Dewa Love You

Dewa Love You
Aku Suka Kamu


__ADS_3

Gagal menjemput Mayra di hari Senin pagi tidak menyurutkan semangat Tony untuk mendapatkan kesempatan lain. Saat Mayra terlihat di kampus, dia akan dengan senang hati meluangkan waktu untuk menyapa, ngobrol ringan atau makan bersama.


Seperti hari ini, melihat Mayra keluar dari ruang dosen, Tony segera mengejar. Ah kebetulan yang manis, dia juga sedang memantau dosennya yang ternyata tidak datang, di lantai empat gedung rektorat tersebut.


“Udah makan, May?” Tony menjajari langkah Mayra yang akan masuk lift.


“Belum sih, nanti makan di rumah aja. Nggak terlalu laper juga,” jawab Mayra dengan senyum lembut.


Tony tak kehabisan akal, “Aku tau tempat yang asik banget, makanannya juga enak-enak. Nongkrong di sana aja yuk, nggak usah makan berat! Camilan sama minumannya juga nggak mengecewakan kok, banyak pilihan!”


“Tapi aku lagi nggak selera makan, Ton!” Mood Mayra memang sedang tidak terlalu bagus karena Dewa.


Melihat kalau Mayra sedang malas, Tony menawarkan ide refreshing. “Hm, oke … gimana kalau kita jalan-jalan aja? Kamu mau kemana, ngemall atau ingin pergi ke tempat yang romantis?”


Mayra tertawa ringan, pergi ke tempat romantis belum pernah dilakukannya dengan pria manapun. Harusnya touring bersama Dewa adalah pengalaman romantis pertamanya, sayang gagal total. Pemuda berwajah innocent itu membuatnya marah hingga moodnya untuk ikut tour de beach ke Gunungkidul ambyar.


“Kemana?” tanya Mayra menunjukkan rasa tertariknya. Dengan jalan-jalan mungkin moodnya bisa membaik.


“Ngadem ke Kaliurang aja yuk! Mau nggak?” Tony mengulas senyum terbaiknya, ingin segera melihat reaksi Mayra atas penawaran tempat yang biasa dikunjungi sejoli pemabuk cinta.


Pikiran playboynya langsung mereka adegan nanti jika Mayra bersedia dibawa ke Kaliurang. Pertama, Tony ingin bicara tentang keseriusannya pada Mayra sambil menikmati udara dingin.


Kedua, dia ingin mencicipi pipi halus Mayra yang hanya berlapis bedak tipis sewarna dengan kulitnya yang sepucat langsat. Ketiga, ingin memeluk dan memberikan kehangatan saat angin gunung turun menyapa mereka nantinya. Keempat, tentu saja lebih dari sekedar peluk cium, kalau pernyataan cintanya diterima Mayra.


“Kok malah melamun, mau nggak jalan ke Kaliurang? Atau kamu mau ke tempat lain?” Tony mengulangi pertanyaannya.


“Iya ayo ke Kaliurang aja boleh deh, tempat lain jam segini pasti panas!” jawab Mayra pada akhirnya.


“Ya udah berangkat sekarang aja yuk! Biar pulangnya nggak kesorean!” ajak Tony. “Kamu udah nggak ada urusan kampus lagi, kan?”


“Udah beres semua, sebentar aku telepon dulu biar nggak dijemput!”


"Dijemput siapa? Dewa?" tanya Tony dengan ekspresi keberatan.


Setau Tony Mayra tidak pernah dekat dengan siapapun di kampus selain Elang. Oh ya, dia juga baru tahu kalau pemuda slengean yang bertemu dengannya di rumah Mayra adalah adik Elang. Benar-benar kakak beradik sialan.


Tony sabar menunggu Mayra yang bertelepon sambil berjalan lambat ke parkiran. Dia juga bersikap manis dengan membukakan pintu mobil untuk Mayra.


"Sopir," jawab Mayra singkat.


Tony bernafas lega, dia masuk mobil dan mengemudi dengan senyum bahagia. “Mau bawa sesuatu buat di makan di atas dari sini nggak? Atau nanti kita makan sate kelinci aja?”

__ADS_1


“Terserah kamu, aku malah belum pernah makan sate kelinci. Enak nggak?”


“Kita makan aja nanti biar kamu tau rasanya! Ngomong-ngomong gimana tanggapan mama kamu sama aku pas aku mampir hari Minggu itu, May?”


“Biasa aja sih,” jawab Mayra. Tak sepenuhnya jujur agar tidak menyinggung perasaan Tony.


“Syukurlah, takut aja kalau mereka nggak suka sama aku!”


“Mama nggak melarang aku berteman sama siapa aja kok!” Mayra kembali mengungkapkan fakta yang tidak sebenarnya. Sejujurnya, mamanya sangat pemilih dan tidak mudah percaya dengan pemuda yang ingin menjadi teman dekat Mayra. Elang dan Dewa adalah pengecualian.


“Hm itu untuk berteman, kalau untuk jadi pacar berarti lebih selektif lagi ya?”


“Iya mungkin!” jawab Mayra singkat.


“Emangnya mama kamu sukanya calon mantu yang gimana, May?”


“Enggak tau juga, mungkin yang ganteng!” Mayra menjawab asal sambil tertawa cekikikan.


“Masa aku kurang ganteng?”


Mayra menoleh sebentar sebelum tertawa lagi. Tony memang ganteng, tapi tidak mempesona seperti Elang! Tony berpenampilan bagus untuk menunjang ketampanan, sementara Elang berpenampilan acak-acakan juga tetap menawan. Dan adik sialannya itu juga ganteng rupawan meskipun gayanya berantakan.


“Narsis, ih!”


Elang! Aku sukanya yang kayak Elang! Atau mungkin Dewa?


“Kenapa tanya gitu?”


“Ya aku juga ingin jadi cowok yang kamu sukai, Mayra! Aku mau menyesuaikan diri sama kamu, biar kamu nyaman kalau jalan sama aku!”


Mayra masih tidak mengerti maksud Tony berbicara seperti itu padanya. Menurut Mayra terlalu cepat kalau Tony ingin menjalin hubungan serius, mengingat mereka sebelumnya tidak pernah dekat.


Karena sebelumnya, Elang selalu melarangnya untuk berdekatan dengan Tony, bahkan untuk sekedar kenal baik saja tidak boleh. Alasannya, Tony tidak cocok dengannya.


Tapi sekarang berbeda, Elang sudah tidak pernah mengurusi pergaulannya, sudah terlalu sibuk dengan dosennya, sehingga Mayra bisa didekati Tony. Mayra sendiri tidak keberatan, dia juga ingin lebih mengenal pemuda itu lebih dalam sebelum memutuskan untuk berpacaran. Tapi … Tony sepertinya tidak sabaran.


“Aku sukanya cowok yang biasa aja, nggak ada kriteria khusus!”


Mayra suka cowok yang cuek tapi perhatian, terlihat bad tapi baik, good looking dan tentu saja romantis seperti Elang … tidak! Mayra tidak pernah tau seromantis apa pemuda itu dengan wanita. Yah setidaknya seperti Dewa! Mayra suka saat Dewa memanjakannya. Loh kok malah jadi Dewa?


Tony tertawa ringan, satu tangannya yang tidak memegang kemudi menggenggam tangan Mayra. “Berarti aku juga termasuk kriteriamu?”

__ADS_1


Mayra mendadak kikuk dengan sentuhan Tony. Rasa canggung bercampur takut menyusup ke dalam hati kecilnya. Hm, sebenarnya yang dilakukan Tony adalah hal normal, tapi karena Mayra tidak pernah diperlakukan seperti itu selain oleh Dewa, perasaannya menjadi campur aduk tak karuan.


“Iya,” jawab mayra tercekat.


“Thanks ya, May!” Tony mengusap jari Mayra yang terasa dingin di tangannya, sengaja mengusik kepolosan Mayra. "Aku boleh tanya pribadi nggak?"


"Apa misalnya?"


"Kamu ada pacar?"


"Kalau pacar nggak ada, kalau yang lagi dekat ada!"


"Elang apa Dewa?" tanya Tony menebak langsung.


Mayra bingung mau menjawab. Ingin sekali dia menyebut nama Elang sebagai orang yang sedang dekat dengannya, tapi lidahnya kelu. Tak sanggup untuk berbohong.


Tony terkekeh, "Dewa ya?!"


"Ehm!" Mayra menjawab ragu, pertanyaan Tony membuatnya ingat dengan kenakalan Dewa.


Begitu sampai tujuan, Tony mengajak Mayra duduk di tempat mereka bisa menikmati pemandangan kota Yogyakarta dari atas dan bisa melihat puncak Gunung Merapi yang tertutup kabut.


Tony memperhatikan Mayra yang sedang menggosok kedua tangannya, "Dingin ya?"


"Iya lumayan," jawab Mayra. Dua wedang jahe hangat sudah tersedia di hadapan mereka. "Padahal siang-siang, mungkin karena agak mendung ya, Ton!"


"Mau dipeluk? Aku nggak bawa jaket!" Tony menggoda ringan, langsung menarik tangan Mayra yang kedinginan. Mengusap-usap lembut telapaknya.


"Ish kamu ini!"


Mayra tertawa kering, sibuk mengatasi hatinya yang deg-degan. Dia sungguh berharap hal seperti itu tidak terlalu cepat terjadi. Mayra tidak siap. Belum!


"Sorry ya May kalau aku lancang. Tapi aku mau ngomong ini sama kamu udah dari kemarin-kemarin. Cuma waktunya nggak pernah pas!"


"Ngomong apa?" tanya Mayra seperti orang tercekik.


"Aku yakin kamu udah nebak apa yang mau aku sampaikan." Tony menatap Mayra lembut sambil terus mengusap jari-jari Mayra yang seketika menegang kaku.


Mayra mengernyit, matanya sedikit menyipit sebelum bertanya, "Aku lagi nggak mood main tebak-tebakan. Mau ngomong apa sih emangnya?"


"Aku suka kamu, May!"

__ADS_1


***


__ADS_2