
“Kamu kesel sama aku?” tanya Dewa dengan kedua alis naik turun bergantian. Menyeringai menggoda Mayra yang sedang blingsatan padanya.
Mayra rasanya ingin memukuli wajah innocent berbalut seringai kocak di depannya. Sungguh pemuda ini pandai sekali mengulas senyum yang membuat perempuan lemah seperti dirinya jatuh hati.
“Sumpah, kamu itu jauh lebih ngeselin daripada Elang!” Mayra merengut karena Dewa tidak menangkap maksudnya. Entah sengaja atau tidak, yang jelas Mayra kesal setengah mati.
“Mau aku kipasin manual biar cepet dingin?”
“Males!”
“Trus apa? Pendingin ruangan butuh waktu beberapa menit buat bikin kamar ini sejuk, Sayang!”
“Tau ah, udah nggak mood di sini!” Mayra menahan diri untuk tidak menyentuh Dewa yang berdiri satu langkah di depannya. “Aku pulang aja, mau tidur di rumah!”
“Kok malah ngambek?” dewa mencegat langkah Mayra.
“Kamu bilang aku boleh ngambek, boleh marah, boleh manja, boleh minta sesuatu?!”
"Iya, memang boleh!"
“Minggir deh! Nih bajumu!” Mayra mengulurkan kaos yang baru diambil dari lemari tanpa berani melihat wajah Dewa.
“Aku sebenarnya lagi gerah, makanya nggak pakai baju! Aku pakai nanti kalau kamarnya udah dingin!” Dewa melempar kaosnya ke atas meja belajar.
“Aku ini bukan kepanasan karena cuaca, Dewa! Kamu jangan pura-pura nggak tau kenapa sih?!”
Dewa bernafas panjang-panjang, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalimat terakhir Mayra sungguh menyentil egonya. Sesuatu yang salah bakal terjadi kalau Dewa menuruti Mayra. Dewa menyentuh pipi kiri Mayra, membelainya lembut dengan ibu jari sebelum bertanya dengan hati-hati.
“Kamu mau aku cium biar dingin?”
Mayra mengulas senyum malu-malu tanpa mau melihat Dewa. Sentuhan Dewa di pipinya membawa gelenyar indah yang menyebar ke seluruh tubuh. “Tapi jangan kebablasan ya, Wa! Cuma ciuman!”
__ADS_1
Dewa mendongakkan Mayra agar menatap matanya, memastikan kalau Mayra tidak menolak apapun yang akan terjadi nanti. Dewa mengecup ringan pipi Mayra sebagai pembukaan, sembari berbisik, “Aku nggak bisa janji kalau ini hanya sekedar ciuman!”
“Mesum, ih!” ujar Mayra berusaha tenang. Dewa sedang memandangi wajahnya dengan serius dan kelam.
Mayra mengerjap beberapa kali untuk membuang rasa canggung. Desiran hebat menyerbu rongga dadanya. Tidak ada dasar apapun dia meminta Dewa untuk memenuhi kebutuhannya selain gila karena efek obat yang tercampur dalam minumannya.
Sudut bibir Dewa perlahan tertarik ke atas membentuk senyum jenaka, berharap bisa mengurangi ketegangan Mayra. “Tegang banget kayak mau diperkaos aja!”
“Jangan nakut-nakutin kenapa sih?” Mayra spontan maju merapat karena Dewa menarik pinggangnya, mulai memeluk dan menunduk untuk mencapai wajahnya.
“Lebih dikit dari cium boleh ya?”
“Dewa?”
Tak perlu menjelaskan pada Mayra apa yang mungkin terjadi dengan mereka nanti, Dewa sudah me lu mat bibir Mayra dengan sensual, lembut dan romantis. Memagut lama, memperdalamnya hingga Mayra merasa tubuhnya melayang, terbang dan terbakar oleh api birahi.
“Dewa!” desis Mayra di sela-sela ciuman yang semakin membuatnya mabuk kepayang.
Tangan Mayra mulai memeluk, lalu menjelajah punggung hingga kepala bagian belakang, menggaruk pelan agar Dewa tak melepas pelukannya. Kakinya lemas seperti hendak ambruk meski Dewa menahan pinggangnya erat-erat.
Penyebabnya sederhana saja, karena Dewa yang mengambil kesempatan pertama Mayra menjajal manisnya sentuhan seorang pria. Bukankah segala hal yang pertama kali terjadi dalam hidup selalu berkesan dan membekas dalam?
Dewa menarik perlahan Mayra ke tempat tidur, memangkunya tanpa menghentikan ciuman. Ritme romantis yang dijaganya sudah hilang, berganti dengan kenakalan dan keliaran khas Dewa. Bukan hal mudah menghadapi Mayra yang polos, karena gadis manis dalam dekapannya sungguh membuat Dewa penasaran. Dewa bahkan hanya melepas pagutan sebentar ketika Mayra gelagapan kehabisan nafas.
“Kamu kapan pinternya?” Dewa mengamati nafas berantakan Mayra dan wajah yang bersemburat merah hingga ke telinga. Benar-benar terlihat cantik, membuat Dewa tidak bisa menghentikan ciuman.
Mayra balik bertanya, “Kalau mau jadi pacar kamu harus pinter ciuman ya?”
“Enggak juga, yang penting pinter men-desa-h!” jawab Dewa dengan senyum nakal.
Mayra mengerang lirih, Dewa tidak lagi menghampiri bibirnya, tapi mulai menjelajah area leher. Mengecup dan menyapukan lidah di tempat yang tepat. Mayra meremang hebat, ketegangannya spontan memuncak karena geli dan nikmat, mengalahkan rasa takut dan kecewa karena patah hati.
__ADS_1
Dan meski Dewa sudah melewati batas amannya, Mayra tidak keberatan untuk melanjutkan. Rasa penasaran dan juga keinginan primitif yang begitu besar membuat Mayra tak peduli dengan aturan yang dibuatnya sendiri.
Mayra sampai tak menyadari kapan pengait bra-nya lepas. Yang dia rasakan, Dewa menyentuh dadanya tidak lagi dari luar pakaian seperti sebelumnya.
Tangan dewa menyusup ke dalam baju dan menyusuri kulit punggungnya secara langsung. Telapak tangan pemuda berwajah innocent itu bahkan sudah menangkup dadanya, membelai mesra hingga membuat gerakan memeras, dengan lembut, intens tapi sangat nakal saat menyentuh pucuknya.
“Dewa …!” Desis Mayra bimbang, antara ingin menghentikan atau melanjutkan. Kewarasannya jelas sudah mulai hilang tak terkendali.
“Ya, Sayang?” tanya Dewa dengan suara dalam, serak dan sangat menggoda.
“Panas dingin!” bisik Mayra lirih, suaranya bergetar seperti orang ingin menangis.
Dewa tersenyum. Sikap Mayra yang pasrah dan meminta padanya membuat situasi salah kaprah. Dewa tidak setenang tadi, dia menyerang Mayra dengan hasrat yang meletup-letup. Dewa akan mengurangi ketegangan Mayra dari rasa tersiksa tanpa harus memasukinya.
Dewa memilih heavy petting untuk membantu Mayra. Dan merasa cukup setelah Mayra mendapatkan dua kali pelepasan beruntun. Sementara Dewa?
“Sorry!” ucap Dewa seperti sebuah geraman nikmat yang tanggung. Pelepasannya sungguh tidak nyaman karena terkungkung oleh kain segitiga yang memang tidak dilepasnya.
Namun, semua berakhir indah, Mayra memeluknya erat dengan wajah merah karena malu dan juga lega.
"Kamu nakal, Wa!" balas Mayra, ingin sekali dia menutupi wajahnya dengan bantal. Panas dinginnya mereda, dia juga mendapatkan perasaan nyaman yang luar biasa.
"Tidurlah!" perintah Dewa, tidak tega melihat wajah Mayra yang sayu karena kantuk. Gadis itu kurang tidur malam gara-gara segelas jus jeruk, sungguh malang!
Dewa memberikan Mayra ciuman ringan, lalu melepas pelukan. Karena jika dilanjutkan, dia tidak yakin bisa menahan diri untuk tidak mengubur kemaskulinannya ke dalam celah lembut Mayra. Yang artinya akan merusak selaput perawan Mayra. Sejujurnya Dewa sangat ingin melakukannya, tapi dalam situasi sadar tanpa pengaruh obat apapun.
Melepas perjaka dengan gadis perawan pasti sangat menantang dan membanggakan! Huh, membayangkan kalau bakal ada kesulitan saat menghujam Mayra saja membuat Dewa horny setengah mati. Ups!
Mayra bersiap tidur setelah memakai pakaiannya yang dilucuti Dewa sebagian. Wajahnya merah padam karena malu, hingga dia terus saja memunggungi Dewa. Tak lagi berani melirik pemuda yang hanya mengenakan celana pendek menggantung rendah di pinggulnya yang … entahlah! Mayra terlalu malu mengingat apa yang baru saja terjadi.
Setelah memastikan Mayra tidur lelap, Dewa membuka pintu kamar dan pergi mengguyur tubuhnya dengan air dingin, baru melanjutkan tugas gambar kalkirnya, dengan pikiran rumit tapi bahagia.
__ADS_1
Hm, Dewa dalam dilema!
***