Dewa Love You

Dewa Love You
Malam Membagongkan


__ADS_3

Motor warna warni milik anggota klub bikers dari berbagai merek berjajar di jalan-jalan. Dewa dan teman-teman klubnya ikut meramaikan malam nongkrong bersama itu dengan seragam hitam klub moge. Mereka ada di ujung jembatan. Sebagian duduk-duduk di atas motor menemani pasangan, sebagian berkumpul menikmati rokok dan kopi pinggir jalan.


Di atas trotoar, duduk empat pemuda sedang rapat ringan mematangkan rencana touring tipis-tipis ke Gunungkidul yang akan dilaksanakan Minggu depan.


"Kalau acaranya nginep enak juga kayaknya," usul Gavin. "Jadi kita berangkat Sabtu malam sekitar jam delapan, pulangnya Minggu siang. Gimana menurut kalian?"


Erfan sebagai ketua klub menjawab lebih dulu, "Pertimbangkan buat anggota kita yang udah berkeluarga, juga yang kerja di luar Yogya. Takutnya kalau nginep malah memberatkan mereka. Persiapan kita juga jadi mentah lagi, padahal Minggu depan acaranya. Tujuan diadakan touring tipis-tipis ini agar semua anggota bisa ikut, Vin!"


"Kita masih ada jadwal touring panjang ke Bali dalam rangka perayaan hari ulang tahun klub. Aku rasa acara Gunungkidul nggak perlu nginep, tujuannya itu tadi … biar semua bisa ikut seperti yang Erfan bilang barusan!" kata Dewa membenarkan.


Gavin menimpali, "Iya aku lupa, acara ke Bali bentar lagi, ya? Sorry, kalau gitu tetep seperti rencana awal aja, berangkat pagi pulang sore!"


"Iya biar nggak ribet survei cari penginapan juga!" Dimas memantapkan rencana. "Waktunya udah terlalu mepet! Kamu bagian list sama ngumpulin dana anggota yang ikut ya, Wa!"


"Bentar!" Dewa mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku jaket. "Sorry aku tinggal sebentar, aku ada perlu di seberang."


Dewa berdiri dan berlari menyeberang jalan setelah memberi kode pada Vivian kalau dia akan bertemu seseorang di seberang jalan. Dewa mendekati mobil yang kacanya sudah diturunkan, sedikit menunduk dengan bersandar di dekat pintu mobil.


"Ada apa, Mas? Itu temen-temen motor semua, aku lagi kopdar!" Dewa menjelaskan kegiatannya sebelum ditanya. Tak lupa dia juga membuang puntung rokok yang masih terselip di jarinya.


Elang mengangguk ringan, "Aku mampir karena lihat kamu. Sama siapa kamu? Itu yang nangkring di atas motormu cewek baru?"


"Iya mas, baru jadian, baru dua minggu!" jawab Dewa spontan menoleh ke arah Vivian.


"Hah, apa?" tanya Elang tak percaya. Sudut bibirnya berkedut saking kagetnya. Satu tangannya bahkan mengorek telinga untuk memastikan pendengarannya masih normal.


"Pffff …." Nindya menutup mulut, ikut tertawa.


"Kenapa, Mas? Itu anak kampus kita kok, anak teknik kimia. Vivian namanya! Katanya, dia kenal sama mas!"


Elang terbatuk-batuk mendengar kalimat terakhir adiknya. Ah, Vivian sepertinya sedang cari gara-gara dengan sengaja mengatakan kalau mereka saling mengenal. "Emang nggak ada cewek lain?"

__ADS_1


"Ya ada sih," jawab Dewa cuek. Tumben sekali Elang menanyakan urusan pribadinya. "Banyak malahan."


"Trus kenapa sama dia?" tanya Elang penuh intimidasi. "Katamu yang lain banyak, yang lain nggak ada yang cantik?"


"Anu mas …." Dewa menggaruk-garuk kepala, cengengesan dan juga salah tingkah. Bagaimana bisa pertanyaan Elang sama persis dengan pertanyaan Mayra.


Dewa mulai menaruh curiga, tidak mungkin Elang dan Mayra bisa memiliki pertanyaan yang sama jika tidak ada alasannya. Rasanya terlalu kebetulan kalau mereka mendadak kompak tidak menyetujui hubungannya dengan Vivian. Aneh!


"Anu apa? Anunya gede sampai tumpah-tumpah?" Elang bertanya sambil terbahak-bahak, membuat Dewa ikut larut dalam tawa.


Nindya yang menyimak obrolan kakak beradik itu langsung melengos ke arah lain. Dia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa mendengar pertanyaan konyol pemuda di sebelahnya, Elang. Mahasiswa nakal yang berhasil mencuri kesuciannya.


"Ya itu salah satunya hehehe," jawab Dewa tak kalah konyol. Sial memang, bisa-bisanya Elang membahas perabotan wanita di depan wanita lain! Untung saja bu dosen sudah takluk, kalau belum … bisa jadi nilai negatif obrolan jorok mereka.


"Salah duanya apa?" Elang penasaran, bagaimana bisa Dewa bisa terlibat hubungan dengan Vivian?


Elang justru setuju kalau Dewa berhubungan dengan Mayra, cewek baik-baik lebih cocok dengan Dewa yang belum kenal namanya cabe-cabean.


"Ya! Kamu nggak pergi malam mingguan sama Mayra, jadi aku harus tau alasannya!"


"Mbak Mayra hari ini ada janji keluar sama temannya! Roni, Doni, apa Joni namanya. Aku sore tadi udah telepon." Dewa sengaja menyebut beberapa nama agar Elang tidak curiga.


Bagaimanapun, Dewa tidak mungkin diam-diam berhubungan dengan Mayra tanpa sepengetahuan kakaknya. Bisa babak belur plus tidak dapat pinjaman motor lagi nanti.


Elang mengernyit, masih penasaran, "Trus?"


"Ya udah aku ajak Vivian. Masa baru jadian aku tinggal malam mingguan sendiri di rumah, yang ada dia nanti curiga!" Dewa menoleh ke arah Vivian sekali lagi, memastikan kalau pacarnya tetap di tempat dan tidak mendengar obrolannya dengan Elang.


"Trus?" Elang ikut melihat ke arah Vivian. Pikirannya menebak kalau Mayra pasti keluar dengan Toni, playboy kawakan yang dari dulu memang penasaran dengan teman cantiknya itu.


"Soal Vivian … aku nggak sengaja menang taruhan. Erfan, ketua club bikers iseng bikin taruhan buat ngejar Vivian. Ada empat yang ikut termasuk aku, ehm … yang lain ditolak tapi aku diterima! Berarti kan rezekiku, Mas!" jawab Dewa sembari cengengesan.

__ADS_1


"Erfan yang mana?"


"Itu loh anak jurusan teknik mesin semester lapan!" Dewa memberitahu posisi Erfan yang ada di seberang jalan mengobrol dengan anggota lain.


Elang memperhatikan sekilas, merasa tak kenal. "Oh … trus apa alasan Vivian mau terima kamu?"


"Ya nggak tau alasan pastinya apa, tapi dia suka naik moge. Mungkin pacarnya dulu juga anak bikers. Mas Elang kenal ya sama Vivian?" Dewa tiba-tiba menaruh curiga pada kakaknya. Belum pernah Elang bertanya sebanyak ini mengenai pacar-pacarnya.


"Iya kenal," jawab Elang datar, mau menjawab lebih jelas lagi tapi tidak enak jika harus didengar kekasihnya. Urusan laki-laki. "Ya udah aku jalan dulu, mau nganter pulang Nindya!"


"Oke!" Dewa mundur selangkah, melambaikan tangan sebentar dan detik berikutnya sudah lari menyeberang jalan, bergabung kembali dengan teman-teman bikersnya. Acara keliling kota hampir dimulai dan semua bikers sudah bersiap di atas motor masing-masing.


"Siapa, Wa? Temen kamu?" tanya Vivian begitu Dewa tiba di hadapannya.


"Itu tadi mas Elang!" jawab Dewa berbisik sambil mengecup bibir Vivian sekilas. Kelakuan yang membuat Gavin dan Dimas bersiul kesal.


Vivian seketika antusias mendengar jawaban Dewa. "Oh … sama tunangannya? Baru selesai malam mingguan ya?"


"Iya kayaknya, tapi udah mau pulang." Dewa menjawab jujur dan polos.


"Oh romantis sekali!" Sejujurnya Vivian masih penasaran dengan perempuan yang jadi tunangan Elang. Hanya saja akan terdengar mencurigakan kalau dia banyak bertanya tentang perempuan itu sekarang.


"Ya udah pakai helmnya, Sayang! Mau berangkat keliling ini," perintah Dewa manis. Dia juga memakai helmnya karena suara motor teman-temannya sudah menderu-deru minta segera berangkat.


"Oke siap, Dewaku!" tukas Vivian manja. Langsung memeluk erat dari belakang. Kalau Elang bisa enak-enakan di luar dengan tunangannya, Vivian juga bisa menjebak Dewa untuk meladeni keinginannya. Vivian yakin, Elang tidak akan suka jika dia memanfaatkan adiknya.


Dewa tergelak, kemesraan yang ditunjukkan Vivian pada teman-teman bikernya sungguh bisa bikin keki dan dengki. Pemuda itu bahkan tidak perlu repot menunjukkan diri atau atraksi untuk memancing kedekatan.


Vivian percaya diri di depan teman-temannya, memeluk tanpa sungkan, memperhatikannya tanpa keberatan. Hanya saja sekarang sedang ada yang kurang, pikiran Dewa yang dipenuhi Mayra dan Toni ... sulit teralihkan.


Benar-benar malam yang membagongkan!

__ADS_1


***


__ADS_2