
Mayra tidak berbohong dengan ancamannya, dia juga tidak menganggap enteng kasus yang sedang menimpa Dewa. Ungkapan Tony yang secara tidak langsung seperti mengetahui kejadian tersebut benar-benar disampaikan pada ayahnya. Mayra meminta ayahnya menghubungi polisi untuk menyelidiki Tony.
Urusan Tony bakal dendam padanya di belakang hari, Mayra tidak begitu peduli. Mayra melihat Tony salah karena membawa kejahatan dalam hubungan mereka, dan Dewa menjadi target pembunuhan berencana.
Tony mungkin bisa berkelit karena penusukan tidak dilakukan dengan tangannya sendiri, tapi Mayra tetap tidak akan tinggal diam jika Tony terbukti ikut andil dalam merencanakan kejahatan tersebut. Bagaimanapun, apa yang terjadi pada Dewa berhubungan erat dengannya. Mayra adalah penyebab utama Dewa sampai celaka.
Mayra bisa jadi berlebihan karena menggunakan kuasa ayahnya untuk menyelidiki Tony. Tapi bukankah hal demikian wajar saja? Tony menunjukkan gelagat kalau dia adalah pelaku kejahatan, meski belum ada bukti yang mengarah langsung padanya.
Tidak menunggu hari berganti ketika papa Mayra turun tangan. Kemarin, pihak kepolisian langsung menjemput Tony di rumahnya untuk dimintai keterangan. Tony digelandang tanpa perlawanan.
Pemuda itu kini diamankan di poltabes, dan akan tetap tinggal di sana selama penyelidikan berlangsung. Mayra sedikit tenang setelah ayahnya memastikan kalau Tony tidak akan bisa berkeliaran bebas, dua tersangka lain yang menjadi eksekutor juga sudah ditangkap dalam waktu tak lebih dari 24 jam.
Mayra membeli buket bunga segar sebelum pergi ke rumah sakit. Dewa sudah dua hari dirawat, kondisinya membaik dan kemungkinan bisa segera pulang untuk menjalani rawat jalan.
“Hai cewek!” sapa Dewa begitu Mayra melangkah masuk.
“Hai … gimana hari ini?” Mayra tersenyum manis, mengganti bunga kemarin dengan bunga baru agar ruangan Dewa dirawat lebih segar dan indah.
“Jauh lebih baik, bisa pulang kayaknya bentar lagi,” jawab Dewa sambil terkekeh. Rautnya sudah tidak pucat dan ceria meski perutnya belum bisa digerakkan bebas.
Elang dan Nindya hanya menemani mengobrol Mayra sebentar. Mereka keluar ruangan untuk membeli kopi di cafetaria rumah sakit.
Mayra duduk, memegangi tangan Dewa yang tidak memakai infus. “Tony ditahan di poltabes.”
Dewa mengangguk, “Kalau dia terbukti bersalah sebenarnya kasihan, tapi yang namanya kejahatan tetap harus melalui proses hukum. Pasti di DO dari kampus itu nanti.”
“Dia merencanakan kejahatan, walaupun mungkin bukan berniat membunuh tapi kalau pisau itu mengenai organ vital lalu membuat orang kehilangan nyawa kan sama aja judulnya! DO itu cuma kehilangan status sebagai mahasiswa, nggak ngilangin nyawanya! Tetep nggak sebanding dengan apa yang udah dia lakukan sama kamu, Wa!” cibir Mayra. Bibirnya mengerucut saking menahan kesal dengan ulah Tony yang dianggapnya sangat berlebihan.
Dewa mengusap pipi Mayra, “Kamu cantik kalau lagi kesel.”
Sungguh Mayra ingin menghapus cengiran Dewa dari wajah innocent-nya. “Kamu kalau ngegombal cari waktu yang tepat dikit kenapa sih?”
__ADS_1
“Salahnya dimana? Itu kan spontanitas, dan emang bener kamu cantik,” jawab Dewa dengan kedipan menggoda. Dia sengaja mengalihkan pembahasan Tony agar Mayra tidak terlalu banyak pikiran.
“Hm, aku cantik ya? Trus kamu nggak pengen bilang cinta sama aku?” tanya Mayra sambil menahan tawa. Pipinya menyala sewarna dengan kaos merah muda yang dikenakannya.
Entahlah … Mayra masih saja berharap Dewa mengungkapkan cinta padanya tak hanya lewat tindakan. Tiga kata sakti yang langsung bisa melelehkan hati wanita itu ingin sekali didengarnya langsung.
Dewa tergelak, geli melihat Mayra yang berlagak seperti anak SMP yang baru mengenal cinta monyet. Dewa malah tidak berpikir kalau Mayra sangat ingin mendengar ungkapan hatinya lewat kata-kata indah.
Dewa bukan tipe pemuda yang bisa merangkai kata romantis, atau menciptakan suasana dengan menyewa tempat hanya untuk membuat momen manis seperti yang diinginkan Mayra.
“Kamu mau aku nembak kayak umumnya cowok ngajak jadian?”
Mayra cekikikan, “Susah ya? Aku pengen denger sih! Kan belum pernah.”
Dewa menarik tangan Mayra hingga bisa mencium pipi gadis itu. Dia lalu berbisik di telinga Mayra dengan sangat mesra, “Aku cinta kamu, Mayra!”
“Dewa, ih! Kok disini nembaknya? Enggak seru!” rajuk Mayra dengan bibir semakin mengerucut.
Huh, rasanya Dewa ingin mengunyah bibir Mayra yang masih saja tidak terima dengan ungkapan cintanya. Bibir gadis itu mencebik seksi, meledek, protes sekaligus mengundang untuk dinikmati.
“Mayra love you too,” balas Mayra pada akhirnya. Dari sekian banyak kalimat yang ingin disampaikan, ternyata dia hanya mampu mengeluarkan beberapa. Tapi, yang sedikit itu sudah membuatnya sangat lega.
“Jadi sekarang kita baru resmi pacaran?” Dewa melirik jam tangan Mayra yang menunjukkan angka sepuluh tepat.
Sepertinya hal kecil itu juga harus diingatnya sampai tahun depan. Hari, tanggal, jam mereka mulai pacaran adalah hal yang sangat penting. Bisa menimbulkan bahaya kalau sampai lupa tanggal jadian.
“Iya, resminya sekarang.” Menurut Mayra, ikatan resmi terbentuk ketika mereka sudah saling mengungkapkan perasaan.
“Trus yang kemarin-kemarin apa?”
“TTM kali,” jawab Mayra cengengesan.
__ADS_1
“Tapi aku cinta kamunya udah dari kemarin-kemarin, masa baru dianggap pacar sekarang?”
“Salah kamu kenapa nggak nembak dari kemarin-kemarin! Kalau kamu ngomong dari dulu, aku nggak mungkin sempat pacaran sama Tony malahan. Harusnya kamu itu serius ngajak pacaran aku dari awal…!”
Dewa menggaruk pipinya, gemas dengan Mayra yang menganggap kalimat cinta adalah segalanya. “Jadi aku yang salah?”
Mayra seketika memeluk Dewa erat, “Iya kamu yang salah!”
“Aduh, aduh …,” seru Dewa meringis kesakitan. Mayra tak sengaja menindih lukanya.
“Eh iya lupa … maaf! Sakit banget ya?” Mayra langsung menarik tubuhnya dan memeriksa perban di perut Dewa.
“Ya nggak perlu dielus-elus gitu, Mayra sayang! Ntar malah ada yang nggak tahan, sumpah rasanya geli-geli enak,” ujar Dewa dengan seringai nakal. Tangan Mayra halus, dan sangat menggoda ketika menyentuh otot perutnya.
Hm, Dewa malah membayangkan bagaimana rasanya jika jemari lentik itu turun ke pusat sensasinya? Mempermainkannya!
Mayra memukul lengan Dewa, “Mesum, ih!”
Dewa terkekeh mendapati Mayra merona salah tingkah. “Sini, aku cium dulu sebagai bukti kalau kita udah jadian! Jadi ini first kiss kita, diinget ya!”
Mayra mengangguk dengan ekspresi bodoh dan canggung. Tapi akhirnya memejamkan mata, meresapi sapuan bibir Dewa yang menggelitik mulutnya. Menikmati seluruh keindahan cinta yang ada di antara mereka.
Ruangan tempat Dewa dirawat menjadi saksi bahwa mereka sudah sepakat untuk menjalin hubungan serius sebagai sepasang kekasih. Ya … meski tak sesuai harapan, tapi Mayra tetap bahagia karena Dewa memproklamirkan cintanya dengan ketulusan. Jadian di rumah sakit secara spontan mungkin lebih berkesan daripada candle light dinner yang direncanakan.
Dewa memperdalam ciumannya dengan ritme perlahan, dan tentu saja tetap menjaga keromantisan. Tangannya tak kemana-mana, hanya berpusat pada wajah dan rambut Mayra. Membelai dan menguasainya dengan sentuhan sarat sayang.
“Dewa cinta Mayra,” ucap Dewa pelan di depan mulut Mayra, lalu mengusap bekas basah bibir bawah Mayra dengan ibu jarinya.
Mayra mengecup bibir Dewa sekilas untuk membalas, “Mayra juga cin ….”
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka. Satu suara lembut memanggil, “Dewa! Tega banget kamu nggak ngabarin kalau masuk rumah sakit!”
__ADS_1
***