
Selesai memborong kaktus hias, Dewa masih harus mengantarkan mama Mayra pergi arisan di rumah salah satu koleganya.
"Aku nggak ikut masuk ya, Ma!"
"Ya udah kamu langsung pulang aja sama Dewa, tata kaktusnya yang rapi di belakang! Nanti mama biar dijemput papamu, sekalian mau makan malam sama relasi!"
Dewa hanya mengangguk ringan ketika mama Mayra pamit masuk ke rumah yang sudah ramai oleh istri pejabat.
"Langsung pulang?" tanya Dewa, menoleh ke arah Mayra yang sibuk dengan ponselnya.
"Kalau nggak pulang mau kemana memangnya?"
"Kencan!" jawab Dewa, mulai melaju membelah kepadatan jalan raya.
Mayra melirik ke arah Dewa, "Udah nggak perlu lagi kayaknya!"
"Hm, udah pinter ya sekarang?"
"Apaan sih!"
"Kamu nggak kangen sama aku?"
"Ish … kamu ini!"
"Oh enggak ya? Jadi udah nggak perlu aku lagi karena udah ada Tony? Udah sampai mana belajar sama dia?"
Mayra mendelik sewot, "Maksud kamu apa, Wa?"
Mendadak Mayra berdesir deg-degan. Pertanyaan Dewa mengingatkan kejadian dua minggu lalu di teras belakang rumahnya. Sungguh, ciuman dan pelukan Dewa waktu itu membuat Mayra tidak nyenyak tidur.
Berhari-hari bibir Dewa rasanya masih menempel di rambut, pipi dan mulutnya. Desiran halus selalu menguar ketika Mayra mengingat kebersamaan yang hanya beberapa jam itu. Sesekali malah membuat perutnya melilit aneh.
Lalu, entah di hari yang keberapa perasaannya hancur lebur. Mayra melihat Dewa bersama Vivian, seperti pasangan kekasih. Sekali, dua kali dan tiga kali. Mayra tidak tahan, dia mencukupkan diri dengan tidak mau mengingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Dewa lagi.
Mayra harus mengalihkan perhatiannya, bukan hanya dari Elang, tapi juga dari Dewa, dengan menerima pendekatan dari Tony. Meski tidak mudah, tapi kakak adik yang sudah membuatnya sakit kepala itu memang harus segera disingkirkan dari benaknya.
"Kamu serius sama dia?"
"Kok kamu jadi keki gini sih? Aku mau serius apa nggak sama Tony, kayaknya bukan urusan kamu! Mending kamu urus aja cewek kamu, siapa namanya … Vivian?" Dengan wajah masam, Mayra membuang muka. Hatinya panas terbakar rasa kesal karena Dewa tidak mendengarkan sarannya untuk tidak bersama Vivian.
"Kok malah jadi bahas Vivian?"
"Kamu keberatan kalau aku bahas Vivian?"
"Ya nggak sih, tapi aku kan nggak ada apa-apa sama dia."
"Nggak ada apa-apa aja kalau boncengan motor nempel semua, gimana kalau ada apa-apa?!" sindir Mayra sarkastik.
"Kamu mau nggak peluk aku kayak gitu kalau aku ajak naik motor?"
"Haduh, lebay!"
"Kok lebay, orang aku serius!"
__ADS_1
"Enggak mau, malu dilihat orang!"
"Berarti kalau peluknya di mobil, mau? Kan nggak ada yang lihat!" Dewa melambatkan mobil di jalan masuk perumahan Mayra.
"Kamu sengaja banget ya bolak balik kalimat buat jebak aku?"
"Nop! Aku bahas naik motor karena Minggu depan ada touring tipis-tipis ke Gunungkidul, ikut yuk! Kamu bisa peluk aku sepuasnya di perjalanan!"
Mayra mengerjap beberapa kali, "Kamu ajak aku?"
"Trus aku harus ajak siapa lagi? Mama kamu mau ikut juga karena acaranya hari Minggu? Bonceng tiga?" tanya Dewa tertawa kocak.
Sungguh Mayra ingin sekali memukul wajah Dewa, tidak sedikitpun pemuda itu bicara serius dari tadi. "Belum bisa jawab sekarang! Takutnya aku ada acara lain."
"Cieh yang mau kencan sama Tony!"
"Dewa!" tegur Mayra merengut kesal! "Jangan suka ngeledek kayak anak kecil kenapa sih?"
"Kamu cantik loh kalau manyun gitu, bibir kamu jadi tambah seksi, serius!" puji Dewa dengan kerlingan nakal. "Jadi kangen sama rasanya yang bisa bikin orang gimana gitu …!"
"Mesum, ih!" sahut Mayra dengan bibir semakin mengerucut. Bisa-bisanya dia merona hanya karena digoda seperti itu.
"Kan mesumnya cuma sama kamu doang!"
"Aduh Dewa, kira-kira kalau mau gombalin anak gadis orang! Kamu kira aku nggak bisa nebak apa yang udah kamu lakuin sama Vivian?"
Dewa menaikkan satu alisnya saat menoleh, mobil bahkan hampir berhenti di tengah jalan perumahan. "Apa emangnya yang udah aku lakuin sama Vivian?"
"Ya mana aku tau!" Mayra melengos ke arah lain untuk menghindari pertanyaan Dewa. Membicarakan Vivian membuat tekanan darahnya naik.
"Tau ah," jawab Mayra ketus. Tapi tak dipungkiri kalau sentuhan Dewa membuat hatinya ketar ketir.
"Mau mampir kedai es krim pojok jalan? Mumpung belum sampai rumah, biar enak ngobrolnya … adem!"
"Nggak!"
"Es dawet langganan?"
"Lagi males!" Mayra sebenarnya ingin melampiaskan marah, tapi entah kenapa tidak bisa.
Gaya Dewa yang seolah tak merasa salah padanya membuatnya gemas. Mayra kesal, jengkel, keki karena Dewa tidak peka kalau dia tidak suka Dewa menjalin hubungan dengan Vivian. Tapi sungguh Mayra tidak berdaya dan tidak punya hak untuk melarang.
"Main ke rumah mau? Udah lama kamu nggak ke rumahku!"
"Elang ada di rumah?" tanya Mayra. Pertanyaan itu spontan saja keluar dari bibirnya.
"Jadi kalau mas Elang nggak ada, kamu nggak mau ke rumah?"
"Bukan gitu kali, Wa!"
"Trus apa?"
"Entahlah, kamu kalau bikin pertanyaan jangan yang susah dijawab kenapa sih?"
__ADS_1
"Kan tinggal jawab aja sebisanya." Dewa menoleh sekilas lalu fokus ke jalan lagi, "Mas Elang tadi pagi keluar!"
"Ke rumah Bu Nindya?"
"Mana aku tau! Aku bukan istrinya!"
"Dewa! Kamu nyebelin banget sih!"
"Gimana dong biar nggak nyebelin?"
"Tau deh!" jawab Mayra singkat. Memperpanjang obrolan dengan tema itu tidak akan membuatnya senang. "Kamu nggak panggil aku 'mbak' lagi apa alasannya, Wa!"
"Biar akrab," jawab Dewa terbahak. "Keberatan ya dipanggil langsung nama?"
"Enggak juga sih, biasa aja!"
"Kalau dipanggil sayang suka nggak?"
Wajah Mayra merona merah, "Dewa … kamu bikin aku mules!"
"Aku komplain loh ini, merasa diputusin secara sepihak sama kamu, tiba-tiba kamu menghindar. Padahal dua minggu lalu masih merengek minta disayang-sayang!"
"Idih siapa yang minta disayang? Kamu kalau ngomong suka kacau! Aku sekarang udah nggak ada niat buat lanjutin bikin kejutan buat Elang, jadi buat apa ngerepotin kamu lagi? Trus soal putus … emang kapan kita pacaran?"
"Iya sih cuma pacaran beberapa jam, nggak resmi juga. Tapi alasan utama kamu menghindar karena Tony, kan?"
"Aku nggak mau jawab!"
"Oke!" Dewa melaju cepat lagi, rumah Mayra sudah dekat.
Sampai rumah Mayra, Dewa tidak langsung pulang, dia membantu Mayra meletakkan dan menata ulang kaktus hias koleksi mamanya hingga benar-benar rapi dan enak di pandang.
"Kamu nggak dicariin Vivian dari tadi di sini terus? Udah sore ini, Wa!" Mayra membawa dua cangkir kopi ke teras belakang untuk dinikmati bersama Dewa.
Pemuda itu terkekeh, cewek memang suka aneh. Selalu memulai lebih dulu membahas cewek lain, tapi setelah dijawab yang ada uring-uringan karena cemburu dan salah paham.
"Aku belum pulang karena masih kangen sama kamu! Kamu beneran nggak kangen lagi sama aku?" Dewa menatap Mayra yang duduk selonjoran di sudut sofa panjang, dengan kaki berada di belakang bokongnya.
"Aku kangennya sama Elang!" jawab Mayra konyol. "Gimana ya rasanya ciuman sama Elang? Serius aku penasaran, ya … walaupun aku nggak tau sanggup atau nggak ngomong cinta sama dia, apalagi kalau sambil …."
Dewa tidak bisa menahan tawanya, "Ehem … sini aku kasih tau gaya mas Elang kalau pacaran sama bu dosen!"
"Kamu ngintip mereka pacaran?" tanya Mayra mendelik tak percaya, juga terkejut melihat Dewa berpindah duduk di dekatnya.
"Dikit!" Dewa menaikkan kedua alisnya bergantian sambil tertawa-tawa. Agak kasihan menghadapi kepolosan Mayra yang salah mengartikan kalimatnya.
Huh, lagian ngapain juga dia ngintipin Elang pacaran?
Mayra menatap Dewa linglung. Satu tangannya tanpa disadari sudah berada dalam genggaman Dewa. Selanjutnya pemuda itu malah mengecup jari-jarinya. Harusnya Mayra tidak berdebar, tidak berdesir, tidak membiarkan Dewa mendekati wajahnya yang panas menggelora.
Dewa berhenti dalam jarak sejengkal dan kembali mengulas senyum yang melelehkan hati, menampilkan gigi putih dan wajah tampan serius, sorot mata gelap dan berbahaya, sarat janji : kalau ciuman akan dalam, lama dan panas membakar birahi.
Dan sebelum Mayra sempat berpikir untuk menolak, Dewa sudah menautkan bibirnya dengan lembut, hangat, antusias dan romantis.
__ADS_1
***