Dewa Pemikat

Dewa Pemikat
Dewa pulang


__ADS_3

...❤️❤️❤️❤️❤️...


Vivi yang sangat cemas sekaligus rindu pada Dewa, akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah pria itu bersama supirnya karena ia ingin memastikan apakah Dewa sudah pulang atau belum. Vivi tak bisa terus menahan kecemasan di dalam dirinya itu, maka dari itu ia tanpa ragu pergi ke rumah Dewa dan berharap Dewa ada disana dalam keadaan baik-baik saja sesuai keinginan dirinya.


Sesampainya di rumah Dewa, gadis cantik yang anggun itu justru tampak ragu untuk mengetuk pintu rumah Dewa. Ia khawatir kalau nantinya Dewa tak ada di rumah dan ia malah bertemu dengan sang ayah dari kekasihnya itu, tentu Vivi akan sangat canggung jika harus bicara berdua dengan ayah Dewa karena mereka belum terlalu akrab, beda jauh dengan Dewa yang sudah akrab pada Yolita.


TOK TOK TOK...


Pada akhirnya Vivi pun memutuskan mengetuk pintu walau dalam hatinya masih merasa ragu, baginya kini yang lebih penting adalah kondisi Dewa dan ia ingin tahu bagaimana keadaan kekasihnya itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu serta suara seseorang yang sepertinya ayah dari Dewa, Vivi pun menghentikan mengetuk pintu karena takut ayah Dewa akan merasa risih jika ia terus mengetuknya.


"Ya sebentar!" teriak ayah Dewa dari dalam.


Ceklek...


Pintu terbuka memperlihatkan seorang pria tua yang berpenampilan sederhana dari balik pintu, pria itu sedikit keriput karena memang usianya sudah cukup matang untuk seorang manusia.


"Assalamualaikum pak, saya Vivi temannya Dewa. Saya kesini mau ketemu sama Dewa, pak!" ucap Vivi dengan sopan santun sembari mencium tangan ayah Dewa dan tentunya sedikit membungkuk.


"Waalaikumsallam. Oh iya, saya masih ingat kok! Tapi, Dewa nya belum pulang nih Vi!" ucap ayah Dewa.


"Yah belum pulang ya pak?" ujar Vivi cemas.


"Iya nak Vivi, Dewa itu belum sampai ke rumah. Ya mungkin aja dia masih di pesawat atau bahkan belum mau pulang hari ini, memangnya nak Vivi ini gak dikasih kabar gitu sama Dewa? Atau kalau nak Vivi penasaran, kan bisa ditelpon!" ucap ayah Dewa memberi saran pada Vivi.


"Umm, itu dia pak! Aku tuh takut ganggu mas Dewa, apalagi kalau misal dia lagi di pesawat! Yaudah deh mending aku pulang aja pak, nanti kalau mas Dewa udah pulang aku kesini lagi!" ucap Vivi.


"Ohh, yaudah terserah kamu aja! Tapi maaf yo, saya gak bisa kabarin kamu! Kan saya belum punya nomor hp kamu," ucap ayah Dewa.

__ADS_1


"Eee iya pak, gapapa kok. Nanti biar aku sendiri yang cek kesini atau mungkin aku coba sms mas Dewa, kalo gitu aku permisi dulu ya pak? Maaf sekali lagi karena udah ganggu waktu bapak!" ucap Vivi.


"Ya enggak lah! Kamu gak ganggu kok, justru saya yang harus minta maaf karena gak bisa temuin kamu sama Dewa!" ucap ayah Dewa tersenyum.


"Itu kan bukan salah bapak, emang mungkin mas Dewa belum bisa pulang atau lagi di jalan. Yaudah ya pak, aku permisi dulu? Assalamualaikum," ucap Vivi pamit dan mencium tangan si bapak.


"Iya iya, waalaikumsallam nak Vivi!" ucap ayah Dewa.


Vivi pun berbalik dan hendak pergi dari sana, akan tetapi langkahnya terhenti lantaran ia melihat sosok pria turun dari sebuah mobil yang berhenti tepat di halaman rumah itu. Sontak Vivi pun tersenyum begitu mengetahui pria yang baru datang itu adalah Dewa alias pria yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.


"Mas Dewa?" ucap Vivi yang sangat gembira melihat kekasihnya sudah datang.


Sontak Dewa pun terkejut begitu mendengar suara Vivi, ia baru sadar gadis itu sudah ada disana bersama ayahnya.


"Vivi?" ucap Dewa tersenyum.


Tanpa basa-basi lagi, sepasang kekasih itu langsung bergerak maju mendekat satu sama lain dan tentu saja berpelukan disana cukup erat, Dewa yang rindu akan harum tubuh wanitanya mulai meresapi setiap aroma yang menempel di pundak kekasihnya.


"Sama, aku juga sayang!" ucap Dewa.


Pemandangan itu disaksikan langsung oleh Cipto alias ayah Dewa, tentu saja Cipto pun merasa risih dan khawatir akan ada yang orang lain yang mempunyai pikiran tidak-tidak pada mereka.


"Ehem ehem..." Cipto berdehem sambil batuk-batuk bermaksud menyudahi aksi pelukan itu.


Tentu saja Dewa dan Vivi pun melepas pelukan mereka, lalu keduanya kompak menoleh ke arah Cipto sambil tersenyum merasa tidak enak.


"Eh bapak," ucap Dewa garuk-garuk kepala.


"Dasar anak gak bener! Ada bapaknya disini, yang disamperin duluan malah ceweknya!" cibir Cipto.

__ADS_1


"Eh eee..." Dewa gugup merasa bersalah.


Akhirnya Dewa bergerak maju mendekati ayahnya dan mencium tangan sang ayah sambil tersenyum, sedangkan Vivi hanya bisa diam di tempat sembari menundukkan kepala.


"Assalamualaikum pak, bapak apa kabar nih?" ucap Dewa bertanya pada ayahnya.


"Waalaikumsallam, Alhamdulillah bapak baik kok! Kamu gimana sih? Masa lawan Persipura aja bisa imbang? Peluang depan gawang gan masuk mulu, perbaiki lagi kualitas kamu Dewa! Katanya mau jadi pemain Real Madrid?" ujar Cipto.


"I-i-iya pak, emang rencananya nanti Dewa mau tambahin porsi latihan sendiri. Soalnya liga kan bentar lagi abis, jadi disisa pertandingan itu Dewa gak mau sia-siakan dan harus bisa bawa tim PSIS memang terus melenggang ke kompetisi Asia! Kan kalo bisa begitu, nama kota semarang juga bakal ikut keangkat pak!" ucap Dewa tersenyum.


"Nah benar itu! Bapak suka nih yang begini, yaudah semangat ya Dewa! Kurangi pacaran, perbanyak latihan! Ketemu boleh sesekali, tapi jangan sampe bikin kamu lupa buat latihan!" ucap Cipto.


"Eee pasti dong pah!" ucap Dewa.


Vivi pun menunduk malu begitu mendengar ucapan yang dilontarkan Cipto, entah mengapa ia merasa kalau Cipto tidak suka jika ia terlalu dekat dengan Dewa. Akibatnya, kini Vivi berpikiran yang tidak-tidak dan bahkan ingin pamit pergi dari sana.


"Umm, mas Dewa. Kalo gitu aku pamit pulang dulu, ya? Aku tadi kan kesini mau ketemu kamu, nah sekarang kamunya udah ada disini! Jadi, aku bisa pulang dengan aman deh!" ucap Vivi.


"Loh kok pulang sih sayang? Kamu disini aja dong, temenin aku istirahat!" ucap Dewa memelas.


"Iya gapapa Vi, kamu main aja dulu sama Dewa! Tapi, jangan sampai di luar batas! Bapak gak mau terjadi sesuatu sama kalian berdua!" ucap Cipto.


"Nah kan, bapak aja setuju!" ucap Dewa.


"Eee yaudah deh, mas. Ta-tapi, emang kamu gak capek abis naik pesawat? Mending kamu tidur dulu deh, mas! Apalagi kamu kan puasa, pasti ngerasa lelah banget deh!" ucap Vivi.


Dewa pun tersenyum senang mendapat perhatian dari gadisnya, ia mengusap puncak kepala Vivi dan kembali memeluknya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2