
Sudah sejak dua minggu dari kejadian di rumah Mayra, Dewa tidak lagi bertemu gadis ayu itu. Mayra seolah menghindari setiap pertemuan dengannya. Selain itu, Elang yang biasanya selalu memintanya untuk menemani Mayra kemana-mana juga tidak memberikan perintah apa-apa.
Beberapa pesan yang dikirimkan Dewa pada Mayra memang hanya seputar kemajuan hubungan Elang dengan dosennya. Dewa menepati janjinya dengan memberikan informasi itu, tanpa bertanya bagaimana perasaan Mayra saat membaca pesannya.
Mendadak, Dewa merasa bodoh karena sudah menyakiti Mayra secara tidak langsung. Dilematis memang, mengharapkan Mayra move on dari kakaknya dengan berita menyakitkan yang dikirimnya.
Sejak beberapa hari lalu, Mayra tak lagi membalas dengan antusias setiap informasi yang diberikan. Paling hanya mengucapkan terima kasih dan chat mereka berakhir begitu saja.
Jujur Dewa rindu dengan Mayra. Makhluk manis dan polos itu sudah berhasil mencuri sebagian hatinya hanya dengan satu kali ciuman panjang. Dewa sudah menduga sebelumnya kalau sentuhan pribadi seperti itu pasti akan memberi efek rasa di dalam hati.
Masalahnya, apakah Mayra juga merasakan hal yang sama dengannya?
Gadis itu menghilang beberapa hari tanpa memberikan kabar apapun padanya. Satu sisi Dewa lega karena hubungannya dengan Vivian menjadi lebih lancar, di sisi lain dia merasa kehilangan Mayra. Parahnya, Dewa malah tersiksa oleh rasa kangen pada Mayra yang ceria dan hangat, yang polos dan sederhana, yang bibirnya lembut dan selalu menggoda.
Huh, kalau saja Elang tidak terlalu sibuk kencan dengan dosen pembimbingnya, mungkin kakaknya itu bisa mengatur pertemuannya dengan Mayra!
Sial bagi Dewa, efek yang sama tidak timbul setelah dia beberapa kali mencicipi bibir manis Vivian. Padahal, Sang Aphrodite lebih mahir, lebih bisa membuat dirinya melayang dalam gelegar hormon laki-laki yang sedang aktif-aktifnya berproduksi.
Berciuman dengan Vivian rasanya berbeda, keintiman yang terjadi selalu hanya sebatas gairah dan birahi semata. Dewa tidak mendapatkan kehangatan di hati, tidak merasakan desiran dan getaran yang membuatnya kecanduan seperti saat melakukannya dengan Mayra.
Haruskah dia menemui Mayra dengan inisiatif sendiri? Tidak! Maksudnya belum.
Perasaannya pada Mayra adalah kesalahan yang harus segera dikikis. Tidak etis mengekang Mayra yang hampir berhasil move on dari kakaknya. Bisa jadi gadis itu menghindar karena sudah memiliki orang yang membuatnya tertarik.
Baguslah! Dewa bisa fokus dengan gadis taruhannya. Lega karena tidak perlu berbohong sana sini untuk menyembunyikan hubungannya. Setidaknya dia akan aman sampai tiga bulan ke depan!
"Gimana udah enak belum tarikan gasnya?" tanya Erfan. "Itu aku cuma atur skep karburator sama grip handle aja soalnya!"
__ADS_1
Mahasiswa teknik mesin semester akhir yang juga memiliki hobi utak-atik mesin motor itu menyuruh Dewa keliling sebentar dengan motornya, bukan cuma di coba di dalam bengkel.
"Iya udah enak ini, bisa buat ngacir ntar malam pas night ride!" Dewa mematikan motor lalu jongkok di dekat Erfan yang masih sibuk mengelap velg motornya.
"Bawa cewek yang mana kamu nanti malam?"
Dewa terkekeh, pertanyaan Erfan sungguh sialan. "Mereka itu bukan barang, Er! Kesannya kok mereka kayak cewek yang bisa dibayar gitu! Kata 'bawa' sama sekali nggak tepat untuk Vivian, apalagi untuk Mayra!"
"Halah kayak kita ini anak jurusan bahasa aja! Jadi kamu mau ajak siapa? Vivian apa Mayra?"
"Belum tau!" jawab Dewa cuek. "Kamu tumben banget mau tau urusan orang?!"
"Kemarin aku lihat Mayra di kampus makan siang sama anak basket!" Erfan akhirnya bercerita singkat mengenai pertemuannya dengan Mayra di warung makan tak jauh dari kampus.
Dewa langsung memasang wajah serius, "Siapa cowoknya? Bukan kakakku, kan?"
"Emang penting buat aku tahu ya?"
Erfan menukas jengkel, "Eh dodol, ya itu si Tony yang makan bareng sama cewekmu! Kalian udah putus? Kamu cuma serius sama Vivian sekarang?"
"Hah?" Dewa tertegun, tapi tidak ingat apapun tentang Tony atau siapalah yang dimaksud Erfan.
Tiba-tiba, kepala Dewa merasakan panas mendengar Mayra makan siang dengan orang lain. Itu sudah diluar kebiasaan Mayra yang selalu keluar makan dengannya atau Elang ketika di kampus.
Tapi … bukankah Dewa harusnya senang karena dugaannya benar, Mayra akhirnya berhasil move on dari Elang tanpa perlu menunjukkan perasaannya?
Tidak! Dewa sama sekali tidak senang. Maksudnya dia memang senang Mayra bisa membebaskan diri dari belenggu cinta kakaknya, tapi dia sangat tidak senang jika Mayra move on darinya!
__ADS_1
"Aku pulang, Er!" pamit Dewa tiba-tiba.
Erfan terkekeh-kekeh mendapati wajah Dewa yang berubah kusut. "Mau kemana, Wa? Nyamperin Mayra?"
"Kenapa kamu jadi kepo banget sama Mayra, Er? Pertanyaanmu bikin aku makin curiga!"
"Wa, next time kalau kamu udah bosen sama cewek cantik info ya! Beneran aku ikut nyesel liat Mayra sama Tony, tau gitu mending aku runding sendiri itu cewek!" ujar Erfan tergelak. "Dulu aku nggak tertarik sama Mayra karena aku pikir dia pacar Elang, tapi begitu tau dia pacarmu entah kenapa aku jadi punya niat jelek."
"Hah? Sialan bener kamu!" gerutu Dewa sambil mengumpat kasar.
"Iya, aku sempat punya niat merebut Mayra dari kamu!" Kali ini Erfan terbahak-bahak sampai matanya berair. Entah lucunya dimana Dewa sama sekali tak paham.
Dewa menyahut dengan seringai malas, "Aku belum putus sama Mayra, cuma lagi ada salah paham dikit!"
"Jangan lama-lama kalau salah paham, ntar digebet orang beneran! Yang boleh lama itu kalau salah paha! Makin lama makin asik malahan …." timpal Erfan mesum.
Dewa memakai jaket dan helm lalu ngeloyor ke arah motornya, "Thanks informasinya."
Begitu keluar dari bengkel, Dewa langsung menelpon Mayra, menawari untuk ikut malam mingguan dengannya, nongkrong plus kopdar dengan anak bikers.
Sayangnya Mayra menolak karena sudah ada janji mau keluar sama Tony. Kejujuran yang membuat Dewa sakit hati.
"Tony ya?!" gumam Dewa dengan ekspresi menahan geram. Gusar dengan pilihan Mayra. Penasaran, apakah cowok yang sekarang bersama Mayra adalah tipe yang direkomendasikan Elang?
Tidak ada pilihan lain, Dewa mengirim pesan pada Vivian untuk menemaninya kopdar nanti malam.
***
__ADS_1