
Dewa bukan sengaja mau mengambil kesempatan, tujuannya mencium Mayra hanya untuk mengalihkan fokus gadis itu. Dia tidak tega melihat Mayra berurai air mata karena ulah kakaknya.
"Jangan nangisin mas Elang!" Dewa merapikan anak rambut Mayra dan mengulas senyum tipis. "Mulai sekarang aku akan menginformasikan segala sesuatu mengenai perkembangan hubungan mas Elang dengan bu dosen, aku janji!"
"Kamu lebih suka kalau Bu Nindya yang jadi kakak iparmu?"
"Aku belum begitu kenal sama bu dosen, baru sekali ketemu di rumah. Itu juga nggak ngobrol lama, tapi aku nggak pernah mempermasalahkan siapapun yang jadi pacar atau istri mas Elang nantinya. Bukan hakku untuk ikut campur urusan pribadinya. Aku hanya menuruti dan membantu dia untuk menjaga orang-orang yang dia sayangi, termasuk menjaga mbak Mayra!"
"Sampai detik ini aku tuh masih nggak ngerti maunya Elang … rasanya nggak adil aja, aku yang cinta mati sama dia sejak lama tapi nggak pernah dianggap ada, dia malah seenak jidatnya menjalin hubungan sama cewek lain!" gerutu Mayra emosional.
Seperti sedang dalam adegan sinetron, Dewa melihat air mata Mayra kembali deras, isakannya sampai mengguncang bahu. Gadis itu pasti merasa sesak di dada hingga membiarkan Dewa mengulurkan tangan untuk membelai pipinya, menghapus air mata yang terjun bebas bagai hujan tumpah dari langit.
"Gini mbak, aku yakin mas Elang hanya ingin mbak Mayra mendapatkan cowok terbaik untuk menggantikan posisinya. Mungkin selama ini yang dilihat mas Elang, cowok-cowok yang mendekati mbak Mayra bukan karakter yang diharapkan mas Elang.
Bisa jadi mas Elang sedang menunggu orang yang tepat, orang yang cocok untuk mendampingi mbak di masa depan. Mungkin itu juga yang jadi alasan utama kenapa mas Elang jadi sangat posesif dan pengatur, bagaimanapun mbak Mayra adalah wanita yang dulu diharapkan mama mas Elang untuk jadi menantu di rumah!
Mbak pasti tau bagaimana mas Elang sangat merasa kehilangan saat mamanya pergi selamanya. Dia berusaha membuktikan diri agar menjadi berguna dan membanggakan untuk mamanya. Aku sering ikut ke pusara untuk mendengar janjinya, kalau dia akan selalu memenangkan lomba panjat dinding dan menjaga amanat yang diberikan padanya. Aku rasa amanat itu berhubungan dengan mbak!"
Mayra menatap wajah Dewa yang sedang serius bercerita. Isaknya mulai mereda. "Trus apalagi yang kamu tahu?"
"Cinta nggak bisa dipaksakan, Mbak! Begitu juga dengan cinta mas Elang. Selama apapun dia bersama mbak, nyatanya mas Elang …."
"Ya aku mengerti, Elang tidak jatuh cinta padaku meskipun dia sebenarnya ingin memenuhi keinginan mamanya." Mayra tak menolak ketika Dewa membawanya dalam pelukan. Hatinya teriris mendapati fakta tersebut, dan dia butuh sandaran.
Mayra gundah, bagaimana dia masih tidak memahami sosok Elang yang sudah dikenalnya sangat lama?
__ADS_1
"Kalau udah ngerti berarti bisa move on dong sekarang?" tanya Dewa cengar-cengir. "Menurutku … ungkapin semua perasaan mbak sesegera mungkin pada mas Elang, biar lega! Setelah itu terserah mbak mau jalan sama siapa!"
Mayra mengangguk, dia pasti butuh pengalih perhatian agar bisa lepas dari bayang-bayang Elang setelah mendapatkan penolakan nantinya.
"Ya, aku janji, setelah mengatakan semua perasaanku pada kakakmu, aku akan menyingkir dari kehidupannya. Aku harap itu akan jadi hari kebebasan untukku menentukan langkah ke depan tanpa ada nama Elang lagi di sini!" Mayra menunjuk dadanya.
"Mau aku cium lagi? Eh … ini bukan jam pacaran ya? Maksudnya mbak masih perlu belajar lagi sama aku nggak? Tadi udah bilang batal, kan?" Dewa mengumpat dalam hati, ide konyolnya untuk mencium Mayra muncul karena rasa penasaran terhadap bibir gadis itu belum terobati.
Dewa belum menyesapnya, belum merasakan kelembutan dalamnya, belum menggigit dan dan menentukan tingkat kekenyalannya, belum mendengar Mayra mengaduh karena ulahnya.
Huh, Dewa benar-benar ingin membuat Mayra kehabisan nafas dalam pagutan liarnya, ingin mendengar gadis itu men-desa-h atau merintih nikmat karena birahinya tersulut oleh seorang Dewa.
Mayra seketika merona, pipinya panas di bawah tatapan tak berdosa Dewa. Ciuman tiga detik yang baru saja terjadi masih belum mereda getarannya, dan Dewa malah menawarkan bibirnya lagi untuk menyesatkannya.
Ya Tuhan, kenapa harus Dewa yang memperlakukannya demikian manis?
"Oke!" sahut Mayra gugup.
"Oke tapi kok bengong? Fokus mbak!" Dewa terkekeh geli melihat Mayra yang masih melihatnya dengan ekspresi tak percaya.
"Iya, ayo!" Mayra menyentuh pipi yang baru saja kena kecup di depan Dewa sambil tersenyum malu. Pemuda berwajah innocent di depannya ternyata mampu membuatnya salah tingkah dan panas dingin. "Aku nggak berantakan?"
"Cantik seperti biasanya!" jawab Dewa tulus.
Hm, Mayra berharap salah menafsirkan kupu-kupu yang terbang di perutnya ketika bertemu mata dengan Dewa.
__ADS_1
Mereka berjalan bersama, belum berpisah walaupun arah tujuan gedung berbeda. Hingga akhirnya Mayra pamit hendak langsung ke laboratorium dan Dewa memandangi punggungnya hingga menghilang di tangga menuju lantai dua.
Dewa melangkah santai, sengaja ingin lewat depan gedung teknik kimia untuk menyapa Vivian. Gadis itu juga mengatakan ada jadwal kuliah pagi hari ini.
"Hai … baru datang?" tanya Vivian begitu melihat Dewa melintas di dekat kelasnya.
"Iya, kamu udah dari tadi?"
"Sepuluh menitan."
"Udah sarapan?"
Vivian tersenyum lebar, "Udah makan buah tadi di rumah."
"Kuliah sampai jam berapa hari ini?"
"Padat, tiga matkul (mata kuliah)," jawab Vivian.
"Ya udah, belajar yang bener yah! Aku bentar lagi masuk," pamit Dewa sambil melihat jam tangan, bersiap melangkah menuju gedung teknik sipil.
"Eh … Dewa, itu yang jalan bareng kamu barusan anak teknik kimia juga kan? Kayaknya anak semester akhir, aku pernah lihat sekali dia ngobrol sama mas Elang!" ujar Vivian seraya membuat ekspresi sedang mengingat sesuatu.
Detik berikutnya, raut wajah Vivian berubah kesal. Dia ingat betul Elang akrab sekali dengan gadis itu, bahkan Elang merangkul bahu sang wanita saat mereka berjalan menuju parkiran.
Bagaimana bisa gadis yang tidak spesial seperti dirinya bisa kenal baik dengan kakak beradik yang sedang diminatinya?
__ADS_1
Lebih aneh lagi ketika gadis yang kata Vivian itu biasa saja, tidak seperti dirinya yang seksi, modis, cantik bak selebriti, tapi malah mampu membuat dirinya merasa … insecure.
***