
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Keesokan harinya, Dewa beserta rombongan tim PSIS sudah kembali ke Semarang setelah mereka bertanding di Papua. Kini mereka masih berada di bandara sesudah turun dari pesawat, Dewa mendorong koper miliknya bersama para sahabat termasuk Arhan di sampingnya.
Kedua pria itu tampak asyik berbincang sembari mendorong koper mereka masing-masing, mereka masih membahas hasil pertandingan sebelumnya yang berakhir imbang.
"Hadeh, coba aja kemarin tuh lu bisa lebih fokus lagi masukin bola ke gawang lawan! Pasti kita bisa menang bro, dan naik ke papan atas!" ucap Arhan.
"Ya gak tahu nih, kepala gue kayaknya kurang diasah! Mentok tiang mulu tiap kali nyundul, apalagi kiper mereka juga jago banget! Yang paling penting sih kualitas lapangan lah ya, buruk banget! Gue dribble bola aja kesandung mulu!" ucap Dewa.
"Hahaha, ya itulah bro! Lapangan tarkam dijadiin home base sekelas liga lokal!" ujar Arhan.
"Mungkin kita belum beruntung kali ini, tapi next week kita pasti bisa menang dan kalahin Makassar!" ucap Dewa penuh semangat.
"Pastilah! Mereka kan lagi di zona degradasi, mudah lah buat menang!" ujar Arhan tersenyum.
"Gak boleh gitu, Han! Jangan ngeremehin lawan! Nanti yang ada kita malah kena karma, apalagi ini bulan puasa, bulan penuh berkah!" ucap Dewa mengingatkan Arhan.
"Oh iya ya, astaghfirullah lupa gue bro!" ujar Arhan.
Dewa hanya geleng-geleng kepala, ia menoleh ke kanan dan kiri melihat rekannya yang lain yang juga tampak asyik sendiri dengan ponsel mereka. Dewa pun baru ingat kalau ia belum mengabari Vivi sang kekasih saat ini, ya Dewa langsung saja berhenti lalu mengambil ponselnya dari saku celana.
"Eh bro, bentar bro! Gue pengen telpon seseorang dulu, gue khawatir dia marah kalo gue gak kasih kabar sekarang!" ucap Dewa.
"Ohh, siap bro! Gue tahu nih lu mau telpon siapa, pasti Vivi kan?" ujar Arhan nyengir.
"Ya itu lu tau," ucap Dewa agak malu.
"Hahaha, udah ketebak bro! Yaudah, gue tunggu di depan sana ya sama yang lain?" ucap Arhan.
"Iya bro," ucap Dewa sambil menempelkan ponsel di telinganya.
Arhan pun pergi dari meninggalkan Dewa dan menunggu di kursi tunggu.
__ADS_1
Bruuukkk...
Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang tampak terburu-buru dan tak sengaja menabrak tubuh Dewa, sehingga ponsel milik Dewa terjatuh ke lantai dan ia belum sempat menelpon Vivi.
"Duh, maaf banget kak! Gue gak sengaja, lu gapapa kan?" ujar gadis itu panik sembari mendekati Dewa.
"Awhh, lu gimana sih? Jalan tuh yang bener dong, jangan buru-buru kayak gitu! Untung aja gue gak sampe jatuh, tapi tetep aja hp gue noh jatuh ke lantai! Kalau pecah terus mati, emang lu mau ganti rugi ha?!" tegur Dewa sembari memegangi pipinya.
Gadis itu malah terdiam memandangi wajah Dewa, ia mengenali siapa pria yang kini sedang ia tatap.
"Lu Dewangga pemain timnas kan?" tanya gadis itu.
"Iya, kenapa?" ujar Dewa dingin.
"Ya ampun, gue gak nyangka banget bisa ketemu sama lu disini! Eee sekali lagi gue minta maaf ya, duh gue jadi gak enak campur senang nih bisa nabrak pemain timnas idola gue!" ujar gadis itu salting.
Dewa hanya geleng-geleng kepala, ia lalu mengambil ponselnya untuk memeriksa kondisi ponsel itu.
"Duh, maaf banget ya kak! Kak Dewa tenang aja, gue bisa gantiin kerusakan hp nya kok!" ucap gadis itu.
"Baguslah! Yaudah mana?" ujar Dewa menengadahkan tangan ke arah gadis itu meminta uang ganti rugi.
"Eee ada syaratnya, kak!" ucap gadis itu tersenyum.
"Loh kok pake syarat segala? Ini kan gara-gara lu juga hp gue jadi kayak gini, berarti ini semua salah lu lah bukan gue!" ujar Dewa terheran-heran.
"Tenang kak, syaratnya mudah kok!" ucap gadis itu.
"Haish, yaudah apa syaratnya?" tanya Dewa.
"Kenalan sama gue, nama gue Vivian biasa dipanggil Vivi atau cantik!" ucap gadis bernama Vivian itu dengan pedenya sembari mengulurkan tangan ke hadapan Dewa.
Sontak Dewa menganga lebar mendengar nama gadis di depannya itu.
__ADS_1
"Kok bisa nama dia sama kayak cewek gue? Hadeh, ini real atau nyata sih? Eh apa bedanya real sama nyata? Ah tau ah pusing!" gumam Dewa dalam hati.
...•••...
Sementara itu, Vivi tampak heran karena sedari tadi Dewa tak kunjung memberi kabar padanya. Ia pun cemas memikirkan Dewa dan khawatir terjadi sesuatu pada pria itu, Vivi terus saja gelisah dan bolak-balik duduk lalu berdiri kembali seperti itu terus sampai seseorang datang ke kamarnya membuka pintu lalu menemuinya.
Ceklek...
Ya itu adalah Yolita sang mama dari Vivi yang keheranan karena Vivi terus mengurung diri di kamar tak mau keluar, akhirnya ia terpaksa masuk begitu saja ke kamar gadis itu untuk mengecek langsung.
"Vivi, kamu gapapa kan sayang?" tanya Yolita cemas sembari memegangi wajah Vivi.
"A-aku gak kenapa-napa kok, mah. Emangnya mama pikir aku kenapa? Perasaan daritadi aku baik-baik aja deh," ujar Vivi justru terheran-heran.
"Ya syukurlah! Tadinya mama pikir kamu lagi ada masalah atau malah sakit, soalnya kamu daritadi gak mau keluar kamar sih! Makanya mama mau coba pastiin sendiri kesini, syukur deh kalo kamu emang gak kenapa-napa!" ucap Yolita tersenyum.
"Eee iya mah, aku baik-baik aja kok. Aku cuma lagi nungguin kabar dari mas Dewa," ucap Vivi.
"Ohh, emang nak Dewa udah balik?" tanya Yolita.
"Harusnya hari ini dia balik, mah. Tapi, aku gak tahu kenapa dia belum kabarin aku juga?! Apa mungkin dia udah gak perduli lagi aku ya, mah?" ucap Vivi.
"Hus! Jangan bicara begitu Vi! Mana mungkin Dewa gak perduli sama kamu? Mama lihat sendiri kok, kalau Dewa itu sayang banget sama kamu! Ya mungkin aja sekarang dia masih di pesawat, yang namanya naik pesawat kan gak boleh megang hp Vi!" ucap Yolita menasehati putrinya.
"Iya juga sih, tapi aku tetap cemas mah! Aku tuh gak bisa sejam aja gak kabar-kabaran sama mas Dewa, karena aku khawatir mas Dewa kenapa-napa disana!" ucap Vivi masih tampak cemas.
"Aduh sayang, bucin banget sih kamu! Ternyata gini ya kalau dua sahabat pacaran, bucin nya kebangetan! Gak kamu, gak Dewa sama aja! Udah, sekarang mending kamu mandi terus siap-siap buat ngaji di masjid sana!" ucap Yolita.
"Iya mah, ini aku mandi deh!" ujar Vivi cemberut tapi terpaksa menuruti perintah mamanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1