Dewa Love You

Dewa Love You
Belum Berakhir


__ADS_3

“Aku ada tamu,” kata Mayra sambil menunggu Dewa menghabiskan jus jeruknya. “Aku harus menemuinya!”


Dewa menatap lembut raut Mayra yang sedikit tegang, “Siapa? Apa kamu ada janji dengan seseorang?”


“Aku tidak ada janji dengan Tony, dia datang atas inisiatif sendiri, aku sama sekali tidak mengundangnya. Aku rasa kami memang harus bicara dan menyelesaikan masalah,” jawab Mayra dengan mata memohon pengertian.


“Baiklah, aku akan mengobrol dengan Julian dan pacarnya di teras. Aku harap kamu bisa mengambil keputusan yang tepat saat ini, jangan menunda masalah kalau mau cepet selesai!” pesan Dewa seraya mengusap pipi Mayra dengan ibu jarinya, lalu turun ke dagu. Sentuhannya sangat lembut hingga membuat Mayra mengharap Dewa kembali mencium dan menyesatkannya.


Mayra berjalan bersisian dengan Dewa dan berhenti di ruang tamu, tersenyum manis dan ramah pada tamunya. “Hai … apa kabar?”


“Aku baik, May! Gimana kamu?” Tony melirik ke arah Dewa yang melewati ruang tamu tanpa menoleh padanya.


“Aku baik-baik aja!”


“Sorry aku datang tanpa izinmu, karena aku tau kamu pasti banyak alasan untuk menolak kunjunganku, dan sepertinya aku benar! Kamu sedang sibuk sama yang lain …,” sindir Tony.


Mayra mengerti ke arah mana tujuan ungkapan Tony, “Aku sudah menjelaskan semua alasannya seminggu lalu, tapi kayaknya kamu nggak bisa diajak paham! Aku nggak mau dikunjungi bukan karena Dewa!”


“Kamu masih pacarku, May! Kita belum putus, nggak seharusnya kamu dekat sama Dewa, kan?”

__ADS_1


“Aku dekat dengan Dewa itu sudah dari dulu, dari lima tahun lalu, Ton! Bukan baru kemarin sore,” sergah Mayra mulai kesal karena pokok bahasan masih tidak berubah.


“Yang nggak bisa diajak paham itu kamu, May! Kelihatan banget kamu lebih membela Dewa daripada aku! Mau dekat dari kapanpun, harusnya kamu menghargai keberadaan aku! Kita masih terikat hubungan, jadi jangan coba-coba curang!”


“Gini aja deh, mungkin kita memang nggak memiliki paham yang sama dalam hubungan ini. Aku nggak bisa ngerti maunya kamu, begitu juga sebaliknya. Persis sama dengan dua orang yang tidak memiliki kecocokan tapi maksa untuk bisa bersama, aku rasa itu akan sangat sulit untuk dijalani,” kata Mayra mulai menjabarkan keinginannya.


“Maksud kamu apa?” tanya Tony dengan kernyitan di dahi.


“Kita putus aja, Ton! Aku rasa aku bukan cewek yang tepat untuk kamu … aku juga ngerasa nggak nyaman selalu kamu cemburui,” ujar Mayra tegas, menatap mata Tony yang tajam menelanjanginya.


“Aku cemburu karena aku cinta sama kamu, May! Wajar aja pacar cemburu kalau ceweknya punya teman cowok yang terlalu dekat. Lagi pula aku nggak percaya cewek bisa bersahabat akrab dengan cowok, salah satunya pasti baper!”


“Kita nggak ada kecocokan, Ton! Itu alasanku menyudahi hubungan kita, lebih baik kita putus sekarang sebelum hubungan menjadi semakin dalam dan runyam. Aku minta maaf karena harus mengambil sikap ini,” kata Mayra dengan ekspresi menyesal.


Tony seketika melembutkan nada suaranya, “Kamu nggak bisa mutusin aku secara sepihak, May! Aku masih ingin hubungan kita dilanjutkan, bertengkar itu biasa dalam pacaran, artinya kita harus lebih beradaptasi lagi, harus lebih memahami pacar kita itu orangnya bagaimana, maunya apa. Ngerti maksudnya?”


Tony harus banyak mengalah untuk mendapatkan hati Mayra. Seminggu lalu dia terlanjur terbawa emosi dan sempat berkata kasar pada Mayra, tapi hal seperti itu harusnya bisa diperbaiki dengan minta maaf.


“Maaf, aku nggak bisa, Ton!”

__ADS_1


“Sayang … aku serius minta maaf soal minggu lalu, aku udah ngomong kasar, curiga dan juga cemburu buta dengan Dewa. Tapi kamu tau sendiri, aku rela babak belur untuk mempertahankan hubungan kita. Nggak adil dong aku yang udah berkorban tapi malah kamu putusin?”


Bukan Tony kalau tidak bisa melemahkan hati para gadis, apalagi yang sepolos Mayra. Pengalamannya berhubungan dengan banyak wanita mengajarkan banyak cara untuk menaklukkan mereka yang pemarah, pencemburu dan jenis lainnya.


Mayra adalah cewek pemaaf, tapi bukan tipe yang suka berbuat curang. Ketika dia memutuskan menjalani hubungan dengan satu pria, maka Mayra akan setia. Keputusannya untuk memilih Dewa sudah bulat, jadi Mayra harus tega memutuskan Tony.


“Ini bukan masalah adil atau tidak, Ton! Kita memang nggak nggak ada kecocokan, dan aku nggak bisa jalani hubungan dengan banyak ketidaknyamanan.”


Tony menggenggam tangan Mayra, “Kasih aku kesempatan untuk membuktikan diri kalau aku layak untuk kamu, jauh lebih baik dari Dewa! Kamu butuh pasangan yang lebih dewasa, Mayra! Bukan anak muda yang bisanya sok jagoan kayak berandalan. Aku sebenarnya bisa aja memperpanjang urusan sama Dewa, tapi aku menghargai kamu. Kita perbaiki lagi semua dari awal ya, Sayang?”


“Aku beneran nggak bisa, Ton! Aku nggak mau jadi penyebab kamu dan Dewa baku hantam, sudah cukup dua kali kamu babak belur … nggak perlu ditambah lagi.” Sumpah demi apapun, berbicara dengan batu sepertinya lebih baik daripada berbicara dengan manusia berkepala batu. Mayra mengeluh diam-diam dalam hati.


Tony hampir kehilangan kesabaran menghadapi Mayra yang tidak bisa diajak mengikuti jalan pikirannya, “Astaga Mayra … aku nggak ngerti banget sama jalan pikiran kamu, jangan kekanakan kenapa sih? Dikit-dikit minta putus, ntar kalau udah nikah gimana? Bentar-bentar minta cerai?”


“Maaf, Ton! Aku emang udah nggak bisa jalan sama kamu lagi. Aku tetap ingin putus!” Mayra kehilangan simpati, Tony terlalu memaksakan diri untuk tetap melanjutkan hubungan yang belum tentu disetujui orang tuanya.


Tony melepaskan genggaman tangannya dengan sedikit kasar, lalu berdiri, bersiap keluar ruang tamu. “Ya udah terserah kamu, tapi urusan kita ini jelas belum selesai!”


Mayra tak sempat menjawab karena Tony pergi dengan tergesa-gesa, tidak menoleh lagi padanya. Beberapa detik berikutnya, suara keras debam pintu mobil terdengar jelas di telinga semua orang yang ada di sana.

__ADS_1


***


__ADS_2