
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Selama di dalam taksi, Jessi selalu saja membahas Marsel dan bertanya pada Vivi tentang siapa itu Marsel serta segala macam tentang pria tersebut yang ingin sekali ia ketahui. Bahkan termasuk keluarga dan kebiasaan favorit Marsel, sepertinya Jessi memang sangat tertarik dengan teman lama Vivi itu sampai tak bisa melupakannya.
Tentu Vivi merasa risih karena terus ditanyakan seperti itu oleh sahabatnya, padahal ia juga berusaha menjaga perasaan untuk tidak tergoda dengan hadirnya sosok Marsel kembali dalam kehidupannya saat ini. Biarpun ia dan Marsel adalah teman lama ketika di Surabaya, namun Vivi tentu tak lupa jika Marsel pernah menyatakan cinta padanya.
"Jes, bisa gak lu berhenti bahas soal Marsel di depan gue? Gue tuh males bahas dia, lu paham dong kondisi temen lu ini!" ucap Vivi kesal.
"Yeh kok lu marah-marah sih? Kan gue cuma mau tau siapa itu Marsel, terus keluarganya tinggal dimana, apa kebiasaan yang sering dia lakuin? Sama dia masih single atau udah sold out?" ujar Jessi.
"Haish, kenapa lu gak tanya langsung ke dia tadi?" ujar Vivi dengan raut bete.
"Ya itu dia, gue pengen nanya tapi dianya malah ngobrol sama lu terus! Kan gue jadi kesel tau, padahal gue berharap dia mau bicara sama gue atau sekedar tatap mata gue gitu pas dia makan. Eh ini enggak, dia malah asik banget mandangin wajah lu! Apa sih kurangnya gue ini, ha?" ujar Jessi.
"Uluh uluh! Jangan cemberut gitu dong! Nanti cantiknya ilang loh, terus ayang Arhan lu gak mau deh deket-deket sama lu lagi!" ucap Vivi.
"Oh iya, my Arhan! Ya ampun, gue sampe lupa kalo gue udah punya my Arhan! Duh, kok bisa-bisanya sih gue sampe lupa? Lu jangan cerita-cerita ya ke my Arhan kalo gue tadi godain Marsel, awas lu!" ucap Jessi mengancam Vivi.
"Hahaha, iya iya... yaudah sekarang jangan bahas Marsel lagi! Lu gak mau kan ayang Arhan lu cemburu?" goda Vivi.
"Ya iya dong, hati gue kan always buat my Arhan tercinta! Love love deh buat mas Arhan ku, gak sabar mau lihat dia main nanti....!!" ucap Jessi.
Vivi tampak geleng-geleng kepala sambil tersenyum saja menyaksikan kelakuan Jessi di dalam taksi itu, begitupun dengan sang supir yang harus memiliki penumpang stress seperti dua gadis itu.
Tak lama kemudian, taksi yang mereka tumpangi itu berhenti tepat di depan rumah Vivi.
"Nah udah sampe, gue duluan ya? Hati-hati lu cuma berduaan sama bang supir, nanti ayang Arhan lu cemburu loh!" ucap Vivi iseng.
"Ish, ngeselin lu!" ujar Jessi cemberut.
"Ahaha, yaudah ya gue turun. Bye, Jes!" ucap Vivi pamit pada sohibnya itu sembari melambaikan tangan dan tersenyum.
__ADS_1
"Iya, bye juga!" ucap Jessi.
Vivi pun turun dari mobil. Taksi yang tadi ia tumpangi juga langsung melaju pergi dari sana, namun gadis itu masih terus memandangi badan taksi yang mulai menjauh sambil tersenyum entah menunggu apa.
Tiba-tiba saja seseorang justru memanggil namanya dari belakang dan membuatnya terkejut bukan main, karena ia tengah melamun memandangi taksi tersebut disana.
"Vivi!"
Suara itu membuat Vivi langsung menoleh dengan cepat, ia bertambah kaget saat melihat ada Dewa yang berdiri disana sambil tersenyum menatap ke arahnya dengan setangkai bunga di tangan.
"Hai! Abis darimana?" ucap Dewa bertanya kepada Vivi karena melihat gadis itu turun dari taksi.
"Eee aku abis makan sama Jessi. Eee kamu ngapain disini? Emangnya kamu gak capek apa? Kan kamu baru banget pulang loh, harusnya kamu istirahat aja di rumah jangan kesini!" ucap Vivi gugup.
"Enggak lah! Aku kangen sama kamu, aku juga pengen ketemu sama kamu. Makanya aku langsung dateng kesini aja, eh pas banget kamunya juga baru sampe di rumah. Jadi, aku gak kecewa deh karena bisa ketemu kamu sekarang." ucap Dewa.
"Ohh, yaudah masuk yuk! Ngobrolnya di dalam aja, biar sekalian aku bikinin minum buat kamu!" ucap Vivi mengajak Dewa masuk ke rumahnya.
"Boleh..." Dewa tersenyum menurut.
•
•
Sesampainya di dalam, Dewa langsung disambut oleh Yolita selaku mama dari teman gadisnya itu yang memang sudah cukup dekat dengannya. Dewa pun duduk di sofa dan ditemani oleh Yolita selagi Vivi pergi berganti pakaian ke kamarnya, Dewa tampak canggung walau sudah seringkali ia berbincang dengan Yolita disana.
"Tumben banget kamu kesini malam-malam begini, pake bawa bunga segala lagi. Pasti buat tante ya bunganya?" ucap Yolita.
"Ah eee... i-i-iya tante, ini buat tante kok. Kebetulan tadi pas di jalan aku ngeliat bunga ini, makanya aku bawa aja kesini." ucap Dewa gugup lalu menyerahkan bunga di tangannya itu kepada Yolita.
"Ahaha, kamu lucu banget sih! Tante tau kali itu bunga buat Vivi, yakali kamu bawain bunga buat tante. Emang kamu mau dihajar sama papanya Vivi?" ujar Yolita sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Ehehe, ya enggak lah tan." ujar Dewa.
Tak lama kemudian, minuman datang dibawakan oleh salah satu pelayan di rumah Vivi. Setelah menaruh dua gelas minuman itu di meja, pelayan itu pun pergi kembali ke dapur melanjutkan tugasnya.
"Yuk diminum dulu! Vivi mah pasti masih lama, dia kan begitu anaknya." ucap Yolita.
"Eee iya tante..." ucap Dewa masih gugup, ia mengambil gelas di atas meja dan meminumnya perlahan. Tangannya yang gemetar membuat ia kesulitan untuk minum lebih banyak.
Yolita pun hanya tersenyum menyaksikan tingkah Dewa yang aneh itu.
Untunglah Vivi muncul disaat yang tepat, jadi Dewa tak perlu gugup lagi karena berlama-lama mengobrol berdua dengan Yolita disana. Dewa tampak merapihkan rambutnya saat melihat Vivi berjalan ke arahnya sambil tersenyum.
Ya Vivi langsung duduk di samping mamanya dan tentu di depan Dewa begitu sampai disana, ia sudah berganti pakaian dan kini memakai kaos santai miliknya sehingga bisa lebih leluasa mengobrol dengan Dewa di ruang itu.
"Nah, ini kan Vivi nya udah datang. Yaudah, mama mau ke dalam dulu ya? Kalian ngobrol aja disini, gausah gugup lagi Dewa!" ujar Yolita.
"Ah, iya tante." ucap Dewa.
Yolita pun bangkit dari sofa, lalu pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi.
"Mas, kamu emang tadi gugup?" tanya Vivi penasaran. Ia memajukan sedikit tubuhnya ke dekat Dewa dengan dua tangan ditaruh di atas paha.
"Sedikit." jawab Dewa singkat.
"Kok bisa? Emang kenapa? Bukannya kamu udah sering ketemu sama mama?" tanya Vivi.
"Udah lah Vi, gausah dibahas!" ujar Dewa.
"Ohh, iya deh..." ucap Vivi menurut.
Mereka pun lanjut berbincang mengenai hal yang lain, tak lupa juga Dewa menyerahkan bunga di tangannya itu kepada Vivi.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...