
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Dewa... Dewa...!!"
Vivi berteriak sembari berlari mengejar Dewa yang pergi begitu saja meninggalkannya tadi, ia tampak sangat panik berharap dapat membuat Dewa tetap disana bersamanya.
Sementara Dewa seakan tak perduli dengan teriakan dari Vivi, ia terlanjur kecewa dan sudah tidak mau lagi berbicara dengan gadisnya untuk saat ini. Ia pun terus berjalan menuju tempat ia memarkir motornya dan berharap bisa segera meninggalkan tempat itu.
"Dewa, tunggu dong! Please Dewa, jangan pergi!" teriak Vivi yang sudah mulai lelah.
Vivi pun berhenti sejenak untuk mengambil nafas sembari memegangi lututnya, ia sudah tidak kuat lagi untuk lanjut mengejar Dewa karena pria itu sangat cepat melangkah. Namun, Vivi tetap berusaha agar Dewa mau mendengarkannya.
"Mas Dewa, tungguin aku!" teriak Vivi sekali lagi.
Akhirnya Dewa menghentikan langkahnya saat ia sudah berada di dekat motornya, ia sedikit melirik ke belakang melihat Vivi yang tampak ngos-ngosan.
Melihat itu, Vivi pun sangat senang karena Dewa mau berhenti. Ia kembali berdiri tegak dengan bertolak pinggang menatap Dewa sambil tersenyum, lalu Vivi lanjut berjalan mendekati pria itu.
"Alhamdulillah! Akhirnya Dewa mau berhenti juga, aku gak perlu capek-capek lagi deh!" ucap Vivi.
Disaat Vivi hendak melangkah, tiba-tiba Dewa justru kembali berjalan pergi menjauhi Vivi dan bersiap naik ke motornya. Tentu saja Vivi langsung panik, lalu ia pun langsung saja berlari sekeras mungkin untuk bisa mengejar Dewa disana.
Namun, naasnya ia malah menabrak dua orang petugas yang sedang membawa barang disana.
Bruuukkk...
"Awwhhh!" pekik Vivi kesakitan sembari memegangi pinggangnya yang terbentur lantai.
"Eh mbak, mbak gapapa?" tanya seorang petugas.
"Aduh mas, gimana sih? Kalo jalan tuh lihat-lihat dong! Kan saya jadi jatuh begini, sakit tau pinggang saya kebentur lantai!" ucap Vivi protes.
"Eee maaf mbak! Tapi, tadi kan mbaknya yang lari-lari begitu! Kita berdua udah hati-hati kok bawanya, makanya jangan lari-lari mbak kalo di tempat begini!" ucap petugas itu menyalahkan Vivi.
Vivi terdiam sembari memalingkan wajahnya, ia juga sadar kalau memang ia yang salah.
__ADS_1
Sementara kedua petugas itu menawarkan diri untuk membantu Vivi berdiri dengan mengulurkan tangan ke arah gadis itu.
"Mau saya bantu mbak?" tanya petugas itu.
"Gausah, saya bisa sendiri kok!" jawab Vivi ketus.
Dewa yang mendengar teriakan Vivi barusan, langsung menoleh dan terkejut saat melihat gadisnya sedang tergeletak di lantai. Ia pun merasa panik lalu segera menghampiri Vivi disana.
"Vi, kamu gapapa?" tanya Dewa cemas sembari berjongkok di samping gadisnya.
Melihat Dewa hadir disana membuat Vivi senang, ia pun reflek mengulum senyum di hadapan Dewa sambil terus memandangi wajah pria itu.
"Hey, jangan bengong!" tegur Dewa.
"Eh eee iya iya, maaf! Abisnya aku gak nyangka kalo kamu mau dateng tolong aku, makasih ya mas Dewa kamu udah perhatian banget sama aku!" ucap Vivi tersenyum sembari mengedipkan matanya.
"Sama-sama, udah yuk kita kesana! Biar aku bantu kamu berdiri!" ucap Dewa dingin.
Vivi mengangguk saja menyetujui perkataan Dewa, ia pun berdiri dengan bantuan tangan Dewa. Namun, rasa sakit pada pinggangnya masih belum bisa hilang karena ia terbentur cukup keras tadi, tentu saja ia reflek menjerit kesakitan.
"Awhh mas, pinggang ku sakit banget!" rintih Vivi.
"Ka-kamu serius mau gendong aku?" tanya Vivi tak percaya mendengar itu.
Dewa tak menjawab, ia langsung menggendong gadis itu dengan perlahan lalu membawa Vivi ke depan jalan raya. Dewa yang panik tak ingin kalau gadisnya itu kenapa-napa, ia pun memilih mencegat taksi dan membawa Vivi ke rumah sakit untuk diperiksa karena pinggangnya yang sakit.
•
•
Saat di dalam taksi, Vivi menolak dibawa ke rumah sakit karena ia merasa baik-baik saja dan tidak perlu sampai harus berobat di rumah sakit. Namun, Dewa masih kekeuh untuk membawa gadisnya itu karena ia panik melihat kondisi Vivi yang kesakitan.
"Mas, kita gak usah ke rumah sakit ya! Aku ini gapapa kok mas, aku baik-baik aja!" ucap Vivi.
"Enggak Vi! Kamu harus tetap diperiksa, kalau terjadi sesuatu sama pinggang kamu gimana? Aku gak mau ya ambil resiko, udah kamu nurut aja sama aku! Kita ke rumah sakit sekarang!" tegas Dewa.
__ADS_1
"Tapi, mas—"
"Ssshhh cukup! Aku gak terima bantahan lagi kali ini, kamu nurut aja atau aku bakal marah sama kamu!" potong Dewa sembari menempelkan telunjuknya pada bibir gadis itu.
Entah mengapa Vivi merasa senang melihat Dewa yang begitu mencemaskan dirinya, ia kini paham kalau Dewa memang benar-benar sayang padanya.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Dewa heran.
"Gapapa. Oh ya, tadi kamu kenapa pergi gitu aja sih? Kamu marah sama aku, apa gimana?" ucap Vivi.
"Ya siapa yang gak marah Vi? Aku lihat dengan mata kepala aku sendiri loh, kamu akrab banget sama tuh cowok! Mana cowoknya ada tiga lagi, terus kalian juga kayaknya dekat banget!" ujar Dewa.
"Ohh, jadi karena itu? Ya ampun mas, kan disana juga ada kamu tadi! Aku bukan cuma ngobrol sama mereka bertiga, tapi sama kamu juga mas! Ayolah, maafin aku ya dan jangan marah lagi sama aku kayak gitu!" ucap Vivi memelas.
"Udah gak marah kok, aku udah lupain semuanya! Tapi, aku pengen minta satu hal sama kamu sekarang!" ucap Dewa menatap wajah Vivi tajam.
"Umm, minta apa?" tanya Vivi penasaran.
"Iya, aku mau kamu jelasin ke aku ada hubungan apa antara kamu dan Marsel?!" ucap Dewa kesal.
Vivi pun terkejut saat Dewa meminta itu padanya.
"Mas, bukannya tadi kamu udah tahu semuanya? Aku sama Marsel itu teman lama, kami ketemu waktu aku masih tinggal di Surabaya. Apa itu masih kurang jelas buat kamu mas?" ucap Vivi.
"Aku gak percaya, masa sih cuma temen lama? Aku lihatnya Marsel itu punya perasaan lain sama kamu, dia kayaknya suka sama kamu!" ucap Dewa.
"Hah? Masa gitu sih mas? Aku aja gak tahu, tapi ya biarin aja lah mas! Kan yang penting aku mah sukanya sama kamu, bukan sama Marsel atau lelaki siapapun yang lain! Udah ya, kamu jangan marah gitu sama aku!" ucap Vivi membujuk Dewa sembari mengusap wajah pria itu.
Dewa pun meraih tangan Vivi yang ada di wajah, ia genggam erat tangan gadis itu sambil tersenyum dan perlahan menurunkan tangan Vivi, lalu ia taruh di atas pahanya.
"Oke, awas ya kalau kamu masih kelihatan dekat sama Marsel atau teman-temannya itu! Aku gak akan pernah maafin kamu!" ucap Dewa tegas.
"Iya iya mas, aku janji deh!" ucap Vivi.
Setelahnya, Dewa mengalihkan pandangan ke depan tanpa melepas genggaman tangannya itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...