Dewa Love You

Dewa Love You
Cowok Polos


__ADS_3

Meski tak tau apa yang dimaksud Mayra, Dewa tetap menjawab dengan satu senyum menawan, "Siap! Nanti sebelum jam dua belas aku udah di sini."


Mendengar hal tersebut, mata Vivian langsung membola. Hatinya panas dan kebenciannya pada Mayra semakin menjadi-jadi. Dalam hati dia berjanji tidak akan membiarkan Dewa mengantar gadis rese itu siang nanti. Vivian akan menahan Dewa di rumahnya, dengan segala cara.


Vivian menyeret Dewa ke parkiran motor, “Ayo antar pulang sekarang, kakiku nyeri!”


“Aku parkir belakang lab, Vi!” Dewa menggandeng tangan Vivian untuk mengikutinya. Dia tidak pamit pada Mayra karena gadis itu sudah melangkah cepat ke arah gedung rektorat, setelah memberinya tatapan yang artinya 'aku kesel sama kamu'.


“Oh ini kendaraan yang kamu tukerin sama motor mas Elang, ya?” tanya Vivian dengan senyum yang bermakna macam-macam. Yang hanya Vivian sendiri yang tau.


Dewa tak menyahut, tapi membukakan pintu untuk Vivian seperti seorang gentleman. “Mau ke dokter dulu nggak ini?”


“Nggak, kayaknya cuma perlu diistirahatkan aja biar enakan,” jawab Vivian setelah Dewa masuk ke dalam mobil. “Kamu ada kuliah lagi nanti?”


“Senin aku cuma satu matkul, tapi siang jam dua mau ada acara sama teman-teman!”


“Bukannya mau nganterin temen mas Elang? Emangnya dia nggak ada yang jemput? Nggak ada pacar sampai harus kamu yang nganter pulang? Manja banget sih,” gerutu Vivian dengan wajah terlipat sembilan.


Kalimat Mayra yang terdengar bossy saat meminta Dewa mengantar pulang sangat menyakiti egonya. Sebagai wanita yang pernah dekat sekali dengan Elang, Vivian merasa tidak ada apa-apanya dibanding Mayra.


“Mbak Mayra nggak bisa bawa kendaraan sendiri, Vi. Senin biasanya sopirnya diminta standby di kantor papanya,” bual Dewa sekenanya.


Harusnya Mayra memang pulang dengan jemputan dari keluarganya, tapi entah mengapa malah minta diantar olehnya dengan menjual nama kakaknya. Dewa sudah memastikan kalau Elang tidak menghubunginya untuk urusan mengantar Mayra, jadi bisa disimpulkan kalau permintaan Mayra di depan Vivian tadi atas inisiatifnya sendiri.


Dewa tidak bisa menolak, dan tidak mungkin tega mengecewakan gadis ayu yang dua jam lalu menangis di pelukannya. Ditambah dia sudah terlanjur menawarkan diri untuk membantu Mayra di tiap kesempatan.


"Memangnya dia itu siapa sih kok kayaknya spesial banget?"

__ADS_1


"Teman mas Elang dari SMA, tadi kan udah aku jelasin!" jawab Dewa sambil terkekeh. "Kamu kenapa marah-marah? Cemburu?"


Vivian hampir tersedak, tapi berusaha biasa saja dengan cara tersenyum manis. Seharusnya dia bisa menahan diri untuk tidak terlalu frontal terhadap teman Elang itu, kan?


"Ehm … cuma ingin tau aja sih! Penasaran, ih."


Sampai rumah, Vivian langsung mengajak Dewa ke dalam. Kakinya yang sedikit bengkak menjadi alasan untuk bisa mendapatkan perhatian Dewa lebih banyak.


"Ini serius nggak perlu dirawat dokter? Agak bengkak loh, Vi." Dewa menyentuh lembut pergelangan kaki Vivian yang diselonjorkan di atas karpet tebal.


"Enggak, nanti juga sembuh!" Vivian memperhatikan wajah Dewa yang sedang menunduk untuk melihat lebih teliti pergelangan kakinya. Dilihat dari segi manapun, Dewa sama sekali tidak mengecewakan. Tiba-tiba saja, dia ingin Dewa segera menyatakan perasaan padanya. Vivian ingin bisa lebih leluasa saat meminta sesuatu pada pemuda itu.


"Ya udah jangan banyak gerak dulu kalau gitu!" ujar Dewa perhatian. Dia lalu duduk di sebelah Vivian. Memberi punggung gadis di sebelahnya dengn bantal besar agar bisa menonton televisi dengan nyaman.


"Wa, kamu bisa nggak cancel acara sama teman-temanmu itu? Aku beneran males kalau harus sendirian di rumah, mana kaki sakit gini. Kamu temenin aku ya sampai siang? Please!"


"Kan ada si mbak yang tadi bikin minum, Vi!"


Dewa nyengir karena mendapatkan angin segar. Berjam-jam dengan Vivian berarti membuka peluang perburuan lebih cepat berhasil. "Jangan gitu dong! Bisa bahaya kalau aku di sini lama-lama, apalagi cuma berduaan sama kamu!"


"Apaan sih, orang aku minta ditemenin ngobrol sambil nonton film! Bukan ditemenin yang lain," sahut Vivian gemas.


"Padahal aku malah ngarepin yang lain hahaha," ujar Dewa terkekeh sambil garuk-garuk kepala.


"Yang lain itu apa?" kejar Vivian dengan senyum terkulum. Dia bisa sedikit menebak kalau Dewa pasti akan berbicara sedikit nakal.


"Ya ngarep kamu mau jadi pacarku lah, apalagi memangnya?"

__ADS_1


Vivian melihat wajah Dewa dengan ekspresi terkejut, apa yang baru dipikirkan olehnya bagaimana bisa langsung menjadi kenyataan?


"Kamu serius?"


"Yep!"


"Serius, Wa?"


Ah, Vivian rasanya tidak terima, kenapa bukan Elang yang mengatakan hal indah dan menyenangkan seperti ini padanya? Kenapa justru adiknya?


Dewa menatap Vivian tak berkedip, rautnya juga tidak menunjukkan sedang bercanda. "Iya, aku serius! Kamu mau jadi pacarku nggak? Aku suka sama kamu, Vi."


Dengan gaya malu-malu meong, Vivian mengangguk. "Aku juga suka kamu, Wa!"


"Trus kamu mau jadi pacarku nggak? Kalau cuma suka tapi nggak mau jadi pacar ya sama aja bohong, Vi! Kecut!" ujar Dewa cengengesan.


Vivian mengulas senyum manis, "Iya, aku mau!"


Dewa spontan mengambil tangan Vivian dan mencium jarinya, "Yeeeiiii kita jadian dong?! Thanks ya, Vi."


"Tapi aku nggak suka kalau kamu deket-deket sama mbak Mayra, Wa!" lanjut Vivian.


Dewa mengedipkan sebelah mata, "Aku cuma nganter pulang dia nanti. Oh ya aku juga nggak bisa batalin acara sama anak bikers, Vi. Gini aja, kamu istirahat di rumah! Kalau malam udah baikan, nanti aku jemput buat rayakan hari jadian kita. Aku mau ajak kamu makan malam romantis di tempat spesial. Gimana?"


"Iya deh!" Vivian mengalah, dia tidak mau merusak hari pertama mereka bersama dengan meributkan Mayra. Yang terpenting Dewa sudah ada dalam genggaman tangannya.


"Thanks pengertiannya! Ngomong-ngomong aku udah boleh cium kamu? Di pipi aja, dikit kok!" tanya Dewa sembari cengar-cengir.

__ADS_1


Vivian cekikikan ketika mengangguk, baginya Dewa kelewat polos. Masa iya mau cium ceweknya harus minta izin?


***


__ADS_2