
"Bagus! Bagus! Bagus! Hanya orang yang sangat berbakatlah yang akan bisa menggantikan generasi sebelumnya! Langit sedang melindungi Aliran Awan Tenang! Aliran pasti akan berjaya lagi di masa depan dengan orang yang hebat sepertimu! Aku sudah menunggu seribu tahun lamanya dan akhirnya, ada harapan yang muncul. Cepat, beri tahu aku siapa namamu, anak muda."
"Nama ku Ye Yuan. Bolehkah aku tahu siapa nama tetua?" Ye Yuan bertanya dengan nada hormat. Dia menghormati orang-orang seperti sosok di depannya yang sudah mengorbankan dirinya untuk perkembangan aliran.
Tetua dulunya tidak berumur panjang. Apa yang dilakukannya dengan memisahkan jiwa dewanya untuk memandu formasi susunan justru membuat kesempatannya untuk hidup semakin pendek.
Apa alasannya dia hingga ingin melakukan tindakan yang tidak egois seperti itu?
"Ye Yuan? Tidak buruk. Namaku Lu Yan. Aku adalah generasi ke 35 dari Aliran Awan Tenang. Aku bergelar Guru Besar Panglima Perang."
"Jadi tetua adalah Guru Besar Panglima Perang. Terimalah sembah hormat saya." Ye Yuan membungkuk memberi hormat.
"Haha! Cepat berdiri. Aku sudah mati jadi tidak ada gunanya kau melakukan hal seperti ini. Aku sudah ada di sini selama seratus tahun. Jiwa dewaku sudah kelelahan. Aku bisa mati dengan tenang karena bisa bertemu dengan orang hebat sepertimu!"
Sebenarnya jiwa dewa bisa diperpanjang dengan berbagai cara tapi ada saatnya dia akan musnah. Lu Yan masih bisa bertahan selama 10 tahun lagi. Setelah itu, jiwanya benar-benar akan lenyap dari dunia ini.
Orang yang hebat sekalipun akan kembali menjadi debu. ini adalah kesedihan yang diderita oleh semua petarung bela diri. Bahkan, Raja Dewa sekalipun tidak dapat melawan keganasan waktu. Walaupun begitu, Ye Yuan termasuk orang yang memiliki pandangan luas. Dia tidak terlalu berpikir dalam tentang kehidupan dan kematian.
"Aku telah memandu Susunan Surga Sembilan Revolusi Keruh selama hampir 200 tahun. Namun, hanya ada sekitar 10 orang yang aku temui. Terakhir kali aku bertemu dengan bocah bernama Mo Yuntian yang membuatku terkesan. Tapi, dibandingkan denganmu, dia masih tak terlalu hebat."
"Tetua terlalu baik." Ye Yuan tidak akan menunjukkan jati dirinya di hadapan Lu Yan.
__ADS_1
Meski baru 200 tahun Lu Yan berada di sini, dia sudah cukup paham apa yang terjadi di Jalan Sembilan Surga. Para petarung yang disebut berbakat di Perguruan Dan Wu sama sekali tidak dia anggap karena gagal melewati tiga putaran.
Aliran Awan Tenang membutuhkan para petarung yang benar-benar berbakat yang dapat membuat jaya aliran ini. Orang yang dapat berlari dan menjadi pemimpin. Tujuan Aliran Awan Tenang ada di dalam Jalan Sembilan Surga, Mo Yuntian mampu melewati rintangan yang ada di Jalan Sembilan Surga karena beruntung.
Nilai-nilai sebenarnya dari penciptaan Jalan Sembilan Surga terletak pada hal-hal seperti Alam Hati Yang Setenang Air. Nilai-nilai ini yang membuat seseorang yang dulunya adalah Guru Besar Panglima Perang mengorbankan kesempatan hidupnya untuk formasi susunan.
"Apa kau bisa berjanji padaku, Anak Muda?' Lu Yan tiba-tiba membuka mulutnya, bertanya.
"Apa Tetua Lu ingin aku membantu Aliran Awan Tenang mengungguli aliran lain?"
Dari perbincangan mereka sebelumnya, Ye Yuan dapat menebak jalan pikiran Lu Yan.
"Haha! anak ini ternyata pintar! kamu paham meski aku tidak banyak bicara! aku tidak hanya ingin kamu bisa mengungguli beberapa aliran di daerah selatan tetapi memimpin aliran ini kembali ke daerah utara!" Lu Yan menjawab dengan nada gelisah.
"Hahaha! Jangan merendah seperti itu. Kamu sudah bisa memahami Hati Yang Setenang Air. Dengan itu, kamu pasti bisa mencapai banyak hal nantinya. Aku hanya berharap ketika nanti kamu sudah memiliki cukup kekuatan, kamu akan ingat sumber air, itu saja."
Secara wujud, Lu Yan dapat dikatakan sudah mati sehingga dia tidak banyak berharap dari hubungannya yang singkat dari Ye Yuan. Jika permintaannya terlalu berlebihan, Ye Yuan tidak akan setuju. Meski, katakanlah, Ye Yuan ingin berjanji, dia mungkin tidak akan menepatinya nanti.
'Ingatlah sumber air', tiga kata ini cukup membuat Ye Yuan tertegun. Kata-kata ini menginsyaratkan bahwa pencapaian yang akan Ye Yuan raih di masa mendatang adalah karena jasa Aliran Awan Tenang. Meski memang, Lu Yan tidak secara detil menyebutkan permintaannya.
Sebenarnya, masa mendatang pun tergantung pada Ye Yuan. Jika Ye Yuan adalah orang yang tidak tahu berterima kasih maka kata-kata yang diucapkan Lu Yan tidak ada gunanya. Namun, jika Ye Yuan menghargai nilai sebuah kesetiaan dalam sebuah hubungan, maka kata-kata tersebut akan sangat terpatri di dalam hatinya.
__ADS_1
Ye Yuan tersenyum. "Sepertinya Tetua terlalu khawatir. Aku memang murid dari Aliran Awan Tenang jadi sudah seharusnya hal seperti itu terjadi."
Lu Yan mengangguk, tersenyum. Dia sangat senang mendengar jawaban Ye Yuan. Dia tidak butuh janji dari Ye Yuan. Baginya, sudah cukup jika dia mengingat Aliran Awan Tenang dengan baik. Lu Yan tidak meragukan kemampuan Ye Yuan mencapai posisi tinggi di masa depan.
Dulu, kemampuan You Wuyan tidaklah terlalu menonjol. Namun, setelah dia memahami Alam Hati Yang Setenang Air, perkembanganya bergerak sangat cepat.
Meskipun Ye Yuan belum mencapai posisi You Wuyan, setidaknya, dia memiliki cukup kekuatan untuk membawa Aliran Awan Tenang kembali menjadi penguasa di utara. Perbedaan kekuatan antara wilayah utara dan selatan memang besar. Kebanyakan kekuatan besar berada di wilayah utara.
Dahulu, Aliran Awan merupakan aliran besar di wilayah utara. Namun, karena generasi muda mereka tidak mampu meneruskan legasi dari generasi sebelumnya, akhirnya Aliran Awan tersingkir oleh aliran lain dan kehilangan pondasi mereka.
Beberapa tahun terakhir, orang-orang yang berada di posisi atas Aliran Awan Tenang tidak lagi berambisi untuk mengembalikan kekuasaan ke wilayah utara. Hanya saja, Sepuluh Bangsa Awan Tenang merupakan bangsa miskin yang hidup di tempat tandus dan mereka tidak memiliki petarung yang diunggulkan. Jadi, tidak mudah bagi mereka untuk kembali ke wilayah utara.
Memang, ada beberapa orang dari Sepuluh Bangsa Awan Tenang yang berhasil melewati Jalan Sembilan Surga, akan tetapi tidak ada yang berhasil memahami Alam Hati Yang Setenang Air.
Lu Yan tertawa, lalu berseru.
"Haha! Kata-katamu membuat kekusutan di hati orang tua ini akhirnya lepas. Masih ada 10 orang tua sepertiku yang menunggumu di atas. Tapi sepertinya mereka kurang beruntung! Aku tidak menyangka akan bisa bertemu denganmu di Jalan Sembilan Surga. Akhirnya, aku bisa mati dengan tenang."
Lu Yan terlihat sangat puas. Dia sudah tidak peduli mati atau hidup.
Ye Yuan tersenyum. "Tetua seharusnya tidak pesimis seperti itu. Langit tidak menutup semua jalan. Mungkin, suatu saat nanti Anda memiliki kesempatan untuk menyaksikan hari ketika Aliran Awan Tenang kembali ke utara sebagai pemenang."
__ADS_1
Lu Yan tertawa sambil mengibaskan tangannya.
"Tidak perlu menghiburku, bocah. Hidup dan matiku tergantung pada takdirku. Aku sudah melewatinya."