Dewa Love You

Dewa Love You
Masih Tingting


__ADS_3

"Sukses ya, El!" Seminar Elang selesai, Mayra menjabat tangan Elang paling akhir, setelah peserta seminar meninggalkan ruangan.


Elang tersenyum lebar, "Iya, terima kasih."


"Bisa langsung skripsi kamu, El! Dijamin lancar kamu sama Pak Ronald nanti! Aku yakin tiga bulan udah kelar, bisa wisuda periode semester ini kamu!"


Elang menimpali, "Thanks, sukses buat kamu juga, May! Moga-moga kita bisa lulus bareng."


"Kayaknya kamu bakal lulus lebih dulu deh! Oh ya ngomong-ngomong kemana Bu Nindya? Kok cepet banget ilangnya, padahal tadi masih sempat ngasih masukan buat revisi laporan!" Mayra celingukan, dosen pembimbing Elang itu sudah tidak kelihatan lagi di luar ruangan.


Elang mengedikkan bahu, dia memang tidak tau kemana dosennya pergi setelah seminar dinyatakan selesai. "Di lantai empat mungkin."


"Ayo aku bantu beres-beres!"


Dengan sigap Elang dan Mayra membersihkan ruangan tempat seminar. Mengumpulkan sisa sampah snack dan mengatur kembali ruang itu seperti sedia kala.


"Thanks ya, May! Kamu memang yang terbaik," ucap Elang sembari menutup ruang seminar dari luar.


Mayra tersenyum, mengangguk samar. "Kamu juga teman terbaikku, El!"


Mayra menegaskan kata 'teman' dengan hati perih. Mereka memang hanya berteman selama ini. Elang tidak pernah menganggapnya lebih dari itu.


"Besok kamu ada waktu buat makan siang bareng? Aku mau traktir kamu sebagai ucapan terima kasih," kata Elang dengan ekspresi tak enak hati.


"Nggak perlu, El! Kamu udah sering banget traktir aku. Sekarang aku udah ada teman untuk makan siang tiap harinya," tolak Mayra halus.


Elang menyoroti Mayra yang menghindari bertatap mata dengannya, "Siapa, May? Boleh aku tau?"


"Aku pulang duluan ya, El!" Mayra pamit tanpa menjawab pertanyaan Elang. Bukan urusan Elang untuk tahu dengan siapa dia akan makan siang setiap harinya!


"Kamu pulang bareng siapa, May?" Elang mengubah pertanyaannya.


"Tony," jawab Mayra masih tanpa menatap Elang.

__ADS_1


"Nggak boleh!" Spontan suara keras Elang keluar, lalu melembut dengan sendirinya. "Maksudku kamu pulang sama Dewa aja ya! Aku suruh dia kesini sekarang, tunggu bentar bisa, kan?"


Mayra menarik nafas berat, kesal dengan sikap Elang yang tidak berubah. Egois dan protektif tanpa alasan jelas. "Aku nggak mau ngerepotin orang lain, El. Lagian Dewa juga pasti punya kesibukan."


Kamu sebentar lagi nikah sama Bu Nindya, Dewa sibuk pacaran sama Vivian, kalian berdua itu sebenarnya sama saja, sama-sama egois, nggak punya perasaan!


"Jadi Tony bukan orang lain buat kamu? Apa statusnya dia? Aku ketinggalan berita apa, May?" Elang bertanya serius pada Mayra. Kilat matanya berapi-api karena dianggap orang lain oleh Mayra. Dia menghadang langkah Mayra yang hampir pergi meninggalkannya.


"El, aku memutuskan untuk menerima Tony, maaf …!" Tanpa memperdulikan Elang, Mayra menggeser tubuhnya, berjalan tergesa ke arah Tony yang sudah menunggu tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Mayra …!" Elang menggertakkan gigi menahan emosi, sementara Toni menatapnya dengan seringai mengejek. Bahkan, dengan santai tangan Tony langsung merangkul bahu Mayra, menggiring gadis itu menuju tempat parkir kendaraan.


Elang mengeluh dalam hati, dia memang sangat egois ketika menjaga Mayra. Mengekang tanpa landasan apa-apa. Mayra butuh cintanya, tapi dia justru tergila-gila pada si dosen pembimbing. Bahkan akan menikahi dosen muda di kampusnya itu hari ini. Hal itu pasti mengecewakan Mayra, sekaligus membuat gadis itu putus asa dan patah hati.


Elang mengumpat sendiri, rencananya menjodohkan Mayra dengan Dewa berantakan. Adiknya yang bodoh itu justru terjebak dengan pesona Vivian, sementara Mayra jatuh ke tangan playboy yang brengseknya setara dengan dirinya. Elang marah karena tidak bisa melindungi dua orang yang disayanginya.


Kenapa harus Tony? Kenapa Mayra tidak bersama pemuda lain yang lebih baik? Kenapa Mayra selalu tertarik dengan pemuda brengsek? Mudah saja! Ibarat magnet, dua kutub yang berbeda akan saling tarik menarik. Mayra yang kurang pergaulan dan polos pasti akan tertarik pada lawan jenis dengan karakteristik yang berseberangan dengannya.


Jika Mayra bisa tertarik pada Tony, harusnya Mayra juga bisa jatuh cinta pada adiknya! Dewa juga bukan anak polos, kalem seperti yang dilihat Mayra selama ini. Sikap Dewa yang seperti itu hanya karena Mayra adalah gadis yang dekat dengannya. Elang harus bicara serius dengan Dewa sebelum nasi yang sudah jadi bubur justru busuk oleh bakteri pengurai.


Kalau saja tidak ada urusan yang lebih penting daripada menikah, Elang akan dengan senang hati mengantar Mayra pulang setelah terlebih dulu menghajar Tony. Ah … gadis itu tidak mengerti betapa khawatirnya dia saat ini. Bagaimana jika Tony hanya memanfaatkan kepolosan Mayra?


Elang mengusap wajahnya, semakin gusar karena wanita yang akan dinikahinya ternyata tidak ada di kampus, sudah pulang tanpa konfirmasi padanya. Nindya dengan santai malah menyuruh semua pesanan Elang untuk acara makan siang istimewa mereka diantar ke rumahnya.


Padahal, acara makan siang istimewa yang direncanakan di salah satu homestay milik keluarganya adalah acara kejutan untuk Nindya. Elang berencana menikahi Nindya di sana, di depan ibu dan om Nindya yang sudah datang dari Semarang dan menginap di lokasi dari kemarin.


Setelah menelpon Nindya, Elang menghubungi Dewa, “Kamu dimana?”


“Di homestay, bantu finishing dekor sama siapin dokumentasi. Kenapa, Mas?”


“Nindya udah pulang, sekarang dia di rumahnya,” jawab Elang menahan rasa jengkel.


“Lah trus gimana ? Sebentar lagi penghulu datang, yang jemput udah jalan. Wes … angel ini!”

__ADS_1


“Gini deh, kirim semua makanan ke rumah Nindya. Trus ibu mertua sama omnya Nindya drop duluan ke sana. Kita nyusul selang satu jam bareng penghulu sama saksi. Bilang ke papa kalau rencana berubah!” Elang mengumpat untuk meredakan kekesalan.


"Jadi acara nikahnya pindah ke rumah Bu dosen?"


"Iya! Mau bikin kejutan malah jadi ribet begini!" gerutu Elang.


Dewa terbahak-bahak di ujung telepon, sesaat setelah mendengar Elang mengeluhkan segala keruwetan yang terjadi di luar dugaan.


“Ya udah aku urus yang disini. Mas Elang langsung meluncur ke rumah bu dosen?”


“Aku ke homestay dulu, kita berangkat bareng!”


“Oke, siap!”


“Ohya ini soal Mayra, kamu udah tau kalau dia jalan sama Tony?”


“Udah, dia sendiri yang bilang mau move on sama Tony!”


“Kamu udah usaha buat dapetin Mayra?”


Dewa menjawab, “Udah, tapi nggak berhasil. Dia mungkin mikir gini : masa iya patah hati karena kakak larinya ke adik? Aku nggak mungkin maksa, jadi ya aku kasih kesempatan buat dia deket sama Tony. Tapi bukan berarti aku nggak pantau!”


“Kalau cara kamu begitu, cuil anak orang, Wa! Kamu tau, barusan Mayra bilang mereka udah jadian!”


“Waduh … trus gimana, Mas? Mbak Mayra itu beneran nggak mau sama aku! Kemarin aku udah serius menawarkan diri tapi dia nolak aku mentah-mentah!”


“Pasti ada alasannya kalau dia nolak! Tinggalin Vivian, Wa! Tolong fokus sama Mayra! Berapa sih nilai taruhan kamu sampai kamu rela banget jalan sama dia?”


“Bukan gitu, Mas!” jawab Dewa cengengesan.


“Trus apa? Jangan-jangan perjakamu udah diambil Vivian dan sekarang kamu mulai kecanduan, ya?”


Dewa kembali terbahak-bahak, mengumpat kasar terlebih dulu sebelum menjawab. “Aku malah nunggu momen itu!"

__ADS_1


Sayangnya belum kesampaian, belum terkabul, belum terlaksana! Aku masih aja perjaka, sial nggak tuh?


***


__ADS_2