
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Keesokan harinya, Vivi bersama Jessi dan Shannon telah sama-sama bersiap untuk mendukung tim kesayangan mereka dan kebanggaan kota Semarang apalagi kalau bukan PSIS. Bahkan Vivi juga sudah memakai jaket biru khas PSIS yang dibelikan Dewa untuknya beberapa waktu lalu, tentu Vivi sangat bersemangat dalam mendukung Dewa walaupun ia masih ragu khawatir jika Marsel melihatnya.
Sementara Jessi justru memakai seragam hijau khas Persebaya dikala teman-temannya itu pada mendukung PSIS, ia sepertinya telah berpindah haluan dari mengejar-ngejar Arhan jadi mencoba untuk mendekati Marsel yang akan menjadi kawan dari Arhan pada malam hari ini.
Sontak Vivi serta Shannon yang ada disana merasa heran dengan tingkah laku Jessi itu, mereka taunya kalau Jessi adalah fans setia Arhan dan club PSIS Semarang. Namun, sekarang Jessi justru berpaling dari Arhan maupun PSIS dan malah mendukung club yang dibela Marsel tentunya agar ia bisa semakin dekat dengan pria tersebut.
"Heh, Jes! Lu ngapain pake baju Persebaya? Kita kan harusnya dukung PSIS! Gimana sih lu? Udah sana ganti baju PSIS!" ujar Vivi terheran-heran.
"Tau ih! Malu-maluin aja lu! Masa malah make baju Persebaya sih? Tuh lihat orang-orang yang dukung PSIS, mereka pada ngeliatin lu terus dan ngira kalau lu cuma fans karbit!" sahut Shannon.
"Dih biarin lah! Gue kan hari ini mau dukung si Marsel, lagian gue bosen dukung Arhan. Abisnya dia sok jual mahal sih sama gue, sering banget gue dicuekin sama dia!" ucap Jessi.
"Ya ampun, segitunya banget demi cowok! Heh, lagian belum tentu si Marsel mau sama lu!" ujar Vivi.
"Emang Marsel tuh siapa sih, Vi?" tanya Shannon.
"Eh iya, lu belum tau ya?" ujar Vivi.
Shannon menggelengkan kepalanya.
"Jadi, Marsel itu temen lama gue di Surabaya. Dia hari ini tanding lawan PSIS disini, nah si Jessi ini tertarik sama Marsel, makanya dia pake baju Persebaya sekarang buat dukung Marsel." ucap Vivi coba menjelaskan pada Shannon.
"Oalah..." ujar Shannon.
"Ngerti?" tanya Vivi.
"Enggak," jawab Shannon menggeleng sambil nyengir dan langsung dipelototi oleh Vivi.
"Udah kalian gausah debat! Intinya gini aja deh, Marsel itu calon imam gue di masa depan yang bisa membimbing gue ke jalan yang benar." ucap Jessi mengkhayal sembari melihat ke langit.
__ADS_1
Vivi dan Shannon hanya melongok mendengarnya.
"Ish, kok malah diem? Kalian aminin dong doa gue barusan! Dasar temen-temen jahat, masa gak ada yang mau aminin doa gue!" ujar Jessi kesal.
"Yeh bukan gitu, kita cuma pengen lu sadar aja dan jangan terlalu halu! Setau gue, Marsel tuh udah punya pacar dan mereka mesra loh! Jadi, lu mending jangan banyak berharap ya, Jes!" ucap Vivi.
"Hahaha, udah mending lu kejar-kejar Arhan aja lagi kayak kemarin-kemarin!" ujar Shannon.
"Iya tuh, Arhan kan udah jelas masih jomblo! Ya walau sama aja sih, gak mungkin juga dia mau sama lu!" ujar Vivi sambil tertawa kecil.
"Ah sialan lu! Demen banget kayaknya ngeledekin gue, inget ya kalian berdua juga masih jomblo!" ucap Jessi kesal dan membalas ledekan temannya.
"Eh jangan salah! Gue kan udah punya pacar, cuma sering LDR aja." ucap Shannon.
"Oh iya, berarti Vivi doang deh yang jomblo sama kayak gue. Emang ya cuma lu doang Vi yang pengertian, rela menjomblo selama mungkin demi menemani temanmu yang cantik ini!" ucap Jessi.
"Apaan sih? Gue jomblo karena gue belum mau pacaran aja!" ucap Vivi.
"Apa sih ih?!"
Vivi tampak salah tingkah karena Jessi terus saja meledeknya.
...•••...
Sementara itu, suasana di locker room PSIS sangat panas. Tim pelatih menegaskan pada seluruh pemain untuk mengerahkan kemampuan mereka dalam laga nantinya, terlebih performa tim mereka memang masih angin-anginan dan belum stabil. Kadang kalau lagi bagus bisa menang terus, kadang juga bisa kalah terus atau bahkan seri.
Akibatnya, tekanan berat pun berada di punggung sang kapten PSIS kali ini. Ya siapa lagi kalau bukan Dewangga? Memang penunjukan posisi kapten pada hari ini karena sang kapten utama di tim yakni Wallace sedang tidak bisa tampil, itulah sebabnya Dewa yang ditunjuk oleh tim official untuk menggantikan posisi Wallace karena dianggap mampu melakukannya.
Dewa dan Arhan memang masuk starting line up PSIS Semarang hari ini yang akan menghadapi lawan mereka yakni Persebaya, secara keadaan tentu tim asal Surabaya itu jauh diunggulkan dibanding PSIS karena posisi mereka terpaut empat strip. Ya Persebaya saat ini berada di peringkat ketiga, sedangkan PSIS sendiri ada di nomor delapan.
"Wa, lu pasti bisa!" ucap Arhan memberi semangat pada sahabatnya itu sebelum bertanding dan pergi menuju lapangan.
__ADS_1
"Thanks! Gue masih agak gugup aja, apalagi ini kali pertama gue turun jadi kapten." ucap Dewa.
"Lu tenang! Tarik nafas, terus keluarin! Gitu terus sampai lu bisa ngerasa tenang!" ucap Arhan memberi saran pada Dewa.
Dewa hanya mengangguk, lalu mengikuti saran dari Arhan dan mulai mengambil nafas dalam-dalam.
Namun, tiba-tiba tim official pertandingan mengatakan jika waktu kick off akan segera dimulai sebentar lagi mungkin sekitar lima menit dari sekarang dan seluruh pemain harus sudah berada di lapangan saat ini juga.
"Ayo ayo semangat PSIS...!!!"
"YOH ISO YOH...!!" sahut seluruh pemain serta official tim PSIS disana.
Setelahnya, mereka pun bergegas pergi menuju lapangan untuk segera memulai pertandingan ini. Tampak Dewa berdiri di paling depan karena ia merupakan kapten, dan di belakangnya ada sang penjaga gawang yang hebat sebut saja namanya Jandia.
Di samping Dewa, berdiri kapten Persebaya yang tak lain adalah Marsel. Ya kedua tim hari ini sama-sama memakai kapten anak muda, walau Marsel masih agak lebih muda dibanding Dewa saat ini.
"Hey! Udah siap buat kalah?" ujar Marsel coba menebar psywar disana.
"Udah, tapi buat kalahin kalian!" jawab Dewa dengan santai sembari merapihkan bajunya.
Jandia serta teman-teman di belakang Dewa tampak tersenyum bangga mendengar jawaban dari Dewa yang cukup membuat mental para pemain Surabaya terserang, ya walau itu saja belum cukup karena permainan sebenarnya ada di atas lapangan nanti.
Tak lama kemudian, musik pembukaan pertandingan telah dibunyikan dan anak-anak pembawa bendera liga telah maju berjalan mengibarkan bendera itu di tengah lapangan.
Sorak-sorai dari penonton ikut memeriahkan momen tersebut, terlebih saat para pemain bola itu masuk ke lapangan dengan tampang gagah mereka. Tentu saja jiwa para wanita-wanita disana langsung bergetar setelah melihat Dewa muncul di paling depan.
"Vivi, aku bakal cetak gol buat kamu!" batin Dewa sembari menatap ke arah tribun tempat Vivi berada.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1