
Tiga tahun kemudian ….
Bengkel modifikasi mobil yang menjadi tujuan Mayra sedang ramai. Semua pegawai sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak ada yang sempat menyambut kedatangan gadis itu. Resepsionis yang dihampiri Mayra langsung berdiri dan tersenyum ramah, mengangguk sopan kepada Mayra sebelum menyapa.
“Mas Dewa sedang ada tamu di ruangannya, Mbak!”
“Tamu?” Mayra mengernyitkan dahi. Dia sudah meminta Dewa untuk mengosongkan jadwalnya hari ini karena ada hal penting yang akan mereka urus. “Siapa?”
“Kurang tau, Mbak!” jawab si resepsionis.
“Urusan bisnis bengkel?” tanya Mayra menyorot tajam resepsionis yang terlihat tidak enak menjawab pertanyaannya. “Oh cewek ya? Ya sudah aku langsung ke dalam aja kalau gitu!”
“Tapi Mas Dewa bilang tidak mau diganggu … maksudnya Mas Dewa minta hari ini tidak ada jadwal bertemu orang lain lagi,” sahut resepsionis semakin tidak enak.
Mayra tersenyum lembut, “Memangnya aku orang lain? Sejak kapan?”
Resepsionis bengkel modifikasi mobil bernama Thalia itu hanya tersenyum kaku tanpa bisa menyangkal. Dia tahu siapa Mayra dari sejak bergabung bekerja di bengkel Dewa setahun lalu. Mayra adalah tunangan Dewa, cowok keren pemilik bengkel yang dipujanya diam-diam.
Thalia sudah cukup menahan kesal dari satu jam yang lalu. Dia diharuskan menerima tamu wanita Dewa yang cantiknya seperti Luna Maya, yang mengaku memiliki kepentingan tidak bisa ditunda sehingga Dewa harus menemui wanita itu di ruangannya. Hanya berdua.
Bersaing dengan Mayra untuk mendapatkan bosnya bisa dibilang tidak mungkin, masih ditambah harus bersaing dengan 'mbak cantik' tadi? Thalia menghembuskan nafas putus asa.
“Mbak Mayra langsung ke ruangan Mas Dewa aja deh!” ujar Thalia pada akhirnya.
“Hm, oke!”
Mayra mengulas senyum manis sebelum meninggalkan meja resepsionis untuk pergi ke ruangan kerja Dewa. Dia sengaja tidak mengetuk, tapi langsung membuka pintu karena penasaran dengan ‘tamu’ yang disebutkan si resepsionis.
“Loh … Ayang? Kamu masih ada tamu?”
Mata Mayra memindai perempuan yang duduk berseberangan meja dengan Dewa dari atas ke bawah. Cantik. Hanya saja matanya sedikit sembab.
“Beb … kenalin ini temen lama aku, namanya Anggrek!” Dewa berdiri menyambut Mayra, mengecup pipinya singkat sebagai ucapan selamat datang. “Kok kesini?”
Mayra mengangguk untuk menyapa Anggrek. “Mayra!”
“Anggrek!” sahut si perempuan dengan tatapan datar. Menilai Mayra dari atas ke bawah. Cantik plus imut-imut.
Situasi sedikit canggung untuk Mayra karena wanita bernama Anggrek ini tidak beranjak dari duduknya. Tidak undur diri atau memberikan ruang padanya untuk bicara berdua dengan tunangannya, Dewa.
“Gre … aku mau ada acara sama Mayra, jadi ngobrolnya kita lanjut kapan-kapan ya?” usir Dewa halus.
__ADS_1
Anggrek mengangguk, “Kapan? Besok bisa?”
Dewa menjawab ramah, “Enggak bisa kalau besok, lain waktu aja kalau pas senggang. Kebetulan aku besok banyak kerjaan!”
“Kalau lusa gimana, Wa?” tanya Anggrek meminta kepastian.
“Hm … kayaknya nggak dalam waktu dekat ini, Gre! Nanti deh kalau aku ada waktu, aku kabarin kamu!” jawab Dewa tak enak.
Mayra berdehem untuk mengambil kesempatan bicara dengan Dewa, “Kita udah ditunggu sama orang wedding organizer!”
Anggrek sedikit terkejut, tapi segera memperbaiki raut kecewanya dengan seulas senyum memikat. Dia berdiri dengan anggun dan siap keluar ruangan, “Ya udah aku pamit dulu kalau gitu, nanti kalau udah nggak sibuk kabari ya, Wa! Kita bisa lanjut ngobrol lewat telepon.”
“Oke, hati-hati di jalan!” ujar Dewa, mengiringi langkah Anggrek keluar ruangan, lalu menutup kembali pintunya. Siap menerima amarah Mayra.
“Siapa dia? Temen lama … temen yang mana? Mantan pacar?” Mayra bersedekap dengan wajah siap perang.
Dewa merangkul bahu Mayra, mengecup pelipisnya ringan, “Beb … katanya tadi kita udah ditunggu sama orang W.O? Ayo berangkat sekarang!”
Mayra menepis tangan Dewa, “Kok nggak jawab? Mau main rahasia-rahasiaan?”
“Rahasia gimana? Kamu kan udah lihat orangnya barusan, Beb!”
“Iya mantan, namanya mantan itu udah masa lalu, nggak ada lagi di masa sekarang! Mantan ya mantan, Beb!”
“Trus dia ngapain kesini?”
Dewa duduk di pinggir meja kerja, menarik tangan Mayra agar mendekat. “Cuma nyambung silaturahmi, Mayra sayang!”
“Darimana dia tau kalau kamu kerja di sini?” Mayra berdiri dengan tatapan menghakimi.
“Astaga, ya dari teman-teman yang lain. Dia itu mau modifikasi mobilnya di sini, rencananya beberapa hari lagi, nunggu dianya nggak sibuk.”
“Siapa yang ngerjain modif mobilnya nanti? Bukan kamu, kan?”
Dewa tertawa geli, “Kan ada Wawan, Andi sama Heri.”
“Lagian ngapain sih kamu terima dia di dalam ruangan tertutup begini? Istimewa banget … mana minta ketemuan terus lagi. Aku kok nggak yakin kalau kedatangan cewek itu nggak ada maksud tertentu sama kamu! Kenapa mata dia sembab? Kamu bikin dia nangis? Kalian lagi mengenang perpisahan masa lalu?”
Suara tarikan nafas Dewa sangat kentara. Dia tahu Mayra sedang cemburu dengan mantannya yang mendadak datang tanpa pemberitahuan lebih dulu.
“Beb, Anggrek itu udah berkeluarga, udah punya anak. Dia nangis karena … ada masalah dalam rumah tangganya. Aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia, aku juga kaget pas dia datang tadi.”
__ADS_1
Mayra merengut, “Cewek udah punya suami, punya anak, tapi masih nyari mantan pacarnya itu sesuatu banget. Apalagi berani curhat kalau lagi ada masalah keluarga, tujuannya apa kalau bukan CLBK?”
“Kita fokus sama hubungan kita aja ya! Nggak perlu bahas orang lain di waktu yang seharusnya jadi kebahagiaan buat kita. Dewa love you, Mayra! Selalu begitu seterusnya … nggak bakal ada perempuan lain yang bisa ngisi hati ini selain kamu,” terang Dewa sambil mencium tangan Mayra.
“Dewa, ih! Males bener … kalau diajak ngomong serius malah ngegombal!”
Dewa berdiri, membingkai wajah Mayra, memberikan kecupan lembut. “Jadi nikah nggak kita ini? Kalau selalu ribut bakal mundur terus jadwal ke penghulunya. Nggak kasian sama yang di bawah? Udah nggak tahan banget ini, Beb!”
“Mesum, ih! Tinggal ngitung hari aja pakai bilang nggak tahan!” cibir Mayra. Merona mendengar ungkapan vulgar tunangannya.
“Aku nahan tiga tahun, bukan tiga bulan, Sayang! Gimana sih kamu ini kok nggak paham-paham?!”
“Salah siapa ditahan?”
“Ya salah kamu … di *****-***** aja marahnya seminggu, apalagi di ….”
Mayra langsung membungkam mulut Dewa dengan tangannya. “Jangan dilanjutkan di sini, ayo berangkat sekarang!”
“Trus lanjut dimana?”
“Kamar pengantin. Kita sekalian ke hotel, lihat tempat malam pertama kita nanti,” jawab Mayra sembari mengedip sebelah mata.
“Test drive di sana boleh?” tanya Dewa penuh damba. Tangan kanannya cekatan menarik pinggang Mayra hingga tubuh mereka menempel ketat.
“LOL!” jawab Mayra cekikikan.
Detik berikutnya, ciuman panas terjadi. Menegangkan saraf lelaki Dewa hingga mengeras sempurna. Membakar api cemburu Mayra menjadi hasrat yang penuh gelora.
Hm … mereka memang sudah seharusnya dinikahkan!
T A M A T
***
^^^Hai kak,^^^
^^^Dewa Love You selesai di sini ya! Maaf, tidak ada adegan malam pertama Dewa-Mayra. Alasannya : karena novel ini masuk genre TEEN, jadi tidak ada bab ski-dipa-pap. Tujuannya sih agar adik-adik yang masih remaja bisa ikut menikmati karya yang tak berharga ini. ^^^
^^^Ada yang mau DLY musim ke-2?^^^
^^^Salam - Al^^^
__ADS_1