Dewa Pemikat

Dewa Pemikat
Tidak fokus latihan


__ADS_3

Dewa tengah menjalani latihannya kembali bersama PSIS setelah dihari sebelumnya ia libur karena memang sesi latihan diliburkan mengingat kompetisi yang juga tengah libur sejenak, Dewa pun memasuki lapangan latihan bersama para teman-temannya di PSIS sana dan tampak tidak bergairah seperti biasanya. Rupanya Dewa memikirkan Vivi yang saat ini sedang bertemu dengan temannya di timnas yakni Witan, entah mengapa ia seperti tidak tenang memikirkan pertemuan kedua sahabatnya itu.


Dewa pun sampai tidak fokus pada latihan kali ini, berkali-kali ia gagal mengikuti instruksi dari pelatih dan akibatnya ia kena semprot alias omelan dari tim pelatih yang tentunya amat sangat menyakiti hatinya. Namun, sebagai pemain profesional itu adalah hal biasa apalagi semua terjadi karena ulahnya sendiri yang sulit fokus karena terus kepikiran Vivi. Para temannya di latihan kali ini juga heran pada Dewa, karena memang tak biasanya Dewa jadi lemas seperti ini.


"Wa, bentar lagi kita ada game internal nih! Lu semangat dong, jangan lemes kayak gini!" ujar Arhan yang mendekatinya karena merasa heran pada sahabatnya tersebut.


"Iya sorry, gue lagi ada pikiran diluar soalnya!" ucap Dewa singkat tanpa ekspresi.


"Ohh, lupain aja sejenak Wa! Ini demi karir lu loh, emang lu mau dicoret dari tim cuma karena gak konsen pas lagi latihan??" ujar Arhan.


"Emang bisa gitu?" tanya Dewa kaget.


"Bisalah, makanya lu yang serius latihannya biar bisa berkarir di luar negeri kayak temen-temen kita di timnas yang lain!" ucap Arhan menyemangati sahabatnya sambil menepuk pundak Dewa.


"Oke, thanks bro!" ucap Dewa tersenyum kembali.


Pertandingan latihan pun dimulai antara tim biru menghadapi tim rompi hijau, Dewa tergabung ke dalam tim biru sedangkan Arhan akan menjadi lawannya di tim rompi. Ya kini pemasok umpan untuknya malah ada di tim lawan, Dewa seperti kebingungan bermain di lapangan tersebut.


Berkali-kali bola ditujukan untuknya, namun belum sempat ia melakukan apa-apa sudah ada pemain dari tim rompi yang merebut bola darinya. Terlihat tim pelatih terus memantau permainannya yang memang menurun, mereka tampak bingung apa yang terjadi pada Dewa sebenarnya.


"Dewa, main yang bener...!!" teriak seniornya di tim yakni Septian.


"Iya mas, maaf!" ucap Dewa merasa bersalah.


Akhirnya Dewa berusaha melupakan segala tentang Vivi & Witan yang terus saja mengganggu pikirannya, Dewa harus bisa tampil bagus di sesi latihan agar masuk ke dalam 11 pemain yang ditampilkan esok hari pada laga melawan club Jakarta.


Ya Dewa pun berhasil melupakan semua tentang Vivi yang tengah menjalani pertemuannya dengan Witan sahabatnya di timnas, kini Dewa tampil lebih bagus dari sebelumnya dan bahkan berhasil menceploskan bola ke gawang yang dijaga Joko sebanyak tiga kali.

__ADS_1


"Nah gitu dong, baru Dewa!" puji Septian padanya sembari mengusap kepala Dewa.


"Hehe, thanks mas!" ucap Dewa nyengir.


"Gue harus fokus supaya bisa abroad!" batinnya.


Hingga laga itu berakhir, Dewa mencetak 4 gol ke gawang Joko dan membuat tim biru berhasil mengalahkan tim rompi dengan skor 5-2.


"Wih mantap juga lu, Wa! Gitu dong kalo main bagus kan pasti dapet pujian dari pelatih, jangan bengong terus kayak sebelumnya!" ujar Arhan yang langsung menghampiri Dewa dan merangkulnya.


"Iya, ini kan berkat semangat dari lu!" ucap Dewa.


"Santai bro, kita kan bestie!" ucap Arhan nyengir.


Mereka kompak tosan seperti biasa lalu jalan menuju tempat istirahat karena sesi latihan untuk hari ini telah selesai, ya mereka akan kembali ke tempat penginapan untuk beristirahat.


Disisi lain, Witan & Vivi sudah berada di sebuah restoran mewah dengan dekorasi yang mewah bintang 5 yang sudah disiapkan secara elegan oleh kedua mama mereka. Namun, hingga kini belum ada obrolan apapun diantara keduanya karena nampaknya baik Witan maupun Vivi masih sama-sama canggung.


Berkali-kali Vivi memutar bola matanya ke atas, kanan dan kiri secara bergantian sembari mengusap tengkuknya karena rasa bosan yang melanda. Sedangkan Witan tampak asyik menikmati steak yang ada di meja tanpa memperdulikan Vivi, sepertinya ia memang tak suka dengan pertemuan kali ini apalagi ia sudah memiliki cewek incaran.


"Ehem, ehem..." Vivi berdehem pelan.


Ya akhirnya Vivi coba memulai obrolan dengan berdehem ke arah Witan, ia tampaknya sudah sangat bosan karena terus diem-dieman seperti ini apalagi Witan terus saja asyik memakan makanannya. Kini betul saja Witan mendongakkan kepalanya ke arah Vivi tapi masih tetap bersikap dingin, memang tak biasanya Witan sampai seperti ini pada seseorang karena ia selalu ramah dan asyik.


"Kenapa?" tanya Witan singkat sambil mengunyah steak di dalam mulutnya.


"Gapapa kok, gue cuma heran aja apa manfaatnya kita ketemu kalo diem-dieman kayak gini?" ucap Vivi coba to the point pada Witan, ya walau ia mengatakan itu sambil senyum-senyum.

__ADS_1


"Ohh, iya juga sih! Sebenarnya gue males loh dipaksa ketemu sama cewek yang belum gue kenal sebelumnya, tapi nyokap gue terus aja maksa!" ucap Witan yang akhirnya berbicara panjang.


"Sama gue juga gitu, kenapa ya nyokap kita sukanya maksa-maksa kayak gitu ke anaknya sendiri? Harusnya kan mereka kasih kita kesempatan untuk cari jodoh sendiri, jangan main langsung dijodohin kayak gini! Apalagi lu kan pemain bola terkenal, masa iya dijodohin nya sama cewek kayak gue..." ujar Vivi.


"Hahaha, ternyata lu lucu juga ya? Nyesel gue udah diem-diem aja daritadi, sorry juga karena gue cuekin lu tadi dan bikin lu bete!" ucap Witan nyengir.


"Ya gapapa, wajar aja kok kalo lu gak suka ketemu sama gue disini! Kita juga kan baru ketemu sekarang dan soal nama aja cuma tau dari nyokap, apalagi lu juga baru pulang dari Polandia kan? Pasti capek, harusnya nyokap kita gak maksain pertemuan ini sih!" ujar Vivi.


"Nah bener, gak asik banget emang tuh nyokap gue! Padahal gue pulang tuh pengen liburan, ketemu sama keluarga kangen-kangenan! Eh ini malah disuruh ketemu sama cewek, ya jujur gue lumayan kesel sih karena nyokap sampe begitu!" ucap Witan.


"Oh ya, lu kenal Dewangga?" tanya Vivi, entah mengapa pertanyaan itu spontan keluar dari mulutnya dan reflek ia pun memegangi mulutnya itu.


"Dewangga pemain timnas Indonesia?" ucap Witan bertanya kembali pada Vivi dengan wajah kepo.


"Nah iya bener, kenal kan?" ucap Vivi.


"Ohh ya kenal dong, kan gue yang kasih umpan ke dia buat gol Indonesia waktu itu!" ujar Witan.


"Iya juga sih, mantap deh!" puji Vivi.


"Emangnya kenapa, lu kenal juga sama Dewa?" tanya Witan penasaran.


"Eee.... iya,"


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2