Dewa Love You

Dewa Love You
Sejenis Kurap


__ADS_3

Mayra menyusun semua kado yang sudah dibelinya kemarin di dalam mobil, dibantu sopir keluarga. Dia akan mengantarkannya ke rumah Elang pagi ini. Terlambat satu hari memang, tapi masih lebih baik dari pada tidak sama sekali.


Mayra tidak mungkin tidak peduli dengan hari bahagia Elang. Meski hatinya patah, tapi dia tidak menghilangkan kebaikan Elang padanya selama ini. Elang perhatian dan menjaganya seperti seorang adik. Mungkin memang dia lebih layak menjadi adik Elang daripada menjadi kekasih atau istri.


Kemarin, ditemani Tony Mayra memborong banyak hadiah pernikahan tersebut. Tentu saja tanpa menyebutkan untuk siapa hadiah itu akan diberikan. Mayra hanya mengatakan kalau yang menikah adalah adik bungsu papanya.


Dari sekian banyak hadiah, Mayra tak lupa membeli dua pakaian super seksi untuk Nindya dan juga pakaian dalam visioner untuk Elang. Beruntung tubuh Nindya hampir sama dengannya sehingga tidak sulit menentukan ukuran.


Untuk Elang … entahlah, dia hanya mengira-ngira ukurannya. Atlet panjat dinding itu tidak bisa dibandingkan dengan Tony. Bukan tidak bisa, tapi Mayra tidak mau membandingkan keduanya.


Sekarang hadiah itu harus diberikan sendiri melalui tangannya. Selain untuk mengetes mentalnya, Mayra memang berniat tulus memberikan ucapan selamat pada Elang dan Nindya. Dia sudah kalah telak, jadi menerima situasi rumit itu dengan lapang dada adalah obatnya.


Mayra merapikan dandanan di mobil sebelum turun. Wajah ayunya agak pucat karena kurang tidur. Tapi Mayra sudah melapisi kulit wajahnya dengan bedak tipis, juga memakai pelembab bibir berwarna strawberry agar tampak cerah ceria.


Tidurnya semalam hanya beberapa jam, itupun sama sekali tidak nyenyak. Tubuhnya serasa panas karena hasrat yang menggelora. Mayra bahkan berendam air dingin sangat lama untuk menetralisir keinginannya menyentuh diri sendiri. Dewa yang diharapkan bisa menolongnya justru mengantarnya pulang.


Sudahlah, Dewa sudah benar dengan tidak memanfaatkan kondisinya yang terkena pengaruh obat perang-sang. Mayra menduga Tony sengaja melakukannya agar bisa mencicipi tubuhnya. Asumsi itu muncul karena dari sejak Mayra tak menolak ajakan pulang bersama, Tony menunjukkan gejala seperti kucing jantan ingin kawin.


Beruntung Dewa muncul tepat waktu, meski Tony harus menerima dua bogem di wajah, Mayra tidak menaruh simpati. Hanya sedikit kasihan saja. Mayra kesal dengan Tony, awas saja kalau pemuda itu tidak minta maaf padanya.


Lamunan Mayra bubar karena mobilnya ternyata sudah masuk halaman rumah Elang. Mayra melirik jam tangannya yang menunjuk pukul sembilan. Dia berharap tidak terlalu kepagian sehingga mengganggu tidur pasangan pengantin baru yang umumnya kesiangan.


Sopir sudah selesai menurunkan semua kado Mayra dari mobil, menumpuknya di meja teras. "Saya tunggu apa gimana ini, Mbak?"


"Enggak usah, Pak! Nanti aku ke kampus bareng Dewa aja," jawab Mayra.


"Saya pamit kalau begitu," kata si sopir yang dibalas anggukan samar dari Mayra.


"Apa ini, May?" tanya Elang yang entah sejak kapan sudah berdiri di tengah pintu, dengan rambut basah dan wajah mengantuk. Elang terpaksa bangun karena Nindya mengguncangnya. Istrinya yang sudah bangun lebih dulu mengatakan kalau Mayra datang mencarinya.


"Hadiah pernikahan, apalagi memangnya?" Mayra mengulas senyum tipis, menutupi rasa sesak pada kalimat yang baru saja terucap. "Maaf aku mengganggu tidurmu!"


"Resepsinya masih beberapa bulan lagi, masa hadiahnya sekarang?" Elang mendekati meja, mengambil satu kotak kecil berwarna hitam dan menebak isinya. "Ini bukan kon-dom kan, May?"

__ADS_1


"Aku takut nggak diundang, makanya kado aku kasih sekarang!" Mayra cekikikan sebelum menjawab pertanyaan Elang berikutnya, "Bukan! Itu obat kuat!"


"Sialan kamu, May!" Elang terbahak mendengar jawaban konyol Mayra. Gadis ini sungguh pandai menyimpan perasaannya, baik itu cinta atau sakit hati, tetap ditunjukan dengan rasa peduli yang tinggi.


"Kenapa banyak banget hadiahnya, May?" tanya Elang. Kado dari Mayra memang dipisahkan sesuai isi, sehingga membutuhkan banyak kotak.


"Itu nominal yang kamu keluarkan untuk traktir makan aku selama tujuh tahun!" jawab Mayra sambil tertawa lebih lebar.


Nindya muncul di pintu dan langsung menyapa Mayra dengan senyum ramah. "Wah, apa aja ini kok banyak banget?"


Mayra menyalami, mengucapkan selamat dengan sedikit memeluk Nindya. Mereka saling menempelkan pipi seperti dua sahabat yang terpisah lama. "Hadiah kecil, Bu! Aku protes loh ini, aku kemarin nggak diundang makan-makan sama Elang!"


"Kita dapat banyak kado dari Mayra, Manis! Jangan lupa balikin dua kali lipat kalau dia nikah nanti!" Elang mengedipkan sebelah mata pada istrinya.


Mayra menanggapi dengan tertawa kecil. "Ya udah, beresin sendiri ya El! Aku mau ketemu Dewa, mana dia? Belum bangun? Tante ada?"


"Dewa di atas, kamu naik aja, udah bangun kayaknya tadi. Ibu udah berangkat sama papa!" jawab Elang. Dia paham Mayra tidak akan tahan melihatnya bersama Nindya.


"Ya udah aku ke Dewa aja," kata Mayra melarikan diri. Tak sanggup menatap kemesraan pengantin baru di depannya.


"Jangan lupa buatin aku ponakan yang lucu, imut dan menggemaskan, El!" Mayra tertawa kecil membayangkan anak-anak Elang dan Nindya pasti berparas menawan seperti kedua orangtuanya. Dia melambaikan tangan sembari melangkah menuju tangga.


"Siap!" jawab Elang tergelak.


Nindya mencubit perut Elang, "Orang lagi patah hati malah diketawain!"


"Jangan khawatir, Manis! Dewa pasti bisa mengurus Mayra!" Elang balas mencubit gemas pipi Nindya.


"Tapi Dewa sibuk sama Vivian … kasihan Mayra!"


"Fokus sama hubungan kita, nggak perlu mikirin Mayra. Kamu sendiri yang bilang aku harus membebaskan Mayra, atau kamu ingin aku yang …?!"


Nindya merengut, lalu menggigit lengan Elang. "Aku harap Mayra memilih Dewa, bukan orang lain!"

__ADS_1


Elang menyahut, "Hm, kita hanya perlu mendukung mereka, memberikan waktu dan tempat untuk mereka agar lebih saling mengenal dan jatuh cinta!"


"Tumben bijak! Biasanya bejat!"


"Cinta bisa merubah seorang bajingan, Sayang!"


"I see …." Nindya tak menghindar ketika Elang memeluk pinggangnya dan mengecup pipinya dengan gaya romantis.


Mayra meniti tangga dengan nafas lebih lega. Bangga pada diri sendiri karena dia tidak menangis di depan Elang. Bisa menunjukkan betapa kuat dirinya di depan pemuda yang dicintainya selama tujuh tahun itu adalah prestasi tersendiri.


Siapa yang tau kalau dua hari lalu dia sudah patah hati dan menangis keras di pelukan Dewa?


Suara cekikikan pengantin baru, dan obrolan penuh canda mereka di lantai bawah tidak menyakiti hati Mayra. Elang sudah punya kehidupan baru dengan wanita pilihannya. Mayra hanya bisa mendoakan pemuda yang jadi cinta pertamanya itu bahagia. Dia memang harus move on. Harus!


Mayra berhenti di ruang keluarga, menatap ke arah kamar yang pintunya terbuka lebar. Dewa ada di dalam kamar itu, sedang mengacak rambutnya yang basah di depan cermin.


Pemuda itu baru selesai mandi dan hanya memakai celana pendek berwarna biru langit yang menggantung rendah di pinggulnya. Tidak memakai kaos atau apalah yang menutupi bagian atas tubuhnya yang … seksi dan menggairahkan!


Mayra terpukau, sakit kepalanya yang baru saja mereda langsung kumat. Pun dengan gatal yang semalam menyiksanya. Sungguh seperti penyakit kulit sejenis kurap yang tidak pernah diobati. Mayra seketika merasa ingin … digaruk?


Ya ampun!


***


^^^Hai kak, ^^^


^^^Mampir ke karya baru Al yuk!^^^


^^^Judul : Seventh Blood Vampire^^^


^^^Setting : Maine, Amrik, 2023^^^


^^^Tokoh : Saya pemeran Drakula, bagian gigit-gigit leher hehehe^^^

__ADS_1


^^^Cium jauh - Al^^^


__ADS_2