Dewa Love You

Dewa Love You
Bicara Dari Hati


__ADS_3

Selamat ulang tahun untuk : Ibunya Irul, semoga selalu sehat, panjang umur dan banyak rezeki. Bab ini khusus untuk Ibu.


*


*


Vivian menghambur ke dalam ruangan dengan senyum terkembang, langsung memeluk dan tanpa sungkan memberikan ciuman di pipi Dewa. Wajahnya perlahan berubah sendu, sarat sedih dan khawatir. “Sayang, kamu beneran jahat sama aku, nggak kelihatan di kampus kirain kemana, taunya sakit. Untung Mas Elang bisa ditanyain, kalau nggak … bisa-bisa aku mati karena kebanyakan mikirin kamu.”


Dewa menatap tak percaya pada gadis yang sudah diputuskannya itu. “Kamu kesini sendiri?”


“Sama Erfan, dia masih beli kopi di cafetaria,” jawab Vivian. Dengan santai, Vivian menarik tangan Dewa dan meletakkan di pipinya, sama sekali tak memperdulikan keberadaan Mayra. “Aku kangen banget sama kamu.”


“Vi, jangan gini dong!” Dewa menarik tangannya perlahan karena Mayra melirik dengan wajah seram. Dewa hanya bisa berdoa dalam hati semoga awkward moments seperti itu bisa langsung berakhir saat Erfan datang.


“Aku serius kangen sama kamu, Sayang! Kamu nggak ngerti banget sih perasaan orang lagi hamil!” ucap Vivian sambil mencebik manja dan tetap memaksa untuk menggenggam tangan Dewa.


“Vi … stop!” Wajah Dewa seketika mengeras mendengar ucapan Vivian. Perubahan wajah Mayra juga sangat kentara ketika Vivian mengucapkan itu.


Mendengar pengakuan Vivian hamil, wajah Mayra seketika merah padam. “Kita putus, Wa!”


Mayra pergi meninggalkan ruangan tanpa pamit, dengan hati terbakar dan kekesalan yang hampir meledakkan ubun-ubun.


“Mayra tunggu …!” panggil Dewa tanpa bisa berbuat banyak.


“Maaf, tapi aku serius kangen sama kamu, Wa! Kamu udah tahu kalau aku lagi hamil, kan? Serius aku nggak bermaksud menyakiti perasaan Mayra!” ucap Vivian sambil mengulum senyum.


“Bisa nggak sih kita nggak bahas ini di depan Mayra?” tanya Dewa gusar. “Kamu juga jangan kebanyakan drama deh, Vi! Bisa-bisanya ngaku hamil sama aku. Emang kapan kita pernah tidur bareng? Pas di hotel waktu aku mabuk nggak usah dihitung! Udah jelas aku cuma tidur malam itu.”


Vivian diam dalam bimbang, “Kamu nggak bilang Erfan kalau aku sedang hamil, kan?”


“Vi, maksud kamu apa sih sebenarnya? Aku nggak ada kepentingan ikut campur urusan pribadi kamu sama Erfan, buat apa juga aku ngomong keadaan kamu sama Erfan? Aku cuma nggak habis pikir kamu bilang hamil karena aku! Jelasin dimana dan kapan kita bikin anak itu, Vi? Jangan halu deh kamu!” sindir Dewa kesal.

__ADS_1


“Sebenarnya aku nggak hamil kok, Wa!” kata Vivian lirih tapi bernada santai. Jemarinya yang halus mempermainkan telapak tangan Dewa tanpa merasa bersalah.


“Gila kamu ya! Kalau ngomong jangan plin plan, sebentar bilang hamil, sebentar nggak. Mau kamu apa, Vivian?” tanya Dewa nyaris membentak.


“Aku memang nggak hamil, Wa! Hasil usg itu punya orang, aku dapat dari temenku yang kerja di laboratorium, dia juga yang buatin surat keterangan hamilku. Itu palsu, bukan keluaran laboratorium, itu cuma print-printan dari rumahnya. Aku tuh nggak semurah itu, Dewa! Bercinta sama orang lain trus hamil? Aku itu setia kalau udah punya pacar. Aku juga nggak tolol banget kok, aku mana mau hamil di usia semuda ini? Aku masih suka jalan-jalan sama teman, bukan di rumah ngurusin suami!”


“Trus maksud kamu apa melakukan itu semua?” tanya Dewa tak sabar.


Vivian tersenyum cantik, “Aku nggak mau kita putus karena Mayra. Aku masih mau sama kamu, Wa! Aku serius sayang sama kamu. Itu alasannya.”


“Susah mau percaya sama kamu, Vi!” gumam Dewa.


“Gini, aku akui aku cinta banget sama Elang. Aku juga udah jahat karena manfaatin kamu untuk bisa deket dengan kakakmu itu, aku malah sempet mikir mau misahin Elang dari Nindya. Tapi ….” Vivian menarik nafas panjang.


Dewa menggelengkan kepala, “Kamu emang kelihatan banget kalau masih ngejar Mas Elang!”


“Tapi, selama dua bulan kenal baik sama kamu, aku ngerasa kamu beda banget sama Elang. Aku nyaman karena hubungan kita yang terkesan ringan, kamu bukan orang yang ribet, pengatur, emosian, posesif dan sejenisnya. Lebih menyenangkan lagi karena hubungan kita tidak menitik beratkan pada hubungan badan. Semua sentuhan kamu itu aku artikan berlandaskan rasa sayang, kamu romantis tanpa harus menyentuh bagian sensitif tubuh wanita … walaupun sejujurnya aku gemes banget, kalau udah ciuman sama kamu itu maunya lebih.”


“Aku udah goda kamu dengan seluruh tubuh aku, tapi kamu nggak kayak yang lain yang langsung memanfaatkan keadaan. Kamu sopan banget untuk gaya pacaran anak sekarang, dari situ aku salut banget sama kamu. Terlepas kamu memang polos atau nggak cinta sama aku, tapi kamu jelas cowok yang bisa mengendalikan diri, Wa! Itu yang bikin aku nggak mau pisah sama kamu, egois banget ya?”


Dewa mengedikkan bahu, masih menyimak dengan ekspresi malas, dia lebih khawatir dengan Mayra yang keluar kamar dan minta putus dengannya.


“Kamu yang seperti itu yang bikin aku ingin mendapatkan kamu seutuhnya. Aku sebenarnya udah nggak peduli lagi sama Elang, aku udah bisa terima dia sama Bu Nindya sekarang. Aku bersyukur aja kalau Bu Nindya yang dapat bejatnya Elang, bukan aku! Tapi aku jadi mau dapetin kamu karena kamu berbeda dari semua cowok yang pernah dekat sama aku. Boleh nggak sih aku jatuh cinta sama kamu? Kamu itu spesial banget, Wa!”


“Aku udah sama Mayra, Vi!”


“Aku ngerti, aku juga sengaja bilang hamil tadi buat ngusir dia dari ruangan ini. Aku minta Erfan beli kopi dulu karena aku butuh waktu untuk bicara berdua sama kamu, dari hati ke hati seperti ini. Kamu tuh jahat banget sama aku, abis putus trus langsung menghindar kayak anak kecil. Tapi aku seneng sih … kamu bakal inget sama aku terus karena aku udah keterlaluan ngelakuin ini semua ke kamu. Oh ya … aku dulu anak teater waktu SMA loh, Wa!” ujar Vivian cekikikan.


“Akting kamu pura-pura hamil bagus banget! Sumpah!” puji Dewa dengan wajah keki. Mayra pasti sudah sangat salah paham sekarang.


“Aku mau coba jalan sama Erfan, Wa! Aku harap kamu nggak cemburu kalau liat aku mesra sama dia di depan kamu nanti. Selama kalian masih berteman, kita juga akan berteman dan pasti sering ketemu,” tutur Vivian sambil menjulurkan lidah untuk meledek.

__ADS_1


“Erfan udah nembak kamu?”


Vivian tertawa geli, “Belum ada cowok yang bisa nolak pesona kecantikan Vivian, aku cukup ngedip sebelah mata … dia juga pasti blingsatan kayak yang lainnya!”


Dewa mengumpat, “Njirrr … kamu memang nggak waras, Vi!”


“Aku butuh pelampiasan, Dewa! Syukur-syukur dia serius, jadi aku juga bisa serius. Aku lihat dia cukup dewasa dan menyenangkan, baru ngobrol dua kali sih, belum kenal banget!”


“Erfan udah mau lulus, pasti dia serius kalau kamu serius. Aku jamin bisa langsung dilamar kamu nanti!”


“Udah mapan ya, Wa? Itu bengkel modifikasi motor punya dia?” tanya Vivian dengan ekspresi mata duitan.


“Hm, keliatan banget kamu matrenya!” sindir Dewa sarkastik.


“Biarin kenapa sih! Cewek kalau nggak matre nggak hidup! Emang cantik cukup dengan skincare beras sama kunyit doang? Ini kulit bisa halus gini biayanya mahal, Dewa!”


Dewa nyengir, “Belum rambut, belum make up, belum baju, tas, sepatu dan kawan-kawannya … aku bukan spek idamanmu kalau gitu, Vi! Nggak mampu!”


Vivian merengut sambil mengusap kulit lengannya yang seputih susu, “Tapi jujur aku masih penasaran banget sama kamu loh, Wa! Kamu … bikin aku gemes. Aku tuh sering banget tanya sama Riska kurangku apa sampai kamu malah ngejar Mayra?”


“Trus bilang apa temen kamu?”


“Ya Riska bilang aku suruh berhenti cinta sama Elang kalau mau lanjut sama kamu. Tapi udah terlambat banget kayaknya, kamu terlanjur ilfeel sama aku setelah tahu kalau aku terima kamu cuma niat deket sama Mas Elang. Iya, kan?”


Dewa menaikkan satu alisnya, “Mungkin!”


“Awalnya emang begitu, sampai aku benar-benar tau kalau kamu nggak pantes aku perlakukan seperti itu. Kamu cowok baik. Kejam banget ya aku, Wa?”


Dewa hampir menggeleng dan mengaku kalau bukan hanya Vivian yang memanfaatkannya, tapi Dewa juga sudah menjadikan Vivian bahan taruhan. “Aku nggak sebaik itu, Vi. Kamu aja yang nggak ngerti.”


Vivian berdehem, “Mungkin awalnya aku nggak ngerti, tapi aku bisa menebaknya kok. Entah salah entah bener ya ini … dimulai dari Dimas, lanjut Gavin, Erfan dan terakhir kamu. Kalian ngajak jalan aku dalam jarak waktu yang berdekatan. Dalam dua minggu terakhir kamu dan teman-temanmu itu berusaha keras untuk dapetin aku. Menurutku itu aneh dan nggak masuk akal!”

__ADS_1


***


__ADS_2