Dewa Love You

Dewa Love You
Sepuluh Minggu


__ADS_3

Vivian mengernyit kaget, “Hah, apa? Video ski-dipa-pap?”


Bukan kaget biasa, Vivian seperti tersedak tanpa sebab. Tenggorokannya kering dan dadanya ikut berdebar sesak. Bagaimana bisa Elang dengan tanpa sungkan menanyakan video pribadinya? Kalaupun ada, Vivian tidak akan segila itu mau memberikannya pada Elang! Dasar sinting!


“Gini maksudnya, kalau kamu sempat mengambil foto sebanyak ini pasti kamu juga sempat bikin video. Bukan nggak percaya, foto itu gambar tak bergerak, Vi! Aku lihat disitu Dewa seperti orang tidur, nggak ada tanda-tanda wajahnya sedang horny atau puas karena baru mendapatkan pelepasan! Fotonya kurang hidup karena Dewa kayak orang mati, tanpa ekspresi sama sekali, sedangkan kamu kelihatan ceria!” Elang menunjuk beberapa foto di ponsel Vivian yang dirasa janggal.


“Aku ambil foto emang pas dia tidur. Kalau pas bangun mana mau? Jadi intinya kamu nggak percaya kalau Dewa sama aku udah …?” tanya Vivian dengan mata berkaca-kaca, kesal karena Elang tidak bersimpati padanya.


“Jangan nangis dong, Vi! Aku bukan nggak percaya, semua ada alasannya. Aku kasih tau kamu satu fakta tentang Dewa. Dia itu alergi alkohol, Vi! Dewa kalau kena alkohol sedikit pasti sakit kepala parah, mungkin bakal berhari-hari baru bisa ilang, itupun kadang harus terapi dan ke dokter.”


Vivian menelan ludah kasar, “Aku sama sekali nggak tau soal itu!”


Elang menjelaskan lebih rinci, “Itu kalau alkoholnya sedikit, kalau banyak dia pasti ambruk, tepar dan kehilangan kesadaran! Dua hal itu membuat Dewa nggak mungkin bisa main 'lato-lato' sama kamu. Dewa udah enam bulan nggak minum alkohol, dia pernah nyaris mati karena mabuk berat. Waktu itu Dewa harus dirawat seminggu di rumah sakit dan menjalani terapi. Dokter bilang sarafnya bisa lumpuh kalau sampai hal seperti itu terulang lagi.”


“Separah itu, Mas?” Vivian tercekat, berita dan foto yang disampaikan pada Elang dan diharapkan bisa menjadi senjata justru berbalik pada dirinya sendiri.


“Ya, Dewa itu penyakitan … payah,” ujar Elang terkekeh-kekeh, masih sempat membanggakan dirinya di depan Si Aprodhite. “Nggak sekuat aku hahaha!”


Vivian tak sempat merona mengingat Elang yang pernah menggarapnya dengan perkasa dulu. Dia justru bingung harus bicara apalagi, harapannya untuk kembali pada Dewa mulai setipis kulit ari.

__ADS_1


Air mata Vivian menetes tak terkontrol, sedih karena dia sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai riwayat kesehatan Dewa. Vivian merasa tolol karena sudah menganggap dirinya terlalu pintar. Terlebih sudah merasa lebih segalanya dibanding Mayra yang ternyata lebih mengerti tentang alergi Dewa.


“Kenapa Dewa nggak pernah ngomong sama aku soal ini? Kalau dia ada alergi alkohol nggak mungkin aku biarin dia mabuk di acara temenku ….” Vivian mengusap air mata yang menggenang di bulu matanya yang melentik seperti bulan sabit.


Elang menghembuskan nafas panjang-panjang. “Beruntung aja Dewa masih bisa pulang sendiri meskipun akhirnya tiga hari nggak bisa kemana-mana karena sakit kepala parah. Kamu tahu kalau dia sakit setelah mabuk di kafe?”


“Iya, tapi dia nggak mau dijenguk! Di kampus juga udah biasa lagi, katanya cuma masuk angin! Dewa sendiri yang menutup diri dari aku, Mas! Dia yang bikin aku nggak tau apa-apa soal alerginya,” keluh Vivian mencari pembenaran.


“Ya udah soal itu lewatin aja, kalau kalian memang melakukan ‘hal itu’ di hotel trus Dewa lupa berarti dia sedang sangat sehat. Aku percaya. Sekarang soal kamu terlambat datang bulan … kamu bisa diskusi langsung sama Dewa!” Elang bukan tak ingin membahasnya, tapi Dewa harus tahu kalau Vivian ingin bertemu dengannya. Adiknya tidak boleh menghindar terus. Hal seperti ini sangat penting untuk dibicarakan, dan Dewa harus mendengar sendiri pengakuan Vivian.


“Dewa udah nggak mau aku temuin, Mas! Telepon sama chatku nggak ada yang dibalas sama dia, entahlah … kayak anak kecil banget dia itu, nggak dewasa! Kurang tanggung jawabnya!”


Vivian mengeluarkan hasil USG dan surat keterangan positif hamil dari laboratorium ternama. “Ini mas … janinnya baru tiga minggu!”


“Kamu mau Dewa bertanggung jawab sama kamu, kan?” tanya Elang konyol. Memangnya apalagi yang diharapkan wanita hamil selain tanggung jawab Si Pria?


“Sebenarnya aku juga belum siap kalau harus nikah sama Dewa,” jawab Vivian lemas. “Aku yakin dia juga nggak bakal mau nikahin aku, dia nggak cinta sama aku, Mas. Apalagi sekarang ada Mayra!”


“Kamu nggak lagi mikir buat gugurin kandungan kan, Vi?” Elang spontan memasang wajah serius dan sedikit geram karena ekspresi Vivian yang kurang serius.

__ADS_1


Vivian diam lama, jujur dia memang tidak menginginkan bayi dalam kandungannya. Tapi masih sedikit punya hati untuk tidak menggugurkannya terlalu cepat. “Aku belum tau harus ngapain sama janin ini! Semua tergantung Dewa.”


Elang menegaskan dengan sangat serius, “Keluargaku akan membuat Dewa bertanggung jawab nikahin kamu kalau memang dia ayah bayimu, kamu nggak usah khawatir soal itu! Tapi … tes DNA diperlukan biar nggak ada salah paham. Aku yakin Dewa nggak bakal bisa menyangkal bukti dan nggak akan bisa lari dari tanggung jawab dari kebenaran, aku jaminannya!”


Vivian membisu dalam kebingungan. “Maksudnya gimana, Mas?”


“Aku yang akan nikahin kamu kalau Dewa nggak mau bertanggung jawab!” jawab Elang tanpa keraguan sedikitpun. Dalam hati mengumpat kenapa harus memberikan solusi beresiko tinggi, solusi yang membuatnya bisa kehilangan Nindya selamanya.


Entahlah … Elang percaya pada nalurinya yang mengatakan kalau Dewa hanyalah korban, sengaja dijebak Vivian untuk suatu kepentingan. Soal mabuk, Elang jelas tidak bisa ditipu karena pelaku. Dia juga cuma bisa muntah dan tidur kalau sudah berat. Secara sadar pun, Elang yakin kalau adiknya tidak akan bertindak bodoh, berani bercinta tanpa latex pengaman.


Vivian hampir bersorak saking gembiranya, “Serius, Mas?”


Elang membuka ponselnya, membaca sekilas mengenai prosedur tes DNA bayi yang masih ada dalam kandungan. “Artikel dokter dan beberapa forum menginformasikan kalau tes DNA bayi yang masih ada dalam kandungan bisa dilakukan setelah janin berumur sepuluh minggu. Kalau usia kehamilanmu sekarang tiga minggu, berarti tujuh minggu lagi baru bisa dilakukan tes DNA-nya!”


Vivian menyimak dengan raut tegang karena was-was, “Sepuluh minggu?”


Elang mengangguk, “Aku akan membawamu ke dokter spesialis kandungan untuk konsultasi lebih dulu. Pokoknya kamu nggak usah khawatir anakmu nggak punya bapak, Vi! Dewa atau aku pasti nikahin kamu setelah hasil tes DNA keluar, dan jelas terbukti kalau anak kamu itu benar-benar benih dari hasil cocok tanamnya Dewa. Gimana, kamu mau aku antar ke rumah sakit buat ketemu dokter kandungan sekarang apa besok?”


Vivian tersedak. Uhuk!

__ADS_1


***


__ADS_2