
Selamat ulang tahun untuk Gita Natalia di Cilacap, semoga kebahagiaan dan kesehatan selalu menyertai! Part ini khusus untukmu!
*
*
Bengkel modifikasi motor milik Erfan sedang ramai di hari Minggu. Dewa dan tiga teman bikers yang terlibat taruhan juga ada di sana, membahas kemungkinan perombakan yang akan dilakukan pada motor masing-masing jika memenangkan taruhan.
“Pokoke aku mau motorku jadi lebih bertenaga,” ucap Erfan mendahului keinginan semua orang. Motor terlihat gahar dan gesit adalah impiannya sejak lama. “Aku butuh yang lebih potensial lagi untuk dipakai harian plus ikut-ikut acara fun race. Handling and braking kayaknya yang harus dimaksimalkan, itu aja sih!”
“Body nggak dirombak?” tanya Dewa.
“Gitu aja cukup, lebih ramping lebih seksi … udah kayak body Vivian itu mah, nggak perlu diapa-apain lagi udah enak dipake racing!” jawab Erfan dengan senyum nakal.
Makna ambigu yang terdengar di telinga tiga pemuda lainnya menimbulkan konotasi dan fantasi tersendiri bagi jiwa bikers. Mereka tertawa bersama dan saling menimpali satu sama lain.
“Cieh … baru aja kena tolak malam mingguan sama doi udah ngimpi lagi. Masih siang ini, Bang!” sahut Dimas meledek ketua klubnya.
“Iya apes bener, kayaknya cuma Dewa yang udah berhasil bawa itu cewek. Kapan mau kamu bawa ke acara kopdar, Wa?" tanya Gavin penasaran. Usaha memburu Vivian di hari pertama sama buruknya dengan Erfan. Ditolak mentah-mentah ketika menawarkan diri untuk mengantar pulang.
Dimas menimpali, "Gini, kalau Vivian udah jelas sama Dewa nanti, kita harus kasih kesempatan terbaik. Kita juga musti tau diri dong kapan harus berhenti berburu! Ya nggak?”
Erfan menyahut segera, “Gigit jari bersama ceritanya kita nanti?”
“Ya kalau mau gigit velg motorku juga nggak apa-apa, kebetulan aku mau ganti yang drag style kalau jadi menang,” ujar Dewa tertawa terbahak-bahak.
“Tambah tantangan berani nggak, Wa? Kopdar berikutnya kamu harus udah datang sama Vivian, udah jadian maksudnya. Hadiahnya modif knalpot racing custom dari aku pribadi. Tapi tetap bersyarat lah ya! Bukan cuma bisa bawa Vivian ke atas motor saat night ride, tapi juga kamu harus tunjukin kemesraan sama kita-kita. Little kiss depan kami cukup lah! Gimana teman-teman?” Erfan terkekeh geli, menantang Dewa yang masih terlihat kalem menjadi kesenangan baru baginya.
Dimas dan Gavin spontan mengangguk bersamaan, “Setuju!”
Gavin menambahi, “Kalau mau lebih juga boleh, Wa! Lumayan bisa lihat gaya Vivian ciuman plus plus gratis nanti kita!”
Dewa terkekeh antusias, tidak tersinggung meski sedang dikerjai. “Wow semakin menarik aja ini taruhan. Oke, aku terima tantangan kalian! Kopdar depan aku bawa Vivian, jangan pada mupeng ya kalau Dewa kebablasan!”
“Buktiin, jangan cuma omong doang yang gede! Nggak inget semalem kamu bawa cewek nggak berani mesra-mesraan! Siapa namanya … Mayra ya? Cantik sih tapi pendiem banget, kurang cocok sama kamu, Wa!” ujar Erfan memprovokasi.
__ADS_1
"Kurang beringas?" tanya Gavin dengan seringai lebar.
Dimas langsung berkomentar pedas, “Maksudnya Mayra lebih cocok sama kamu, Er?”
“Udah stop, stop! Nggak ada satupun dari kalian yang bakal bisa mendekati Mayra, dia bukan Vivian! Mayra milikku pribadi, dan aku tidak mau diganggu soal ini, aku serius!” Dewa mempertegas posisi Mayra agar tidak terlibat dengan keisengan teman-temannya. Meski bukan pacar betulan, Dewa tetap saja memiliki kewajiban menjaga Mayra karena kakaknya. Gadis itu terlalu spesial untuk dibandingkan dengan Vivian.
“Okelah, aku setuju dengan Dimas. Kita punya kehidupan pribadi dan mungkin juga punya pacar atau cewek yang sedang diminati di luar konteks taruhan. Kita juga udah sepakat kalau perburuan ini hanya untuk senang-senang, kalaupun nanti bisa jadian beneran dengan Vivian dan mau pacaran serius, itu urusan masing-masing orang!” ujar Gavin lebih bijak.
Erfan mengalah, “Baiklah, jadi kita sepakat tidak akan mengganggu hubungan Dewa dengan Mayra, ya?”
“Sip,” tukas Gavin cepat. “Kamu kalau mau hunting cewek aku bisa tunjukin tempatnya, Er! Main ke kostku, nanti aku kenalin sama anak-anak STIE sebelah, tinggal milih aja salah satu hehehe ….”
“Ya udah aku balik dulu kalau nggak ada yang mau diobrolin lagi, ada janji sama Vivian!” Dewa cengengesan sambil menunjukkan ponselnya, chat dari Vivian yang menanyakan jam kedatangannya.
Erfan spontan membanting kertas yang baru saja jadi oret-oretan rencana modifikasi motor mereka sambil mengumpat masam. “Udah mau dua poin aja nih anak ingusan!”
“Dah ah bubar, aku juga mau pulang. Emak minta dianterin beli tanaman hias!” ungkap Dimas sambil menyambar jaket dan helmnya.
“Woi jangan lupa besok di kampus sebar brosur perekrutan anggota baru, kita lagi butuh yang muda-muda buat jadi panitia sama jadi pengurus! Agenda bakal padat banget tahun depan, aku udah hampir deal-dealan sama pusat kalau jambore bikers nasional kita tuan rumahnya!”
Dewa berkendara santai menuju Jalan Gejayan, mampir sebentar di coffee shop untuk membeli dua minuman dan juga makanan kecil. Vivian mengatakan ingin ditemani nonton drama korea di rumahnya. Dan seperti umumnya cewek, minta dibawakan minuman kesukaan dan camilan untuk teman santai.
Jelas tontonan Vivian itu bukan hal yang menarik bagi Dewa, tapi demi knalpot racing gratis … jangankan drama korea, mau ditambah dengan sinetron Indonesia yang tidak ada ujungnya juga Dewa rela. Dia hanya cukup duduk bermain game atau mungkin tidur sambil menunggu Vivian selesai dengan kesenangannya.
Dewa tak sedikitpun keberatan memenuhi permintaan Vivian, apa artinya mampir membeli makanan dan minuman dibanding menang taruhan. Toh dia juga sering melakukan hal itu sama pacar-pacarnya dulu.
Menurut Dewa, memberi perhatian adalah cara mudah untuk mendapatkan hati perempuan.
Kunjungan pertama Dewa mendapatkan sambutan ramah, Vivian bahkan langsung mengajaknya ke ruang keluarga untuk ngobrol dan bercanda.
“Kok lama sih datengnya?”
“Tadi mampir bengkel temen sebentar!” jawab Dewa dengan seulas senyum manis.
“Motor kamu rusak?”
__ADS_1
“Enggak, itu bengkel modifikasi anak bikers. Sekalian rapat bentar buat acara jambore bikers nasional.”
“Wih keren, aku boleh ikut nggak?” tanya Vivian bersemangat.
“Masih beberapa bulan lagi acaranya, baru mau persiapan!”
“Kalau acara touring kapan, Wa? Biasanya anak motor suka jalan-jalan bareng, kan?”
Dewa menjawab, “Bulan depan kayaknya, tapi touring tipis-tipis. Tour de beach ke Gunungkidul.”
“Ikut boleh?”
Dewa hampir tersedak mendengar pertanyaan Vivian, agak heran karena gadis itu jadi terlalu antusias dengan kegiatannya. “Kamu udah pernah touring sama anak bikers?”
“Belum sih, pingin aja pergi sama kamu!”
“Ada night ride kalau malam Minggu, tapi biasanya cuma keliling kota, paling jauh ya ke pinggiran Yogya! Kamu bisa ikut kalau mau coba riding sama aku!” usul Dewa kemudian. Yang penting itu mengajak Vivian kopdar dan pamer pada tiga temannya dulu, urusan lain bisa belakangan.
Belum tentu di acara touring atau jambore nanti dia bersedia mengajak Vivian. Karena dibalik sikap agresif Vivian, Dewa malah mulai membandingkannya dengan Mayra.
Ah … calon kakak iparnya itu ternyata jauh lebih menggemaskan jika dikenal lebih dalam.
“Iya deh aku ikut!” Vivian tersenyum lebar seolah baru mendapat jackpot besar. Dewa ternyata cukup mudah didekati tanpa rasa curiga sedikitpun padanya. “Biasanya cewek-cewek yang ikut cowoknya acara riding malam minggu itu pakai baju apa, Wa?”
“Kebanyakan couple-an sama cowoknya! Baju seragam klub warna hitam sih.”
Vivian bertanya, “Ala-ala bikers perempuan gitu ya?”
“Iya,” jawab Dewa kalem. “Tapi pakai baju apa aja nggak ada yang larang. Konsepnya santai kok!”
“Nop! Aku nggak boleh ngecewain kamu soal tampilan!”
Dewa tertawa, “Kamu pasti bakal kelihatan wow banget kalau tampil beda!”
“Buat kamu apa yang nggak sih?" goda Vivian genit. "Ohya ngomong-ngomong gimana kabar mas Elang?”
__ADS_1
***