Dewa Love You

Dewa Love You
Lupa Janji


__ADS_3

Dewa mengusap bekas basah di bibir Mayra dengan ibu jarinya. Ciumannya sudah terlalu lama dan juga dalam, dia tidak ingin membuat bibir Mayra perih. Selain itu ada alasan lain lagi, Dewa tidak ingin terbakar gairahnya sendiri.


Kalau Dewa bisa tahan saja untuk berciuman lebih lama, yang tidak tahan itu bagian lain dari dirinya yang sudah mulai memprotes karena dia membangunkan tidur siangnya yang nyenyak.


"Aku pulang sekarang ya, Sayang!" pamit Dewa manis. Dia jelas tidak mau ketahuan menahan sesuatu di bagian bawahnya. Dengan kabur setidaknya harga dirinya tidak terlalu jatuh karena terpercik hasrat ketika mengajari Mayra.


Rupanya bukan hanya Mayra yang menikmati apa yang baru saja terjadi, Dewa juga larut dengan ulahnya sendiri.


Jelas Dewa tidak mau disalahkan, dia pemuda normal dan usianya sudah dikatakan dewasa. Hormon lelakinya sudah dipastikan aktif bereproduksi, dan mengendalikan diri dari pengaruh Mayra sangatlah sulit. Apalagi suasana teras belakang rumah Mayra sangat mendukung dan romantis.


"Kita berenang dulu yuk sebentar biar dingin!" ajak Mayra tiba-tiba. Dia juga merasa panas di dalam, jadi idenya untuk menghabiskan waktu pendinginan bersama Dewa di rumahnya kembali muncul. Cowok yang ternyata berbahaya itu harus ditenangkan agar tidak terus-terusan pamit pulang.


Mayra mungkin bodoh dan tidak berpengalaman soal bersentuhan dengan lawan jenis, tapi dia paham secara teori. Dia cukup dewasa untuk mengerti kalau Dewa sakit kepala karena melewati batas nyaman saat menciumnya.


Ketika dia sedang terbuai nikmat, pemuda berwajah innocent itu mendadak melepas pagutannya dengan ekspresi gelisah, dan terus saja berusaha menutupi bagian bawahnya dengan duduk melipat kakinya.


Sebenarnya Mayra ingin tertawa dalam rasa malunya, tapi takut Dewa akan balik menertawakan dirinya. Bagaimanapun Dewa sudah membuatnya lebih percaya diri. Membuatnya sedikit sadar kalau dia ternyata menarik dan mampu membuat cowok setampan Dewa horny hanya karena sebuah ciuman. Mayra harus berterima kasih untuk hal memalukan itu.


Masalahnya bukan hanya ada pada Dewa, Mayra tak kalah gerah dan pusing dengan lecutan birahi yang selama ini tidur manis di bawah alam tak sadarnya. Mayra memutuskan tidak melanjutkan keinginannya untuk belajar bersama Dewa. Dia sadar betul kalau akibatnya sangat berbahaya untuk mereka berdua.


Intinya, Mayra takut jatuh cinta dan malah terjebak pada pesona Dewa!


"Aku nggak ada celana berenang!" tolak Dewa seraya terbahak. "Masa renang pakai celana Superman?"


"Ish kamu itu, pakai celana renang punya Julian ya?!" usul Mayra. Menurutnya, postur tubuh sepupunya dengan Dewa tidak jauh berbeda. "Aku ambilin sekarang ya?"


"Nop!" tolak Dewa cepat. "Aku temenin dari sini aja!"


Mayra memicingkan kedua mata dan mulai merajuk kesal, "Aku maksa!"


"Sayang …."


"Kamu bilang aku boleh minta sesuatu sama kamu, boleh merajuk, boleh manja, boleh …."


"Oke, oke, oke kita berenang sekarang!" Dewa menghembuskan nafas panjang, tidak mampu menolak permintaan makhluk manis yang baru saja mengacaukan aliran darahnya. "Tapi aku pake celana nge-gym aja, aku bawa terus kalau itu!"


"Ruang ganti di sana, kalau mau ganti di kamar mandi rumah juga boleh, pokoknya jangan di depanku! Mataku masih suci," ujar Mayra cekikikan pergi ke kamarnya.

__ADS_1


"Iya, iya yang masih serba suci." Dewa nyengir sembari berpikir nakal, bagaimana jika semua kesucian Mayra itu nanti dia yang pertama mencicipinya. Ya ampun!


Suasana sore di kolam renang di isi dengan candaan dan obrolan ringan, sesekali mereka melakukan kompetisi berenang adu kecepatan. Tidak ada sentuhan lagi, semua normal seperti sedang berenang bersama teman.


Satu-satunya hal nakal yang terjadi adalah bahwa mereka saling mengamati tubuh masing-masing. Selanjutnya mengagumi secara diam-diam dan menyimpan keinginan liar terdalam mereka di tempat yang tidak boleh diketahui satu sama lain.


"Gila," gumam Mayra. Wajahnya serasa terbakar ketika melihat Dewa keluar kolam. Jangkung, punggung lebar, pinggang ramping, bokong padat dan kaki berbulu hingga paha. Jangan lupakan kulitnya yang bersih mengkilat karena air. "Seksi … eh serem, tau ah!"


Merasa ada yang mengawasi dari belakang, Dewa menoleh ke arah Mayra yang keluar kolam dari sudut berbeda. Gadis itu buru-buru menutupi tubuhnya yang hanya berbalut pakaian renang dengan handuk. Membelakanginya.


Dewa nyengir mesum melihat kaki Mayra yang biasa terbungkus celana panjang terpampang indah. Terlihat jenjang meski Mayra termasuk cewek dengan tinggi standar. Belum lagi lekuk-lekuk menggoda yang tadi dilihatnya samar di dalam air.


Meski berbalut handuk dan hanya bisa melihat sebentar, tapi Dewa mengakui kalau Mayra memiliki tubuh ideal. Dewa suka, sepertinya ukuran bagian penting tubuh Mayra pas di genggaman tangannya.


Andai saja Dewa bisa menggoda dengan bersiul nakal untuk memuja … Dewa langsung melesat ke kamar mandi begitu tertangkap basah sedang memandangi bokong Mayra yang tertutup handuk. Astaga!


"Dewa?!" pekik Mayra.


"Aku nggak lihat apa-apa, sumpah!" sahut Dewa tanpa menoleh.


"Aku pamit, aku pulang sekarang ya, Mbak!"


"Kamu panggil aku apa barusan? Jam pacaran kita belum selesai, Dewa!" tukas Mayra sok dominan.


"Sudah sore, Sayang!"


"Temani aku makan sebentar," pinta Mayra dengan ekspresi memelas.


"Aku udah makan siang di sini, sore makan lagi di sini? Kamu nggak minta aku nginep sekalian?"


"Aku nggak ada temen makan, Wa! Mama sama papa pulang malam hari ini, kamu tega sama aku? Kamu bilang aku boleh …."


"Oke, oke! Nggak perlu diingatkan terus, ayo makan!" ajak Dewa mendahului jalan ke ruang makan.


"Nah gitu kan cakep!"


"Udah dari dulu!"

__ADS_1


"Kamu narsis juga ternyata! Seneng bisa kenal kamu yang sebenarnya."


Dewa menyeringai, "Thanks pujiannya."


"Mau nambah nggak?"


"Enggak, udah kenyang!" tolak Dewa. "Takut ketiduran di jalan."


"Istirahat bentar di sini baru pulang!"


"Astaga, kamu kenapa sih hari ini rewel banget?"


"Jangan galak-galak sama pacar!" sindir Mayra cekikikan.


Dewa menaikkan satu alisnya, "Sumpah rasanya pengen aku gigit lagi itu bibir!"


"Jangan dong, ntar bengkak!"


"Ayo anter ke depan, aku pulang sekarang!"


"Buru-buru amat sih?"


"Takut khilaf, lebih lama lagi di sini nanti kamu malah aku apa-apain," jawab Dewa sambil menaikkan kedua alisnya bergantian.


"Mesum, ih!"


"Biarin!" Dewa menarik Mayra ke dalam pelukan, langsung mengeratkan tangannya yang melingkari pinggang Mayra. "Kamu bilang ini masih jam pacaran, kan? Jangan berani-berani salahin aku nanti!"


"Dewa! Males aku kalau gini!" kata Mayra sambil berusaha mendorong dada Dewa.


Dewa tergelak menang, tanpa minta izin lagi dia langsung mengecup bibir Mayra. Memperdalamnya sebentar lalu melepasnya dengan ekspresi kelam. "Ya udah istirahat, aku pulang sekarang!"


Mayra mengangguk gelagapan. "Iya, hati-hati."


Dewa mengacak rambut Mayra lalu masuk ke dalam mobil. Pulang dalam kondisi lelah, kenyang dan bahagia. Sampai rumah langsung tidur, lupa dengan janji makan malam romantis bersama Vivian. Kekasih yang baru dipacarinya beberapa jam.


***

__ADS_1


__ADS_2