
Dewa duduk di tepi ranjang sambil memijat pelipisnya. Kepalanya berat dan sekujur tubuhnya lelah ingin tidur lagi. Namun, situasi kamar dan keadaannya yang telanjang bersama Vivian mengurungkan niatnya. Dewa memilih mandi untuk menyegarkan badan dan pikirannya.
Selesai mandi, Dewa menyeduh kopi, lalu duduk menonton televisi sambil mengecek isi ponselnya. Beberapa pesan masuk di nomor pribadinya, nomor khusus yang tidak pernah dinonaktifkan agar bisa selalu dihubungi keluarga dan beberapa sahabat karibnya, nomor yang tidak pernah diketahui oleh Vivian atau siapapun yang tidak memiliki hubungan khusus dengannya.
Ibu Dewa dan juga Elang, bertanya kenapa dia tidak pulang? Sementara Mayra bertanya apakah dia sudah tidur dan mengingatkan untuk kuliah pagi. Dewa membalas singkat semua pesan khususnya dan mengabaikan pesan di nomor satunya.
“Pagi, Sayang!” sapa Vivian dengan suara serak basah khas bangun tidur. Dia bangun satu jam lebih lambat daripada Dewa.
Pemuda berwajah innocent itu hanya melirik sekilas ke arah Vivian yang duduk bersandar headbed dengan bahu terbuka karena menutupi dadanya asal-asalan. “Kamu nggak mandi? Aku mau pulang, ada kuliah pagi!”
Vivian merengut, “Hari ini bolos aja kenapa sih! Masih pagi banget juga, kamu nggak mau sarapan dulu?”
“Males, kamu kalau mau sarapan di sini buruan, aku tunggu!”
“Idih apa enaknya sarapan sendiri? Kalau sarapan yang lain gimana?” tanya Vivian sembari memasang wajah manja dan genit. Mengundang Dewa naik ke atas ranjang dan ‘sarapan’ dengan menu berbeda.
Dewa memijat kepalanya yang dirasa mau pecah. Efek minuman keras yang ditenggaknya semalam ternyata sangat buruk. Tubuhnya terasa remuk, lelah, mual dan lebih pusing dari tujuh keliling.
'Obat sakit kepala' yang ditawarkan Vivian, sama sekali tidak menarik minatnya.
Dewa tidak begitu kaget ketika mabuknya berakhir di hotel yang sama dengan kafe yang disewa untuk pesta ulang tahun ala anak muda semalam. Dewa masih ingat tantangan minum alkohol yang membuatnya mabuk berat, lalu dua pemuda memapahnya hingga masuk ke dalam kamar. Dewa merebahkan diri di atas kasur, dan tidak ingat apa-apa lagi setelah itu.
__ADS_1
Mendapati tubuhnya tidak berpakaian di sebelah Vivian sungguh tidak terlalu membuat Dewa terkejut. Dia hanya bingung sebentar, merasa sial karena tidak ingat sedikitpun apa yang terjadi di atas ranjang yang ditempatinya bersama Vivian.
“Sorry, aku nggak ada mood, Vi!”
“Kamu pusing ya? Sini aku pijetin biar reda sakit kepalanya!” goda Vivian tak mau menyerah. Sengaja lebih menurunkan sedikit selimutnya untuk mendapatkan perhatian Dewa. Belahan dadanya diekspos untuk memancing gairah Dewa. Ya ampun!
Vivian tersenyum manis untuk memprovokasi minat Dewa. Dia yakin, tidak ada pria normal yang tidak tertarik dengan keindahan tubuhnya. Semua mantan pacarnya mengagumi keseksian, lekukan pinggul dan kepadatan dadanya yang berukuran besar tapi tak berlebihan itu. Ukuran yang sangat pas dengan fantasi liar pria yang menyukai kemon-tokan seorang wanita.
“Nggak perlu! Kamu bisa agak cepetan siap-siapnya? Kalau kamu nggak perlu mandi, ayo kita pulang sekarang! Atau kamu mau aku tinggal?” Dewa melihat jam tangan, mengambil kunci mobil di atas nakas, lalu memakai sepatunya. Kepalanya yang berdenyut sakit tidak mau diajak kompromi dengan godaan Vivian.
Bahkan jika Vivian bertingkah seperti wanita nakal yang mau menari erotis atau merangkak di bawah kakinya, Dewa tidak akan merubah pendiriannya untuk pulang. Selain kondisi tubuhnya yang rasanya seperti habis dipukuli orang satu RT, entah kenapa tingkah Vivian yang menggodanya secara berlebihan justru membuat moodnya berantakan.
Gadis yang kini sudah menurunkan selimut hingga perut itu seperti tidak memiliki kepedulian. Dewa sedang tidak enak badan dan ingin segera pulang, tapi Vivian malah menahannya dengan berbagai godaan.
Vivian turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi dengan gaya tidak nyaman, seolah ada sesuatu yang bengkak atau robek di antara lipatan pahanya. Dewa hanya melihat sekilas ke arah bokong Vivian dengan pikiran runyam.
Cinta Vivian pada Elang sepertinya tidak main-main. Pacar taruhannya ini rela melakukan apapun demi bisa tetap dekat dengan kakaknya. Dewa menduga, kalau tidak bisa menjadi pendamping Elang, Vivian akan menjadi siapapun asal masih berhubungan dengan Elang, dengan memanfaatkan dirinya.
Hm, mungkinkah Vivian sekarang ingin menjadi adik ipar Elang?
Sayang, jebakan Vivian terlalu klise, lawas, murahan dan mudah ditebak. Tantangan dadakan untuk minum alkohol dari pacar sahabat Vivian yang sedang ulang tahun terlalu mencurigakan bagi Dewa. Hanya saja, Dewa enggan mencari keributan dengan menolak, apalagi tidak menghargai tuan rumah pemilik pesta.
__ADS_1
Dewa menerima tantangan itu dan sengaja mabuk berat hingga tak mampu menyangga tubuhnya. Karena kalau sudah seperti itu, dia akan tidur tanpa bisa melakukan apa-apa. Jangankan untuk bercinta, untuk mengangkat kepala saja dia tidak mampu!
Mungkin Vivian lupa kalau Dewa bertemu salah satu teman baiknya di pesta mewah semalam. Dewa berpesan pada pemuda itu untuk mengantarnya pulang ke rumah jika mabuknya tanggung, tapi kalau mabuknya berat … Dewa minta dibiarkan tidur di dalam kafe saja.
Siapa sangka, Vivian berani menyuruh dua temannya untuk memindahkannya ke hotel, dan melucuti semua pakaiannya agar terlihat kalau semalam terjadi hal-hal indah pada mereka.
Dan pagi ini, agar lebih meyakinkan lagi, Vivian berjalan tak nyaman dan menyatakan bagian bawahnya masih sakit. Sungguh akting yang sempurna. Dewa menahan diri untuk tidak bertepuk tangan pada aksi pacar taruhannya ini.
Dewa memang tidak ingat kalau semalam mungkin melakukan 'hal itu' dengan Vivian. Tapi sebelum mandi tadi, Dewa menyempatkan diri untuk mengecek sisa cairan kering yang menempel di alas tidur, juga mengecek bau menyengat bekas bercinta di sprei dan selimut.
Tidak ada bau lendir, juga tidak ada bekas cairan kering apalagi bekas darah di atas sprei. Lebih aneh lagi kondisi tempat tidur mereka terlalu rapi, seperti tidak terjadi pergumulan liar antara dirinya dan Vivian. Dewa semakin yakin kalau dia hanya tidur seperti biasanya karena sudah mabuk berat.
Dewa memang tidak biasa dan tidak kuat dengan efek alkohol meski kadang ikut minum saat nongkrong dengan temannya. Beberapa kali dia juga pernah ikut ritual mabuk bersama Elang, dan hasil akhirnya selalu tumbang jika kebanyakan.
Dewa menyeringai penuh makna, “Nggak pake lama ya, Vi!”
"Huh, kamu yang dapat enak aku yang kesakitan begini! Nggak nyangka aja kamu liar banget kalau lagi mabuk!" jawab Vivian sengit.
Dewa menghembuskan nafas panjang, haruskah hubungannya dengan Vivian berakhir hari ini? Gadis itu sudah terlalu berani, sengaja menjebaknya untuk tujuan pribadi. Jika tidak lebih hati-hati, Dewa bisa terperangkap dalam situasi rumit nanti.
Tapi … jelas tidak seru jika Dewa memutuskan hubungan dengan Vivian sekarang. Selain tidak mendapatkan uang taruhan, dia tidak bisa melihat motif Vivian yang sebenarnya pada dirinya dan Elang.
__ADS_1
Hm, sepertinya tidak ada ruginya bagi Dewa tetap mengikuti permainan Vivian!
***