
"Belum tidur, Mas?" tanya Dewa begitu tiba di rumah. Dia melirik jam tangannya yang menunjukkan kalau tengah malam sudah lewat satu jam yang lalu.
"Kopdar bikers selesainya semalem ini?" Elang balik bertanya. Dia sengaja menunggu Dewa sambil nonton acara sepakbola.
Dewa ikut bergabung setelah melepas jaket dan mencuci muka, "Tadi ke angkringan sebentar sama Vivian."
"Kamu kalau kopdar sama Mayra pulangnya jam segini?"
"Enggak, sama mbak Mayra waktu itu belum jam dua belas udah aku anter pulang!" jawab Dewa.
"Oh ya udah. Itu … kamu pacaran serius sama Vivian?"
Astaga, sejak kapan Elang jadi kepingin tahu urusan pribadinya sedalam ini?
"Aku harus pacari dia tiga bulan baru dianggap sah menang taruhannya. Hadiahnya banyak, sayang kalau nggak dapet semua! Soal serius … belum sih," jawab Dewa nyengir tak bersalah. "Kenapa, Mas?"
"Jangan bawa Vivian ke rumah ini ya, Wa! Aku nggak enak sama Nindya nanti."
"Enggak, belum juga serius, masa mau diajak ke rumah!"
Serius? Tidak sedikitpun Dewa berpikir ke arah yang lebih jauh dari sekedar senang-senang. Hubungannya dengan Vivian baru hitungan hari, mereka juga belum mengenal jauh lebih dalam.
"Baiknya kamu emang nggak perlu serius sama Vivian!" timpal Elang dengan ekspresi tak terjelaskan.
"Mas kenal baik ya sama Vivian?" tanya Dewa curiga. "Jangan bilang dia salah satu mantan mas Elang!"
"Enggak pernah berkomitmen sama dia, cuma pernah dekat! Jadi nggak bisa disebut mantan!"
Dewa langsung paham kenapa Vivian setiap kali bertemu dengannya selalu menanyakan Elang. Rupanya mereka pernah terlibat hubungan tak resmi, tapi sejauh mana?
Vivian tidak pernah mengaku jika ditanya secara langsung. Tapi dalam tiap obrolan mereka, selalu saja ada momen khusus untuk membahas kakaknya. Rasa ingin tahu Vivian soal kegiatan Elang dan hubungannya dengan gadis-gadis lain menjadi bahan utama pertanyaan Vivian di tiap kesempatan.
Sekarang, Dewa tidak sedikit pun terkejut mengetahui fakta kalau kakaknya pernah menjalin hubungan tertentu dengan Vivian. Keduanya memiliki pesona spesial di kampus. Elang adalah playboy kawakan dengan pesona Casanova, sementara Vivian bunga kampus tahun pertama berjuluk Aphrodite.
Hm, apalagi mereka ada dalam satu jurusan. Vivian pasti jadi target pertama Elang ketika baru jadi mahasiswa baru. Dewa mengutuk kakaknya yang selalu memiliki keberuntungan dengan wanita cantik. Jujur saja dia iri.
__ADS_1
Menanggapi jawaban Elang, Dewa terkekeh, “Pantes aja Vivian sering banget nanyain mas Elang!”
“Ohya, cerita apa aja dia sama kamu?” tanya Elang antusias.
“Bilangnya sih cuma kenal biasa, nggak bilang kalau pernah deket. Pernah dianterin pulang, makan bareng, sejenis itulah!”
“Motifnya terima kamu jadi pacar sungguh mencurigakan! Dia itu masih sering chat, tanya kabar dan basa basi soal kuliah sama aku!”
“Ya mungkin dia masih cinta sama mas Elang! Mungkin juga sedikit … terobsesi?”
Dewa merenung sejenak, kata terobsesi sepertinya sedikit pas! Vivian mau menerima kehadirannya karena dia adik Elang, bukan karena dia seorang Dewa. Hm, sepertinya gadis seksi itu sengaja memanfaatkannya, tepatnya mereka saling memanfaatkan. Baguslah! Artinya mereka terhubung dengan kepentingan selain cinta.
“Mungkin! Tapi aku nggak ada rasa apapun sama dia,” ujar Elang dengan seringai malas.
“Ya kenapa dulu didekati kalau emang nggak ada rasa?” tanya Dewa penasaran. Seingat Dewa, sebelum anak mahasiswa baru masuk kampus, Elang masih pacaran sama Diah.
"Iseng aja!" ELang memindahkan saluran televisi karena acara bola sudah selesai. Dia tertawa kecil sebelum menjawab pertanyaan adiknya. “Disamping itu, hormonku juga perlu disalurkan, Wa!”
“******!” Dewa mengumpat keras. Meski sudah bisa menduga motif Elang mendekati perempuan cantik selama ini, tapi jawaban kakaknya yang terkesan kurang ajar dan egois memang mengejutkannya.
"Iya, nggak masalah!" ujar Dewa santai. Elang kan memang bajingan perempuan, jadi kenapa dia harus heran?
Akhirnya Dewa mengerti kenapa Elang melarangnya membawa Vivian ke rumah. Terlebih, akhir-akhir ini Elang banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Nindya dan kedua orang tua mereka.
Sepertinya Elang sudah sangat serius dengan pilihannya, sehingga tidak mau hubungannya dengan Nindya terganggu oleh kehadiran Vivian.
“Cari cewek lain kalau mau serius pacaran, Wa!” pesan Elang terang-terangan. “Tapi hati-hati kalau main, jangan pernah lupa pakai pengaman!”
Dewa terbahak, obrolannya dengan Elang terlalu vulgar dan dewasa. Sebagai sesama pemuda dengan selisih umur tak sampai empat tahun, Dewa selalu menyukai keterbukaan Elang.
“Iya, Mas!” kata Dewa masih cengengesan. Beruntung kedekatannya dengan Vivian hanya karena urusan taruhan. Kalau sampai serius bisa jadi masalah di kemudian hari.
"Oh ya, kamu tau siapa Tony?"
"Enggak kenal, taunya cuma anak kampus, ukm basket!”
__ADS_1
“Dia teman satu angkatan, bejatnya sama aja kayak aku. Tony udah penasaran dengan Mayra dari sejak dulu, cuma aku selalu menghalangi setiap kali dia mau deketin Mayra. Sampai sekarang, aku masih nggak bisa terima kalau Mayra malah jatuh ke pelukan Tony, kamu ngerti maksudku?”
“Enggak,” jawab Dewa jujur.
“Aku sibuk sama persiapan seminar, Wa! Penelitianku hampir beres. Aku juga ada rencana mau nikahin Nindya dalam waktu dekat ini. Aku nggak bisa fokus lagi sama kegiatan Mayra. Aku pikir daripada kamu jalan sama Vivian, kenapa kamu nggak coba sama Mayra aja?”
Dewa menyeringai mengejek, “Mbak Mayra cinta mati sama mas Elang!”
“Halah, dimana-mana cewek itu selalu milih cowok yang lebih ngasih perhatian dan selalu ada untuk dia. Bukan orang yang cuma bisa nemenin seperlunya dan kadang malah buat dia nangis.”
“Masuk akal sih,” sahut Dewa. "Tapi mbak Mayra setia banget sama cintanya, aku yakin dia sama Tony nggak serius! Bisa jadi cuma pelarian!"
“Mayra pasti akan mengalami titik jenuh sama aku. Dia juga pasti akan berhenti nunggu begitu aku nikah sama Nindya!"
Dewa menanggapi, "Mbak Mayra juga pernah bilang gitu sama aku! Yang bisa bikin dia berhenti nunggu mas Elang, salah satunya ya itu tadi … mas nikah!"
"Mayra itu baik, Wa! Terlebih dia perempuan pilihan mama," kata Elang dilema. "Menurut kamu, Mayra kurang apa, Wa?"
Mengingat Mayra, Dewa tergelak sambil nyerocos, "Enggak ada kurangnya, Mas! Mbak Mayra emang baik banget, lembut, sederhana, cantik, seksi, kulitnya mulus, kakinya …."
"Ya, betul itu! Tapi kalau nggak bisa bikin cewek cantik itu jatuh cinta sama kamu ya percuma! Jangan jadi adik Elang, Wa! Malu aku!” Elang melangkah ke kamar tanpa menoleh lagi. Menurut Elang, ketika seorang pemuda sudah memberi nilai lebih pada seorang gadis, pasti ada rasa kagum pada objek tersebut. Bukan mustahil cinta lahir dari rasa kagum itu.
"Yang bener ini, Mas?" tanya Dewa sedikit lantang.
"Intinya bisa nggak kamu dapetin Mayra? Jangan - jangan kamu nggak berani bersaing sama Tony?!" ejek Elang sebelum menutup pintu. Meremehkan sekaligus menantang!
Harga diri Dewa terinjak hingga ke dasar. Kalau sebelumnya dia ditantang memacari Vivian dengan cara taruhan, sekarang Elang menantangnya mendapatkan cinta Mayra dengan berbagai alasan.
Hm, tidak diakui menjadi adik Elang mungkin hanya candaan! Tapi ego laki-lakinya jelas tidak terima. Kalau Mayra bisa jatuh cinta pada kakaknya yang brengsek, dia juga harus bisa membuat Mayra jatuh cinta padanya yang setengah brengsek! Selama gadis polos itu belum terkontaminasi oleh garangan sekelas Tony tentunya.
Dewa nyengir, hampir tidak percaya kalau Elang akhirnya mempercayakan Mayra padanya. Mungkin akan sedikit ribet di awal karena posisi Vivian masih harus dipertahankan hingga dua bulan ke depan, tapi selama dia bisa kucing-kucingan rasanya semua bisa berjalan berdampingan.
"Siapa takut?!" jawab Dewa kalem.
***
__ADS_1