
Dewa bukan hanya mengantarkan Mayra, tapi juga ikut makan siang di rumah itu. Dewa terpaksa membatalkan nongkrong di coffee shop bersama teman-temannya karena Mayra masih saja memasang wajah masam padanya.
"Aku pulang ya, Mbak!" pamit Dewa setelah tiga puluh menit hanya didiamkan saja di ruang keluarga. Kalau ditotal dari sejak dia menjemput Mayra, sudah satu jam setengah cewek itu membisu.
Mayra tak menggubris ungkapan Dewa, dia justru pergi ke teras belakang, ingin duduk di sofa lebar tak jauh dari kolam renang. Mayra kesal karena cewek yang sedang didekati Dewa adalah Vivian. Cewek yang juga sempat merebut perhatian Elang beberapa waktu lalu.
Hatinya panas dan cemburu kala melihat Vivian memeluk Elang mesra di atas motornya. Belum juga rasa sakit itu mereda, hari ini Mayra malah melihat Vivian dengan percaya diri bergelayut manja di lengan Dewa.
Sejujurnya Mayra lebih marah pada dirinya sendiri, marah dengan ketidak beruntungannya, marah karena dia tidak memiliki hubungan manis lebih dari teman dengan kakak beradik tersebut. Elang dan Dewa terlihat lebih menyukai Vivian daripada dirinya. It's so annoying!
"Mbak … kalau ada apa-apa itu diomongin!"
"Males!"
"Eh dia ngomong sekarang!" kata Dewa tertawa kecil. "Mbak mau kemana?"
"Mau tau aja, ih!"
Mau tak mau Dewa mengekori gadis itu untuk mendapatkan jawaban. Hari hampir sore dan malam nanti dia ada janji untuk merayakan hari jadiannya dengan Vivian. Tapi Dewa tidak bisa pulang begitu saja sebelum menjinakkan Mayra.
"Mbak, aku salah apa?"
Mayra menoleh ke arah Dewa yang sudah duduk berjarak satu orang di sebelahnya. Dia juga bingung kenapa bersikap kekanakan pada Dewa yang lebih muda darinya. Mayra menghembus nafas panjang lebih dulu sebelum bicara dengan nada lembut.
"Itu cewek yang di kampus tadi anak semester dua yang lagi kamu deketin?"
"Iya, namanya Vivian!"
"Emang nggak ada cewek lain, Wa?" tanya Mayra lirih.
Dewa diam, tidak mungkin menjelaskan alasan sesungguhnya kenapa dia harus mendekati Vivian pada Mayra. Lebih tidak mungkin jika mengatakan kalau dia dan Vivian baru saja jadian. Mayra kelihatan sekali tidak menyukai Vivian, dan Dewa masih belum tau penyebab pastinya.
"Mbak Mayra marah karena itu?"
__ADS_1
"Entahlah, aku merasa cewek itu nggak cocok sama kamu!" jawab Mayra datar.
Dewa mengulas senyum lebar, "Trus siapa yang cocok buat aku?"
Mayra hanya mengedikkan bahu. Tidak mungkin dia menyebut namanya karena dia juga tidak yakin akan cocok dengan Dewa. Pemuda itu dekat dengannya karena ulah kakaknya, mau membantu karena permintaannya.
Bisa jadi apa yang dilakukan Dewa padanya atas dasar rasa tanggung jawab yang dibebankan Elang atau parahnya hanya berdasarkan rasa kasihan.
Ya Tuhan, apa begitu tidak menyenangkannya dirinya di hadapan Elang dan Dewa? Bukankah dia cukup cantik, menarik dan juga berlatar belakang anak orang berada?
"Apa aku ini sangat membosankan sih, Wa! Tolong dijawab jujur!"
Dewa menipiskan senyumnya, menghadapi cewek yang sedang marah tanpa alasan jelas tidak pernah mudah. Tapi dia harus berusaha. Mayra kesal pasti karena cemburu. Baru pagi tadi dia memberi Mayra akses untuk lebih dekat dengannya, dan di pagi yang sama juga Mayra melihatnya bersama Vivian dengan sedikit mesra.
Dewa menjawab, "Di mata orang yang tepat, kamu cewek yang menyenangkan, Mbak!"
"Tapi kamu lebih suka sama cewek itu, kan?"
"Bukan gitu, Mbak! Aku …."
Dengan percaya diri, Dewa menggeser duduknya hingga berjarak satu jengkal saja dengan Mayra. Dia sungguh ingin bicara serius agar Mayra tidak salah paham.
"Aku memang dekat sama Vivian, Mbak! Tapi bukan berarti aku nggak serius dengan ucapanku tadi pagi di parkiran. Kamu memang bisa minta waktuku kapan aja supaya urusan mbak dengan mas Elang cepat selesai."
"Kalau aku minta waktu kamu sekarang gimana?" tanya Mayra, menoleh dan melihat Dewa yang bicara tanpa melihatnya.
Dewa akhirnya menoleh untuk menatap mata Mayra yang berkabut kesedihan. "Ya, boleh aja! Mbak minta waktu untuk apa? Mbak mau diajarin sekarang?"
Dewa rasanya ingin menjelaskan kalau waktu nongkrongnya sudah hilang gara-gara harus menemani Mayra yang mendadak ngambek padanya, tapi dia tidak bisa dan tentu saja tidak tega.
Mayra tidak berani mengangguk juga tidak berani menggeleng. Tatapan Dewa membekukan gerakannya, mengunci mulutnya, membuat linglung harus menjawab bagaimana? Dasar cewek!
Sebenarnya Mayra hanya ingin ditemani ngobrol lebih lama karena sedang kesepian. Rumahnya seperti tak berpenghuni di siang hari. Dan Mayra kesal karena tidak bisa tidur siang! Tapi entah kenapa Dewa justru mengartikan lain permintaannya yang seharusnya sederhana itu.
__ADS_1
Dewa meletakkan telapak tangannya pada pipi Mayra, mengusapnya perlahan dengan ibu jari. Bukan hanya pipi, Dewa juga menyentuh sudut bibir gadis yang spontan tegang itu, menyusuri rahang dan berhenti di dagu. Mendongakkan Mayra agar menatapnya lebih dekat dan dekat.
“Maaf ya, Sayang!” bisik Dewa sebelum mengecup dengan sangat lembut. Mencecap, menyesap, me-lu-mat bibir Mayra dengan sentuhan ringan.
Dewa tidak mengerti kenapa harus minta maaf, entah karena sudah membuat Mayra marah atau maafnya hanya pengantar dari ciuman yang sedari tadi ingin dilakukannya dengan gadis manis itu. Mungkin juga keduanya, karena dia memang tulus minta maaf sekaligus minta izin untuk mencium Mayra.
Perlahan, Mayra memejamkan mata, meresapi setiap gelenyar dan desiran di dadanya dengan sepenuh hati. Dewa mengambil ritme lambat ketika menciumnya, memberinya jeda bernafas di saat yang tepat hingga dia bisa cepat menyesuaikan diri.
Atas inisiatif sendiri, Mayra akhirnya mengalungkan tangannya di leher Dewa. Membalas dengan mengusap lembut dan memainkan rambut belakang Dewa yang ternyata halus, namun tetap mampu menggelitik telapaknya.
Yang pasti, Dewa memperdalam ciumannya dengan lebih lembut dan menjaga ritmenya tetap stabil. Dewa ingin terkesan manis dan romantis pada pengalaman pertama Mayra.
Dewa mengeluh diam-diam dalam hati. Meski bisa terkesan santai saat melakukan penjelajahannya, tapi sejujurnya dia sedang berperang dengan hati kecilnya.
Hm, menjadi yang pertama selalu saja membanggakan. Sebuah kehormatan yang sudah sangat sulit didapatkan di zaman modern seperti sekarang.
Dewa girang setengah mati dalam hati, dan jantungnya yang berdetak di atas normal seolah memberitahu kalau apa yang dirasakannya adalah sesuatu yang tak biasa. Ada getaran dan debaran halus seperti orang yang sedang jatuh cinta, berputar-putar di dalam rongga dadanya.
Dewa menyudahi ciumannya, menjauhkan wajahnya hingga berjarak setengah jengkal dan menatap Mayra yang membuka mata dan melihatnya dengan ekspresi berbeda. Huh, dalam situasi salah tingkah begitu, Mayra malah terlihat cantik sekaligus menggemaskan.
Mayra seketika sadar bahwa hal indah yang baru pertama kali terjadi dalam hidupnya baru saja berakhir. Namun, saat Mayra ingin menarik tangannya yang masih memeluk leher Dewa … pemuda berwajah innocent itu sudah memiringkan kepala dan menyatukan kembali bibir mereka.
Kali ini, Dewa menyelami Mayra dengan lebih berani. Bibirnya me-lu-mat dengan tempo lebih panjang dan lama, menyesap dengan gigitan lembut dan menjelajah ke tiap sudut mulut Mayra dengan penuh kasih.
“Bernafas, Sayang! Trus balas aku sebisa mungkin,” bisik Dewa di depan bibir Mayra. Lembut dan sangat sensual.
Mayra merinding mendengarnya, bukan hanya hatinya yang berdebar, dadanya juga serasa mau meledak dalam buaian Dewa. Malunya tak terukur, tapi apa yang dibisikkan Dewa barusan memantik keberaniannya untuk belajar dan menikmati Dewa secara utuh.
"Dewa …!"
"Ya, Sayang?"
"Aku mau pingsan! Ngap …!"
__ADS_1
***