
Dewa mendatangi rumah mayra tanpa pemberitahuan lebih dulu. Ya, dia memang ingin memberi kejutan pada gadis ayu itu.
Biasanya Mayra menghabiskan waktu dengan mamanya jika hari Minggu. Dan Dewa sama sekali tidak keberatan menjadi bagian dari family moment Mayra. Toh Dewa sudah mengenal baik keluarga Mayra sudah dari sejak lima tahun lalu.
Meski begitu, Dewa tidak merubah penampilannya menjadi lebih sopan. Dia tetap memakai kalung perak dan gelang hitam kesukaannya, tanpa anting. Topi dipakai rapi ketika turun dari mobil.
Dipadu dengan celana jeans dan kaos oblong putih berlengan pendek di atas siku, Dewa merasa tak ada yang salah dengan cara berpakaiannya. Pun dengan sepatu tanpa kaos kaki. Tampil casual adalah gaya ternyaman Dewa dimanapun dia berada.
Dewa melangkah percaya diri menuju pintu rumah Mayra setelah mengamati mobil silver yang parkir di sebelahnya.
“Hai cewek!” sapa Dewa tengil di depan pintu ruang tamu. Menebar senyum menawan pada gadis yang menatapnya takjub.
Mayra terkejut sebentar lalu tersenyum lebar, segera mempersilakan Dewa masuk. Gadis itu bisa langsung menyambut kedatangan Dewa karena sedang berada di ruang tamu bersama Tony. Dewa membuatnya salah tingkah dengan sikap dan tatapan lembutnya.
“Masuk, Wa! Kamu nggak bilang kalau mau kesini!”
Dewa tersenyum manis mengiyakan, lalu duduk tak jauh dari Mayra. “Iya tadi nganter ibu ke homestay, males mau nunggu jadi aku mampir ke sini.”
“Ohya kenalin ini Tony,” ujar Mayra mengalihkan arah pandang matanya ke pemuda dengan setelan rapi seperti mau pergi ke kampus.
Dewa berdiri sebentar untuk berjabat tangan, “Dewa.”
“Tony.”
“Udah lama, Mas?” tanya Dewa sembari melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sebelas siang.
“Baru satu jam,” jawab Tony percaya diri.
Dilihat dari segi penampilan, dia menang banyak. Mayra cewek kalem, pasti seleranya juga cowok dengan penampilan sopan. Tony juga harus menjaga image pada keluarga Mayra, apalagi Mayra mengatakan mamanya sedang ada di rumah.
Selain itu dia terlihat lebih dewasa jika dibandingkan Dewa. Menurutnya, Mayra tidak mungkin menyukai cowok dengan gaya menyebalkan seperti yang ada di depannya. Terlihat seperti berandalan dan juga kekanakan!
“Oh, bangun jam berapa emangnya kok jam sepuluh udah sampai sini?” tanya Dewa konyol.
“Tony juga cuma mampir, Wa! Dia mau ada acara nanti siang di deket-deket sini!”
Tony menatap Dewa dengan ekspresi mengejek, “Sekolah dimana, Mas?”
__ADS_1
Bukannya tersinggung karena dianggap seperti anak SMA, Dewa justru terkekeh geli melihat Tony yang keki padanya. “Satu kampus sama Mayra.”
“Dewa teknik sipil semester empat, Ton!” Mayra seketika menoleh ke arah Dewa yang menyebut namanya tanpa embel-embel 'mbak'.
“Oh masih semester empat, pantesan!” cibir Tony dengan seringai penghinaan. Dari pada terjebak dalam awkward moment, Tony mengingatkan Mayra dengan agenda mereka. “Kita jadi makan siang di luar, May?”
Terlihat jelas kalau Tony sudah tidak kerasan di rumah Mayra. Kedatangan Dewa yang sok dekat dengan Mayra membuatnya geram.
Dewa berdehem, menatap Mayra lembut sebelum bertanya, “Kamu yakin mau keluar sama mas ini?”
Pertanyaan Dewa sungguh membuat hati Mayra bimbang. Dia memang setuju makan siang sama Tony di luar, tapi itu tadi sebelum Dewa datang. Sekarang entah mengapa dia ingin makan siang dengan Dewa di rumahnya.
“Kamu nggak konfirmasi dulu sih kalau mau dateng, aku jadi serba nggak enak kalau gini!” Mayra menyalahkan kedatangan Dewa yang tiba-tiba. Dia baru saja ngobrol asik dengan Tony, dan Dewa datang tanpa pemberitahuan.
Beberapa hari lalu, Mayra tidak sengaja bertemu Tony di koperasi mahasiswa. Setelah mengobrol singkat, mereka lanjut dengan makan siang bersama di warung dekat kampus.
Diskusi ringan bersama Tony nyatanya bisa membuat Mayra merasa nyaman. Tony perhatian dan selalu berbicara sopan padanya. Tatapannya hangat mengisyaratkan suka.
Mayra tidak menolak rencana kunjungan Tony ke rumahnya, juga menyetujui ajakan makan siang di luar pada hari Minggu. Mayra mengambil keputusan untuk belajar menerima Tony setelah mengobrol selama dua jam penuh.
Dan disinilah Tony sekarang, datang untuk memenuhi kesepakatan yang sudah mereka buat sebelumnya.
"Udah ada yang antar jemput kok tiap harinya, nggak usah ikut repot kalau soal itu! Tapi kalau besok pagi mau barengin aku boleh deh!" Mayra memberi satu kesempatan pada Tony agar tidak terlalu kecewa. Mayra tau persis, orang tuanya tidak akan mudah memberi izin pada pemuda itu untuk dekat dengannya.
Terdengar decakan sebal dari mulut Dewa. Eksistensinya selama ini seolah tidak dianggap oleh Mayra. "Kamu kenapa seneng ngerepotin orang lain sekarang? Kayak nggak biasanya bareng aku aja kalau hari Senin!"
"Loh kamu kan sekarang juga repot sama …." Mayra tidak melanjutkan kalimatnya karena Dewa sudah memasang wajah malas tapi sangar. Tiba-tiba Mayra agak takut Dewa bakal marah padanya.
Tony seketika merasa di atas angin, "Ya udah besok pagi aku jemput!"
"Oke!" jawab Mayra setuju. Matanya melirik ke arah Dewa yang terlihat tenang-tenang saja.
"Santai, May! Aku nggak ada hubungan spesial sama siapapun kok, selama kamu nggak terganggu dengan kehadiranku, aku bakal ada terus buat kamu!" ujar Tony menyatakan kejombloannya.
“Hm jadi kamu terganggu sama aku ya, May? Kalau aku nggak diharapkan ada di ruangan ini, aku tak ke Julian aja. Dimana dia? Ohya Tante ada? Aku mau numpang makan siang!”
Tanpa sungkan, Dewa masuk ke bagian dalam rumah, mencari sepupu Mayra, Julian. Interaksi Mayra dan Tony di ruang tamu membuat hatinya panas.
__ADS_1
“Mama di teras belakang, Wa!” ujar Mayra sedikit keras. "Julian keluar tadi jam sembilan!"
“Kamu udah kenal lama sama Dewa?” tanya Tony penasaran.
“Iya udah temenan lima tahun!” Mayra menatap punggung Dewa hingga menghilang, baru melihat ke arah Tony lagi.
“Dia emang deket sama keluarga kamu? Kayak kurang sopan ya anak itu?”
Mayra tersenyum garing, “Iya deket. Dewa emang begitu kalau di sini, kayak di rumah sendiri. Sebenarnya sopan sih anaknya!”
"Penampilannya berantakan!"
"Tapi baik kok dia! Maksudnya penampilan dia yang begitu nggak mencerminkan kelakuannya!"
Melihat gerak gerik Mayra yang selalu membela Dewa, Tony berasumsi kalau mereka memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Tapi bukan Tony kalau tidak bisa mengatasi hal kecil seperti itu! Bersaing itu biasa, apalagi menjadi pemenangnya. Dewa jelas bukan tandingannya!
Sepuluh menit kemudian, mama Mayra keluar dengan balutan setelan santai, rapi dan sedikit resmi, seperti hendak pergi ke acara sosialita. Di belakang wanita paruh baya yang masih cantik itu berdiri Dewa dengan wajah innocent-nya.
"May … ganti baju gih! Ayo temani mama liat pameran tanaman di Jalan Kaliurang. Mumpung libur, kebetulan mama mau nambah koleksi kaktus! Mas Tony mau ikut sekalian?" tanya mama Mayra berbasa-basi, tersirat memang hanya untuk abang-abang lambe tanpa berniat mengajak sama sekali.
"Oh enggak, Tante! Kebetulan saya mau ada acara di dekat sini sebentar lagi, makanya tadi nyempetin mampir. Saya pulang sekarang aja kalau gitu!" pamit Tony sambil mengangguk sopan, memahami kepentingan wanita paruh baya tersebut.
"Maaf kalau Mayra saya ajak keluar," kata mama Mayra tersenyum ramah.
"Aku jemput besok pagi ya, May!" ucap Tony sebelum benar-benar keluar dari ruang tamu.
Mama Mayra menyahut tenang, "Mas Tony nggak usah repot, besok pagi Mayra biar bareng Dewa. Tiap Senin memang jadwalnya Dewa yang nganter Mayra ke kampus!"
Tony mengangguk lagi, "Iya, Tante! Saya pamit!"
Wanita paruh baya yang biasa dipanggil Bu Santi itu memang tidak mudah percaya dengan pemuda lain. Itulah mengapa pergaulan Mayra hanya berpusat pada Elang dan Dewa.
Bu Santi kenal baik dengan orang tua kakak beradik itu, terlebih mama Elang yang sudah tiada adalah sahabat karibnya. Jadi tidak ada alasan untuk tidak percaya pada dua bersaudara tersebut.
Mendengar itu, Dewa menyeringai tengil pada Tony. Usahanya membahas kaktus hias koleksi mama Mayra berhasil. Sekarang dia diminta mengantarkan wanita itu jalan-jalan ke pameran tanaman hias yang sedang berlangsung di Jalan Kaliurang.
Bukan Dewa sengaja mengusir Tony, tapi … entah siapa yang salah?
__ADS_1
***