
Dewa baru siuman, masih mengantuk karena efek obat bius rumah sakit. Wanita yang melahirkannya adalah orang pertama yang dilihat Dewa. Elang, Nindya dan papanya ada di ruang yang sama, sedang menatapnya bersama-sama, dengan ekspresi iba dan juga penasaran.
“Bu …,” sapa Dewa dengan senyum bersalah.
Ibu Dewa mengusap lengan putranya, khawatir. “Selain perut, apa ada bagian lain yang sakit?”
Dewa menggeleng, “Dewa baik-baik aja, Bu!”
Kilasan kejadian penusukan di jalan membuat Dewa mengernyitkan dahi, bukan karena sakit di perutnya yang baru saja mendapatkan jahitan, tapi karena keruwetan pikiran. Sejak keluar dari kafe beberapa jam lalu, tidak ada apapun di sekitarnya yang terasa mencurigakan, begitu juga ketika dalam perjalanan pulang.
Hanya kebetulan saja Dewa menjadi korban kejahatan acak atau memang ada unsur lain yang membuat dua orang tak dikenal itu ingin membunuhnya?
“Ini gimana kejadiannya, Wa?” tanya Elang tak sabar. “Barang kamu aku cek nggak ada yang hilang, dompet, ponsel utuh di tempatnya waktu kamu ditemukan orang lewat!”
“Kejadiannya cepet banget, Mas! Aku dipepet, ditendang jatuh trus ditusuk di perut,” jawab Dewa sembari mengingat urutan kejadian.
“Kamu beruntung banget pakai jaket tebal, beruntung lagi pisau itu menusuk pas nggak di organ vital. Aku udah khawatir aja pas dapat telepon dari orang yang bawa kamu ke sini,” ujar Elang emosional. “Next time bisa nggak sih kamu kalau keluar malam pakai mobil biar lebih aman! Kita nggak tahu klitih berpusat dimana sekarang!”
Dewa mengangguk, kepanikan pasti melanda keluarganya. “Selama ini belum ada bikers yang kena serangan acak sih, mungkin ada yang sengaja cari masalah sama aku!”
Kejahatan hanya untuk menyakiti tanpa tujuan jelas memang sedang marak di Yogyakarta. Pelaku Klitih (Keliling Golek Getih) yang meresahkan warga dicurigai sebagai tersangka utama yang menimpa Dewa. Kejahatan tanpa memilih korban yang biasanya dilakukan oleh remaja yang sedang mencari jati diri tersebut sempat menjadi topik viral di berbagai media. Tapi, Dewa malah merasa dia bukanlah korban klitih. Hatinya mengatakan ada yang sengaja ingin mencelakakan dirinya.
Polisi langsung turun menyelidiki kasusnya atas laporan papa Dewa, mencari informasi dari warga yang berada di tempat kejadian perkara. CCTV di jalan-jalan juga sudah diambil rekamannya untuk ditindaklanjuti. Keluarga Dewa diharapkan tenang dan tidak menyebar berita 'klitih' ke luar terlebih dulu.
Dewa beruntung karena serangan hanya satu tusukan, itupun tidak sampai memburai ususnya atau mengenai organ vital. Nyawanya tertolong ketika ada pengendara lain melintas dan melihat motornya ambruk menimpa kaki, dan Dewa tidak kuat berdiri karena perutnya berdarah cukup banyak.
Andai saja tidak ada orang lewat, mungkin bukan satu tusukan yang diterima Dewa, bisa saja penjahat itu menambahnya dengan banyak hal yang tidak bisa Dewa bayangkan. Ya, benar! Dua orang itu kabur karena ada pengendara lain yang mendekati tempat kejadian perkara ketika mereka beraksi.
“Siapa yang berani main nyawa sama kamu, Wa?” tanya Elang gusar. Rasa marahnya tersulut membayangkan kalau sampai hal buruk terjadi pada keluarganya.
“El, biar Dewa istirahat! Semua sudah dilacak sama polisi, kita tunggu saja semoga segera ada kabar baik,” ujar papa Elang menenangkan emosi putranya. “Ajak Nindya pulang, dia juga butuh istirahat!”
__ADS_1
Elang tak membantah. “Dewa sama papa, sama ibu?”
“Hm, pagi nanti gantian kamu yang jaga di sini!”
**
Mayra bimbingan skripsi dalam situasi hati tidak tenang. Elang mengabarkan kalau Dewa ada di rumah sakit dari semalam. Meski Elang mengatakan kalau kondisi Dewa baik-baik saja, tapi tetap saja Mayra khawatir dan ingin segera bertemu untuk memastikan sendiri dengan kedua matanya.
Baru kemarin sore Mayra mengingatkan Dewa untuk tidak pulang malam, rupanya rasa khawatirnya itu adalah firasat. Kalau saja Dewa mendengarkan atau membatalkan acara nongkrongnya, pasti hal buruk itu tidak akan terjadi.
Selesai bimbingan, Mayra turun dari lantai empat menggunakan tangga karena lift lumayan antri. Siapa sangka dia justru berpapasan dengan Tony di beberapa anak tangga terakhir? Sepertinya pemuda itu sedang ada kepentingan di kampus, mungkin mau ke ruang dosen yang ada di lantai empat.
Tony tersenyum menawan, setengah mencegat langkah Mayra yang terburu-buru. “May … udah selesai bimbingan?”
“Oh kamu … udah barusan aja selesai. Kamu mau ke atas?”
Tony menggeleng, membatalkan niatnya ke lantai atas karena ada Mayra. “Udah sarapan belum?”
“Ngopi sebentar yuk! Aku lagi puyeng revisi bab 3 ini, siapa tau kamu bisa bantu kasih solusi.”
“Aku mana ngerti materi skripsi kamu, Ton!” tolak Mayra halus, berharap Tony menyingkir dari anak tangga agar dia bisa lewat.
“Temenin ngobrol aja kalau gitu, gimana?” ajak Tony, tetap berjuang untuk mendapatkan sedikit waktu bersama Mayra.
“Aku nggak bisa, Ton! Aku lagi buru-buru, ada perlu.” Mayra menautkan kedua telapak tangan di depan dada sebagai isyarat permintaan maaf.
“May … aku minta waktu ngobrol itu paling lama satu jam, setengah jam juga nggak masalah! Ada hal penting yang mau aku sampaikan sama kamu!” ucap Tony memaksa.
“Kalau ada yang penting bisa kamu sampaikan di sini sekarang, mumpung kita ketemu!” tukas Mayra tegas. “Aku serius lagi nggak ada banyak waktu, aku ada perlu penting di luar!”
“Aku anter, ayo!” ajak Tony mengulurkan tangan.
__ADS_1
“Aku sama sopir, Ton! Maaf!”
“Kamu kenapa sih, May?”
Mayra mengatur emosinya yang nyaris meledak, “Kenapa gimana maksud kamu?”
Tony menatap Mayra tajam, “Kenapa kamu blokir aku?”
“Ton … kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sekarang!” Mayra menekankan tiap kata yang keluar dari mulutnya agar Tony paham. Ya … meski dia tidak yakin kalau manusia kepala batu di depannya bisa diajak mengerti.
“Kamu sombong banget sekarang, mentang-mentang udah ada pacar baru!” ejek Tony sarkastik.
“Kayaknya nggak ada lagi yang perlu kita bicarain. Sorry … aku lagi buru-buru!” Mayra bergeser lalu turun anak tangga dengan setengah bertabrakan karena Tony tidak mau menyingkir.
“Kamu mau ke rumah sakit? Gimana kabar pacarmu yang sok pahlawan itu? Masih hidup?”
Spontan Mayra membalikkan tubuhnya yang sudah berjalan empat langkah. “Aku merasa kamu tau sesuatu, maksudku terlibat sesuatu … yang jahat?!”
Tony terbahak-bahak, “Nonton tv, May! Klitih lagi marak!”
Media dan pemberitaan penting seputar Yogyakarta adalah sarapan keluarga Mayra setiap pagi. Tidak ada berita penting yang terlewat oleh papa atau mamanya.
Seandainya kasus Dewa sudah dimuat di media, orang tuanya pasti sudah heboh karena mengenal korban. Pun pasti mengulurkan bantuan untuk melacak pelaku kejahatan tersebut.
Mayra tersenyum tipis, lalu bersedekap, “Aku pastikan kamu akan dijemput polisi untuk dimintai keterangan. Bisa jadi kamu adalah tersangka kasus penusukan Dewa semalam.”
“Kamu nggak punya bukti, May! Tuduhanmu itu nggak ada dasarnya! Mana bisa polisi tangkap orang sembarangan?” ledek Tony dengan seringai kemenangan. “Sayang banget … pacar kamu nggak mampus semalam!”
“Tunggu aja di rumah, kalau kamu takut boleh ngumpet di lubang cacing, Ton! Jangan lupa, papaku punya jabatan penting di atas tanah yang kita pijak ini! Mudah bagi beliau untuk meminta bantuan polisi mengurusi orang nggak jelas macam kamu!”
Melihat ekspresi Tony berubah masam, Mayra menaikkan satu alisnya. Suaranya tenang saat balik mengancam, “Sampai ketemu di penyelidikan kepolisian!”
__ADS_1
***