
“Aku harus nunggu berapa lama lagi, May?” tanya Dewa serius. Kali ini tidak ada senyum atau cengiran yang biasa menghias bibir tipisnya.
“Wa, aku beneran butuh mikir panjang. Aku harus nyelesein masalahku sama Tony lebih dulu. Menurutku itu jauh lebih penting,” jawab Mayra tak kalah serius.
“Kamu tinggal minta putus sama Tony, beres, kan? Kamu punya cukup banyak alasan untuk menjauh dari Tony, aku dengar sendiri dia ngomong kasar sama kamu tadi.”
Mayra menanggapi, “Ya tapi nggak semudah itu, Wa!”
“May … aku nggak mau kamu terjebak sama laki-laki seperti Tony!”
“Maksud kamu apa, Wa?” tanya Mayra menoleh ke arah Dewa.
“Kamu harusnya dapet cowok yang jauh lebih baik lagi, Tony terlalu brengsek buat kamu!”
“Aku pikir kamu itu cowok baik,” kata Mayra lirih.
Dewa menyangkal, “Kamu salah, May! Aku tak lebih baik dari Tony. Bedanya … aku suka sama kamu dari hati, aku nggak ada maksud terselubung. Kita udah kenal lama, kalau aku ada niat nakal sama kamu, udah dari dulu aku lakukan!”
“Sebelumnya kamu nggak ada hati sama aku, kan? Aku jadi curiga juga kalau gini ….”
“Kamu mau tau apa yang menumbuhkan perasaanku sama kamu?” tanya Dewa. Mayra memang harus diyakinkan mulai sekarang.
Mayra menukas, “Kalau kamu nggak keberatan!”
Dewa mendekat dengan cepat, mengecup bibir Mayra yang sama sekali tak siap, mencecap lembut, sarat rasa sayang dan rindu yang menggebu. Dewa lalu melepas ciumannya dengan berat hati. “Seperti ini awalnya. Aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu setelah ciuman pertama kita.”
Mayra menjauhkan wajahnya sedikit, “Tapi itu ciuman main-main, Wa! Itu pun karena aku yang minta belajar sama kamu!”
“Aku melakukannya sepenuh hati, Mayra! Aku menganggap kamu pacarku setiap kali kita berciuman, bersentuhan. Dan rasanya aku ingin kamu beneran jadi pacarku, agar aku nggak merasa sungkan ketika mengungkapkan rasa sayang!”
“Jadi itu alasannya kamu memperbolehkan aku merajuk, manja dan minta apa saja sama kamu?” tanya Mayra ragu.
“Ya, semua itu karena aku sayang kamu, May! Aku serius ini.”
Mayra termangu, berpikir dan menimbang. “Trus gimana hubunganmu dengan Vivian?”
“Besok aku beresin,” jawab Dewa enteng. “Kamu mau aku putus sama Vivian, kan?”
__ADS_1
“Semudah itu?” tanya Mayra tak percaya. Kepalanya penuh dengan pertanyaan, benarkah hubungan Dewa dan Vivian tanpa landasan cinta?
Dewa menjelaskan singkat, “May, orang pacaran nggak pakai surat-surat yang sifatnya mengikat seperti suami istri, bisa putus kapan saja kalau merasa nggak ada kecocokan.”
“Tapi akan ada hati yang tersakiti, Wa!” kata Mayra melankolis.
Dewa bersungut-sungut, kesal dengan tanggapan Mayra yang seolah memojokkannya. “Sebenarnya kamu itu mau nggak sih jadian sama aku? Kalau nggak mau terima aku jadi pacarmu nggak usah muter-muter cari alasan, May!”
Mayra menghembuskan nafas berat, “Aku belum bisa terima kamu karena aku belum yakin dengan kata hatiku. Bisa jadi apa yang aku rasakan saat berdekatan dengan kamu itu bukan karena ketertarikan, tapi karena kebutuhan.”
“Jadi kamu nggak tertarik sama aku?” tanya Dewa to the poin.
“Aku masih belum tau, Dewa! Bukannya nggak tertarik.”
“Boleh aku cari tahu sendiri, kamu sebenarnya tertarik sama aku apa nggak?”
“Silahkan aja!” ujar Mayra setuju.
“Kamu nggak keberatan?”
Mayra menatap Dewa bingung, “Kenapa aku harus keberatan? Memangnya kamu mau ngapain?”
Wajah Mayra sontak membara karena panas dan juga malu, “Ngeselin, ih!”
Dewa terkekeh-kekeh, “Kamu tegang banget kayak nggak pernah aku cium aja!”
Masalahnya Mayra memikirkan kata 'sampai puas'. Mayra terlanjur membayangkan Dewa akan menyentuhnya dimana-mana seperti waktu itu.
“Ya kamu mintanya sampai puas! Aku jadi mesum,” kata Mayra cekikikan.
“Udah nggak usah dibahas lagi, nanti kamu malah nggak bisa tidur! Lagian bibirku sakit, nggak enak dipakai ciuman!”
Mayra langsung punya ide konyol untuk meledek, sekaligus menantang “Oh ya, masa sih? Coba sini aku hisap biar nggak bengkak!”
Mendapat tantangan seru, Dewa langsung menarik Mayra ke dalam pelukan. “Sakit dikit aku masih bisa tahan kok, Sayang! Sekarang hisap aku!”
Ciuman Dewa tidak selembut sebelumnya, tapi menggebu dengan ungkapan rindu yang sebenarnya. Bibir Dewa memagut jujur, mengungkapkan kalau dirinya sangat menginginkan Mayra.
__ADS_1
“Sayang ….” bisik Dewa tepat di depan bibir Mayra, dengan jarak yang sangat dekat.
Mayra tak sempat menjawab ketika bibir Dewa sudah menekan bibirnya lagi, lebih berani lagi, lebih dalam lagi. Bukan hanya bibir, tangan Dewa yang membelai rambut Mayra sudah turun ke leher, bahu hingga lengan.
“Dewa?”
"Iya, Sayang!"
Mayra membalas sepenuh hati, bukan sebatas kebutuhan, tapi karena dia suka berbagi sayang dengan cara berciuman. Dewa sudah mengaduk hatinya menjadi tak karuan. Menjadi sebuah perasaan yang hanya bisa ditunjukkan dengan tindakan.
Dewa berhenti di tengah suasana romantis, menoleh ke kiri dan ke kanan seperti maling yang baru sadar berada di rumah orang dan takut ketahuan. “Sorry kebablasan! Ya udah aku pulang sekarang, salam buat papa dan mama kamu, ya! Sampai ketemu besok!”
“Iya, kompres dingin lagi besok pagi kalau masih bengkak!” Mayra mengikuti Dewa yang sudah berdiri bersiap pulang.
“Kamu aja yang kompres? Tapi pakai ini,” kata Dewa sambil mengusap bibir bawah Mayra dengan ibu jarinya, dengan tatapan nakal dan kedua alis naik turun bergantian.
"Mesum, ih!"
“Aku sayang kamu, Mayra!”
Mayra mengerjap dua kali, lalu tersenyum manis agar tidak canggung saat berbicara, “Aku juga sayang kamu, Dewa!”
**
Di tempat lain ….
Vivian tidak tahu harus melampiaskan kesal pada siapa. Ponsel Dewa mati, tidak bisa dihubungi. Dan lebih menyebalkan lagi, nomor Elang aktif tapi tidak mau menanggapi keluhannya. Emosi Vivian seolah tembus sampai dasar bumi. Pacar bikersnya menghilang, sesaat setelah dia turun ke arena live musik.
Apa yang dirasakan Vivian bukan kesal biasa. Bukan karena Dewa pamit ke kamar mandi kemudian lupa padanya, tapi karena temannya memergoki Dewa pergi bersama Mayra. Dari jarak yang lumayan jauh, Riska tak sengaja melihat Dewa menggandeng Mayra di parkiran, masuk mobil lalu meninggalkan kampus.
Darah Vivian mendidih, bibit kebenciannya pada Mayra tumbuh semakin besar dan berakar kuat. Gadis sok imut itu memang harus diberi pelajaran! Ya, Vivian akan membuat Mayra menjauh dari Dewa.
Vivian membuka ponsel, memilih beberapa gambar dalam galeri ponselnya. Tepatnya foto Dewa dan dirinya sewaktu tidur bersama di hotel. Vivian yakin, gadis seperti Mayra akan menangis sengsara seperti adegan dalam film India begitu tahu kalau Dewa memiliki hubungan yang sangat dekat dengannya.
Setelah menentukan tiga foto yang dianggap Vivian paling panas, gadis itu menghubungi beberapa kenalannya untuk mendapatkan nomor Mayra. Bukan hal sulit, karena Mayra kuliah satu jurusan dengannya.
Menit berikutnya, Vivian mengirimkan foto tersebut pada Mayra dengan beberapa caption mengejek. Ada kepuasan di sudut bibir Vivian yang terangkat membentuk seringai miring dan senyum jahat.
__ADS_1
“Selamat tidur dan bermimpi buruk, Mayra! Aku tidak ingin madu, aku lebih suka racun!”
***