
...❤️❤️❤️❤️❤️...
"Hai Vi!" sapa seseorang pria yang baru datang di cafe tersebut.
Sontak Vivi serta Dewa langsung terkejut dan menoleh ke asal suara, mereka menatap pria tersebut dengan tatapan penasaran. Vivi sendiri tampak menganga sedikit begitu mengetahui yang muncul adalah Marsel alias teman masa lalunya.
"Marsel? Ka-kamu kok bisa ada disini?" tanya Vivi penuh penasaran.
"Iya Vi, aku lagi main aja!" jawab Marsel santai.
Dengan pedenya, Marsel menarik kursi di dekat Vivi dan duduk disana sambil terus memandangi wajah gadis yang tampak bingung itu. Sedangkan Dewa tentu saja sudah terbakar api cemburu.
"Kamu apa kabar Vi? Baik-baik aja kan selama kita gak ketemu?" tanya Marsel sambil tersenyum.
"I-i-iya, aku baik kok! Kamu sendiri gimana? Terus kenapa kamu juga masih ada di Semarang? Aku pikir kamu udah balik loh," ujar Vivi heran.
"Syukurlah, aku juga baik! Kalau kamu mau tau, aku ini sebenarnya emang udah balik ke Surabaya abis menang besar lawan tim PSIS," ucap Marsel sengaja meledek Dewa. "Terus sekarang aku balik lagi kesini, karena aku kangen sama kamu dan pengen main aja gitu sebentar sama kamu!" sambungnya.
Amarah Dewa sudah tidak bisa tertahan lagi, terlihat dua tangannya juga telah mengepal disertai tubuh yang gemetar karena emosi. Dewa pun melirik Marsel dan kemudian berbicara padanya.
"Heh! Vivi ini pacar gue, dia gak bisa jalan sama cowok lain! Apalagi cowoknya itu lu, lagian emang apa sih tujuan lu ajak jalan Vivi? Mau modus, atau mau sok sok paling baik gitu? Udah bagus lu balik, eh malah kesini lagi!" ujar Dewa kesal.
"Hahaha, lu kenapa sensi gitu sih bro? Santai aja kali, masih kesel ya kalah dikambek?" ujar Marsel.
"Gausah sombong lu! Memang hoki aja dipamerin, lagian emang lu siapa sih? Apa hubungan lu sama Vivi pacar gue, ha?!" tanya Dewa galak.
"Asal lu tau, gue lebih dulu kenal sama Vivi dibanding lu. Jadi, lu gan bisa larang-larang gue buat ajak Vivi jalan-jalan!" ucap Marsel.
Melihat kedua pria itu saling berdebat, Vivi pun tampak pusing dan berusaha menghentikan mereka.
"Ish Dewa, Marsel, udah dong jangan ribut terus! Malu tau dilihatin sama orang-orang, emang kalian pada gak malu apa? Ayolah, ini kan tempat umum bukan ring tinju! Kalian kalau mau ribut jangan disini, lagian gak penting banget tau gak yang kalian ributin itu!" ucap Vivi menengahi kedua pria itu.
"Sayang, aku kesal aja sama dia! Abisnya dia itu sok banget jadi orang, padahal aku dah bilang kalau aku ini pacar kamu. Eh dia malah nantangin begitu, pake bilang kenal lebih dulu sama kamu!" ujar Dewa.
__ADS_1
"Iya Dewa, Marsel ini emang teman lama aku pas aku masih tinggal di Surabaya. Waktu itu aku belum kenal kamu, ta-tapi aku sama Marsel cuma teman aja kok gak lebih! Aku tetap cuma sayang sama kamu, Dewa!" ucap Vivi menghibur kekasihnya.
Vivi pun melingkarkan tangannya pada sela-sela lengan Dewa sambil menempelkan dagunya di atas pundak sang kekasih, hal itu membuat Dewa cukup senang dan tersenyum puas di depan Marsel.
"Nah, lu denger sendiri kan?" ujar Dewa nyengir.
Marsel garuk-garuk pangkal hidungnya sambil sedikit terkekeh dan menunduk, ia sama sekali tak terpancing dengan tindakan Vivi itu.
"Ya oke, emang kalian sekarang udah pacaran. Tapi, gak menutup kemungkinan kan kalau gue bisa rebut Vivi dari lu? Ingat Dewa, gak ada yang gak mungkin sebelum janur kuning melengkung!" ucap Marsel.
Dewa semakin emosi dan ingin sekali memukul wajah Marsel disana, namun Vivi segera mencegah niat dari kekasihnya itu.
"Mas, jangan!" bisik Vivi.
"Tapi sayang, dia itu udah kelewatan! Bisa-bisanya dia bilang begitu di depan aku, kan aku kesel sayang!" bentak Dewa emosi. "Emangnya dia kira semudah itu apa bisa rebut kamu dari aku? Kita ini kan udah sehati, gak akan pernah terpisah lagi!" sambung Dewa sambil menatap ke arah Marsel.
"Hahaha, iyain aja deh. Yaudah, jadi gimana nih Vi? Kamu mau jalan sama aku atau enggak?" tanya Marsel beralih menatap Vivi sambil tersenyum.
Plaaakk...
Dengan cepat Dewa memukul tangan Marsel yang hendak menyentuh tangan kekasihnya, ia tampak sangat emosi saat ini.
"Jangan macam-macam sama pacar gue! Lu gak boleh sentuh dia lagi, paham?!" tegur Dewa.
"Mas Dewa, kamu kok gitu sih? Lagian tangan aku kan juga belum sentuhan sama tangan Marsel, kamu gak boleh kasar gitu dong! Nanti kalau Marsel gak terima dan laporin kamu ke polisi gimana?" ucap Vivi panik sembari menatap wajah Dewa.
"Aku kesel aja sayang, abisnya dia mau kurang ajar sama kamu! Padahal dia lihat sendiri disini ada pacar kamu yang gantengnya lebih jauh dibanding dia, dasar cowok gak tahu malu!" cibir Dewa.
"Mas, udah ih!" ujar Vivi mulai kesal.
Tak lama kemudian, dua orang pria tampan muncul juga disana menghampiri Marsel serta sepasang kekasih yang sedang emosi itu.
"Sel, udah ayo balik!" sapa salah seorang dari mereka sambil menepuk pundak Marsel.
__ADS_1
Marsel terkejut lalu menoleh, rupanya yang muncul adalah dua rekannya di klub Persebaya, yakni Rizky Ridho serta Rachmat Irianto.
"Eh kalian, udah kelar urusannya?" tanya Marsel.
"Udah nih, lu gak ada yang mau diurus lagi kan?" ucap Rizky Ridho.
"Gak sih, cuma ngobrol-ngobrol aja!" ucap Marsel.
"Oh gitu, eh ada bro Dewa ternyata! Apa kabar bro? Sehat-sehat aja kan?" ujar Irianto yang baru sadar kalau disana ada Dewa.
"Iya, Alhamdulillah gue sehat!" ucap Dewa dingin.
Mereka bertiga pun bersalaman ala Corona untuk mencegah penularan virus.
"Eh ngomong-ngomong gue kayaknya kenal sama nih cewek, yang suka ngelive di aplikasi nomo itu kan? Kalau gak salah, talent nya team esprot QRR, ya kan? Tapi, gue lupa nama lu siapa!" ujar Irianto yang ternyata mengenali Vivi.
"Oh ya? Kamu emang pernah nontonin live aku?" tanya Vivi tak menyangka.
"Iya pernah, gak sering sih. Tapi, aku inget banget yang aku tonton tuh kamu! Seru juga soalnya nonton live kamu, bisa ngisi waktu luang! Omong-omong nama kamu siapa dah?" ucap Irianto.
Vivi pun mengulurkan tangan ke arah Irianto dan mengenalkan diri, "Aku Vivi!" ucapnya sambil tersenyum.
"Nah iya baru inget aku, Vivi ternyata namamu! Nah, kalo aku Irianto," ucap pria itu sembari bersalaman dengan Vivi cukup lama.
Melihat kekasihnya bersentuhan tangan dengan Irianto, membuat Dewa merasa gondok dan tentu saja tak suka.
"Ehem ehem, udah kali salaman nya! Kalau kelamaan nanti bisa keriput tuh tangan!" tegur Dewa.
Sontak Vivi langsung menarik tangannya dari Irianto agar tak membuat masalah disana, ia juga tampak cemas kalau Dewa akan marah padanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1