
Senin pagi Dewa menjemput Mayra untuk pergi ke kampus bersama. Dewa ada jadwal kelas pagi, dan Mayra ada jadwal bimbingan revisi laporan penelitian.
"Mbak Mayra sampai jam berapa di kampus?" tanya Dewa kembali sopan seperti biasanya.
"Siang udah pulang kayaknya, cuma bimbingan bentar. Paling nanti lihat Elang di laboratorium sambil nunggu jam makan siang! Jemputanku nanti datang jam dua belas. Kenapa?"
"Enggak apa-apa. Udah selesai penelitian tinggal kerjakan skripsi aja brarti ini?"
"Iya, moga-moga nggak sampai satu semester selesai."
"Mbak Mayra pasti bisa!"
Mayra mencebik, "Ya kalau Elang pasti bisa, dia punya pembimbing pribadi. Kalau aku cuma bisa berdoa dan berusaha."
Dewa menoleh pada Mayra yang melipat wajah, "Lulus nikah apa lanjut kuliah lagi, Mbak?"
"Kok jadi aneh ya dengernya, beberapa jam di malam Minggu kamu manggil aku sayang, sekarang mbak lagi …?"
Mayra mengabaikan pertanyaan Dewa. Moodnya sedang tidak ingin membahas masa depan, terutama karena dia belum punya gandengan. Lucu saja kalau sudah merencanakan menikah setelah lulus kuliah, tapi calon saja tidak jelas hilalnya.
Dewa tertawa kecil sebelum menanggapi, "Ya gimana dong, kita kan nggak lagi jam pacaran sekarang?!"
__ADS_1
"Kamu pinter banget ya main drama, aku nggak nyangka loh!" Mayra menoleh sekilas, menyindir sekaligus memperhatikan Dewa yang sedang fokus mengemudi memasuki area kampus.
Dewa memarkir mobil di belakang gedung laboratorium analis agar Mayra tidak terlalu jauh saat berjalan nanti. "Trus mbak maunya gimana? Aku udah bilang kalau ada sesuatu yang mengganjal tinggal diungkapkan!"
Mayra mengedikkan bahu, kesal dengan dirinya sendiri. "Entahlah, aku mundur aja! Setelah dipikir-pikir, nggak penting juga ngasih kejutan aneh-aneh buat Elang. Paling juga sama kayak tahun kemarin, ditraktir makan trus dianter pulang. Aku nanti ucapin selamat sama bilang kalau aku cinta dan masih nunggu dia … lewat chat aja!"
"Jadi batal mau ngasih kejutan?"
Mayra menjawab tak yakin, "Iya batal aja, nggak ada gunanya juga buat Elang!"
Dewa menggenggam tangan Mayra, "Kalau mbak ingin menjadikan hari ulang tahun mas Elang sebagai momen terbaik untuk mengungkapkan perasaan, aku 1000% mendukung. Tapi kalau cinta mbak disampaikan lewat chat kayaknya terlalu kekanakan."
"Mbak kenal mas Elang tujuh tahun lebih, kenapa masih nggak berani ngomong langsung sih?"
"Beda, Wa! Elang nggak pernah membuka obrolan yang sifatnya pribadi sama aku. Kami ngobrol sesuatu yang sifatnya umum, paling banter ya bahas cewek-cewek yang lagi jalan sama dia. Gimana aku mau memulai duluan kalau Elang aja nggak peka gitu?"
Dewa menimpali, "Mas Elang bukan nggak peka, tapi sengaja menghindar karena nggak tega kalau harus nyakiti perasaan mbak Mayra. Bener nggak?"
"Tapi aku udah siap ditolak, Wa! Daripada dia baik sama aku tapi nggak ada kejelasan sama sekali. Kamu tau kan dia itu proteksi aku berlebihan, aku bahkan nggak kenal pacaran karena Elang selalu menghalangi cowok yang mau dekat aku. Maunya dia apa coba? Egois banget!"
"Nah … mbak bisa ngomong gini langsung ke mas Elang! Jujur sama keadaan dan perasaan mbak selama ini dengan cara blak-blakan!" usul Dewa menyemangati.
__ADS_1
Mayra menoleh, "Itu yang aku nggak bisa, aku mati kata mati gaya kalau di depan dia. Itu juga alasanku butuh latihan sama kamu! Entahlah … rasanya tuh sakit banget nyimpen perasaan kayak gini, tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa!"
"Move on dari mas Elang, bisa?"
"Enggak bisa, Wa! Kalau bisa mah udah dari dulu! Aku butuh dia nolak aku, atau mungkin aku harus lihat dia nikah dulu baru aku bisa berhenti ngarepin kakakmu!" Mayra melihat ke arah lain dan diam-diam mengusap air mata.
"Loh kok malah nangis?" Dewa kelabakan mendengar suara Isak tertahan dari Mayra. Siapa sangka gadis itu begitu emosional ketika mengungkap seluruh beban perasaannya. Dewa sungguh tidak tega menghadapi fakta kalau Mayra sangat tertekan dengan cinta dan kesetiaannya.
"Enggak kok!"
Dewa menarik tangan Mayra agar gadis itu mendekat dan menghadap padanya. Dewa mengusap pipi Mayra yang basah dengan ibu jarinya. "Maaf, aku nggak bermaksud menekan … maksudku nggak maksa mbak Mayra untuk bisa bicara langsung sama mas Elang kalau memang nggak bisa."
"Iya santai, aku nggak apa-apa, sorry kalau jadi lebay gini!" Mayra memaksa untuk tersenyum meski perasaannya berantakan. Tak dipungkiri perhatian Dewa sedikit menghiburnya.
Dewa membingkai wajah Mayra dan mengecup bibir gadis itu untuk sesaat, mungkin sekitar tiga detik sebelum melepasnya dengan iba. "Aku akan membantu sebisaku, jangan malu apalagi sungkan denganku! Mbak boleh latihan kapan aja dimana aja sama aku, nggak terbatas jam!"
Mayra mengerjap beberapa kali, tak percaya kalau Dewa kembali mencium bibirnya tanpa aba-aba. Pun lebih lama daripada saat di dalam studio XXI. Mayra meremang, fokusnya pada Elang seketika terbelah karena gemuruh dan rasa hangat di hatinya.
"Dewa!" Desis Mayra panik. Sejauh ini, dia selalu butuh waktu lebih lama untuk menetralisir rasa kacau di hatinya ketika memikirkan Elang. Tapi yang barusan? Mayra bahkan terkejut dengan situasinya yang mendadak berubah, dari kesal karena memikirkan Elang menjadi deg-degan karena Dewa yang menghadiahi ciuman dadakan.
***
__ADS_1