
Siapa sangka Mayra bakal marah lebih lama hanya karena Dewa salah menjawab pertanyaan. Dewa bahkan belum sempat menjelaskan sejauh mana hubungannya dengan Vivian pada gadis ayu itu.
Namun, Mayra sudah terlanjur menyimpulkan sendiri semuanya dan meminta waktu pada Dewa untuk tidak menemuinya dengan alasan apapun. Mayra mengatakan butuh ketenangan untuk berpikir sebelum memutuskan menerima atau menolak Dewa.
Ya, Dewa juga butuh waktu dan suasana tepat untuk bicara lagi dengan Mayra. Hubungannya dengan Vivian memang sulit dijelaskan secara jujur pada Mayra. Egonya terlalu tinggi untuk dicap Mayra sebagai cowok brengsek yang tega memanfaatkan cewek sebagai bahan taruhan.
Selain itu, keinginan Mayra yang tidak mau bertemu dengannya selama beberapa waktu bisa dianggap sebagai ujian untuk hubungan mereka berdua. Dewa ingin tau apakah Mayra akan merindukannya? Atau hanya dia yang tersiksa karena menyukai Mayra lebih gila dari sebelumnya?
Selama tidak bertemu Mayra, Dewa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau nongkrong dengan anak bikers. Vivian juga sibuk dengan dunianya, dengan targetnya dan mungkin dengan rencana gilanya. Dewa tidak begitu peduli.
Kerap kali Dewa mendapati Vivian menunggui Elang latihan. Hal itu disebabkan karena Nindya sudah jarang terlihat di kampus. Dan Vivian semakin rajin ada di depan wall climbing kampus ketika mengetahui kalau istri Elang pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikan.
Bagi Vivian, kesempatan untuk bisa merajut lagi benang asmara bersama Elang seolah terbuka lebar. Dewa bisa melihat hasrat itu dalam binar mata Vivian yang lebih bercahaya dan penuh semangat dari sebelumnya.
Dewa mengamati kelakukan Vivian yang berlebihan itu tanpa rasa khawatir. Dia percaya, Elang tidak akan mencari kehangatan dengan pacar taruhannya selama Nindya tak ada. Dewa sesekali hadir di depan wall climbing untuk mengawasi Elang, sesuai perintah dari kakak iparnya, Nindya.
Tiga hari ini, Vivian selalu ada di barisan penonton paling depan sebagai penyemangat karena Elang sedang mengikuti lomba panjat dinding tingkat nasional. Dewa melihat tingkah pacar taruhannya itu sembari garuk-garuk kepala.
Bukan apa, beberapa teman bikers yang ikut menyadari hal itu meledeknya habis-habisan. Mereka tidak menyangka, cewek yang berhasil dipacarinya untuk memenangkan taruhan justru mengejar kakaknya?
“Lagi final LPDN ya, Wa? Elang masuk final?” tanya Erfan.
“Hm, kenapa? Mau lihat juga?”
“Kalau banyak cewek yang lihat aku juga tertarik. Tapi sayangnya wall climbing competition nggak seperti basket yang selalu kebanjiran penonton cewek!” tegas Erfan dengan raut heran.
__ADS_1
“Maklumlah, basket tempatnya orang ganteng berkumpul. Sama kayak club bikers,” sahut Dewa tergelak.
“Tapi penggemar Elang cantik-cantik loh, Wa! Dari sejak kuliah semester satu kakakmu selalu dapat kesempatan pertama nyicipin primadona kampus. Setiap kali ada mahasiswa baru, entah kenapa larinya pasti ke Elang dulu baru ke yang lain, kampret nggak tuh?”
“Kamu iri?” tanya Dewa seraya menatap area wall climbing tempat diadakannya lomba.
“Nggaklah! Aku cuma kasihan sama kamu, susah-susah dapetin Vivian eh larinya ke Elang juga tuh cewek!” Erfan menunjuk Vivian yang berdiri tak jauh dari tenda panitia LPDN.
Dewa menyeringai dengan gaya menjengkelkan, “Yang penting aku udah menang taruhan!”
“Iya sih, tapi Vivian itu … daripada ngejar Elang apa nggak mending sama aku, Wa? Lagian, Elang nggak mau kan sama Vivian?”
“Nggak tau juga! Aku ke Vivian dulu ya, itu anaknya udah stanby di depan wall, kasihan kalau nggak ditemenin! Nanti aku tanyain sama Vivian, mau nggak dia jadi piala bergilir buat club kita!” Dewa meledek terbahak meninggalkan Erfan yang memasang wajah dengki padanya.
Atlet yang sedang melakukan pemanjatan sebelum Elang tampak sangat serius menjejakkan kaki di atas poin berwarna warni yang tersebar di papan panjat. Lagu Madu dan Racun yang dicover dengan reggae version mengiringi pemanjatan seru tersebut.
Dewa ikut menyanyi mengikuti lagu tersebut sambil tersenyum tipis di sebelah Vivian.
Di remang kabutmu di tabir mega-megamu
Ku melihat dua tangan di balik punggungmu
Madu di tangan kananmu Racun di tangan kirimu
Aku tak tau mana yang akan kau berikan padaku
__ADS_1
“Gembira banget kamu hari ini,” kata Vivian menimpali nyanyian Dewa.
“Apa salahnya dengan nyanyi? Lagunya bagus kok!” jawab Dewa kalem.
“Bukannya kamu nggak suka reggae?”
“Yang suka Mas Elang ya, Vi? Tau bener kamu segala sesuatu tentang dia, nggak ada yang kelewatan dikit aja!” Dewa balik bertanya sarkastik.
Elang terlihat sudah bersiap di sisi kanan wall climbing, sedang menunduk dalam doa dan gelisah. Elang sudah meminta Dewa untuk mengambil gambar dan membuat sambungan telepon video ke Jepang. Elang ingin pemanjatannya disaksikan Nindya meski secara tidak langsung.
Akhirnya, lagu pilihan Elang diputar bersama dengan bunyi peluit, Elang mulai memanjat dengan raut serius dan penuh perhitungan. Otot tangan dan kakinya bekerja keras untuk menambah ketinggian secepat mungkin, tanpa jatuh apalagi mengalami kecelakaan.
Vivian nyaris lupa berkedip karena ikut tegang, suaranya yang keras berusaha meneriakkan semangat untuk Elang di setiap waktu. Dewa mengulas senyum, bangga pada kakaknya yang meskipun nakal tapi tetap memiliki prestasi. Wajar saja jika ada wanita yang sampai terobsesi seperti Vivian.
Dewa melirik Mayra yang langsung melengos ke arah wall climbing. Gadis itu menyemangati Elang dengan suara lebih lirih. Mungkin karena ada Tony yang berdiri di sebelahnya, atau karena melihat Vivian yang sepenuh hati meneriakkan nama Elang, atau kesal karena dirinya berdiri tepat di sebelah Vivian?
Di sisi lain, wajah Tony terlihat masam dan menyiratkan benci ketika tatapan matanya bertabrakan dengan Dewa. Bukan tanpa alasan, Dewa sudah mempengaruhi Mayra hingga tidak bisa diajak kemana-mana. Pertemuannya dengan Mayra akhir-akhir ini hanya bisa dilakukan di kampus dan tidak pernah lebih dari setengah jam. Mayra menolak dikunjungi di rumah meski Tony sudah meminta maaf puluhan kali.
Satu jam kemudian Dewa hanya bisa menggaruk kepalanya melihat Mayra dan Vivian saling bertatapan sinis, dan tak berdaya ketika melihat keduanya menatap iri pada Nindya yang berani menunjukan kemesraan dengan Elang ketika acara terima trophy selesai.
Kakak iparnya itu sengaja tidak memberitahu Elang kalau pulang dari Jepang hari ini, untuk memberi kejutan. Dewa juga sudah berjanji untuk merahasiakan rencana Nindya yang akan datang untuk mendukung Elang. Sekarang, kehadiran Nindya justru membuat dua gadis yang sedang dekat dengannya merasa ... keki?
Vivian langsung larut di acara musik penutupan lomba, membaur dengan temannya menikmati suasana malam Minggu, sementara Dewa pergi membuntuti Mayra yang ditarik Tony dengan sedikit paksaan.
***
__ADS_1