Dewa Love You

Dewa Love You
Love Sparkle


__ADS_3

“Kamu maafin dia?” tanya Dewa skeptis.


Mayra menghembuskan nafas panjang, “Entahlah, aku ingin tau motifnya!”


Dewa tertawa sinis, “Kamu nggak bisa lihat tujuan dia dekat sama kamu? Kalau dia berani melakukan hal konyol dengan obat itu secepat ini, aku rasa pacarmu ingin menjadi bagian dari keluargamu! Dia jelas ingin menjeratmu agar tidak lepas darinya dengan mengambil mahkotamu eh … itu kalau kamu masih perawan ding! Kadang hal seperti itu jadi alasan perempuan nggak mau kehilangan pacarnya! Bener nggak? Lagi pula siapa yang tidak ingin jadi mantu pak pejabat?”


Mayra spontan mencubit perut Dewa, bibirnya mengerucut saat mengomel, “Masa kamu tanya aku siapa yang nggak mau jadi menantu papaku, kamu kan kenal banget orangnya! Tinggal satu rumah malahan. Ehm ngomong-ngomong soal mahkota, aku masih perawan, Dewa!”


“Mana aku tahu, belum pernah coba!” Dewa langsung menangkap tangan Mayra yang siap mencubitnya lebih keras. “Iya, iya maaf, Sayang! Ampun!”


Memasuki wilayah Svargabumi Borobudur, Dewa mengemudi lebih lambat. Mengambil parkir yang disediakan, lalu mengajak Mayra mencari tempat makan sambil melihat persawahan.


“Bagus ya, sejuk di mata?!” Mayra menatap takjub pada hijaunya sawah yang membentang bak permadani raksasa berwarna hijau cerah.


“Nanti kalau udah nggak seberapa panas, kita cari spot buat foto. Aku mau ambil foto kamu yang banyak!” ujar Dewa sembari memesan makan dan minum untuk mereka.


Mayra memasang wajah keberatan, “Idih nggak mau, malu aku! Udah nggak fotogenic, nggak bisa gaya pula, bikin sepet kamera kamu nanti!”


“Aku butuh model untuk difoto! Tenang aja, hasilnya pasti bagus! Aku udah belajar editing and layouting foto sama video.” Dewa menaikkan kedua alisnya meyakinkan.


“Tapi aku malu, Wa! Serius! Mana muka kucel begini!”


Dewa terkekeh, ingin menggoda tapi takut Mayra lebih malu lagi padanya. “Buat aku, kamu itu selalu cantik!”

__ADS_1


Demi Tuhan, Mayra suka ketika Dewa memuji tanpa unsur merayu. “Iya deh, tapi nanti kalau hasilnya jelek, hapus ya!”


“Mau jelek mau bagus aku koleksi semuanya!”


Mayra mencibir keki “Menuh-menuhin tempat aja, Wa!”


“Enggak juga! Hatiku masih cukup ruang buat kamu!”


“Gombal banget, Wa!”


“Aku serius! Kamu nggak mau ngasih kesempatan buat aku agar bisa lebih deket sama kamu? Kita udah ehm .. anu, itu tadi di kamar! Maksudku, kamu nggak ngerasa rugi gitu udah aku cium, aku pegang-pegang sampai …?” Dewa menggaruk pipinya sambil cengar-cengir, tidak berani melanjutkan.


“Dewa!” Mayra membungkam mulut pemuda di depannya dengan telapak tangan. Dia juga tidak ingin Dewa berbicara lebih banyak mengenai hal memalukan pagi tadi.


“Kamu nggak mau ya jadi pacarku?” tanya Dewa saat Mayra melepas tangannya.


Ya ampun! Dewa mengutuk pikirannya yang mendadak mesum. Mayra tidak akan berani melakukan apa yang ada dalam otak lelakinya dalam keadaan sadar. Kecuali Dewa yang mengajari, menularkan fantasi dan kenakalannya itu pada … calon pacar? Ah, Dewa malah tidak keberatan kalau Mayra mau jadi calon istrinya.


Bukankah menjadi menantu pejabat adalah cita-cita banyak pemuda yang tidak terlalu kaya seperti dirinya, heh? Dewa menertawakan kekonyolannya karena masih saja kurang bersyukur dengan kehidupannya yang berkecukupan.


Yang jelas, Dewa menyukai Mayra, no tipu-tipu!


Jantung Mayra berdetak abnormal, menggedor dadanya hingga hampir meledak. Dewa menatapnya serius, tajam, meminta jawaban!

__ADS_1


“Bukan aku nggak mau, Wa! Tapi ….”


“Aku suka beneran sama kamu, May! Mungkin ini terlalu cepat, tapi faktanya memang begitu. Kalau kamu anggep perasaanku salah, aku minta maaf!”


Mayra tak pernah sepuyeng ini sebelumnya. Sungguh dia takut kalau Dewa hanya sebagai pelariannya seperti Tony. Mayra jelas tidak ingin mengecewakan pemuda yang sudah begitu baik padanya selama ini.


Mengenai getaran di dadanya, atau kenyamanan ketika bersama Dewa, belum bisa diartikannya sebagai cinta. “Aku takut salah mengartikan perasaanku sama kamu, Wa! Menurutku memang terlalu cepat karena Elang baru nikah kemarin. Aku takut kalau kamu cuma jadi pelampiasanku!”


“Aku tunggu sampai kamu siap! Kamu nggak harus jawab hari ini kok, Sayang!" Dewa mengecup tangan Mayra.


Mayra mengangguk, "Thanks!"


"Tapi aku nggak keberatan sama sekali jadi pelampiasan kamu. Misal kamu ada dendam sama mas Elang trus mau balas lewat aku nggak masalah. Misal lagi, kamu mau kasih kejutan sama mas Elang, karena udah kadaluarsa trus mau kamu kasih ke aku … dengan senang hati aku terima!” Dewa merendahkan suaranya sambil meringis.


Mayra terkikik, Dewa memang pandai membuat suasana menjadi hangat dan lebih hidup. Pintar membuat ekspresi ceria dan menularkannya pada Mayra. Tahu persis bagaimana membuat orang jengkel dan keki, sekaligus mahir membuat orang jatuh hati.


Oh, haruskah hubungannya dengan Tony yang baru terjalin hitungan hari diakhiri sekarang juga?


“Aku akan menjawabnya setelah aku siap, aku butuh waktu untuk berpikir! Aku nggak ada dendam apapun sama Elang. Dia udah baik banget sama aku selama ini, menjaga seperti saudara, menyayangi seperti adik! Nggak ada alasan aku membalasnya dengan keburukan!”


“Oke, santai aja. Aku juga nggak buru-buru mau nikahin kamu! Papamu pasti nggak sudi punya mantu yang bisanya cuma bikin cucu!” Dewa terkekeh-kekeh melihat wajah Mayra yang berubah serius.


“Nyebelin ih!”

__ADS_1


Disadari atau tidak, ekspresi Mayra ketika menanggapi candaan Dewa sudah mengisyaratkan … love sparkle?


***


__ADS_2