Dewa Love You

Dewa Love You
Pacar Sesaat


__ADS_3

"Gini, kita pacaran pas mbak mau belajar aja. Aku anggep mbak cewekku agar situasi kita saat berciuman nggak canggung," terang Dewa tenang. "Ya … itu juga kalau mbak nggak keberatan! Susah juga mau ngajarin kalau nggak ada hubungan emosional!"


Mayra menggeleng tak percaya, dibalik sosok Dewa yang kalem padanya ternyata ada sisi lain yang mengejutkan. Hm, Mayra saja yang terlalu naif dan kurang gaul. Harusnya dia tau sekalem-kalemnya cowok pasti ada sisi liarnya. Sepolos-polosnya cowok pasti lebih berpengalaman dibanding polosnya cewek.


"Jadi di luar itu hubungan kita tetap seperti sebelumnya?"


"Iya, gimana?" tanya Dewa dengan ekspresi paling menjengkelkan yang pernah dilihat Mayra. Dewa menggaruk-garuk kepalanya, dia menawarkan hal itu agar tidak ada kecanggungan. Mereka hanya perlu berkencan dua sampai tiga kali lagi dan semua selesai.


Dewa harus segera menuntaskan pelajaran Mayra dan melepasnya karena sebenarnya pikirannya bercabang pada Vivian. Bagaimanapun, dia juga harus pacaran dengan gadis itu selama tiga bulan sebagai syarat sah menang taruhan. Vivian tetap prioritasnya.


Mayra menimbang lagi sebelum memutuskan setuju dengan ide konyol Dewa. Membiasakan diri dengan Dewa mungkin akan lebih mempermudah tujuannya. Toh hanya sementara, hanya dalam beberapa kesempatan saja.


"Oke, aku setuju!"


"Nah gitu dong." Dewa cengengesan, mengamati Mayra dalam gelap.


Mayra mengangguk ragu, kembali meyakinkan diri kalau apa yang terjadi pada mereka nanti tidak akan berlebihan. Toh hanya pacaran, sekedar ciuman, dan tentu saja tidak akan membuatnya hamil … jadi apa yang harus ditakutkan, heh!


Dewa mengajak Mayra keluar studio setelah film horor yang tidak dinikmatinya benar-benar selesai. Mengajak Mayra makan sambil mengobrol panjang soal kegiatan mereka di kampus. Mengurai sedikit demi sedikit rasa canggung Mayra agar lebih santai lagi ketika dekat dengannya.


Lagian apa sih yang harus dibuat canggung? Mayra sudah mengenal Dewa sejak lama, pun hubungan yang terjalin pada mereka hanya bersifat sementara. Bukan hal serius yang harus dimasukkan kepala apalagi dirasakan getarannya dalam dada!


Tapi tetap saja Mayra tidak bisa mengingkari fakta kalau hatinya bergemuruh, menghangat, gembira, rikuh dan juga malu di saat yang sama. Dewa memperlakukannya dengan baik, dengan banyak perhatian, dengan sentuhan kecil yang mendebarkan.

__ADS_1


"Sayang lagi mikirin apa?" tanya Dewa mengusik pikiran Mayra yang sedang kemana-mana.


"Enggak kok, aku kekenyangan!" Mayra menyunggingkan senyum manis. Panggilan Dewa padanya yang berubah drastis masih membuat banyak tanya di hati. Haruskah semua diubah agar apa yang diinginkannya berjalan lancar?


Dewa tertawa kecil sebelum bicara panjang, "Nggak usah malu kalau mau ngungkapin sesuatu! Misal kamu mau minta sesuatu sama aku boleh, mau merajuk, mau kesal, mau diperhatikan atau mau dimanja itu hak kamu sebagai cewekku. Kalau kamu sangat terpaksa dan nggak menikmati hubungan ini, aku yakin kamu nggak bakal berhasil deketin mas Elang! Sedikit agresif tak masalah, cowok juga suka cewek yang banyak inisiatif, bukan yang pasif, diem dan selalu bilang terserah saat pacaran."


Mayra mengangguk mengerti. Mencuri hati Elang dari Nindya pasti tidak mudah dengan skill yang pas-pasan. Bukan hanya soal skill ciuman, tapi juga soal menjadi cewek yang menyenangkan dan menarik perhatian. Dewa sedang mengajarinya menjadi sosok yang diinginkan Elang.


"Iya, maaf!"


"Kok malah minta maaf?"


"Masih belum ngerti harus gimana, kamu ngetawain aku terus dari tadi!" Mayra mengerucutkan bibir, belajar merajuk.


Mayra melongo, juga tertawa kering meski rasanya keki dengan ungkapan Dewa. Tapi dia menurut ketika tangannya diminta untuk memeluk pinggang Dewa. Ah … rasanya aneh, tapi juga menyenangkan.


Sebelum merapatkan tangannya, Mayra mendongak untuk melihat ekspresi Dewa. "Gini?"


"Hm, suka nggak?" tanya Dewa lebih lanjut. "Kalau nggak nyaman bilang!"


"Iya suka!" jawab Mayra dengan degup jantung yang berdetak acak. Bau Dewa selalu tercium setiap dia menarik nafas, dan gilanya Mayra suka. "Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar lagi belum, Wa?"


Dewa menoleh, "Kenapa tanya begitu?"

__ADS_1


Mayra menjelaskan, "Kalau pacarmu tau kita begini apa jadinya? Itu maksudku!"


"Belum, lagi pedekate sama cewek!"


"Oh … anak mana? Kampus kita?"


"Iya, anak semester dua!"


"Hm, tapi aman nggak nih kamu bantuin aku nanti?"


"Aman!" Dewa dengan cuek mengecup pelipis Mayra sambil berjalan tanpa memperdulikan pandangan orang.


Mayra menghitung, Dewa sudah satu kali mencium kepalanya, dua kali mengecup singkat bibirnya, dan barusan pelipisnya. Desiran halus di bagian perutnya semakin terasa, kehangatan turun dari bekas bibir Dewa, lalu menjalar ke seluruh tubuh.


Sampai di parkiran, Dewa sedikit menunduk untuk memasangkan helm Mayra seraya menatap wajah merona gadis di depannya yang juga intens memperhatikan dirinya.


"Anak bikers suka rese kalau ada cewek cantik, nanti kamu jangan jauh-jauh dari aku ya! Peluk aku terus kalau perlu," perintah Dewa dengan ekspresi jenaka. Tangannya cekatan mengaitkan tali pengaman helm di bawah dagu Mayra yang mengangguk samar padanya.


Rasanya Dewa ingin memberikan satu ciuman manis di bibir Mayra saat itu juga, hanya saja parkiran terlalu ramai. Mayra juga tipe pemalu, pasti tidak akan nyaman dengan situasi yang bakal terjadi nantinya. Padahal Dewa sangat suka spontanitas, dimana dia tidak harus berpikir saat menunjukkan keinginan dan kasih sayangnya.


Huh, siapa sangka kalau Mayra yang polos sekarang malah membuatnya penasaran?


***

__ADS_1


__ADS_2