
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Hari-hari telah berlalu, Vivi tampak kesepian ditinggal Dewa kekasihnya itu pergi ke luar kota untuk menjalankan pertandingan away. Vivi pun hanya bisa melamun di kampusnya sembari terus menopang pipinya yang sedikit miring di atas meja.
Tak lama kemudian, Jessi muncul dan mendekati Vivi sohibnya yang sedang murung itu.
"Vivi!" ucap Jessi menepuk bahu Vivi.
Sontak Vivi terkejut dan tersadar dari lamunannya, bahkan tas miliknya juga terjatuh akibat tak sengaja tersenggol oleh lengannya.
"Haish, lu ngagetin gue aja Jes! Kan bisa lu panggil gue nyantai aja gitu, gausah pake ngagetin segala! Ini udah kesekian kalinya loh kayak gini Jes, mau bikin gue jantungan ya?!" ujar Vivi geram.
"Hehehe, sabar Vi sabar! Inget puasa, gak boleh marah-marah loh nanti batal!" ucap Jessi.
"Ya abisnya lu ngeselin banget sih! Bukan salah gue kalo gue marah-marah, makanya lain kali jangan ngagetin gue kayak gitu! Yaudah, sekarang lu mau apa nih nyamperin gue? Ganggu aja deh, gue lagi laper tau!" ucap Vivi cemberut.
Jessi terkekeh kecil, lalu duduk di samping Vivi.
"Vivi Vivi, udah gede kok puasa aja masih gak kuat sih? Kalah lu sama anak SD, kemarin gue lihat tuh mereka pada puasa sampe Maghrib! Malu, udah gede kok kalah sama anak SD!" cibir Jessi.
"Dih, gausah sok deh! Gue tanya sama lu, emang lu sendiri puasa ha?" ucap Vivi.
"Ya enggak lah," jawab Jessi santai.
"Nah, kalah lu sama anak SD! Udah gede kok puasa aja gak bisa?!" ujar Vivi meledek balik temannya itu.
"Yeh beda konteks Maimun!" ujar Jessi.
"Hahaha, iya ya lu kan beda server sama gue. Terus lu tuh mau apa sih dateng kesini? Ada urusan apa?" tanya Vivi sekali lagi.
"Umm, gue mau ngajakin lu main ML. Supaya lu gak bosan dan kelaparan terus, kalo kita main ML kan jadinya lupa tuh sama lapar dan haus!" ucap Jessi memberi saran pada Vivi.
__ADS_1
"Gak ah! Kalo main ML, yang ada nanti gue malah emosi dan bikin puasa gue sia-sia!" ucap Vivi.
"Iya juga sih, apalagi player ML sekarang kebanyakan toxic semua. Kita baru mati sekali aja udah dibully mulu, padahal mereka juga mainnya kagak bener! Terus lu maunya ngapain dong, biar gak bosen dan kelaparan terus?" ucap Jessi heran.
"Eee gak tahu juga sih, gue tuh pengennya telponan gitu sama ayang Dewa. Tapi, gue takut ganggu dia yang lagi mau tanding!" ucap Vivi cemberut.
"Ahaha, sabar Vi! Gue yakin lu nanti juga bisa telpon dia kok, pasti Dewa juga gak bisa lama-lama gak sama lu Vi! Udah sekarang gini aja deh, kita keliling gitu ngapain kek biar gak bosen!" ucap Jessi.
"Huh yaudah deh, gue ngikut aja sama lu. Tapi, jangan bikin gue kehausan loh!" ucap Vivi.
"Santai elah! Kalau haus kan tinggal minum, nanti gue yang beliin deh! Lu mau apa aja tinggal bilang ke gue, tenang aja!" ucap Jessi tersenyum.
"Yeh dasar temen laknat!" ujar Vivi.
Jessi malah tertawa puas melihat reaksi Vivi yang seperti itu padanya, sedangkan Vivi tentu masih cemberut memikirkan apa yang sedang dilakukan Dewa disana saat ini.
"Jes, kira-kira mas Dewa lagi ngapain ya sekarang?" tanya Vivi penasaran.
"Ya mana gue tau? Gue aja disini, terus ayang Dewa lu itu kan lagi di Papua. Gimana ceritanya gue bisa tahu Dewa lagi ngapain?" jawab Jessi ketus.
"Yaudah, yuk cabut! Kita keliling-keliling lah biar gak bosan, gabut nih gue!" ujar Jessi.
"Iya iya,"
Vivi akhirnya mau ikut bersama Jessi pergi dari tempat itu, ya mereka berdua hendak mencari hiburan di sekitar kampus untuk mengisi waktu.
•
•
Disaat Vivi dan Jessi sedang berkeliling kampus untuk sekedar mencari udara segar, tiba-tiba saja justru muncul rombongan pria senior dari arah berlawanan yang membuat Vivi serta Jessi harus terpaksa berhenti sejenak disana untuk meladeni mereka semua.
__ADS_1
Para pria itu tampak tersenyum memandangi wajah Vivi disana, mereka sepertinya kagum pada kecantikan Vivi yang memang selalu membuat para pria disana tergoda untuk memilikinya.
"Maaf nih kakak-kakak senior, kenapa pada berhenti di depan kita ya? Kita kan mau lewat kak, apa ada masalah atau hal lain?" tanya Jessi heran.
"Hahaha, gak ada masalah kok. Kita cuma mau kalian berdua harus bayar kalau mau lewat sini, karena ini tuh daerah khusus para senior kampus dan kalian junior gak boleh lewat sini! Tapi, karena kalian udah menginjak jalan ini, yaudah mau gak mau kalian harus bayar pajak!" ucap pria itu.
"Hah? Pajak? Maaf kak, tapi perasaan di peraturan kampus gak ditulis yang kayak gitu! Ini mah perampokan namanya, bisa kita laporin loh tindakan kakak senior ini!" ucap Jessi mengancam mereka.
"Ohh, silahkan aja! Kalau lu berani main-main dan laporin kita, siap-siap aja kita bakal bikin hidup kalian menderita! Sudahlah, cepat bayar dan jangan banyak omong apalagi ngebantah! Kalian emang belum tau siapa kita, ha?!" ujar pria itu.
"Dih ogah! Kita gak sudi bayar uang ke kalian, mending kita puter balik!" ujar Jessi.
"Hahaha, kalian gak bisa putar balik gitu aja! Lagian gue juga gak minta uang dari kalian kok, bayaran yang gue maksud tadi tuh bukan berupa uang! Tapi pelayanan, kalian berdua harus layanin kita berempat di hotel dan gak boleh nolak!" ucap pria itu sambil tersenyum mesum.
"Astaghfirullah, tobat kak! Ini bulan Ramadhan, kita harus berlomba-lomba mencari kebaikan bukannya kejahatan! Yang begituan itu dosa kak, gak baik! Lagian kita ini bukan cewek kayak gitu, kalo kakak mau dipuasin, cari aja ayam kampus sana!" ucap Jessi mulai terbawa emosi dan tidak habis pikir pada permintaan pria-pria itu.
"Sabar Jes! Lu juga gak boleh emosi, ya walau lu gak puasa sih. Tapi tetep aja, lu harus bisa tahan diri buat enggak emosi!" ucap Vivi menenangkan Jessi.
Jessi pun menghela nafas sembari mengelus dada, ia berusaha lebih tenang saat ini.
"Heh! Lu denger ya, kita gak perduli kalian pada mau puasin kita atau enggak! Mau ini bulan puasa atau bukan, kita bakal tetap minta bayaran dari kalian! Sekarang ayo, kalian ikut kita!" teriak pria itu.
Keempat cowok tersebut langsung berusaha menarik tangan Vivi dan Jessi, akan tetapi dua gadis itu tak tinggal diam. Ya mereka berhasil lepas dengan cara menginjak kaki salah seorang pria itu, lalu berlari menjauh dari keempat pria tersebut.
Bughh...
"Awwhhh, dasar cewek sialan!" umpat salah seorang pria itu sembari memegangi kakinya.
"Ayo Vi, kabur Vi!" ujar Jessi mengajak Vivi kabur.
Ya akhirnya Vivi dan Jessi berhasil kabur dan tidak lagi bertemu dengan empat pria itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...