Dewa Pemikat

Dewa Pemikat
Dua kecupan


__ADS_3

Dewa kini tengah bersama sahabat perempuannya yang setia dan selalu mendukungnya bagaimanapun keadaannya, ya siapa lagi kalau bukan Vivi si cewek cantik yang manis nan imut dan memiliki senyum yang bisa melelehkan hati para cowok yang melihatnya termasuk juga Dewa.


Mereka berdua pulang bersama dari stadion mengenakan taksi online yang dipesankan oleh Dewa, tampak keduanya kini sibuk dengan ponsel masing-masing dan tak ada obrolan apa-apa diantara mereka padahal saat ini Dewa & Vivi duduk berdampingan di kursi jok belakang.


Sampai akhirnya Vivi menguap sepertinya mengantuk atau mungkin lelah karena berdiri hampir 2 jam di stadion tadi serta teriak-teriak cukup kencang demi menyemangati sahabatnya itu, Dewa pun menyadarinya dan coba sedikit peka dengan menawarkan pundaknya untuk Vivi.


"Heh, kamu ngantuk? Sini nyender di pundak aku aja, gratis kok gak pake bayar...!!" ucap Dewa sembari menepuk-nepuk pundaknya memberi isyarat pada Vivi untuk bersandar disana.


"Gak mau ah, ogah! Lu pasti bau keringet kan abis main bola tadi, gue gak mau ketularan bau badan lu yang menyengat itu!" ujar Vivi menolak mentah-mentah tawaran dari Dewa.


"Ya ampun segitunya... aku udah mandi kali tadi, gausah khawatir gitu loh! Emang kamu gak cium apa wangi tubuh aku sekarang?" ujar Dewa.


"Gak tuh, kamu mandinya kurang sabun berarti! Makanya kalo mandi tuh yang bener, pake sabun yang banyak supaya wangi!" ucap Vivi.


"Ohh, gak kecium? Yaudah nih biar aku deketin ke kamu supaya kamu bisa cium wangi aku yang semerbak ini, jadi kamu gak bakal katain aku bau lagi!" ucap Dewa tersenyum.


Vivi menoleh dengan wajah terkejutnya tak mengerti apa yang hendak dilakukan Dewa padanya, ya rupanya pria itu menggeser posisi duduknya lebih dekat ke tubuh Vivi kemudian dengan santainya merangkul pundak Vivi serta membenamkan wajah gadis itu pada bahunya dan mengecup kening Vivi dengan lembut sembari mengelus keningnya.


"Gimana, kecium gak sekarang wanginya?" tanya Dewa masih sambil mengusap lembut puncak kepala Vivi.


Gadis itu masih terdiam syok dengan perlakuan dari sahabatnya yang jelas membuat siapa saja wanita pasti akan baper dibuatnya, namun ia berusaha menepis semua rasa itu dan mengingat kalau Dewa adalah sahabatnya bukan kekasihnya.


"Iya, kecium wangi kok...." jawab Vivi dengan gugup.


Dewa tersenyum renyah kemudian merapatkan rangkulannya supaya gadis itu bisa lebih nyaman jika ingin tidur di bahunya, sedangkan Vivi makin merasa ada yang janggal di dalam hatinya.


"Ehem.. ehem..."


Tiba-tiba sang supir taksi tersebut berdehem sembari melirik duo sahabat itu melalui spion tengah, sontak Dewa pun melepaskan rangkulannya dan keduanya kini menjadi salah tingkah.


"Hahaha, tenang aja mas sama mbak! Saya cuma bercanda kok, udah dilanjut lagi aja!" ucap supir itu sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Gak!" ucap keduanya secara bersamaan.


Ya jawaban itu kembali mengundang tawa bagi sang supir karena duo sahabat itu memang tampak cocok jika menjadi pasangan kekasih, sedangkan Dewa kini menatap Vivi begitupun sebaliknya karena merasa malu sudah ditertawakan oleh supir taksi.


"Mas Dewa, jadi mas Dewa ini wis duwe pasangan toh? Saya kirain masih single mas, tadinya mau saya jodohin sama anak saya..." ujar supir itu.


"Ah bukan pak, ini mah sahabat saya namanya Vivi! Kita udah sahabatan dari SMP makanya lumayan deket, bapak jangan salah paham dulu!" ucap Dewa menyangkal omongan supir itu.


"Oalah ngono toh...."


🌺


Dewa & Vivi kini sudah sampai di depan rumah gadis itu bersama taksi yang mereka tumpangi, tampak Vivi masih mengantuk karena tadi ia sempat tertidur beberapa menit di dalam taksi sampai akhirnya terbangun saat Dewa memang membangunkannya.


"Masih ngantuk, ya?" tanya Dewa.


"Iya, kamu ngapain bangunin aku sih?" ujar Vivi tampak kesal sembari mengucek-ngucek matanya dan menguap karena sangat ngantuk.


"Kalo aku gak bangunin kamu, nanti kamu bakal bablas terus di dalam taksi!" ujar Dewa.


"Ya terus kayak gimana, Vivi Monica Al-Ghazali?" tanya Dewa yang tak mengerti sembari menarik dagu gadis itu agar menatap ke wajahnya.


Sontak Vivi terdiam seketika memandang mata indah milik Dewa yang kini menatapnya cukup dekat, bahkan keduanya sampai tahan nafas dan sulit menelan saliva akibat sama-sama salah tingkah dan terpesona pada keindahan wajah masing-masing.


Namun, pada akhirnya lagi-lagi Vivi menepis tangan Dewa dari wajahnya karena tak mau ada rasa diantara mereka berdua dan langsung membuang muka begitu saja sembari melipat kedua tangannya di atas dada.


"Udah gausah dibahas lagi! Aku mau masuk, kamu mau ikut juga gak?" ucap Vivi.


"Ohh, boleh nih?" tanya Dewa memastikan.


"Ya boleh lah, emang kenapa gak boleh coba?" ujar Vivi menatap heran wajah Dewa.

__ADS_1


"Biasanya kan kamu gak izinin aku mampir ke rumah kamu, karena katanya takut aku godain adek kamu yang cantik dan manis itu! Padahal mah aku gak doyan sama adek kamu, aku tuh doyannya sama...." ucap Dewa sengaja menggantung ucapannya sembari mendekat dan menatap Vivi lagi.


"Sama apa?" tanya Vivi penasaran.


Cupp...


Bukannya menjawab, Dewa malah mengecup kening Vivi untuk yang kedua kalinya hari ini dan tentu saja membuat Vivi salah tingkah serta melayang terbang karena tiba-tiba mendapat perlakuan manis dari sahabatnya yang biasanya ngeselin itu.


"Cie senyum-senyum, cie! Cie cie yang merah mukanya abis dicium sama aku..." ujar Dewa terus meledek Vivi yang makin tersipu.


"Apaan sih? Gak lucu!" ujar Vivi kesal.


Gadis itu pun masuk ke rumahnya berjalan melewati Dewa begitu saja bahkan mendorong tubuh Dewa dengan bahunya, nampaknya Vivi benar-benar dibuat baper dan salah tingkah dengan tindakan heroik Dewa yang berani mengecup bestie nya itu.


"Eh Vi, tunggu dong...!!" teriak Dewa.


Akhirnya Dewa mengejar gadis itu karena ia ingin mampir lebih dulu di rumah orang tua Vivi sekaligus silaturahmi, ya sudah lama juga Dewa tidak datang kesana bertemu kedua orang tua Vivi yang sejak SMP memang sudah kenal dekat dengannya.


"Assalamualaikum, mama..." ucap Vivi memberi salam begitu memasuki rumahnya diikuti oleh Dewa.


"Waalaikumsallam, eh sayang.... udah pulang nonton bolanya ha?" tanya Yolita.


"Iya udah, mah! Nih aku bawain pemain bolanya sekalian buat mama, katanya dia kangen sama mama dan mau ketemu..." ucap Vivi.


"Hehe, sore tante..." ucap Dewa tersenyum lalu mencium punggung tangan Yolita.


"Eh iya Dewa, tumbenan nih kamu main kesini lagi! Emang gak ada latihan lagi?" ujar Yolita.


"Gak ada, tante! Sekarang kan jatahnya istirahat abis tanding tadi, makanya Dewa bisa kesini tante silaturahmi...." ucap Dewa.


"Hilih gaya-gayaan pake segala ngomong silaturahmi!" cibir Vivi.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2