Dewa Pemikat

Dewa Pemikat
Belanja baju


__ADS_3

...❤️❤️❤️❤️❤️...


"Rambut kamu kalau basah begini, enak banget deh buat dielus sayang! Apalagi masih harum, pake shampo apa sih kamu?" ucap Dewa sembari terus mengusap rambut Vivi.


"Eee gak boleh sebut merk, mas. Kita kan gak diendorse, nanti keenakan merk shampo nya kalo aku sebut!" ucap Vivi.


"Yeh ya gapapa dong sayang, kan kita cuma lagi ngobrol berdua. Kecuali kalau kita lagi ngelive atau ngevlog dan ada kamera, baru deh gak boleh sebut merk sayang!" ucap Dewa.


"Iya juga sih, tapi biarin ah aku gak mau jawab! Lagian kenapa sih kamu tanya-tanya? Mau ngasih ke Vivian sampo yang aku pakai?" ujar Vivi cemburu.


"Haish, mulai deh!" ujar Dewa.


"Mulai apa mas? Serius kamu pengen kasih sampo yang aku pake ke Vivian?" tanya Vivi.


"Enggak sayang, enggak!" jawab Dewa.


"Terus, kenapa kamu tanya-tanya gitu tadi? Aku gak yakin sama jawaban kamu mas, buktinya kamu kelihatan gugup gitu!" ucap Vivi.


Dewa mendengus sambil geleng-geleng kepala dengan tingkah gadisnya, ia bahkan sampai menepuk wajah akibat Vivi yang tak berhenti menaruh curiga padanya.


"Ya ampun, mau sampai kapan sih kamu curiga gini sama aku sayang?" tanya Dewa lemas.


"Sampai kamu sadar mas, kalau aku ini pacar kamu dan seharusnya kamu sebagai kekasih itu gak boleh lirik-lirik cewek lain apalagi sampe senyum-senyum begitu, biarpun cewek itu sepupunya Jessi teman aku!" ucap Vivi.


"Hadeh, iya sayang iya! Aku kan udah janji semalam sama kamu, aku gak akan mengulangi itu lagi! Udah dong sayang, jangan gitu ya!" ujar Dewa.


Vivi justru mencibirkan bibirnya seperti meledek perkataan Dewa, entah mengapa hal itu malah membuat Dewa merasa gemas dan langsung saja menyerang Vivi dengan cubitan di pipinya.


"Awhh, mas sakit tau!" ujar Vivi kesal.


"Gapapa, enak kan dicubit sama pacar sendiri?" ucap Dewa tersenyum renyah.


"Dih, mana ada gitu?" ujar Vivi cemberut.


Dewa menggeser tubuhnya lalu mendekap tubuh Vivi sembari menghirup aroma tubuh sang kekasih itu sambil tersenyum.


"Mas, kamu sebenarnya kesini mau apa sih? Masa daritadi cuma kayak gini doang? Gak mungkin dong kamu datang kesini pagi-pagi kalau cuma buat ciumin aku?" tanya Vivi penasaran.


"Hehe, iya maaf! Kan tadi aku juga udah bilang sama kamu, aku kangen cantik!" jawab Dewa manja.


Dewa semakin mengeratkan dekapannya, ia juga menyesap aroma tubuh Vivi terus-menerus membuat gadis itu merasa geli karena hembusan nafas Dewa yang terasa di lehernya. Namun, Vivi tak sedikitpun melakukan gerakan berontak.


"Udah jujur aja mas! Masa cuma kangen sampe harus dateng kesini pagi-pagi?" ujar Vivi.

__ADS_1


"Iya iya, aku tuh mau ajak kamu pergi!" ucap Dewa.


"Hah? Pergi kemana mas?" tanya Vivi penasaran.


"Ke mall, aku pengen beliin sesuatu buat kamu disana. Nanti kamu tinggal ambil aja barang yang lagi pengen kamu beli, biar aku bayarin sayang!" jawab Dewa sambil tersenyum memainkan rambut Vivi.


"Tumben, dalam rangka apa nih kamu ajak aku ke mall? Biasanya cowok kalau tiba-tiba baik kayak gini, pasti abis ngelakuin kesalahan!" ujar Vivi curiga.


"Ya ampun, kamu gak berhenti-henti ya curiga sama aku sayang? Aku gak ada ngelakuin salah apa-apa, aku cuma pengen nyenengin kamu aja! Kan kamu pacar aku sayang, lagian aku juga belanjain kamu itu sebagai tanda makasih karena semalam kamu udah dukung aku di stadion!" jelas Dewa.


"Umm, yaudah kalo gitu aku siap-siap dulu ya mas? Lepasin dong!" ucap Vivi.


"Siap-siap apa lagi sih? Kamu udah cantik loh, kita langsung berangkat sekarang aja ya?! Aku gak kuat kalau harus nungguin kamu dandan lagi," ucap Dewa.


"Ish, sebentar kok mas!" ujar Vivi.


Cupp!


Dewa menyerang wajah serta leher Vivi dengan berbagai kecupan, membuat gadis itu merasa risih karena khawatir Niko melihatnya dan nanti lapor pada mamanya.


"Mas, jangan begitu ah! Ini bulan puasa, lagian aku takut dilihat Niko!" ucap Vivi mendorong Dewa.


"Yaudah iya, makanya kita langsung jalan aja ayo!" ucap Dewa terkekeh.


"Nah gitu dong!" ucap Dewa tersenyum.


Cupp!


Dewa kembali mengecup pipi gadisnya, lalu mereka beranjak dari sofa dan pergi ke luar menemui Niko untuk pamitan sebelum berangkat menuju mall.




Saat di mall, gadis cantik itu asyik memilih berbagai macam pakaian serta sepatu yang ingin ia beli. Sedangkan Dewa setia menemani gadisnya sambil terus memandangi wajah cantik Vivi dari dekat.


"Mas, yang ini menurut kamu cocok gak buat aku?" tanya Vivi menunjukkan sebuah baju pada Dewa.


"Eee cocok kok!" jawab Dewa.


"Kalo yang ini?" tanya Vivi lagi.


Dewa tersenyum kemudian menarik tengkuk Vivi dan mengecup keningnya.

__ADS_1


Cupp!


"Cocok sayang, semuanya cocok kalo dipake sama kamu mah!" ucap Dewa.


"Ish, bisa aja kamu!" ujar Vivi tersipu.


Dewa tersenyum melihat rona merah di wajah gadisnya, ia pun mengelus wajah cantik itu tanpa mengalihkan pandangannya.


Disaat mereka tengah asyik berpandangan, tiba-tiba seorang pria muncul dari arah samping dan menegur Vivi yang membuat Dewa kesal.


"Hai Vi!" ucap pria itu menyapa Vivi.


Sontak Vivi terkejut saat melihat Marsel yang ada disana, sedangkan Dewa langsung merasa kesal dan geram sekali begitu tahu ada Marsel di dekatnya yang dengan beraninya menyapa Vivi.


"Eh Marsel, kamu disini juga?" tanya Vivi gugup.


"Iya, aku lagi beli barang nih. Kamu sendiri lagi ngapain disini?" ucap Marsel tersenyum.


"Eee ini aku juga lagi belanja," ucap Vivi.


Vivi merasa cemas dan khawatir kalau Dewa akan cemburu padanya jika terlalu akrab dengan Marsel, itulah sebabnya ia selalu melirik ke arah Dewa dan tampak gugup saat berbicara dengan Marsel di depan Dewa kekasihnya.


"Sayang, udah yuk kita ke tempat lain aja! Jangan kelamaan disini!" ucap Dewa.


"Loh mas, tapi aku kan belum pilih bajunya. Sebentar dulu ya!" ucap Vivi.


"Vi, udah kamu ambil aja dua-duanya! Terus kita bayar bajunya, abis itu kita pergi! Aku gak mau kita kelamaan disini sayang!" ucap Dewa.


"Eee mas, ta-tapi—"


Dewa melotot ke arah Vivi, tentu saja gadis itu langsung menurut karena takut dengan tatapan dari sang kekasih yang tajam itu. Vivi pun terpaksa membeli dua baju sesuai kemauan Dewa.


"Yaudah mas, tapi beneran gapapa kalo aku beli dua-duanya?" tanya Vivi ragu.


"Iya, gapapa kok sayang! Yang penting kita langsung pergi dari sini, aku gak mau kamu terlalu dekat sama cowok itu!" ujar Dewa melirik Marsel.


Vivi mengangguk sambil menundukkan kepala, ia merasa tidak enak pada Marsel karena sikap Dewa yang terlalu cemburuan. Namun, Vivi hanya bisa manut mengikuti kemauan kekasihnya dan pergi dari sana meninggalkan Marsel.


Sementara Marsel sendiri tetap disana memandangi punggung Vivi yang menjauh, ia tersenyum heran melihat sikap Dewa yang terlalu overprotektif terhadap kekasihnya.


"Kasihan Vivi!" batinnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2