Dewa Love You

Dewa Love You
Setengah Jujur


__ADS_3

“May … tanyakan sama cowokmu itu, kemana dia pergi setelah acara pesta ulang tahun teman Vivian!” teriak Tony lantang.


Tony bukan tidak tahu apa-apa soal Dewa. Sejak Dewa menjadi rivalnya, Tony mengumpulkan banyak informasi mengenai pemuda tersebut. Tony juga diam-diam mengawasi kegiatan Dewa.


Sebagai playboy kawakan di kampus, nama Vivian sangat familiar di telinganya. Tony juga pernah mendekati Vivian agar bisa diajak kencan, hanya saja dia kurang beruntung. Vivian menolaknya. Sang aphrodite mengatakan sudah menjalin hubungan dengan Elang.


Mendapati fakta kalau sekarang Vivian justru jalan dengan Dewa, Tony seperti mendapat kesempatan untuk mendapatkan Mayra. Gadis polos itu pasti tidak tahu bagaimana buruknya Dewa di pesta sahabat Vivian.


Tony mendengar sendiri dari salah satu temannya yang hadir di acara ulang tahun itu kalau Dewa masuk hotel bersama Vivian.


Kabar tersebut rencananya akan dijadikan senjata utama untuk mendapatkan perhatian Mayra. Tony ingin memberi kejutan pada Mayra. Gadis polos itu harus tahu sebejat apa cowok yang sok jadi pelindungnya selama ini. Dan sekaranglah waktunya.


“Dewa tidur di hotel sama Vivian, May! Aku kasihan aja sama kamu, cuma dikadalin sama cowok yang kata kamu baik itu,” lanjut Tony tanpa ampun. Dia baru dilepaskan oleh security yang mencekalnya setelah Dewa dan Mayra masuk ke dalam mobil. Tony terkekeh senang karena sudah membuka rahasia Dewa tepat waktu.


Mayra sedikitpun tidak menoleh ke arah Tony. Hanya saja, hatinya teriris perih mendengar dua kalimat yang dilontarkan Tony dengan lantang. Kalimat yang sangat memprovokasi perasaannya dengan kejam.


Dewa bukan tidak melihat betapa kecewa wajah Mayra yang duduk diam di sebelahnya, tapi untuk menjelaskan sekarang rasanya tidak tepat. Dewa keluar parkiran dengan ekspresi tak berdaya.


“Kamu nggak apa-apa, May?” tanya Dewa peduli. Sedikit menoleh untuk memperhatikan Mayra yang melihat ke arah lain. “Sakit nggak tangan kamu?”


“Gimana kamu?” Mayra balik bertanya tanpa sedikitpun melihat ke arah Dewa. “Apa aja yang luka?”


“Aku anter pulang ya!”


“Orang tanya apa jawabnya apa!” gerutu Mayra. Dia akhirnya menoleh untuk mengamati wajah Dewa, “Kamu nggak ngerasa sakit di bibir? Berdarah itu, Wa!”


“Nanti juga sembuh!” Dewa mengemudi cepat ke rumah Mayra tanpa banyak bicara.


Mayra memaksa Dewa mampir. Tidak tega dengan luka lebam dan bibir yang mulai bengkak. Mayra membuat kompres dingin untuk meredakan sakit dan bengkak di wajah Dewa.


“Dewa kenapa, May?” tanya Mama Mayra.


“Biasa, kena senggol anak tawuran pas acara musik baru dimulai di kampus tadi.”


“Elang menang lombanya?”

__ADS_1


“Juara dua, Ma!” kata Mayra sambil jalan menyusul Dewa ke teras belakang.


“Kamu bilang apa sama mama?” tanya Dewa begitu Mayra sudah duduk di sebelahnya.


“Kesenggol orang tawuran!”


“Thanks!” ucap Dewa.


“Harusnya kamu nggak ikut campur urusanku sama Tony!” ujar Mayra prihatin melihat Dewa mengelap bekas darah di sudut bibirnya yang pecah. Mayra membuka kotak P3K, “Sini aku bersihin dulu!”


“Kamu masih belum putus sama Tony?” tanya Dewa sambil menahan perih di bibirnya.


Mayra menanggapi dengan nada kesal tak terkira, “Kamu masih jalan sama Vivian?”


Dewa berusaha menjelaskan kerumitan hubungannya, “Aku udah bilang nggak ada hubungan khusus dengan Vivian, cuma ….”


Mayra memutus kalimat Dewa dengan pertanyaan sarkas, “Cuma saling memanfaatkan? Saling menyenangkan di atas ranjang?”


Dewa menghembuskan nafas berat, “Kamu menyimpulkan itu berdasarkan apa yang dikatakan Tony tadi?”


“Kamu kecewa sama aku?” Dewa berusaha menatap Mayra yang memasang wajah serius.


“Nggak tau, Wa! Lagian kalian memang pacaran, mau ngelakuin apa aja bukan urusan aku!” kata Mayra berusaha tegar, tangannya cekatan merawat luka Dewa yang tak seberapa parah.


Dewa menyentuh pipi Mayra, membelainya. “Apapun yang mau aku jelaskan, kamu pasti nggak akan percaya. Aku mabuk berat waktu di pesta, aku lupa pulang! Aku memang tidur di hotel dengan Vivian, di atas ranjang yang sama … dan tidak berpakaian.”


“Terus?” Mayra menekan keras luka Dewa saking kesalnya.


“Aduh!” keluh Dewa. “Kamu pasti menebak aku menghabiskan semalam penuh skidi pap-an sama Vivian. Aku jelas nggak bisa membela diri dalam hal ini, karena aku memang nggak ingat apa yang sudah terjadi antara aku dan Vivian malam itu!”


“Terus?” tanya Mayra dengan raut penasaran.


Dewa menarik nafas panjang sebelum melanjutkan lagi, “Intinya itu. Aku minta maaf, May!”


Mayra tertawa garing, “Kamu nggak mengkhianati aku, kenapa harus minta maaf?”

__ADS_1


“Aku salah, Mayra!” Dewa meraih tangan Mayra untuk dicium. Mayra bukan pacarnya dan dia sedang tidak berkhianat itu benar, tapi tetap saja Dewa merasa bersalah.


“Entahlah,” sahut Mayra dengan dada berkecamuk. Tidak tahu harus bicara apa lagi. Fakta yang didengarnya sudah sangat menyakitkan hati.


Namun, Mayra tidak berhak menghakimi apalagi memaki Dewa. Status Vivian adalah pacar Dewa, jelas gadis seksi itu memiliki hak penuh atas Dewa. Sementara Mayra hadir diantara mereka dalam situasi yang tidak tepat. Mayra merasa hanya dipermainkan perasaannya oleh Dewa.


“Kamu nggak perlu minta maaf sama aku, Wa!”


“Kamu sakit hati sama aku ya, May?”


Dengan wajah menahan jengkel, Mayra menatap Dewa tajam. “Kamu pikir aja sendiri, jangan tanya terus!”


“Tanya salah, nggak tanya ntar makin salah!” kata Dewa dengan senyum hambar.


“Ya kamu nggak bisa apa peka dikit jadi cowok?” tanya Mayra judes sambil membereskan kotak P3K dan kompresan.


“Jadi aku harus gimana?” Dewa meraih pinggang Mayra hingga duduk rapat di sebelahnya.


Mayra hampir kehabisan kesabaran, “Kamu susah banget sih diajak ngomong serius!”


“Coba diajak pacaran apa ciuman … aku usahakan bisa lebih serius!”


Mayra mencubit lengan Dewa, “Nggak lucu!”


Dewa spontan menangkap jemari lentik Mayra dan menempelkannya di pipi. “Aku kangen banget sama kamu, May!”


“Susah percaya sama kata-kata kamu, Wa!”


“Kita pacaran aja ya biar kamu lebih percaya sama aku!” sahut Dewa santai.


Mayra bergeser menjauhkan badannya, “Males, paling juga nggak serius!”


“Kalau langsung tunangan, mau?” tanya Dewa sambil menggeser duduknya agar dekat lagi dengan Mayra.


“Dewa, ih!”

__ADS_1


***


__ADS_2