa mengernyit, “Blokir aja nomornya!”


“Udah tadi pagi. Kayak nggak ada kerjaan ada dia itu tiap saat tiap waktu ngirim pesan terus, telepon terus,” kata Mayra memasang wajah malas. Padahal, seingatnya Tony tidak begitu terobsesi dengannya.


“Kamu jangan mau kalau diajak ketemu atau diajak keluar sama dia, bahaya!” Dewa merangkul bahu Mayra, lalu mencium pelipisnya.


Mayra menoleh, menggosok pipi Dewa dengan jari-jari lentiknya. “Aku malah khawatir sama kamu, menurutku kemungkinannya kecil dia bakal nyakitin aku! Tapi kalau kamu? Kenapa aku jadi mikir dia punya niat jahat sama kamu ya? Dia beberapa kali tanya rumah kamu loh sama aku!”


“Emang mau bertamu kesini, pakai acara tanya alamat rumah?” Dewa terkekeh. “Dia itu cuma cari perhatian kamu, ngetes sejauh mana hubungan kita, udah masuk tahap keluarga apa belum?”


"Hm … iya sih, tapi aku tetap aja merasa dia agak aneh!"


"Tolak lebih tegas, Mayra!"


“Mau ditolak model gimana lagi coba? Diajak ngomong aja susah. Tony itu nggak bisa dikasih pengertian sama sekali. Egois banget ternyata anaknya!”


Dewa mencubit dagu Mayra, “Makanya jangan sembarangan berhubungan pribadi sama cowok. Mau cari pelarian juga harus pakai arah, nggak ke sembarang orang! Aku belum pernah bilang ke kamu ya kalau Tony itu ceweknya banyak? Aku pernah ngikutin dia selama seminggu, dia ada bawa cewek dua kali. Pernah juga ketemu di kafe dia sama cewek beda lagi.”


Mayra memukul lengan Dewa kesal, “Kamu kok nggak bilang ini dari dulu sih? Tau gitu aku kan nggak perlu jadian sama dia. Dewa ngeselin, ih!”


“Udah berlalu, Sayang!” Dewa menangkap tangan Mayra, menggenggamnya erat.


“Iya, udah lewat ini. Cuma takutnya masih ada sih, kalau ketemu dia rasanya gimana gitu! Mau lari kok norak amat ya?” keluh Mayra.


“Ya biasa aja kalau di kampus. Selama kamu nggak keluar berdua sama dia, aku rasa aman-aman aja! Nggak usah terlalu khawatir,” ujar Dewa menanggapi.


“Kalau tiba-tiba aku diculik gimana?”


“Berarti dia harus berhadapan lagi sama aku!”

__ADS_1


Mayra melebarkan mata, “Nop! Nggak ada berantem lagi, kalau kamu babak belur, gigi rontok yang rugi aku!”


Dewa terbahak-bahak, “Wah bisa hilang kegantengan kalau gigi depan yang ilang!”


Mayra langsung menyurukkan kepala ke dalam pelukan Dewa. “Makanya jangan berantem! Demi aku!”


“Hm iya, iya! Oh ya … kamu ikut nongkrong nggak nanti? Tapi cowok semua, sih!”


“Dih … males amat, mending aku ngerjain skripsi aja! Sama siapa aja nanti?”


Dewa menjawab, “Erfan, Gavin, Dimas.”


“Jangan pulang terlalu malem!” pesan Mayra.


“Iya, Sayang. Paling jam sebelas udah di rumah!”


“Kamu kalau manggil sayang kedengeran mantep banget di telinga,” ujar Mayra geli.


“Ya kali aja kamu juga mau manggil aku sama kayak gitu, biar mesra!”


“Emang kita udah pacaran? Belum juga sepakat jadian ….” gumam Mayra.


Mayra menahan cengiran, “Cewek suka dengan momen romantis, Wa! Apalagi ada jam dan tanggal tertentu yang bisa dikenang tiap tahun, seru aja jadinya.”


“Harus?” Dewa menaikkan sebelah alisnya tak percaya. Dia bahkan sudah mencium dan menggerayangi Mayra sebelum mengungkapkan apapun yang berhubungan dengan cinta.


“Enggak harus, itu kan cuma harapan. Biar ada kesan aja pas ditembak cowok yang disukai … kayaknya gitu sih, seru!” jawab Mayra cekikikan.


Dewa menggaruk kepalanya, belum ada ide yang mampir di kepalanya untuk menuruti kemauan Mayra. Menurut Dewa, semua perhatian dan sikap sayangnya sudah mewakili perasaan cinta. Tapi bagi sang gadis … hal seperti itu tidaklah cukup.


Mayra ingin berkomitmen dengan kata-kata, dalam suasana romantis seperti yang ada di drama-drama Korea favoritnya.


**


Semakin malam, kafe tempat Dewa dan ketiga temannya nongkrong semakin rame. Dua jam penuh mereka sudah membahas agenda club bikers hingga hal-hal remeh lainnya.


Musik yang dibawakan live oleh band lokal masih setia menemani pengunjung yang kebanyakan adalah anak-anak muda Yogya. Dewa larut dalam suasana, begitu juga dengan yang lain.


“Wa … ini!” panggil Dimas.

__ADS_1


Dewa menolak sloki berisi minuman alkohol tinggi yang disodorkan Dimas. “Aku libur dulu, Dim! Lagi bengek.”


“Yang ini mau? Cuma bir gini masa nggak berani juga?” tanya Gavin. Tangannya menggenggam botol yang baru disediakan pelayan kafe di atas meja, siap diberikan pada Dewa.


“Nop!” tolak Dewa dengan gelengan ringan. “Off!”


Erfan menengahi, “Udah, kalian minum sendiri aja! Aku juga lagi off … besok pagi mau ikut jajal latihan drag race.”


“Gimana soal event sama brand, Er?” tanya Dewa. “Kamu jadi hubungi Vivian?”


“Udah. Vivian ikut aku nanti pas acara. Kamu nggak apa-apa, Wa?” Erfan tertawa bangga, hasilnya merayu Vivian untuk jadi model yang akan diboncengnya untuk memamerkan produk baru dari brand motor ternama disambut baik oleh Sang Aphrodite.


Dewa melambaikan tangan tak peduli, “Santai!”


“Kamu bayar berapa emangnya, kok Vivian langsung mau ikut, Er?” tanya Dimas penasaran.


Erfan terkekeh-kekeh, “Rahasia perusahaan. Model secakep Vivian yang pasti nggak murah, dia juga butuh duit buat bisa tetep cantik, kan?”


“Sebenarnya sayang banget kamu lepasin Vivian, Wa! Mana doi kayaknya udah lengket sama kamu!” Gavin menimpali sambil menenggak bir langsung dari botolnya. “Nggak nyesel trus pingin balik gitu? Mumpung belum digarap Erfan tuh!”


Dewa menyeringai lalu tergelak sendiri “Aku nggak bisa menduakan Mayra, Vin!”


“Bukannya Vivian lebih bahenol ya, Wa?” tanya Dimas sambil menggaruk pipinya dan sok berpikir. “Mayra cantik sih, imut kayak barbie, tapi belum matang hahaha … masih lebih menggairahkan Vivian!”


“Seleranya Dewa beda sama kamu, Dim! Dewa suka yang polos-polos, biar gampang dikadalin!” tukas Gavin meledek.


Erfan hanya tergelak. Dia yang paling tahu soal Vivian dan Dewa yang tidak selaras. Oleh karena itu juga, Erfan berani mengambil kesempatan untuk mendekati Vivian dengan cara menawarinya sebagai model. Dengan modal pribadi yang lumayan besar sebagai umpan.


“Ini masih ada yang mau dibahas nggak sih? Kalau nggak bubar yuk, udah malem banget!” ajak Dimas, wajahnya sudah kuyu karena kebanyakan minum. Mengantuk.


Erfan langsung setuju, “Ayo pulang, aku besok pagi juga ada kesibukan sama anak drag!”


Setelah membayar, Dewa berpisah dengan tiga temannya di parkiran. Dia melaju kencang dengan motornya membelah jalanan Yogyakarta yang mulai sepi.


Dewa menurunkan kecepatan setelah memasuki jalan menuju rumahnya. Namun, satu motor dengan dua pengendara tiba-tiba menjajari kendaraannya. Lalu dengan sigap dan kecepatan tak terduga, salah satu kaki pria yang duduk di bagian belakang menendang dan mendorong motor Dewa hingga jatuh menabrak trotoar.


Dewa belum sempat berdiri ketika pria yang menendang motornya tadi turun, menghampirinya dengan sebilah pisau di tangan kanan.


Hanya dalam hitungan detik, pisau itu sudah menancap di perut Dewa. Dua pria tak dikenal, berhelm teropong dengan motor yang tak pernah dilihat Dewa kabur meninggalkannya dengan kecepatan tinggi. Dewa meringis, terkapar bersimbah darah.

__ADS_1


***


__ADS_2